Lexa sampai dirumahnya. Ia membayar taksi nya, memberikan seluruh uang lebihnya pada supir dan segera meninggalkan taksi. Lexa berlari terburu-buru ingin segera masuk kedalam kamarnya dan menangis sepuasnya mengeluarkan sakit hatinya lewat air mata dan jeritan kecil.
Lexa memasuki rumah berlari menaiki tangga menuju kamar melewati mama nya yang sedang membawa cAmilan untuk papanya. Sang mama melihat anak gadisnya berlari sambil menangis merasa heran. Ada apa dengan anak gadis semata wayangnya itu.
“Lexa.. Lexa.. kunaon geulis?” Tanya sang mama. Namun Lexa tak menghiraukannya dan tetap menaiki tangga menuju kamarnya.
Sedangkan didalam mobil Excel masih merasa bingung dengan kejadian di café tadi. Excel menerka-nerka ada apa sebenarnya. Kenapa Sandra yang notabenenya sahabat baik Lexa tega mengatakan fitnah seperti itu.
“Sayang, tadi itu kenapa sih?” akhirnya Excel bertanya pada Yuna.
“aku juga masih kurang paham cel. Kayaknya sih yang aku sedikit tangkap, cewek yang namanya Sandra itu, ngelakuin sesuatu yang nyakitin Lexa. Terus tadi aku denger Lexa bilang dia suka sama Dylan. Aku agak gak nyimak karena aku lagi chat kamu.” Jelas Yuna. Ya Yuna mengirim pesan pada Excel agar segera menemuinya.
Sampailah mereka di depan rumah Excel yang juga di depan rumah Yuna karena memang rumah mereka berhadap-hadapan.
“Aku pulang dulu ya… kalo ada yang bisa aku bantu, bilang sama aku” ucap Yuna
“Iya, maaf ya aku nggak bisa mampir nganter kamu pulang. Aku harus liat Lexa. Kayaknya aku bakal begal sama mama. Lexa pergi sama aku dan pulang dalam keadaan nangis. Mama pasti langsung jadiin aku samsak instannya. Jawab Excel dan mengadu akan nasibnya nanti.
“Hahahahaa… kamu sih suka banget berantem dan jahil sama Lexa. Ya pasti lah tante Alia langsung Netthing sama kamu. Dasar kakak durhaka. Ahahaha..” Ejek Yuna sambil tertawa. Namun tawanya terhenti ketika Excel mencium bibir Yuna. Sekitar lima detik Excel mencium Yuna dan melepas ciuman dengan senyuman miringnya.
“Itu akibatnya kalo kamu cerewet plus ngeledekin aku” ujar Excel
“Dasar modus.” Ujar Yuna dan segera turun dari mobil Excel.
Excel lanjut memasukan mobil ke garasinya. Excel menarik nafas dalam-dalam bersiap menerima sergahan sang mama. Excel membuka pintu rumah dan langsung di sambut dengan getokan teplon diatas kepalanya sampai berbunyi ‘dung’.
“Aduh! Sakit mah..! teriak Excel. Tidak cukup puas. Kembali p****t teplon itu beraduk dengan p****t Excel dan menghasilkan bunyi
-‘PLAK,,PLAK,,PLAKK..’-
Sebanyak tiga kali pantatnya berseggol-senggolan dengan p****t teplon ukuran besar tersebut.
“Mah.. mah,.. sakit!” rengek Excel sambil mengusap-usap p****t bohay nya.
“KAMU YA!! MENI SUKA PISAN BIKIN ADIK KAMU TEH NANGIS! HAYANG MAMA SUNAT ULANG ETA BURUNG PERKUTUT KAMU ITU BIAR KAMU BERUBAH JADI AWEWE HAH??!!!. Sergah sang mama yang berapi-api.
“Mah, ada apa sih ini? Malem-malem teriak-teriak.” Tanya suAminya yang baru keluar dari ruang kerjanya.
“Ini pah, Anak perkutut satu ini, si edek habis pergi sama dia pulang-pulang nangis. Mana edek pulang pake taksi sorangan. Kan keterlaluan iyeu teh pah.” Jelas sang istri
“Bener cel? Kamu apain ade mu?” Tanya sang papa.
“Enggak mah, pah bukan Excel. Sumpah! Excel juga gak tau apa yang terjadi. tapi tadi di café Lexa berdebat dengan teman-temannya.” Jelas Excel. Kedua orang tuanya pun heran. Apa yang diperdebatkan sampai anak gadinya menangis.
“Siapa cel?” Tanya sang papa.
“Excel juga kurang tau dengan siapa aja dia bersitegang. Cuma tadi Excel sempat liat dia kecewa sama sahabatnya yang namanya Sandra.” Jelas Excel. “Yaudah Excel mau liat Lexa dulu.” Ujar Excel dengan wajah masih merengut akibat serangan sang mama.
“Makanya mah, Tanya dulu sebelum berperang sama anak kamu.” Ejek Evan di ikuti cekikikannya.
“Ya abis si Excel biasanya suka banget godain si edek sampe nangis. Jadi mama pikir eta si Excel yang bikin geulisnya mama nangis” jelas Alia dengan wajah malu dan bersalah sudah menyerang Excel.
Excel menaiki tangga. Ia khawatir dengan keadaan Lexa. Lexa belum pernah melewati yang yang seribet ini. Apalagi sepertinya keributan dengan sahabatnya sudah sangat besar.
Alexa adalah tipe gadis yang ceria, dia sangat ramah pada orang lain. Cukup cuek dan satu kekurangannya dia kurang bisa bersosialisasi dengan lawan jenis yang tidak setiap hari ia temui. Lexa sangat menyayangi keluarganya, satu yang paling susah di dapatkan dari Lexa. Kepercayaan!
Lexa anak yang gampang percaya dengan orang. Ia menyukai kejujuran dan ia amat sangat benci dibohongi. Pernah sekali mama nya berbohong pada Lexa untuk membelikannya permen kapas jika Lexa minum obatnya ketika ia sakit gigi, namun ketika mamanya tak kunjung membelikan permen kapas dalam sehari, Lexa mogok bicara selama 3 hari. Ia berhasil di bujuk oleh sang papa untuk berbaikan dengan mamanya. Dan ketika sembuh dari sakit giginya papanya berjanji akan membelikan permenkapas tersebut. Dan saat ia percaya pada seseorang, ia akan selalu mempercayai orang itu tanpa tedeng aleng-aleng. Dan mungkin sahabatnya akan mendapat konsekuensi tersebut. Kehilangan kepercayaan dari Lexa.
~Tok..tok…tok..~
“Dek… Lexa. Bukan pintunya” ucap Excel sambil mengetuk pintu kamar Lexa. “Dek, buka pintunya, cerita sama kakak ada apa sebenarnya” bujuk Excel. Namun tak ada jawaban dari Lexa.
Pintu kamar sebelah terbuka. Axen keluar dari kamarnya. Axen melihat Excel yang berdiri didepan kamar Lexa sambil mengetuk-ngetuk kamar Lexa.
“Cel. Kenapa?” Tanya Axen.
“Lexa lagi kacau Xen.” Jawab Excel
“kacau apanya?”
“Dia tadi ribut sama sobatnya. Yang gua liat si Sandra.”
“Kok bisa? Kan mereka deket. Ngeributin apa?” Tanya Axen heran.
“Gua juga gak tau jelas. Makanya gua mau nanya”
“Mending jangan sekarang. Besok aja kita bujuk. Biarin dia istirahat dulu” saran Axen. Excel dan Axen meninggalkan kembali ke kamar masing-masing.
Pagi tiba. Hari minggu adalah hari bersantai keluarga. Setelah solat subuh biasanya anak-anak kembali tidur dan bangun sekitar jam 9. Namun tidak dengan Lexa. Ia masih tetap mengunci pintunya. Lexa belum makan dari semalam. Itu membuat mama nya sangat khawatir. Lexa memiliki magh. Alia takut kalau magh Lexa kambuh.
~tok..tok..tok..~
“Neng, buka pintunya geulis.. kita sarapan yuk. Itu mama udah bikinin tempe cabe ijo sama ayam goreng tepung kesukaan edek” bujuk sang mama pada Lexa. Namun tetap nihil. Lexa tak menjawab apapun. Alia tau anaknya tak akan berbuat yang mencelakakan dirinya saat didalam kamar. Namur, ia hanya khawatir penyakit magh Lexa kambuh dan berujung rumah sakit. Alia menuruni tangga dengan perasaan cemas.
“Xen, kumaha iyeu adik kamu teh geus jam sapuluh siang belom keluar eta si edek. Nanti kalo magh nya kambuh kumaha?” Tanya Alia dengan wajah yang berkerut khawatir
“Biar Excel sama Axen bawain makanan Lexa ke kamar mah” jawab Excel yang di angguki Axen.
“sebenarnya seberapa parahnya Lexa dan teman-temannya memiliki maslah cel?” Tanya Evan.
“Excel gak tau pah. Excel nggak liat dari awal soalnya Excel lagi ke toilet.”
“Ya sudah atuh. Ini bawa makanannya. Awas tumpah teh s**u nya” Alia memberikan satu nampan hidangan untuk Lexa pada Axen.
Axen dan Excel menaiki tangga menuju kamar Lexa. Excel pun membawa kunci cadangan untuk membuka pintu kamar Lexa. Excel mengetuk dahuulu pintu kamar Lexa.
“De buka pintunya de. Kita sarapan dulu” ujar Excel. Namun tetap tak ada jawaban. Akhirnya Excel membuka kunci kamar Lexa. Terlihat Lexa yang masih meringkuk dengan selimut yang membelit tubuhnya. Kedua kakaknya mendekati Lexa dengan nampan yang berisi sarapan Lexa.
“Wel.. bangun yuk. Mama udah buatin sarapan enak nih. Terus ini teh s**u nya masih anget, nanti kalo udah dingin gak enak” bujuk Excel.
“Lexa gak laper kak” lirih Lexa yang masih memunggungi kedua kakaknya. Axen menaruh makanannya di atas nakas. Kemudian ia pelan-pelan membuka selimut Lexa.
“De. Ayo bangun. Kesian loh mama khawatir sama kamu, mama sampe makan sedikit karena mikirin kamu. Mama nata makanannya sendiri buat kamu de. Masa gak mau dimakan hasil jerih payah mama” Axen tau kelemahan Lexa adalah hati nya. Axen memainkan belas kasih Lexa atas nama mama nya. Dan terbukti, Lexa perlahan bangun dan menyandarkan diri di kepala ranjang.
Melihat itu, Axen dan Excel keduanya tersenyum. Namun cukup kaget melihat mata Lexa yang cukup membengkak seperti di sengat lebah. Menggembung atas bawah. Hidung memerah, dan bibirnya yang pucat.
“De, kamu minum dulu s**u nya” ucap Axen sambil menyodorkan gelas s**u ke mulut Lexa. Lalu Excel yang menyuapi makanan pada Lexa. Setelah 4 suapan kecil, Lexa menggeleng tak mau memakan makananya lagi. Excel pun menyerah.
“Yaudah kamu istirahat lagi aja” ujar Axen lalu mengecup kening sang adik, begitu pula Excel tak lupa menepuk kepala Lexa. Kedua kakaknya keluar dari kamar Lexa. Tak lama kemudian pintu kamar Lexa terbuka kembali. Munculah dua orang yang paling dicintainya.
“Sayang. Neng geulis mama.” Ucap Alia sambil memeluk Lexa. Lexa pun membalas pelukan mamanya. “Eleuh-eleuh neng, ini mata kamu kunaon.. meni Bararengkak kieu. Ya Allah dek. Kamu nangis seberapa banyak nak?” ujar sang mama dengan rau wajah sedihnya.
“Mah… Lexa benci di bohongin. Lexa gak suka pembohong hiks... d**a Lexa sakit kalo dibohongin hiks….” Ujar Lexa dengan suara bergetak, air matanya telah menggenang kembali dan tangannya meremas d**a kirinya menunjukan rasa sakitnya berada.
“Iya, iya sayang. Ulah ceurik deui geulis. Jangan nangis lagi atuh. Kasian mata canti kamu udah pegel” ujar Alia yang juga sedih. Alia duduk ditepi ranjang sambil menghapus air mata yang telah jatuh di pipi Alexa.
“Nak, papa nggak tau apa yang kamu alami sama teman-teman kamu. Tapi kalau bisa di bicarakan baik-baik, kamu diskusi kan ya nak. Lexa tau kan papi selalu mengajarkan berpikir dulu sebelum bertindak. Perhitungkan baik, buruknya, baru ambil keputusan. Papa yakin Lexa sudah mulai dewasa dan tau mana yang harus di ambil.” Ujar Evan yang duduk diatas kasur samping Alexa seRaya menyandarkan baru pada kepala ranjang.
Lexa kemudian memiringkan kepalanya pada pundak papanya dan memeluk lengan sang papa.
“Iya pah. Lexa ngerti. Tapi kejujuran adalah hal yang yang menentukan segalanya” ujar Lexa dengan nada bicara yang melirih. Evan tau watak anaknya yang sangat teguh pada kejujuran. Dan jika iya di bohongi, akan sangat susah untuk mendapatkan kepercayaannya kembali. Bukan tidak bisa, tetap bisa namun sangat sulit.
“Neng geulis nya papa” ujar Evan seRaya mengusap-usap sayang kepala Lexa yang di ikuti senyum Alia yang menatapnya.
Senin tiba. Lexa menuruni tangga menuju ruang makan. Rambut yang di ikat kuncir kuda menampilkan rambutnya yang bergelombang bergoyang-goyang. Memakai serang putih abu-abu dan sepatu sneakers. Lexa tampil lebih segar di banding hari kemarin namun auranya cukup dingin. Ia mengingat perkataan sang kakak Axen tadi malam.
~Flashback On~
Axen memasuki kamar Lexa. Axen tidak melihat Lexa di kamarnya, namun pintu balkon Lexa terbuka. Axen berjalan kearah balkon.dan melihat Lexa ada di bantal duduknya ia duduk sambil menekuk kedua kakinya yang dirangkap oleh kedua tangannya, rambutnya tergerai agak sedikit berantakan.
“Princess, kok jam Sembilan masih diluar, ayo masuk.” Ujar Axen.
“Bentar lagi kak. Masih panas” jawab Lexa. Tanpa melihat Axen
“De, mau kakak kasih saran gak?”
“Apa?” Lexa seRaya menoleh pada Axen.
“Apapun yang terjadi, kamu harus inget lex kamu berharga. Bukan Cuma untuk kamu sediri, tapi untuk kakak, Excel, Alex mama dan papa. Bukan Cuma kita, kamu tau seberapa sayang Aki sama nini ke kamu. Cucu yang paling dimanja dan disayang sampe aki keseLeo ngejar kamu yang lari-lari disawah main layangan” Axen terkekeh mengenang kenakalan Lexa yang membuat aki dan nini nya repot. Lexa kecil suka bermain layangan dan naik pohon jambu di rumah akinya yang pasti membuat was was aki nini nya kalau jatuh.
“ahaha… “ Lexa tertawa kecil mengingat betapa nakalnya ia dulu
“kamu inget kan, gimana khawatirnya papi pas kaki kamu kram saat berenang, terus mama yang nangis dan marahin papi yang lupa kasih kamu makan karena sibuk dengan projek pas mama pulang ke bandung, dan berakhir kamu magh dan dirawat di rumah sakit”
“iya kak” Lexa menganggukkan kepalanya.
“Kamu berharga sayang” sambil mengelus rambut Lexa “ kalau suatu ada seseorang yang kamu sayangi membuat kamu kecewa, kamu boleh menangis, bersedih dan marah. Karena pada dasarnya itulah sifat manusia yang disakiti. Tapi kamu jangan pernah menyiksa diri kamu, kalau kamu bersalah kamu minta maaf. Tapi kalau mereka yang bersalah biarkan lah mereka yang minta maaf tanpa harus kamu menyakiti diri kamu. You know, kata kata Boy friend dan Friend sama sama memiliki akhiran ‘end’?”. Dahi Lexa berkerut tak mengerti maksud kakaknya, tapi dia menganggukan kepalanya.
“kamu tau kenapa?” Tanya Axen.
“Enggak..” jawab Lexa sambil menggelengkan kepalanya
“karena Boyfriend dan friend akan bisa berakhir kapan saja. Tapi FAmily, memiliki akhiran I.L.Y yang artinya I Love you, yang artinya keluarga selalu mencintai kamu, apappun keadaan kamu. kamu paham?” Tanya Axen. Lexa pun mengangguk setuju.
“Oke jadi sekarang kamu harus bangkit. Kamu harus tetap ceria dan kuat demi orang-orang yang jujur dan tulus mencintai kamu luar dalam. Terutama kamu adalah orang yang harus mencintai diri kamu sendiri. walaupun orang yang cintai atau sayangi meyakiti kamu, kamu masih bisa berdiri kuat meninggalkan mereka yang tak menghargai kamu dan carilah hal yang lebih membuat kamu bahagia. Dan yang terpenting, jangan kejar hal yang tidak penting untuk saat ini, kejar cita-cita dan impian kamu. Itu yang terpenting buat kamu dan masa depan kamu. Bukan kamu yang kurang untuk mereka, tapi mereka yang gak pantas untuk kamu.” Ujar Axen dan berakhir memeluk Lexa.
~Flashback off~