Satu hal yang Lexa rasakan saat ini, Takut!. Lexa berdiri dengan perlahan dari posisi duduknya.
“Kak Yuna, Lexa ijin sebentar” suara Lexa berintonasi rendah, seperti berbisik namun masih bisa di dengar oleh Yuna.
“Mau ke mana Lexa?” Tanya Yuna. Namun Lexa seakan tak menghiraukan pertanyaan Yuna dan berjalan perlahan menuju ruangan yang ada di balik kaca pembatas ruangannya.
Langkah demi langkah Lexa pijaki dengan hati-hati. Tatapan mata datarnya lurus menatap ruangan di balik kaca tembus pandang. Ruangan yang di isi oleh sahabat-sahabatnya, ruangan yang di pijaki oleh seseorang yang telah mengisi hatinya sejak ia memasuki sekolah menengah atas. Di ruangan itu pula terdengar riuh tawa bahagia beberapa laki-laki dan perempuan. Namun semakin dekat ia dengan pembatas ruangan itu, Lexa semakin memelankan langkahnya. Ia seperti menyiapkan mentalnya entah untuk apa, rasanya akan ada sesuatu yang tak baik. Lexa berhenti tepat di celah masuk kaca pembatas ruangan tersebut.
“Buset. The captain come with his Queen. Ada yang udah jadian nih?” ujar seseorang.
“Badas Man! Gila bener aja kapten basket pasti couplenya kapten cheers”
“Pajak kale.. makan gratis kita sepuasnya hari ini guys! Semua yang bayarin pastinya harus Dylan.” Teriak heboh seorang laki-laki didalam ruangan.
Sesak. Sakit. Dan perih. Bukan! Bukan perih tapi pedih. Sepertinya ini yang dinamakan luka tapi tak berdarah, tertusuk yang tak terlihat, atau apa rasa yang bisa di iBaratkan untuk Lexa sekarang?.
“Congrats ya san. Gua doain yang terbaik buat hubungan lo.” Dan ini, Lexa tahu pasti. Ini suara Ami.
“Amin…” lirih Lexa yang mendengar dari luar percakapan didalam ruangan tersebut. Saat ini, sekuat tenaga Lexa menguatkan hati dan tubuhnya yang terasa panas dan melemah agar tetap berdiri tegak. Perbincangan yang ia dengar seakan menjadi bukti atas apa yang ingin ia pastikan.
Ternyata, kenyataan lebih pedih di banding ekspektasinya. Lexa menarik nafasnya perlahan, mengepalkan jari-jarinya dengan kuat, namun mengendurkannya kembali secara perlahan. Seakan dirinya telah teguh, Lexa mulai melangkahkan kaki nya untuk masuk kedalam ruangan tersebut.
Namun sepertinya hatinya belum siap sepenuhnya, ia berjalan sedikit menunduk namun masih tahu dimana orang yang ia tuju.
“San..” Lexa memanggil Sandra yang berdiri tepat didepannya dengan posisi memunggungi Lexa. dengan nada suara yang rendah Lexa memanggil sahabatnya tersebut masih dengan wajah tertunduk menatap lantai.
Sandra yang sedang tertawa gembira merasa ada seseorang yang memanggilnya tepat dibelakan tubuhnya. Sanda membalikan tubuhnya dan menghadap orang yang memanggilnya. Seketika itu tawanya berhenti diganti dengan raut terkejut yang luar biasa. Serasa aliran darah ditubuh berhenti.
“Lexa…” ujar Sandra terdengar lirih.
Mendengar apa yang dikatakan Sandra, Ami yang sedang memainkan hp nya sontak mendongakan kepala dan berdiri “Lexa!”
Hampir berbarengan dengan Dini yang sedari tadi diam duduk tertunduk seakan tak mempedulikan suasana sekitar. Kepalanya langsung terangkat dan membolakan mata nya.
“Alexa!!”
Lexa perlahan mengangkat kepalanya menatap Sandra yang tengah menatapnya dengan tatapan tak menyangka. Lexa menatap datar namun terlihat kekecewaan diwajahnya. Matanya terasa mulai memanas saat bolat matanya bersibobrok dengan bola mata Dylan yang sedang menatapnya kini. Sandra masih terpaku atas kehadiran Lexa saat ini tepat di depan matanya.
“Kenapa?” Tanya Lexa. Suara mulai bergetar. Lexa menahan air ludahnya mencoba menormalkan suaranya. Namun sakit didadanya membuat suara Lexa kembali bergetar
“Kenapa san?” Tanya Lexa sekali lagi. Lexa mencoba meredakan amarah dan kesedihannya dengan mengepal erat jari-jarinya. Menyalurkan sekaligus meredam rasa sesak dari hati kebagian tubuhnya.
Disisi ruangan lain, Yuna yang terduduk sendiri menunggu Lexa cukup heran. Melihat Lexa yang berdiri dengan di kelilingi muda mudi yang terdiam. Yuna yang penasaran akhirnya memutuskan untuk menghampiri Lexa.
“Alexa, kamu kenapa?” Tanya Yuna yang melihat Alexa berdiri terpaku berhadap-hadapan dengan sepasang,,, kekasih?. Yuna memicingkan matanya menatap tak mengerti ada apa sebenarnya.
Lexa masih tetap terdiam menunggu jawab Sandra. Namun semua nya diam dan masing-masing terpaku ditempatnya. Anak-anak dari tim basket dan cheers yang hadir pun memilih diam karena mereka pun tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dan kenapa Lexa tiba-tiba datang membuat suasana tegang. Kenapa ia terlihat sedih dan terluka melihat pasangan baru antara kapten basket dan tim cheers mereka.
Sandra masih terdiam seaka-akan mulutnya mendadak terkunci dan bisu tak mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan Lexa. Lexa kembali menarik nafas yang terasa berat, menengadahkan kepalanya dan tatapan nya kearah langit-langit agar air mata yang mulai terasa menggenang tak jatuh memperlihatkan kemalangannya di depan banyak pasang mata. Menghembuskan nafas secara perlahan, kembali ia bersuara dengan nada lebih tegas.
“Sejak kapan?” Tanya Lexa pada Sandra. Namun yang ditanya masih tetap terdiam dan memalingkan pandangan matanya kearah lain.
“Sejak.kapan.Sandra?” Lexa kembali bertanya dan menekankan masing masing kata yang ia lontarkan.
“Pesta peRayaan anak basket” jawab Sandra sembari matanya mulai menatap Lexa. Sontak jawaban Sandra sangat mengejutkan Lexa. Lexa membelalakan matanya. Tangannya spontan menutup mulut yang menganga dibarengi langkah kaki yang melangkah mundur beberapa langkah. Badannya lemas dan hampir tumbang jika saja tak di tangkap oleh Yuna yang sedari tadi berdiri menyaksikan apa yang terjadi.
“Lexa!” tangan Yuna meraih bahu Lexa
Lepas sudah. Jatuh sudah air mata yang ia tahan, meluncur terjun bebas diatas wajah ayunya terus meluncur dan terhenti di rahang indah Lexa dan jatuh menetes diatas lantai café. Sudah cukup lama ternyata. Sesak, perih, terasa semakin pedih karena sahabatnya yang lain pun ikut menutupinya. Tangan Lexa sudah meremas baju dibagian d**a kirinya. Matanya memejam, dan bibir mungil itu di gigit cukup kuat di bagian bawahnya bergetar menahan raungan kesakitan. Dini yang dari awal memang khawatir dengan Lexa, sontak berlari segera menghampiri Lexa dan ikut memapah Lexa.
“Lexa…” lirih Dini.
“Kenapa san? Lo yang paling tau apa yang gua rasain.. hiks…. Lo yang paling tau kalo gua suka sama Dylan….
“KARENA GUA SUKA SAMA DYLAN!!” Bentak Sandra memotong ucapan Lexa. Lexa tercenung mendengar bentakan Sandra.
“Lo, suka sama gua?” Tanya Dylan membuka suara diantara keheningnan. Lexa yang terdiam beralih menatap Dylan dengan tatapan gugup. Jujur saja dia malu akhirnya dia yang mengungkapkan kenyataan perasaannya pada Dylan didepan banyak orang.
“Tapi bukannya elo pacarnya Axen, kakak kelas anak IPA.A mantan kapten tim basket tahun lalu.?” Tanya Dylan.
Jikalau Lexa memiliki epilepsy, mungkin sekarang dirinya bisa kejang-kejang ditempat mendengar apa yang terlontar dari mulut Dylan. Axen adalh pacar Lexa? Huh! Yang benar saja. Lexa sontak terkejut sangat amat terkejut dengan pertanyaan Dylan. Darimana dia mendapatkan informasi tersebut. Begitu pun dengan Yuna.
“Siapa yang bilang?” Tanya Lexa dengan nada lirih. Dylan merasa ada yang tidak beres dan memilih diam.
“Lexa… ada apa ini? Excel tiba-tiba datang dan menatap heran melihat adiknya yang masih direngkuh sang kekasih menampilkan kesedihan dan raut wajah terluka. Di pendarkan nya kembali pandangannya ke segala arah dan ia menemukan sahabat-sahabat Lexa yang berada disana.
“Siapa yang bilang kalo Axen itu cowok gua?” Tanya Lexa dengan bentakannya.
“APA? Excel terperanjat mendengarkan perkataan Lexa. “Siapa yang bilang kalo Axen pacar lo?” Tanya Excel pada Lexa. Lexa hanya diam sambil menatap satu persatu pasang mata disana. Siapa yang menyebarkan gossip itu.
“Gua.” Jawab Sandra. Dan benar-benar hari ini adalah hari dengan banyak kejutan yang membuat Lexa pusing tuju keliling.
“San?” lirih Lexa
“Sandra..” disusul dengan Dini yang sama sekali tak mengetahui hal tersebut.
Excel yang tercengang pun hanya bisa menarik nafas dan memijat keningnya. Tak tau apa yang terjadi pada sahabat Lexa tersebut.
“Asal Kalian tau, Axeno Renzo Pradja adalah kakak kandung dari Alexa Pradiana Pradja!!” ucap Excel secara tegas.
Fakta yang mengejutkan bagi setiap orang yang tak tau kebenarannya termasuk Dylan yang terkejut akan hal itu. Beberapa orang didalam ruangan tersebutterkejut dengan fakta yang terlontar dari mulut Excel.
“Dan satu lagi, nama gua Excel Pilli Pradja. Pasti Kalian tau dong apa kelanjutannya?” Tanya Excel
“Lo kakak Lexa juga?” sahut Dino. Excel tersenyum miring dengan tatapan mata yang tajam.
“Binggo!!” jawabnya
Dan akhirnya banyak yang menutup mulut ternganga mereka mendengar hal tersebut.
“Lo tega san! Hiks…” lirih Lexa. Ia sudah tak kuat berada di situasi ini. Lexa melangkah mundur dan memutar tubuhnya dan berlari kencang meninggalkan semua yang membuat nya sakit dan kecewa.
Dini pun mengejar Alexa. Ia merasa bersalah kepada Alexa karena karena tak memberitahu kebenarannya dan kini membuat gadis itu terpukul dengan kenyataan pedih yang harus ia terima. Dini terus berlari mengejar Alexa yang ada di depannya.
“LEXA..! LEXA…! Lexa please dengerin gua dulu.” Pinta Dini sambil berlari. Lexa seperti tuli tak mendengarkan panggilan dari Dini. Ia terus berlari sampai keluar dari café tersebut. Lexa berlari menuju taxi yang sedang mangkal di dekat café dan memasuki taxi tersebut.
“Ayo jalan pak!” ujar Lexa pada supir yang terlihat sudah cukup tua.
“Baik mbak.” Jawab supir tersebut.
Dini yang masih berusaha mengejar Lexa terus berusaha menghentikan taxi yang Lexa naiki.
“Lexa.. hiks.. Lexa buka pintunya.” Sambil menggedor-gedor kaca pintu mobil disamping Lexa. “Lexa please.. buka pintunya hiks…, dengerin gua dulu. Maafin gua lex.. LEXA.. LEXA..” taxi tetap melaju meninggalkan Dini yang meluruhkan lutut nya di trotoar. “Lexa.. maafin gua” lirih Dini sambil menangis. Dini benar-benar menyesal karena ia membiarkan Sandra berbohong terlalu lama.
“Lexa mana?” Tanya Excel dengan nada dingin kearah Dini. Dini mendongakkan kepalanya dan langsung berdiri menghadap Excel dengan menundukan wajahnya. Ia merasa malu dan bersalah.
“Lexa hiks.. naik hiks… taksi kak hiks…” jawabnya sesegukan. Excel langsung pergi meninggalkan Dini di ikuti dengan Yuna.
Suasana di dalam ruangan Sandra dan Dylan menjadi tidak enak. Banyak yang terdiam melihat scene-scene yang baru saja terjadi. entah harus bereaksi seperti apa. Sandra menangis dalam diamnya. Ami pun bingung apa yang harus ia lakukan. Sedari awal Ami sudah mengatakan pada Sandra dan menasehatinya, namun jika cinta sudah bertahta maka semuanya terasa tak berguna.
“Gua cuma suka same lo Dylan. Gua gak bisa orang lain milikin elo selain gua.” Sandra membuka suaranya sambil tertunduk menangis.
Dylan tak tega melihatnya. Ia tau Sandra cukup bersalah saat ini. Namun itu karena menyukainya. Dan sekarang Sandra adalah pacarnya. Mungkin nanti ia akan biacara kembali dengan Sandra tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dylan menarik bahu Sandra, merengkuhnya. Mengusap-usap bahu sang kekasih. Dylan berpAmitan pada yang lain untuk pergi dahulu dan menyerahkan credit card pada Dini untuk membayar seluruhnya, lalu pergi membawa Sandra.