Kejutan Perih

1810 Words
Satu bulan berlalu sejak kejadian Dini memergoki Sandra dan Dylan. Persahabat mereka masih terjalin baik sampai sekarang. Namun Sandra belum mengatakan apapun sejak itu. Sandra seperti santai dan terkesan menutup-nutupi apa yang seharusnya segera dikatakan pada Lexa. Itu yang membuat Dini sedikit geram pada Sandra. Lebih kecewanya lagi Dini baru saja tahu beberapa hari yang lalu, kalau Ami juga mengetahui bahwa Sandra dan Dylan berpacaran. Saat ditanya kenapa Ami diam saja atau berusaha menyadarkan Sandra akan sikapnya, Ami hanya bilang, dia sudah memberi tahu nya namun, semua keputusan Sandra. Dini merasa geram dengan keduanya. Namun Dini masih bertahan, dan berharap Sandra akan segera jujur pada Lexa.             “San, akhir-akhir ini apa gak ada kabar apa-apa tentang Dylan?” Tanya Lexa. Mereka kini sedang berada di loker untuk ganti baju di jam pelajaran olahraga.             “Hmm.. belom lex. Gua jarang juga ketemu Dylan sih. Kayaknya dia sibuk sama basketnya deh. Gua takut ganggu kalo terus-terusan ngechat dia.” Jawab Sandra tanpa menatap Lexa. Lexa mengangguk paham. Ia bukan wanita yang suka memaksakan kehendaknya. Lexa cukup bersabar, hanya entahlah sampai kapan ia bersabar. Mungkin jika sudah tak sanggup menunggu, Lexa akan menyerah.             1 IPA.A berkumpul di lapangan. Hari ini adalah bagian basket yang otomatis dari sekian perempuan yang ada dikelas, Lexa lah yang paling jago. Saat SMP Lexa tak malu-malu untuk beradu permainan bersama laki-laki di kelasnya. Karena ia telah terbiasa bermain basket dengan kakak-kakaknya. Lexa pun memasuki lapangan basket. Disana telah menunggu beberapa anak kelasnya yang berjenis kelAmin laki-laki. Mereka sedikit menatap heran, karena Lexa sendiri yang memakai kaos basket dan bergabung dengan laki-laki. Karena sebelum-sebelumnya Lexa hanya main sendiri.             “Weh lex, Lo ikut main?” Tanya Saji yang tak lain adalah ketua kelas Lexa.             “ikut dong PaLu( Pak Lurah: Julukan untuk ketua kelas saat masa orientasi sekolah)” jawab Lexa dengan santai melangkahkan kaki ke tengah-tengah lapangan.             “Serius lo Lexa? Kita semua cowok. Nanti kalo ada yang kesenggol, trus lo jatoh gimana? Bisa abis kita di toyor sama pak Deden.” Ujar anto agung             “Tenang aja. Lo percaya aja sama gua, gua udah biasa kok main sama anak cowok. Kalo gak percaya Tanya aja noh tiga kurcaci” ujar Lexa sambil memonyongkan bibirnya kearah tiga sahabatnya yang sedang duduk di pinggir lapangan.             “Tapi Lex, kalo nanti gua gak sengaja nyenggol elo, jangan marahnya. Nanti lo tending burung gua lagi. Asset masa depan nih. Bakal menghadirkan calon penerus bangsa yang berkualitas.” Seloroh agung yang tak jelas. Sambil menutupi bagian sensitifnya.             “Lah, ukuran botol kecap juga lo pake sok iye.. calon penerus bangsa yang kebanyakan modus sih  iya.” Ejek Arya             “Eh Arya. Diem lu! Ngomong R aja gak becus mau komen lu. Malu noh sama rafatar. Kencing aja belom lurus kali lo..” jawab Agung dengan membalas ejekan arya.             “Dih cucu nya mbah surip ngiri!” jawab Arya.             “Udah, udah.. gua gak apa-apa. Yok kita mulai aja pertandingannya. Tapi dengan syarat. Tim Yang kalah harus nurutin kemaun tim yang menang. Gimana? Setuju?” Tanya Lexa menantang.             “Oke deal! Ujar saji sebagai tim lawan             “Deal! Jawab Arya yang berada di tim Lexa. Kedua tim meremukan strategi selama 10 menit. Ketika mereka sudah siap, peluit pun berbunyi. Tanpa Lexa sadari dari pinggir lapangan ada seorang laki-laki yang memperhatikan Lexa bermain dengan lincah bersama siswa laki-laki sekelasnya.             Rambut Lexa yang di ikat secara asal, membuat beberapa helai rambut nya terjatuh di sisi-sisi kepala, dan juga menampilkan leher jenjang Lexa, ada beberapa bulir keringat yang keluar dari dahi, dan leher membuat terkesan cantik dan sexy secara bersamaan.             Dylan yang ingin pergi ke kantin, terhenti langkahnya saat tak sengaja melihat seorang perempuan bermain basket dikelilingi laki-laki yang menjadi tim dan tim lawan. Ada rasa kagum menyerbu hati Dylan, yang pada akhirnya membuat Dylan ingin menatap dan memperhatikan gerak gerik Lexa yang sedang bermain di tengah lapangan. Senyum lembut terpatri di bibir tipis Dylan. Dia tak menyangka, sahabat dari Sandra akan semengagumkan ini.             Bel pulang sekolah pun berbunyi. Didalam kelasnya Lexa dan yang lain sedang membenahi buku-buku mereka.             “San, nanti malam kita hangout yuk. Pengen jalan gua” ajak Lexa.             “Hmm.. nanti malam ya. Nanti gua kabarin deh lex. Gua takutnya ada acara sama bonyok dan keluarga” ujar Sandra.             “Lo juga Mi?” Tanya Lexa pada Ami.             “Gua belom tau juga lex.” Jawab Ami seadanya             “keluarga Kalian sekarang rajin banget bikin acara ya.” Ujar Lexa. Yang hanya di balas kekehan oleh Sandra dan Ami. “Yaudah deh, nanti gua ajak Dini aja” lanjut Lexa. Dini sudah meninggalkan kelas duluan karena sudah di jemput. Sandra yang mendengar itu, membuatnya cukup khawatir jika Dini membongkar semuanya.             Malam minggu pun tiba dikarenakan hari ini hari sabtu.  Banyak muda mudi yang berjalan-jalan keluar dari rumah. Baik itu bersama keluarga, teman, maupun pasangannya masing masing. Namun tidak hal nya dengan Lexa yang berdiam diri dikamar. Semua sahabatnya tak bisa menemaninya keluar malam ini. Sandra pergi dengan tantenya, Ami yang lagi sakit gigi dan Dini yang tidak bisa dihubungi. Lexa bosen sendiri dirumah. Akhirnya Lexa memutuskan untuk mengajak kakak ketiganya untuk menemaninya berjalan-jalan keluar.             Axen adalah kakak yang paling ramah dan lembut. Gaya bicaranya pun lebih sopan dibandingkan yang lain apalagi di bandingkan Excel. Makanya Lexa pun juga lebih lemah lembut dan manja kepada Axen. Tapi kalau dengan Excel, Lexa akan siap berdebat habis-habisan. Lexa berjalan ke kamar Axen dan mnegetuk pintu kamar kakaknya itu. Tok..tok..tok.. Tak ada sahutan dari dalam kamar membuat Lexa mengetuknya kembali. “masuk!”. Mendengar perintah tersebut Lexa membuka pintu kamar Axen dan masuk. Lexa menghampiri Axen yang terlihat berbaring di atas kasur.             “Kak Ax, kita jalan yuk. Temenin Lexa.” Ajak Lexa dengan menggoyang-goyangkan tubuh Axen.             “Hm.. kakak gak bisa dek. Kepala kakak lagi sakit. Barusan minum obat. Jadi ngantuk deh” jawab Axen. “ coba kamu ajak Excel” saran Axen             “Ah,, kak Axen sih pacaran. Nanti aku di jadiin obat nyamuk lagi.” Gerutu Lexa. Axen terkikik dengan pernyataan Lexa. “ Enggak kok, coba aja. Sekali-kali kamu jalan bareng dia. Jangan berantem mulu” Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampilkan Excel yang memasuki kamar Axen.             “Wel, ikut gua yuk.!” Ajak Excel             “Kemana? Tanya Lexa.             “ikut gua makan diluar. SeKalian ada yang mau gua kenalin ke elo. Ayok buruan!” perintah Excel.             “Ayo cepet siap-siap gih. Pas bangetkan kamu mau keluar, Excel udah ngajakin tuh” tambah Axen. Dan akhirnya Lexa bergegas bersiap-siap untuk pergi.             Lexa memakai crop top warna latte, dengan dark blue straight jeans, dipadukan dengan sepatu sneakers warna putih. Rambut yang digerai bergelombang ujungnya. Lalu sedikit memoles wajahnya dengan loose powder dan liptint peach nude yang membuat Lexa semakin cantik padahal hanya memakai loose power 2 tap dan liptint. Setelah siap Lexa bergegas turun kebawah menemui Excel.             “Ready kak!” ujar Lexa dengan semangat.             “Duh Ade gua cantik banget sih. Repot deh gua ngejagain elo” ejek Excel yang selalu saja suka menjahili Lexa.             “Ih ayo! Kelamaan! Gombalan kak Ex gak mempan sama gua” ejek Lexa seRaya menarik tangan Excel menuju mobil di halaman depan rumahnya.             “Eh, ari iyeu mau kamana Kalian berdua?” Tanya Alia pada kedua anaknya             “Mau ngajak jalan-jalan adik tercinta ma” jawab Excel dengan wajah tengilnya.             “Oh tumben akur. Ya sudah, selamat bersenang-senang Kalian. Inget Excel, ulah bikin edek kamu nangis ya pulang nanti” ultimatum sang ratu untuk anaknya.             “Siap ma, kalo gak Khilaf! Assalamualaikum” ucap Excel dengan mengedipkan sebelah mata kearah mama nya. Tingkahnya segera mendapat pelototan dari mamanya.             “Walaikumsalam” jawab sang papa yang duduk disamping mamanya. Sang papa hanya bisa terkekeh melihat tingkah anak nya yang satu itu memang jahil kepada siapapun             “Liat eta tuh anak papa! Genit pisan.” Ujar Alia.             “Loh emangnya papa sendiri yang bikin. Kan berdua sama mama. Yang nyetak kan mama. Papa Cuma tumpahin adonan di dalam Loyang” jawab Evan dengan wajah tengilnya juga.             “Heunteu anak, henteu papa nya sarua keneh! Sama-sama genitnya” ujar Alia lalu meninggalkan Evan yang terkikik geli melihat tingkah istrinya.             “Sama dong mah. Kan papa yang bikin adonannya ma” teriak Evan sambil tertawa.             Mobil Excel membelah jalanan di malam minggu. Dan akhirnya mereka sampai di café yang terkesan classic tapi keren.             “kak, lo mau kenalin gua sama siapa sih?” Tanya Lexa. Mereka berjalan beriringan menuju café tersebut. Cukup ramai café yang mereka datangi. Namun Excel sudah membooking tempat.             “Itu dia orangnya!” jawab Excel sambil menunjukan seseorang wanita cantik yang berdiri di depan pintu café. Wanita berambut kecoklatan bergelombang, memakai dress rajut dibawah lutut berwarna putih dengan sepatu sneakers senada tengah melambaikan tangan kearah mereka.             “Kak Yuna!” teriak Lexa. Segera Lexa menghampiri Yuna yang menyambutnya dengan cipika cipiki.”Kok, kak Yuna disini?” Tanya Lexa heran.             “Dia pacar gua”ujar Excel. Lexa langsung melotot dan mulutnya menganga, menandakan ia sangat terkejut bahwa kakaknya berpacaran dengan Yuna anak SMA perhotelan yang tinggal di seberang rumah mereka. Lalu mereka lanjut masuk ke dalam café untuk melanjutkan obrolan             Lexa, Yuna dan Excel menaiki tangga, karena tempat yang mereka pesan berada di lantai atas.             “Kak Yuna beneran serius pacaran sama kak Excel? Kok mau sih kak? Dia ini biang onar!” seloroh Lexa sambil mendudukan tubuhnya di tempat yang telah di booking.             “Iya lex. Kakak juga gak ngerti gimana dia bisa ambil hati kakak. Cuma kakak suka sama apa adanya dia” ujar Yuna sambil menatap Excel. Excel yang merasa menang hanya menjulurkan lidah nya kearah Lexa. Mereka pun memesan makanan dan minuman. Lalu di lanjutkan dengan berbincang bincang seru dan diselingi sedikit cekcok antara Lexa dan Excel.             “Sayang, aku ke toilet dulu ya” pAmit Excel.             “huh! Sayang, sayang, ketek lu bau menyan kak!” ejek Lexa yang jijik mendengar suara Excel yang sok manis. Excel membalasnya dengan mengacak-acak rambut Lexa lalu meninggalkan nya sambil tertawa. Lexa yang kesal lalu menggerutu karena rambutnya acak-acakan. Saat sedang membenahi rambutnya mata Lexa tak sengaja menatap ke ruangan sebelah yang dibatasi sekat kaca tembus pandang. Awalnya Lexa pikir ia hanya salah lihat jika Dini & Ami ada disana. Namun bagai terhantam palu godam besar tak kasat mata yang tepat menghantam hatinya saat ia melihat dua sejoli yang baru saja tiba. Sang perempuan menggelayut manja di tangan sang lelaki. Sedangkan sang lelaki tampak menerima perlakuan itu. Yang lebih mengcengangkan adalah saat si perempuan mencium pipi si laki-laki didepan teman-temannya yang berkumpul diruangan sebelah. Lexa Nampak tak pecaya dengan apa yang ia lihat. Sandra dan Dylan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Sandra dan Dylan semesra itu? Dan lagi, seluruh sahabatnya, Dini danAmi ada disitu bersama beberapa anak tim basket.             Semoga yang ada didalam pikirannya salah. Semoga apa yang ia takut kan tidak menjadi kenyataan. Semoga sahabatnya tidak seperti apa yang ia pikirkan saat ini
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD