Senin pun tiba. Seluruh siswa siswi berdatangan dari arah pintu gerbang sekolah. Lexa
yang baru datang berboncengan dengan sang kakak ‘Axen’. Lexa turun dari motor
sport Axen. Menunggu sang kakak yang sedang memarkirkan motornya, Lexa berdiri
di dekat parkiran. Angin yang berhembus cukup kencang pagi ini menerbangkan
rambut Lexa dengan kuat. Karet Ikat rambut Lexa tiba-tiba putus dan membuyarkan
rambut bergelombang Lexa, membuat rambut Lexa tergerai indah. Dan kebetulan
hari ini Lexa memakai sedikit two way cake powder dan lip balm berwarna yang
membuat bibirnya terlihat manis. Cantik manis alami! Itu yang orang pikirkan
ketika Lexa sedang berusaha membenahi rambutnya. Beberapa lelaki yang lewat pun
cukup terpana melihatnya.
“Yah, putus karetnya. Mana gak bawa ikat rambut cadangan lagi” gerutu Lexa sambil mengobrak-abrik isi tasnya.
“Kenapa de? Tumben kamu gerai rambut.” Tanya Axen
“Karet rambut aku putus kak. Terus Lexa gak bawa ikat rambut cadangan.” Gerutu Lexa.
“Coba kamu chat si Excel, dia kayaknya masih ada dirumah deh.” Saran Axen.
“Oh..oh.. iya kak.!” Jawab Lexa.
Segera Lexa mengetik pesan kepada Excel. Setelah selesai mengirim pesan,
keduanya berjalan beriringan dengan tangan sang kakak yang menepuk-nepuk kepala
sang adik. Sungguh kedua nya terlihat manis. Bagi yang tidak tau kalau mereka
adik kakak, pasti sudah menganggap mereka pasangan yang sangat sweet.
“Waduh,waduh,waduh.. bikin cemburu aja lu berdua pagi-pagi udah mesra aja.” Seloroh Andre teman Axen yang baru
saja datang.
“Makanya, jangan jomlo kak Andre.”Cibir Lexa.
“Gimana gua gak jomlo, belahan jiwa gua di kekepin mulu sama kakaknya yang mirip satpol PP belom gajian. Sepet!!” jawab Andre dengan mengedipkan mata genitnya kearah Lexa.
“Tin.. Tino!” panggil Lexa pada
seorang teman kelasnya yang ia lihat. Tino menghampiri Lexa dengan sedikit
langkah gemulai yang membuat Lexa terkikik melihatnya.
“Apa cantik? Ih cucok banget lo gerai rambut lo kayak gini” seloroh Tino sambil membelai ujung rambut Lexa.
Lalu Lexa mendekat kan bibirnya kearah kuping Tino dan membisikan kata-kata
yang membuat mata Tino berbinar.
“Tin, ini ada yang mau kenalan sama lo. Orangnya yang paling ujung sono” Lexa menunjuk Andre yang berada di samping Axen dengan lirikan matanya “Keren loh, namanya Andre kakak kelas kita” lanjut Lexa.
“Serius lo Lex?” Tanya Tino
“Iya. Samperin gih!” bisik Lexa dengan senyum tengilnya. Tino pun bergegas mendekati Andre yang disebelah Axen.
Dengan senyum yang malu-malu dia menyapa Andre yang bingung
“Hai kak. Aku mau kok kenalan sama kakak. Kata Lexa kakak mau kenalan sama aku” jelas Tino yang sudah berdiri
disamping Andre menampilkan gerak malu-malu manja yang membuat Andre bergidik.
Andre langsung mengalihkan pandangannya pada Lexa berniat ingin protes. Namun
sayang, saat mulut Andre terbuka, Lexa sudah memotong duluan ucapan yang akan
keluar.
“Oke deh kak. Selamat pedekate ya. Semoga gak jomlo lagi” ejek Lexa sambil berjalan terburu-buru meninggalkan Axen dan Andre yang terbengong-bengong akibat ulah Lexa.
“Woy Lexa!! Wah sialan bener itu ad…” Axen langsung menginjak kencang kaki Andre demi mencegah kata yang akan meluncur dari mulut andre.
“Mulut lo itu harus di cuci. Pas mangap bau kentut gajah,” ucap Axen dengan cuek dan melanjutkan langkahnya menuju kelas. Andre yang kena serangan dari kakak adik itu hanya bisa menggerutu.
“k*****t lo berdua. Gak yang kecil gak bangkotan.. sama aja bangsatnya. Untung sayang” gerutu Andre. Tanpa di
sadari tangan Tino sudah bertengger manis di lengan Andre. Membuat siapapun
yang melihat terkikik geli dengan pemandangan keduanya. Andre pun sadar, dan
melepas paksa lengannya dari tangan Tino.
“Minggir lo kentut gajah! Bau lo!” bentak Andre pada Tino, dan melanjutkan langkahnya mengejar Axen karena mereka satu kelas.
Lexa berjalan melewati lorong sekolah masih dengan tawa di bibir manisnya, karena berhasil mengerjai teman
kakaknya. Saat akan berbelok untuk menaiki tangga menuju lantai dua, tubuh Lexa
membentur tubuh seseorang karena terlalu asik menertawakan Andre.
-Brugh
!-
“Aduh” jerit Lexa. Karena cukup kuat, tubuh Lexa jatuh terjerembab dengan posisi p****t langsung mencium mesra
sang lantai sekolah.
“Duh!” jawab seseorang yang menjadi pasangan tabrakan Lexa. Lexa yang masih mengaduh karena pantatnya cukup keras membentur lantai, belum menghiraukan siapa yang ia tabrak. Hingga ia menyadari saat ada sepasang kaki dibalut sepatu sport bermerk NewBalance hitam line putih kini sedang bergerak menekukan lututnya di hadapan Lexa.
“Lo nggak papa?”
Sebuah suara menyapa telinganya terdengar ramah dan gentle. Lexa mendongakan wajah ayu nya yang masih merengut kesakitan. Matanya seketika membola dan berkedip-kedip lucu saat melihat siapa yang ada dihadapannya dan menjadi korban tabrak tubuhnya.
“ Dylan” lirihnya dalam hati. Terdiam beberapa saat karena masih terpana sekaligus terkejut melihat pujaan hati ada
dihadapannya dengan jarak yang cukup dekat. Mata lexa berkedip-kedip lucu terlihat oleh Dylan yang Hanya berjarak beberapa jengkal saja.
Dylan melambaikan tangan kedepan wajah Lexa yang masih terbengong, sesaat kemudian Lexa kembali berkedip-kedip linglung dan dibalas kekehan indah oleh Dylan.
“Lo nggak papa?” Tanya Dylan sekali lagi.
“Eh..? i..iya, gua gak papa.” Jawab Lexa gugup. Tiba tiba seseorang berjongkok disamping Lexa yang masih terduduk
dilantai.
“Kamu kenapa?” Tanya Axen dengan nada khawatir. Lexa menoleh kearah Axen yang berjongkok disampingnya.
“A..Aku nggak papa kak” jawab Lexa. Axen membantu Lexa berdiri dengan mendekap bahu kanan dan memegang tangan kiri nya.
“Makanya kalo jalan itu jangan merem” ejek sang kakak.
“Enak aja! Emangnya aku si buta dari gua hantu yang jalan sambil merem” sungut Lexa kesal. Axen terkekeh, tangannya menepuk dan mengacak-acak gemas rambut sang adik. Semua perlakuan manis Axen
pada Lexa terlihat jelas didepan mata Dylan yang dari tadi masih setia berdiri dihadapan Lexa sambil memperhatikan wajah Lexa yang ayu nan manis membuat sedikit senyuman terbit di bibir Dylan. Saat melihat berbagai ekspresi Lexa yang tertawa, kesal dan merengut di satu waktu seperti ini terlihat menggemaskan bagi Dylan. Namun senyuman itu hilang kembali saat melihat lelaki yang berada di samping Lexa kembali memperlakukan Lexa dengan amat manis.
“Ehem..!”
Lexa kemudian menyadari bahwa dihadapannya saat ini ada seseorang yang baru saja ia tabrak, karena dari tadi
ia sibuk dengan ejekan Axen. Dylan masih berdiri di hadapannya.
“Eh,, elo gak papa kan? Tanya Lexa gelagapan sambil memindai tubuh Dylan. Dan hampir saja tangannya reflek
menyentuh Dylan, namun berhasil dia tarik kembali.
“Iya, gua gak papa. Kan lo yang jatoh. Lo gak papa?” Tanya Dylan dengan kekehan kecil melihat tingkah lucu Lexa.
“Iya, gu agk papa. Maaf ya tadi gua meleng gak liat-liat pas jalan jadi nabrak elo.” Jelas Lexa.
“It’s okay gak papa” jawab Dylan dengan senyum manis yang terpatri di bibirnya. “Yaudah, gua lanjut dulu ya”
Dylan pAmit pada kedua nya dan berlalu dari hadapan mereka. Tatapan Lexa masih terpaku pada punggu Dylan yang menjauh.
“udah jangan diliatin mulu. Masuk sana gih, udah mau bel” Axen menginterupsi Lexa. Dan akhirnya mereka berdua berpisah dan melanjutkan jalan ke kelas masing-masing.
Lexa memasuki kelasnya. Ia langsung mendudukan p****t nya yang masih cenut –cenut akibat terhempas cantik. Lexa duduk di barisan meja paling ujung dekat tembok diurutan nomer dua. Lexa duduk
dengan Dini.
“Wah, cantik bener lo hari ini, tumben gerai rambut lex.” Tanya Dini.
“Ikat rambut gua putus, dan gua gak bawa cadangan. Tapi gua udah minta kak Ex bawain.” Jawab Lexa. “ eh,eh Guys gua mau cerita” lanjut Lexa. Ketiga temannya pun langsung bersemangat mendekatkan
wajah mereka kea rah Lexa.
“Tadi… gua gak sengaja ketemu Dylan” ujar Lexa berhenti sejenak.
“Wah.. terus, terus” sahut Dini
“ gua gak sengaja tabrakan sama dia. Soalnya gua lagi meleng pas mau naik tangga. Trus, trus dia jongkok depan gua
karena gua jatoh ke lantai. Trus dia nanya ke gua, apa gua baik-baik aja? Dengan suaranya yang uuuhhh… gentle abis. Terus habis itu dia kasih senyum manis melebihi madurasa ke gua. Haaaaa..h gua mimpi apa semalam y?, jantung gua aja sekarang masih dag dig dug derr.” Cerita Lexa dengan sumringan dan antusias.
“Wah, seneng banget pagi-pagi udah dapet rejeki nemplok! Ih coba gua liat, pasti baper” jawab Dini dengan antusias
juga. Tatapan cemburu menguar dari Sandra walau tak disadari Alexa tentunya. Ami yang menyadarinya hanya menghela nafas merasa prihatin dengan kedua temannya. Tiba-tiba saja handphone Sandra berbunyi. Sandra segera membuka pesan yang sampai di forum chat pribadi nya.
“Duh, guys gua ke toilet dulu ya” ucap Sandra
“Gua temenin ya San” tawar Lexa untuk menemani Sandra
“Gak usah Lex, gua lama. Mau boker” Sandra segera berlari meninggalkan kelas.
Di toilet paling ujung di lantai dua, letaknya paling pojok bersebelahan dengan gudang lantai dua, seorang
laki-laki bersandar di dinding luar toilet yang mengarah ke halaman belakang. Yang menampilkan aula lama. Keadaan disekitar toilet ini cukup sepi karenajarang di gunakan, karena hanya satu pintu saja yang dapat di gunakan dan juga
jaraknya yang jauh dari ruangan kelas. Ya, Dylan yang bersandar dinding toilet tersebut.
“Sayang..!” panggil seorang gadis. Ia berlari dan langsung memeluk Dylan dengan erat.
-Flashback ON-
“Gua suka sama lo Dylan. Sangat suka!” sedikit mengangkat wajahnya menatap wajah Dylan yang berada tepat diatas
kepalanya. Dengan tersenyum manis.
“Dylan, lo mau jadi pacar gua?”….
Dylan mengangkat kedua alisnya. Tidak terlalu terkejut, namun cukup sedikit kaget karena Sandra yang notabene
nya adalah teman kecilnya dulu menyatakan perasaannya secara langsung.
“Lo suka sama gua?” Tanya Dylan, yang diangguki wajah cantik Sandra yang masih menempel di d**a Dylan. “Apa buktinya kalo lo suka sama gua?” Tanya nya lagi.
Sandra melepaskan pelukannya. Lalu perlahan kedua tangan Sandra merangkum wajah Dylan. Sembari tersenyum, Sandra menarik wajah Dylan untuk lebih mendekat dengan wajahnya, hingga bibir mereka berdua menempel sempurna tanpa ada jarak setitik pun. Kecupan itu sekitar 5 detik lalu Sandra melepasnya. Wajah Sandra terlihat bersemu merona ditatap intens oleh Dylan.
“Lo mau jadi pacar gua Lan? Lo bakal liat bukti apa yang akan gua kasih buat lo, supaya lo percaya kalo gua suka sama lo” ucapan Sandra seraya pandangannya yang sayu. Dylan tersenyum.
“Oke, gua tunggu bukti itu” jawab Dylan. Lalu tangan kanan Dylan meraih pinggang ramping Sandra, dan tangan kiri nya menarik tengkuk Sandra dan kembali mencium bibir Sandra. Bukan sekedar ciuman, namun Dylan memagut bibir Sandra secara intens membuat Sandra mengalungkan kedua tangannya di leher Dylan. Sandra di buat terbuai dan mengeluarkan lenguhan-lenguhan dari bibirnya akibat pagutan yang Dylan lakukan. Sebuah dehaman kecil terdengar oleh kedua manusia yang sedang menikmati nikmat dunia membuat mereka melepas pagutannya. Ami mengintrupsi ciuman intens mereka berdua.
-FlashBack Off-
Dini berjalan cepat sambil menengok kanan dan kiri. Mencari-cari sahabat yang sekarang sangat ia butuhkan untuk
membantunya mengisi PR kimia yang belum terisi. Menelusuri lorong lantai dua, dan tibalah di ruangan terakhir paling ujung toilet sebelah gudang. Toilet ini sebenarnya jarang digunakan karena hanya satu ruangan toilet yang bisa
digunakan daripada itu juga letaknya diujung dan jaraknya cukup jauh dari kelas. Dini cukup ragu kalau Sandra berada di toilet ini, namun ia coba untuk mencari Sandra yang tak kunjung datang padahal bel masuk sudah berbunyi.
“Mana sih tu anak? Gerutunya pelan. “ ke toilet mana sih? Apa jangan-jangan toilet istana merdeka kali ya?” Dini
masih menggerutu sekaligus bingung karena tak menemukan Sandra di toilet terakhir pun.
Setelah mengecek isi toilet dan ternyata kosong, Dini berniat balik menuju kelasnya. Namun, saat dia hendak beranjak dari pintu toilet, Dini mendengar sayup-sayup suara seseorang disamping toilet. Agak
merinding mengingat suasana cukup sepi karena memang jam pelajaran sudah dimulai. Namun, ketakutan Dini berubah menjadi rasa penasaran saat sedikit terdengar jelas apa yang suara itu katakana.
“Emmmhh.. Lan, jangan disitu. Nanti keliatan” desah suara lirih terdengar oleh Dini. Sayup-sayup suara lirih itu seperti tidak asing. Namun siapa?. Rasa kepo Dini meningkat saat terdengar sautan suara
seorang laki-laki.
“Hmm… kamu wangi... Aku suka” ucap lelaki tersebut.
Dini yang benar-benar sudah terlanjur penasaran di banding takut, memutuskan untuk melihat siapa yang ada di balik tembok toilet bagian luar yang mengarah ke aula lama. Sedikit menyembulkan kepalanya.
~BRAKKK..!~
Buku paket dan catatan yang sedang didekapnya jatuh seketika saat melihat pemandangan tersebut. Sandra yang sedang bersandar pada dinding toilet dengan wajahnya memerah dan tampak sayu. Dan didepannya ada seorang laki-laki yang sedang menciumi Sandra dibagian leher dan tulang selangka nya. Mata Dini semakin melebar di ikuti mulut yang menganga melihat siapa lelaki itu disaat wajah lelaki itu terangkat dan menatap kearah Dini. Hati Dini terasa mencelos melihat pemandangan yang tertangkap oleh mata dan terekam dalam otaknya. Dylan. Ya, lelaki itu. Lelaki yang amat sangat di sukai oleh sahabatnya sendiri yang bernama Alexa Pramudia Praja. Yang mambuat sahabatnya itu jatuh hati pertama kali. Dan sekarang, ia melihat Sandra salah satu sahabatnya juga yang berperan sebagai penghubung atau Mak comblang sang sahabat ‘Alexa’ dengan lelaki pujaan hatinya ‘Dylan’, terlihat sedang b******u dengan mesra bahkan kelewat mesra. Dini bingung dan blank. Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa? Mungkin itu pertanyaan dalam hati dari otaknya.
“Apa yang lo lakuin san?” lirih Dini. Rasa heran, kaget dan tak percaya masih berputar-putar di kepalanya. Sandra
gelagapan tertangkap basah oleh Dini.
“Itu, temen lo kan?” Tanya Dylan, kembali menyadarkan atensi Sandra.
“O..oh, I..iya. Lan, kamu ke kelas duluan aja ya. Aku mau ngomong dulu sama Dini” ucap Sandra. Dylan pun mengangguk dan berjalan melewati Dini yang masih terpaku, tersenyum simpul dengan Dini. Dini
hanya menatap keduanya dengan tatapan datar. Perlahan Sandra mendekat kearah Dini sambil menatap Dylan yang pergi menjauh dari pandangannya. Beberapa detik setelahnya, Sandra langsung manarik Dini ke pinggir toilet, tempat Sandra dan Dylan b******u tadi. Namun cekalan tangan Sandra segera dilepaskan oleh Dini.
“Apa yang udah lo lakuin san? Tadi itu Dylan kan? Ketua tim basket sekolah kita..” Tanya Dini dengan nada emosi yang tertahan namun juga penasaran. Sandra menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka
suaranya.
“Gua jadian sama Dylan.” Ujar Sandra. Seketika mata Dini membola dan tangannya tergerak menutup mulutnya yang menganga. Dini memijit kepalanya dan bergerak-gerak resah. Ada rasa emosi, kecewa dan sedih
yang membuncah. Namun dibalik itu semua, rasa bingung dan tak mengerti adalaha perasaan yang mendominasi.
“San, maksud lo apa? Tanya Dini yang benar-benar bingung. “ Lo jadian sama Dylan? Lo jadian sama cowok yang jelas-jelas lo tau itu cowok yang Lexa suka. Dan ELO! ELO!” bentak Dini sambil menunjuk bahu Sandra
“ELO ITU MAK COMBLANGNYA SANDRA!!!” bentak Dini yang tak habis pikir dengan
kelakuan Sandra.
“Gua gak bisa melepas Dylan. Gua suka sama Dylan!” jujur Sandra pada Dini.
“Tapi lo sangat tau, paham, dan khatam seberapa Lexa suka sama Dylan. Lo sendiri adalah satu-satunya yang Lexa percaya sebagai mak comblang. Penghubung antara dia dan Dylan. Gimana kalo Lexa tau? Lo gak mikir
gimana kecewanya dia? Gimana perasaan dia? Dylan adalah cowok pertama yang Lexa taksir san!” Tanya Dini bertubi-tubi. Dini benar-benar geram pada kelakuan Sandra.
“Gua benar-benar gak bisa lepasin Dylan. Cowok seganteng dan sekeren Dylan, benar-benar bikin gua jatuh hati. Gua gak mau lepasin Dylan bahkan buat Lexa sekali pun. Gua gak bisa din.” Ujar Sandra juga
yang terlihat geram.
“Terus gimana Lexa? Lo mau bilang apa sama Lexa? Apa yang mau lo jelasin? Gua bener-bener khawatir Lexa bakal marah besar sama lo san.” Tanya Dini.
“Itu biar gua yang atur. Gua yakin Lexa bakal ngerti dan Lexa pasti bakal milih kebahagian sahabatnya.” Ucap Sandra dengan percaya diri.
“San, setiap orang punya batasannya masing-masing. Seandainya aja lo jujur sama Lexa dari awal, gua masih percaya
kalo Lexa bakal ngelepasin Dylan buat lo. sebelum perasaannya makin dalam, dia bakal berusaha berhenti. Cuma beda ceritanya kalo kayak gini. Gua harap lo cepet jujur sama Lexa, sebelum dia tau dari orang lain” ujar Dini pada Sandra. Setelahnya Dini langsung berjalan meninggalkan Sandra yang masih terdiam ditempat.
Beralih ke kelas 1 IPA.A yang masih ributpadahal jam pelajaran sudah mulai. Dini berhenti sejenak berdiri didepan pintu kelasnya. Memperbaiki raut wajahnya, menarik nafas dalam-dalam demi meredam
emosi yang baru saja ia keluarkan. Setelah dirasa membaik, ia memasuki kelasnya yang pintunya hanya terbuka sebelah.
“Dini, kemana aja sih lo lama banget. Terus, Sandra mana?” Tanya Lexa.
“Masih boker!” jawab singkat Dini sembari menghempaskan bokongnya diatas kursi, dan melempar buku yang ia bawa keatas meja.
“Lu kenapa din? Kayaknya capek banget muka lu.” Tanya Ami.
“Sakit kepala gua!” jawab Dini seadanya. Moodnya jadi hancur dan sedikit tidak enak pada Lexa karena tidak bisa jujur dengan apa yang ia lihat. Namun ia juga tak ingin persahabatan mereka rusak kalau ia
berkata jujur.
Beberapa menit kemudian, Sandra datang. Sandra langsung duduk didekat Ami. Ada rasa bersalah dan gugup dalam d**a Sandra. Ia pun tak tau harus apa bila ketahuan oleh Lexa. Namun ia tidak bisa melepas
cowok teh most wanted newborn di sekolahnya.
“Eh lex, kok bu ratna belom masuk ya?” Tanya Sandra berusaha mencairkan suasana hatinya.
“Oh iya, gua lupa. Bu Ratna gak jadi masuk. Karena dia ada seminar ahli kimia katanya. Jadi kita bebas deh sampe istirahat, karena pelajaran kedua juga kosong. Pak denny juga gak masuk. Ada jadwal mendadak di sekolah lain.” Jelas Lexa.