Disebuah villa dikawasan cibubur, tengah berlangsung sebuah house party. Lebih tepatnya diarea kolam renang dan halaman belakang villa seseorang yang pasti memiliki kekayaan yang luar biasa. Sebuah mobil Ferrari J50 Black baru saja tiba di halaman depan villa tersebut. Dari dalam mobil keluarlah sepasang remaja yang terlihat serasi dalam banyak pasang mata.
Dylan yang memakai setelah black suit tanpa mengancingkan kancing jas dan membuat baju dalam turtle neck abu terlihat dari luar. Menambah kadar ketampanan seorang Dylan semakin bertambah dan tentunya terlihat mewah. Disusul dengan Sandra yang memakai outfit black dress romper satin yang mengkilap, menampilkan kaki jenjang Sandra yang mulus tanpa cela. Serta heels warna senada dan rambut curly dengan ombre rose gold tampak cantik, sexy dan anggun secara bersamaan. Membuat lelaki terpana menatap keindahan yang dimiliki Sandra seorang kapten cheers.
Keduanya berjalan beriringan memasuki area party di kolam renang. Seluruh pasang mata di lewati mereka menatap dengan tatapan terpana dan decak kagum. Bahkan tidak sedikit yang merasa bahwa mereka sangat cocok menjadi couple goals SMA ADIAKSA.
“Weitsss… ini dia yang kita tunggu-tunggu. Teh king malam ini” sambut dino anggota tim basket skaligus sahabat Dylan. Mereka ber tos ria.
“Yo’i. ganteng banget lu bro. gak ada lawan emang lakik satu ini” sahut Ari
“Waduh Badas Man! Teh King bawa Queennya.” Ucap jefri
“Gak tanggung-tanggung, kapten basket dan kapten cheers. Always be match” tambah Ardi.
“Jadian gak? Jadian gak? JADIANLAH MASA ENGGAK!! SIKAT NJING!!!” Heboh Dino lagi. Sandra sendiri masih berdiri malu-malu akibat ucapan Dino. Lalu Sandra malu-malu mendudukan dirinya tepat satu sofa dengan Dylan.
“Oya San, kenalin ini semua temen-temen gua skaligus anak basket juga. Dan Guys ini Sandra kapten cheers sekolah kita. Ucap Dylan saling memperkenalkan.
“Hai san, gua Dino. Cowok terganteng, humble dan gua jomlo” ucap Dino dengar cengir tengil khasnya.
“Gua Ari. Ini Jefri dan Ini Ardi” jawab Ari seRaya menunjuk masing-masing memperkenalkan temannya.
“Halo, gua Sandra. Senang bisa berkenalan sama Kalian” ucap Sandra menjulurkan tangan halusnya dan menjabat satu persatu tangan teman-teman Dylan. Dylan dan teman-temannya pun saling bercengkrama dan mengobrol. Sandra tidak ikut dalam obrolan karena rata-rata mereka mengobrol tentang pertandingan dan kekalahan tim lawan. Sandra jadi canggung sendiri karena dia hanya diam dan kadangan memberi senyum untuk menanggapi obrolan mereka. Sebenarnya Sandra merasa di cuekin dengan Dylan, karena Dylan asik mengobrol dengan yang lainnya. Tapi Sandra berusaha mengerti dan baik-baik saja.
“San, Sandra!” panggil Ami yang baru saja menemui Sandra bersama anak-anak cheers. Sandra menoleh dan tersenyum seRaya melambaikan tangan pada Ami.
“Lan, gua samperin Ami dulu ya.” PAmit Sandra pada Dylan. Dylan pun mengangguk setuju.
“Lo kemana aja sih Mi? baru datang?” Tanya Sandra seRaya cipika cipiki.
“Iya, biasa.. gua prepare abis abisan. Kan ini perayaan pertama kita, jadi gua mau tampil all out. Siapa tau kan status jomlo gua lepas mala mini” cerocos Ami sambil berpose tengil dan tertawa bersama Sandra. Namun tiba-tiba saja tawa Ami meredup. Ami menarik Sandra untuk duduk di sebuah sofa yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
“San, lo makin deket aja sama Dylan. Udah jadian lo berdua?” Tanya Ami.
“Belom ni Mi. mungkin, malam ini gua bakal tembak dia. Ungkapin perasaan gua” ungkap Sandra seRaya tersenyum sumringah. Sandra yakin, bahwa Dylan juga menyukainya. Memang kenyataannya sulit untuk menolak gadis secantik Sandra. Tampilannya cukup sexy dan modis. Sulit untuk membiarkan gadis secantik Sandra menganggur. Mubazir!
“Hmm.. terus Lexa gimana san? Lo tau kan, dia suka banget sama Dylan. Dan lo adalah mak comblang yang mau comblangi dia sama Dylan.” Tanya Ami sedikit khawatir pada Lexa.
“Itu juga gua belom tau. Tapi gua kayaknya gak bisa nyerahin Dylan sama Lexa. Gua gak bisa lepasin cowok seperfect Dylan ke orang lain. Lexa sekali pun gua gak rela!!” jawab Sandra dengan sedikit kesal.
“tapi lo tau sendirikan, kalo ini pertama kali nya Lexa suka sama cowok san. Gua takut dia bener-bener marah sama lo” jelas Ami memberi pengertian kepada Sandra.
“Ah gak tau deh. Biarin aja. Kan Lexa buka siapa-siapanya Dylan. Masih bebas dong. Lagian semua orang juga tau, Dylan itu most wanted newborn. Dan juga Dylan kapten basket, gua kapten cheers, emang udah cocok gitukan dimana-mana. Ayolah Mi. lo kan keluarga dan sohib gua” jawab Sandra tetap teguh pada pendiriannya. Ami hanya bisa memijat kening dan menghela nafas panjang. Bagaimanapun Sandra adalah sahabat sekaligus masih terikat hubungan keluarga dengannya.
Sedangkan di sebuah kamar dengan nuansa putih nude, ada seorang gadis yang terlihat memberenggutkan wajah ayu nya. Sedih dan sedikit kecewa sembari melihat benda-benda yang telah disiapkannya tergeletak di atas kasur tanpa sempat ia gunakan.
Dress, sepatu, clutch ia tatap dengan bibir mungil nya yang sedikit melengkung kebawah dan alis sedikit terangkat keatas. Rasanya benar-benar sedih. Walaupun dia tidak bisa menyalahkan Sandra dan Ami karena acara keluarganya. Sepertinya baru kali ini Lexa merasakan kecewa dan sesedih ini. Haaah.. Lexa merasa ternyata dia benar-benar menyukai seorang Dylan. Lexa menghela nafas. Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Tok.. tok.. tok.. dengan lesu Lexa membuka pintu kamarnya. Dan terlihatlah wajah sang kakak ‘Axen’ yang berdiri di depan pintu kamarnya.
“De, kok belom berangkat? Udah jam delapan malam nih” Tanya Axen. Tanpa menjawab sang kakak Lexa membalikan badannya menuju kedalam kamar meninggalkan sang kakak yang terheran melihat tingkah adik tersayangnya. Axen yang terheran pun mengikuti Lexa memasuki kamarnya. Lexa duduk diatas kasur sembari menatap benda benda yang ada diatas kasurnya. Dahi Axen semakin berkerut melihat benda benda diatas kasur.
“De, kenapa? Ini semua udah prepare, kok belom siap?” Tanya Axen.
“Batal kak.” Jawab Lexa dengan lesu dan kembali menghela nafasnya melalui mulut mungilnya.
“Kok batal?
“Iya. Sandra pergi ke acara keluarganya di bogor sama Ami. Ada acara anniversary keluarga. Jadi batal ke acara peRayaan anak basket.” Jelas Lexa.
“Loh, kamu kan bisa ke acara itu sendiri de, atau ajak Dini”
“Gak bisalah kak. Yang anak cheers kan Sandra sama Ami. Aku sama Dini kan bukan. Lagian disana gak ada temen yang akrab sama aku. Kak Axen tau sendiri gimana aku” jawab Lexa.
Ya, Axen tau bagaimana adiknya bergaul. Axen merengkuh sang adik kedalam pelukannya. Axen tau, Lexa menyukai kapten tim basket sekolah mereka. Tapi beginilah Lexa. Dia tidak pandai untuk mendekati lawan jenisnya. Sesuka apapun itu, Lexa terlalu introvert dengan kaum lelaki. Axen berfikir, kalau saja Lexa berpenampilan lebih feminism sedikit, sang kakak yakin akan banyak sekali bahwa Lexa sangat cantik dan juga keren dengan kemampuan basket yang ia miliki. Bahkan Axen yakin, Dylan pun akan terpesona jika melihat siapa Lexa sebenarnya.
“Yaudah, sebagai gantinya.. gimana kalo kita tanding aja yuk di komplek.” Ajak Axen. Lexa yang mendengarnya sedikit mendongakkan wajahnya menatap sang kakak yang memeluknya.
“Ayo.. tapi kita ajak kak Excel sama Kenzo ya kak. Dua lawan dua” jawab Lexa dengan senyum kecilnya.
“Oke. Deal” Axen mengangguk setuju. Axen tau bagaimana cara menghandle sedikit kesedihan Lexa. Tanding basket sampai bermandikan keringat, dan siapa yang kalah akan mendapat hukuman tentunya. Apapun itu. Bahkan dulu Lexa pernah meminta hukuman kakaknya ‘Excel’ memakai baju daster mamanya dan memakai lipstick merah darah, lalu berjalan berkeliling komplek dengan bergandengan tangan dengan Axen. Dan saat Lexa yang kalah, Excel membalas dengan Lexa harus meminta tanda tangan kepada kakak kelas dikelas Excel yang berjenis kelamin cowok. Excel tahu bagaimana menjahili adik tercintanya itu sampai terkena mentalnya. Akhirnya Lexa menangis dirumah lalu mengadukan itu pada mamanya. Dan berakhir Excel di jewer kuping kanan kirinya secara bersamaan. Lexa tertawa puas dengan kemalangan kakaknya.
----------------------
Pesta kemenangan pun berakhir pukul satu malam. Dylan memang menyiapkan kamar inap untuk teman-temannya yang tepar di vila nya. Kini Dylan sedang mengantar Sandra ke kamar inap yang disediakan Dylan. Mereka berjalan ke lantai dua, karena kamar untuk anak cewek adalah lantai dua. Vila milik Dylan ini cukup besar dengan memiliki 8 kamar inap. Karena memang vila ini adalah vila keluarga.
“Nah san, ini kamar lo. Gua harap ini nyaman buat lo.” Ujar Dylan.
“Hmm… Makasih Lan. Lan, gua mau ngomong sebentar sama lo bisa?” ujar Sandra sembari di iringi degup jantung yang kian menderu.
“Boleh, lo mau ngomong apa san?” jawab Dylan. Dengan suasana cukup yang hening disekitar mereka, mengiringi kedekatan mereka. Sandra melangkah sedikit demi sedikit mengikis jarak diantara mereka. Langkahnya terhenti hingga hampir tak berjarak di antara keduanya. Jari lentik nan putih itu bergerak terangkat perlahan, mejulur kearah pinggang lelaki yang ada dihadapannya. Tangan itu melingkar perlahan merengkuh tubuh sang kapten ke dalam pelukan Sandra. Menyandarkan kepalanya di d**a bidang sang pujaan hati. Dapat Sandra rasakan tubuh itu sedikit menegang walaupun hanya beberapa detik.
Di hirupnya dalam-dalam aroma parfum maskulin seorang Dylan yang kini berada dalam pelukannya.
“Gua suka sama lo Dylan. Sangat suka!” sedikit mengangkat wajahnya menatap wajah Dylan yang berada tepat diatas kepalanya. Dengan tersenyum manis.
“Dylan, lo mau jadi pacar gua?”….