2. Di Tikung

1575 Words
Semua siswa mulai mengumpulkan tugas di meja guru. Jam pelajaran bahasa pun berlangsung sekitar dua jam. Dan kemudian berganti dengan mata pelajaran olahraga. Seluruh siswa 1IPA.A berganti pakaian di loker masing-masing. “Eh San, ada perkembangan apa kek gitu? Atau kapan kek gua ketemuan sama Dylan gitu..” Tanya Lexa. “Hmm… gini Lex, gua agak jarang ketemu sama Dylan akhir-akhir ini. Kan kalo gak salah dua minggu lagi ada pertandingan antar sekolah. Jadi gua belom sempet ketemu sama tu anak” jawab Sandra menjelaskan. “Oh iya ya, dua minggu lagi sekolah kita lawan tim basket sekolah trisakti.” Jawab Lexa mengingat sekolahnya ada turnamen persahabatan antar sekolah. Setelah selesai mereka berlanjut menuju lapangan. Seluruh siswa siswi melakukan pemanasan. Kali ini jadwal olahraga Voly. Sandra dan Ami cukup handal dalam olahraga tersebut. Lexa handal dalam bermain basket sama seperti kakak sulungnya. Sedangkan Dini dia handal dalam bermain piano. Alexa dan ketiga sahabatnya cukup popular untuk ukuran anak baru. Sandra anindita dewi seorang siswi yang cantik dan cukup pintar di bidang kimia. Cita-citanya menjadi seorang dokter kecantikan. Memiliki tubuh putih keturunan Thailand, menyukai olahraga voly dan shopping. Tampilan feminism modis sangat modis dibanding ketiga temannya. Sandra yang paling mencolok dari yang lain. Dan Ketua Cheerleadres junior. Amira syakib, memiliki wajah manis dan humble. Sedikit mirip dengan Sandra karena orang tua mereka sepupuan. Hobinya sama seperti Sandra. Ami orang yang paling pecicilan diantara yang lainnya. Tampilannya feminism dan tomboy diwaktu tertentu. Ami juga anggota Cheerleaders junior. Dinita Dewantari, memiliki wajah yang imut. Manis. Pembawaanya kalem, feminism dan terpolos diantara yang lainnya. Tampilannya feminism dan sering membuat emosi jika penyakit LOLA nya muncul ke permukaan. Dan yang terakhir Alexa Pradiana Pradja. Memiliki wajah cantik. Sangat mahir dalam bahasa inggris dan bermain basket. Taekwondo masih sabuk hitam ban I. berbeda dengan kakak-kakaknya yang sudah ban III. Memilki hobi rebahan diatas kasur dan nyemil. Berpenampilan tomboy, cukup cuek diantara temannya. Kini Sandra dan Ami membentuk pasangan tim lawan. Sedangkan Lexa dan Dini bertugas menjadi Supporter. “Ayo san! Hajar habis si Ami!” sorak Lexa. “Ami ayo Ami, bantai Sandra Mi!” teriak Dini. Sedang seru-serunya menjadi supporter untuk kedua temannya, tiba-tiba mata Lexa di tutup oleh seseorang dari belakang. Sontak Lexa kaget dibuatnya. “Ken, gua tau ini bau lo!” jawab Lexa sembari menurunkan tangan kenzo. “Tau aja lo Lex, berasa lo adalah Mate gua”. Jawab tengil Kenzo. “Mat,met,Mat,met… halu!” jawab Lexa. Lalu mereka tertawa bersama. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melirik kedekatan mereka dengan tatapan yang tak terbaca. Jam istirahat pun tiba. Lexa dan yang lainnya menuju kantin dan beristirahat disana. Disaat Lexa sedang menyeruput es jeruknya, tiba-tiba ia terbatuk. Dini yang disampingya sontak menepuk bahu Lexa. “Lex, Lex,, lo kalo minum pelan-pelan. Gak aka nada yang ngerebut bekan jigong lo” ujar Ami Namun Lexa yang ditegur tak menghiraukan perkataan temannya. Tatapannya masih terkunci pada suatu objek yang sangat menarik untuknya. Ya, Lexa menatap Dylan yang terlihat tampan dengan seragam putih abu-abunya dan bercengkarama dengan teman-temannya. “Hmm… pantes aja. Pawangnya nongol. Lex, lo gak tiba-tiba jadi b**o kan. Muka lo mupeng gitu.” Cerocos Ami yang menyadari apa yang membuat Lexa terbatuk dan terpaku. Dan seluruhnya menengok apa objek yang ditatap Lexa. “Lex, seandainya ni ya, seandainya aja, si Dylan udah punya pacar gimana?” Tanya Ami tiba-tiba. “Hmm..? tau dari mana lo ?” Tanya Lexa tanpa mengalihkan atensinya dari sosok objek tersebut. “Ya… Seandainya aja Lex” jawab Ami seperti penasaran dengan jawaban Alexa. “Ya kalo dia udah punya pacar, gua mundur lah, mau gimana lagi? Gua gak mau jadi pelakor. Sesama perempuan harus saling menghormati. Apalagi tentang perasaan.” Jawab Lexa yang membuat teman-temannya tertegun sejenak “Eh tapi san, emang si Dylan udah ada pawangnya belom sih? Lo udah nanya belom ke dia?” Tanya Lexa yang tiba-tiba penasaran. “Hah?.. hmm.. gak tau juga sih. Gua gak enak nanya nya. Kan gua sama dia baru deket juga. Udah beberapa tahun gak ketemu masa langsung nanya hal yang privasi kaya gitu.” Jelas Sandra Tak terasa dua minggu sudah berlalu. Pertandingan tim basket antar sekolah pun di laksanakan hari ini. Pertandingan persahabatan dengan tuan rumah SMA ADIAKSA, dan tamu rumah SMA TRISAKTI. Semua siswa siswi begitu antusias menonton pertandingan ini. Ada yang bawa spanduk, terompet, hingga drum dan gendang ke dalam lapangan. Termasuk Lexa dan Dini yang duduk di bangku penonton. Dini berpenampilan lebih ke casual feminism. Sedangkan Lexa memakai celana straight jeans dan crop top warna pastel muda lengan pendek serta rambutnya diurai. Ia ingin terlihat sedikit lebih feminism didepan Dylan sesuai saran Dini. Lexa sangat semangat untuk menyemangati dan melihat permainan pujaan hati. Lexa dan Dini mendapatkan urutan bangku penonton ditingkat kedua. “Lex, Lex.. gimana penampilan gua?” Tanya Sandra yang menghampiri Lexa di bangku penonton. Lalu Lexa memindai penampilan Sandra yang memakai seragam Cheerleaders dengan rambut yang di ikat buntut kuda menampilkan obre gold rose pada ujung rambutnya. “Sip!! Cantik banget lo san” ucap Lexa sembari mengangkat kedua tangan membentuk symbol oke. Dan pertandingan pun dimulai. Pertandingan berlangsung epic dengan di barengi nyel-nyel dari tim cheers “ ADIAKSA GO AHEAD, ADIAKSA WILL TEH BEST” seru para tim cheers menyemangati para pemain. Waktu awal permainan ADIAKSA tertinggal cukup jauh dengan TRISAKTI. Namun berkat kekompakan dan menyusun strategi dadakan, akhirnya ADIAKSA bisa menyamakan kedudukan dan berakhir dengan skor poin lebih tinggi hingga peluit tanda pertandingan pun berbunyi. “Yeeeeyyy!!” sorak sorai dari para pendukung SMA ADIAKSA. Lexa dan Dini spontan berpelukan dan melompat-lompat kegirangan. Setelah beberapa menit lapangan mulai sepi. Lexa dan Dini menuruni bangku penonton dan berlari menemui Sandra dan Ami. “San.!” Teriak Lexa. Sandra pun menoleh dan langsung menyambangi Lexa dan Dini yang di ikuti Ami. “Kita menang Lex!” langsung Sandra memeluk Lexa. “Iya San. Dylan keren banget mainnya.” Jawab Lexa “Lo juga keren banget pertunjukan Cheersnya San,” Dini menimpali. Saat sedang bercengkrama, tim basket datang menemui anak cheers. “Thanks Guys! Performa Kalian bagus. Terima kasih udah dukung Rajawali” ucap sang kapten tim basket. Siapa lagi kalau bukan Dylan. “Sama-sama lan. Lo juga mainnya keren banget.” Jawab Sandra. “Oya, kenalin ini temen-temen gua” lanjut Sandra sambil memperkenalkan Alexa dan yang lainnya. “Gua Ami.” SeRaya menjabat Tangan Dylan. “Dini” ucap Dini sambil menjabat tangan Dylan. Dan ketika giliran Alexa yang berkenalan dia sedikit gugup. Jantungnya berdegum kencang. Lexa berharap semoga Dylan tak mendengar suara detak jantungan nya yang kelewatan ini. Seperti adegan slow motion, perlahan Alexa mengangkat tangan. “Nama gua Alexa. Panggil aja Lexa” ucap Lexa sambil menjabat tangan Dylan. Dylan membalas jabatan tangan Lexa dan tersenyum manis membalas perkenalan diri Lexa “Gua Dylan” ucapnya. Dan perlahan melepas jabatan tangan mereka. Serasa ingin melompat, salto, jungkir balik dan ingin berteriak mengatakan “ I LOVE YOU DYLAN” itu lah penafsiran ungkapan hati Lexa. Dan pastinya hanya ada dalam hati dan khayalan Lexa saja. “Oya, gua mau kasih tau, besok malam gua mau ngerasain kemenangan rajawali di salah satu resort gua di cibubur. Kalian semua datang ya” ajak Dylan kepada Lexa dan kawan-kawannya. “Oke sip! Gua boleh bawa temen-temen gua kan?” Tanya Sandra. “Of course!” jawab Dylan dengan senyum menawannya. “Oke. Kita semua bakal dating. Ya kan guys?” Tanya Sandra dan yang di angguki semuanya. Lexa merasa benar-benar bahagia hari ini. Dia bisa berinteraksi dengan Dylan walaupun tak banyak. Bagi orang yang cukup kaku dengan lawan jenis, interaksi tadi sudah cukup memuaskan. Sabtu sore pun tiba. Malamnya adalah malam yang ditunggu-tunggu oleh Lexa. Malam peRayaan kemenangan tim basket sekolah nya. Lexa menyiapkan sebuah siffon floral dress lengan panjang dengan V neck dan panjang dress selutut dengan warna pastel nude. Tetapi dengan tetap menggunakan sneaker warna putih tulang. Saat ia akan memakai seluruh perlengkapan yang sudah di siapkan dengan matang, suara handphone berdering dari atas nakas. “Hallo San, lo udah siap?” Tanya Lexa yang menerima telpon dari Sandra. “Hallo lex, sorry. Maaf banget sebelumnya. Tapi gua gak bisa datang keacara nya Dylan.” Ujar Sandra dari balik telepon. “yah, kenapa San? Gua udah siap-siap padahal.” Jawab Lexa dengan nada sedikit kecewa. “Iya, maaf banget ya lex, gua mau kerumah sodaranya papa gua di bogor, ada universary nikahan. Gua sama Ami ikut. Soalnya itu juga sodara papa nya Ami.” Jelas Sandra pada Lexa. “Yah, berarti lo sama Ami gak ada dong?. Terus gak mungkin lah gua pergi Cuma sama Dini. Mati kutu gua disana. Belom nyampe lokasi, udah demam mobil duluan gua.” Jawab Lexa. Hati Nya benar-benar kecewa. Namun ia tak bisa memaksa kan kehendak. Keluarga lebih penting dibanding apapun. “Maaf ya Lex. Sorry banget!” jawab Sandra terdengar sedih Dan tak enak hati. “yaudah gapapa. Lo sama Ami hati-hati di jalan ya. Jangan lupa bawa oleh-oleh”ujar Lexa berusaha berlapang d**a. “Oke cantik. Happy Satnite darling. Muach!!” Sandra mengakhiri panggilannya. “Iya. Bye..!” jawab Lexa. Tanpa Lexa sadari, dari seberang sana di lokasi sebuah rumah yang sering ia kunjungi, rumah sang sahabat yang paling dekat dengannya semejak mengenalnya saat sekolah menengah pertama teapt di halaman depan rumahnya, telah terparkir sebuah mobil Ferrari hitam dengan plat –B 4 DAS-. Mobil seseorang yang telah membuat hati Lexa berbunga-bunga tanpa sebab. “Maafin hati gua Lexa.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD