22. In Date.

2022 Words
            ALEXA POV ON :             Ya Allah, jantung ku.. jantung ku.. gimana ini. apa sekarang d**a ku terlihat bergetar. Bara. Aku benar-benar merasa bersalah dan malu. Kini bara benar-benar bara marah pada ku. Rasanya sakit ya tuhan. Aku hanya berani menunduk, tak berani menatapnya langsung. Suara bara terdengar dingin.             “Gua.. gua mau minta maaf atas sikap gua malam itu. Nggak seharusnya gua bersikap kurang a….”             “Iya! Dan bikin gua sakit kayak gini” Ya Allah. Bara benar-benar marah. Bahkan mungkin  pernyataan aku malam itu sudah tak berarti lagi buat bara. Aku sunggu malu ya Allah. Aku hanya bisa meremas kencang ujung hoodie ku. “Aku nggak pa-pa.. kamu tenang aja ya..” bara menjeda ucapannya  “Alexa Pradiana Pradja..Pacar ku” Aku kaget mendengar serentet kalimat yang bara ucapkan. Belum selesai dari rasa terkejutku saat ini, bara kembali membuat ku terkejut dan sedikit berjengkit saat merasakan sebuah tangan menyentuh tanganku. Sebuah tangan meraih tanganku dan menggenggamnya.  Aku mengangkat kepala ku mencoba menatap bara. Menatap manic matanya yang berwarna coklat terang. Mata tajam yang sedang menatap ku saat ini. tak lama, aku merasakan usapan sebuah tangan di pipi kiri ku. Usapan yang sangat lembut dari ibu jari tangan seorang bara. Mata ku yang sudah menggenangkan air mata, ku coba tahan. Rindu yang sedari tadi membuncah yang juga ku tahan kini semakin meningkat memberontak agak raga ku masuk kedalam pelukan lelaki yang hanya beberapa jengkal di hadapan ku. ALEXA POV END             “Eekhem…!”             Deheman ambu memecah nuansa romance yang ter cipta di antara bara dan lexa. Lexa terjengkit dan langsung menjauhkan diri dari bara serta menarik tangannya dari genggaman tangan bara.             “Maaf mengganggu. Ini saya bawakan minuman dan cemilan untuk lexa” ujar ambu sembari meletakan makanan dan minuman. Bara terlihat kikuk, ia sebenarnya malu ketawan ambu nya.             Ambu adalah pengurus rumah dan pengurus bara dan saudaranya dari kecil. Bagi bara, ambu sudah seperti neneknya. Ambu nya sudah tau kalau bara berubah sejak kejadian setahun lalu. Setelah ia kehilangan saudaranya. Bara menjadi dingin, jarang tersenyum, dan tak pernah ia dekat dengan perempuan. Apalagi membawa perempuan kerumahnya. Jadi jika ambu begitu terheran kenapa lexa bisa datang kerumah bara adalah wajar. Ambu harap bara akan berubah kembali hangat seperti dulu.             “Am.. ambu, buatin bara es jeruk juga” ujar bara mencoba menghilangkan rasa malu nya pada ambu. Ambu tipis dan menggeleng. “Mas bara lupa?... mas baru aja selesai demam” jelas ambu. “ Ambu bikin kan teh hangat aja” lalu berlalu dari dua sejoli yang sedang malu-malu. Kini kedua nya duduk bersebelahan. Gugup atau canggung pasti. Namun bara berusaha bersikap cool. Ia terlihat biasa saja. “Oya, by the way.. kamu tau rumah aku dari siapa?” tanya bara. Lexa baru tersadar bahwa bara sudah merubah cara berbicaranya menggunakan aku-kamu. Pipi lexa bersemu merona. Benar kah ia dan bara telah berpacaran? Tak dapat lexa pungkiri.. ia bahagia. Cuma ia harus menahannya agar tak terlalu terlihat oleh bara. Lexa gengsi dong. “Lexa?!” panggil bara sembari menepuk bahu lexa. Lexa berjengkit dan langsung menepis kasar bara. Bara kaget begitu pun lexa. “Eh… ma.. maaf bar. Gu..gua gak sengaja” ujar lexa terbata-bata. Ia sebenarnya ingin menggunakan aku-kamu juga. Tapi malu. “Nggak pa-pa, kamu lagi mikirin apa sih?” tanya bara sambil menepuk kepala lexa. Aaa…. Tidak. Itu salah satu titik sensitive lexa. Luluh lantak sudah perasaan lexa. Menepuk kepalanya adalah salah satu hal sensitive. Yang di perbolehkan menyentuh kepalanya hanya papa nya, dan ketiga kakak nya. “Hmm.. nggak kok. Gua gak mikirin apa-apa” ujar lexa. “Oh.. jadi masih pake gua elo nih sama pacar sendiri” “Te.. terus pake apa?” tanya lexa gugup. Ide jahil pun terlintas di benak bara. Ia perlahan mendekat, mengikis jarak duduk antara ia dan lexa. Lexa melirik bara dan bingung. Lexa pun menggeser duduknya. Bara kembali bergeser duduknya begitu pun lexa, sampai lexa telah mentok di sisi sofa, ia tak bisa bergeser lagi. Bara masih bisa begeser mendekat, sampai kedua sisi kaki itu menempel. Bara benar-benar dekat. “Ba..Bar..” jantung lexa berdegup kencang. Wajah bara perlahan mendekat ke wajah lexa. Gila.. gila.. gila… itu yang ada di benak lexa. Kegugupan semakin melanda lexa mana kala wajah bara tinggal sejengkal dari wajahnya. Satu tangan lexa mencengkram kuat tali ranselnya, satu tanganya lagi meremas ujung sofa yang ia duduki. Matanya langsung terpejam erat ketika ia masih melihat bara yang terus mendekat dan kini kedua tangan bara mengurungnya. Bibir lexa pun mengatup rapat. Dan nafasnya tertahan. Bara yang sudah ada tepat di depan wajah lexa dengan jarak sekitar tiga senti saja tersenyum melihat tingkah laku lexa. Ia menjadi gemas sendiri. “Aku bakal serang kamu, kalau kamu masih pake gua elo pas kita lagi berdua gini. Paham?” tanya bara dengan nada rendah. Lexa segera mengangguk. “Nafas lexa!” ujar bara. Bara tersenyum melihat lexa yang terlihat imut. Lalu menjauhkan tubuhnya dari lexa. Lexa perlahan membuka matanya dan saat di lihat bara tak sedekat tadi, ia cepat-cepat menghirup udara sebanyak-banyaknya. “Hah..hah..hah..” lega sekali rasanya d**a lexa. Paru-paru nya seakan terlepas dari sebuah remasan menyesakan. Sialan banget sih bara. Apa ia mau membunuh lexa tanpa menyentuh. “Hahaha…” bara sedikit tertawa melihat lexa yang seakan ke habisan nafas. Lagian kenapa lexa suka sekali menahan nafas. Dengan gemas bara mengacak-acak rambut lexa. Lexa sebal, kini rambutnya yang ia ikat rapih jadi acak-acak. “BARA! Kesal lexa. Kali ini tanpa sadar, lexa bersikap manja pada bara.     ALEXA POV ON : Pukul tiga sore. Kini bara dan aku sedang berada di dalam mobil bara. Bara mengantar ku pulang. Tadi kami makan siang bersama di rumah bara. Dan itu hanya ada bara dan aku. Sayang sekali, rumah yang segitu luas namun terasa sepi. Flashback : “Mas bara, Alexa, makan siang sudah siap” ujar ambu. “Iya ambu. Ayo kita makan. Masakan ambu enak” ajak bara. Lexa terdiam, ia tak enak jika makan dulu di rumah bara. Lexa belum bilang pada mama nya kalau ia telat pulang. “Hmm… nggak usah deh bar, aku pulang dulu aja” ujar lexa. Bara mendekat kea rah lexa dan meraih tangan lexa lalu di genggamnya. “Sebentar aja. Nanti ambu ngomel kalo masakannya gak di cicipin. Nanti pulang aku antar kamu” jelas bara. Lexa pun mengerti dan ikut makan bersama. Dimeja makan hanya ada lexa dan bara. Lexa bingung kemana para penghuni rumah ini. kenapa meja makan yang cukup panjang ini tak berpenghuni selain lexa dan bara. Bara memperhatikan lexa yang sedang memperhatikan sekelilingnya. Bara tau apa yang lexa pikirkan. “Mama sama Papa aku lagi nggak dirumah. Mereka dinas diluar. abangku lagi ngantor. Mungkin pulang malam.” Jelas bara. “Jadi kamu sendirian aja dirumah tiap hari?” tanya lexa. Bara menaikan satu alisnya dan melirik lexa. Senyum tengil muncul di bibir lelaki itu. “Kenapa? Kamu mau kesini terus buat temenin aku biar gak kesepian?” tanya bara menggoda lexa. “Dih! Nggak lah. Enak aja. Emang aku apaan?” sewot lexa. Bara tertawa melihat sewotnya lexa. “Kamu kan pacar aku” bisik bara. Ia hanya bercanda. Mana mungkin bara mengizinkan lexa kerumahnya tiap hari. Bisa berabe jika keluarganya tau. Dari balik pintu ambu memperhatikan kedua nya. Ia tersenyum melihat keakraban bara dan lexa. Baru hari ini bara bisa tertawa sedikit lepas dari biasanya Flashback end. Di dalam mobil kami sama-sama terdiam. Bara fokus menyetir, dan aku terdiam sambil memandang kearah luar mobil mengamati jalan yang kami lalui. “Lexa..” bara menjeda ucapannya. Aku menoleh kearah bara “Boleh kita ngobrol sebentar” tanyanya. Aku mengangguk. Lalu bara menepikan mobilnya di pinggir jalan. Aku memperbaiki duduk ku dan bersiap mendengarkan apa yang akan bara bicarakan. “Lexa… gimana kalau kita rahasiain dulu hubungan kita?” cetus bara. Aku mengerutkan keningku. Agak sedikit terkejut namun sebenarnya tak masalah bagi ku. Hanya apa alasannya ia ingin melakukan backstreet. “ Ya… aku sih nggak pa-pa. tapi kenapa?” tanya ku penasaran. “Hm.. aku mau umumin nya nanti aja di hari special.” Jawab bara. “Kamu nggak marah kan?” tanya bara sembari meraih tanganku. “Iya nggak pa-pa” ucapku seraya tersenyum padanya. Lalu ia kembali mengusap-usap puncak kepala ku. Sungguh tak dapat di pungkiri, aku seperti anak kucing yang suka sekali di elus-elus kepalanya. Bara menghentikan tangannya yang sedang mengusap dan kembali menjalankan mobilnya. ALEXA POV END. Lexa membaringkan tubuhnya diatas kasur. Ia telah selesai belajar dan mengerjakan beberapa tugas kejuruan malam ini. Sedikit mengingat moment kebersamaannya dengan bara. Dengan tak menyangka, kini ia benar-benar memiliki seorang kekasih. ‘Pacar? Gua pacar bara?’ batin lexa sedang bertanya, apakah ia sekarang benar-benar berstatus paca seseorang? Bibirnya mengukir senyum yang manis. ‘TRINGGG’ Suara dering chat ponsel lexa berbunyi. Lexa mengambil ponselnya yang ada diatas nakas pinggir ranjangnya. Sebuah notifikasi chat dari lelaki yang baru saja ia pikirkan muncul di layar ponselnya. From Bara : Sayang…’ Lexa langsung terduduk bersila diatas ranjangnya. Tiba-tiba jantung lexa kembali berdegup kencang. Rasanya telinga lexa dapat mendengar degup jantung yang berdegup kencang. Lexa tak bisa menahan senyumnya. Ya Allah,, apakah semenyenangkan ini memiliki pacar? Seperti orang gila rasanya. “Duh, balas apa ya?..” beo lexa. Ia harus balas apa. Jadi bingung sendiri. ‘Apa sayang?’ ketiknya, namun di hapusnya. Ia menggeleng. ‘tumben panggil sayang?’ kembali ia ketik, namun lexa kembali menghapusnya. ‘apa? Kamu dimana? Udah makan?’ ketik lexa. Namun setelah berpikir beberapa detik, kembali ia hapus. Terlalu lebay pertanyaan itu. “Duh apa ya?” lexa menggaruk-garuk kepalanya sambil berfikir untuk membalas pesan bara. Saat ia sedang melamun memikirkan jawaban chat, tiba-tiba ponselnya kembali bordering sangat kencang. Reflek ia menjatuhkan ponselnya. Saat melihat layar ponselnya, ia melihat tulisan Bara is calling… lexa memungut ponselnya. Ia bingung mau di jawab apa nggak. Dia harus bicara apa. Namun ia memutuskan untuk menjawab panggilan bara. “Ha..halo?” ucap lexa. “Halo sayang. Kok chat aku di read doang?” tanya bara. “Eh.. itu, aku baru selesai mandi” jawab lexa. Lexa merasa hatinya tergelitik ketika bara memanggilnya sayang. Ya ampuunn apa ini beneran bara?? “Oh.. udah wangi dong! Pantesan handphone aku ngeluarin wangi manis, ternyata wangi tubuh kamu tembus kesini. Bikin aku kangen aja” cerocos bara. Pipi lexa bersemu pink merona. Ya ampun bara sedang menggombalinya saat ini. untuk bara tak ada di depannya saat ini. bisa malu abis-abisan kalo ketawan blushing dengan gombalan garinhnya bara. “Halo?.. sayang?” panggil bara. “Eh.. iya bar?” jawab lexa sedikit gugup saat mendengar panggilan tersebut. “Kamu lagi apa?” tanya bara. “Lagi telponan sama kamu” jawab lexa lurus. Memang benar bukan jawaban lexa.. “Kamu sekarang dimana? Udah di rumah?” tanya lexa “Hm.. nggak. Aku lagi diluar, nongkrong sama anak-anak” ucap bara. “Nongkrong?” lexa melirik jam di dinding kamarnya. Jam menunjukan pukul Sepuluh malam. “Ini kan udah malam bar, kamu nggak pulang? besok juga sekolah” ujar lexa. Disebrang sana raut wajah bara terlihat datang. Bola matanya berputar jengah. ‘apa sih ni anak baru jadi cewek gua aja udah ngatur gua aja’ benak bara. “Males! dirumah, sepi. Mending nongkrong bareng anak-anak diluar.” jawab bara dengan malas. “Hm.. yaudah kalo gitu. Jangan terlalu malam pulangnya. Gak bagus angin malam buat tubuh” ujar lexa. Lexa ingin mencoba perhatian pada pacarnya tersebut. “Ya.” Jawab bara dengan malas. Lalu ia memutuskan panggilannya. Di kamar lexa terbengong tiba-tiba bara memutuskan telponnya. Tapi tak lexa ambil pusing. Ia merebahkan tubuhnya bersiap untuk merajut mimpi yang indah. Rencananya lexa hari ini akan menceritakan tentang ia dan bara pada raya. Lexa sudah merasa percaya pada raya. Ya, lexa harap raya benar-benar akan menjadi sahabat sebenarnya untuk lexa. Lexa mengajak raya untuk duduk di taman sekolah yang berada di belakang kelasnya. Disalah satu kursi kayu panjang berwarna coklat mengkilap, lexa membawa raya duduk disana. “Ray… gua mau jujur” ujar lexa. “Jujur apa? Kamu punya masalah? Atau, kamu butuh bantuan? Atau aku ada salah sama kamu?” tanya raya bertubi-tubi. Raya takut karena wajah lexa menampakan mimic serius. Lexa memutar bola mata jengah. “Gua pacaran sama bara!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD