23. Lembut dan Kasar.

2593 Words
“Gua pacaran sama bara!” Kedua mata raya melotot maksimal dengan mulutnya terbuka lebar langsung di tutupi dengan tangan kanannya. “Serius Lexa teh?” tanya raya. Raya sangat kaget. Masa bara yang terkenal dingin dan jutek itu, tiba-tiba bisa jadian dengan lexa yang sikapnya juga tomboy. Raya tak bisa membayangkan gadis tomboy, dengan lelaki jutek nan dingin berpacaran. Apa yang akan terjadi? “Iya..” cicit lexa sambil menundukkan kepalanya. Ia cukup malu dengan raya. Ia baru disekolah ini, baru beberapa bulan sudah menggait cowok disekolah ini. ia takut raya berfikir bahwa lexa seorang cewek yang ganjen. “Wuah.. hebat kamu teh lexa!” ujar Raya sambil bertepuk tangan. Lexa menatap raya dan mengerutkan keningnya. “Hebat? Maksud lo?” tanya lexa tak mengerti. “Kamu itu hebat, bara itu sangat sangat sangat susah didekati apalagi di miliki sebagai pacar sama anak-anak perempuan sekolah ini. tapi kamu, bisa naklukin bara gitu aja? Hebat atuh kamu” ujar raya sambil mengacungkan dua jempolnya. Drttt..drrtt.. ponsel lexa bergetar disakunya. Lexa melihat pesan masuk ke ponselnya, dan itu dari bara. From Bara : ‘Sayang, pulang sekolah ikut aku ya’.Lexa tersenyum. Apa bara ingin mengajaknya ngdate?  From Lexa : ‘Kita mau kemana?’ From Bara : ‘Ikut aja dulu. Aku tunggu di pintu belakang jurusan sipil.’ Lexa masih tersenyum. Lexa merasa benar-benar sedang kasmaran. Rasa ini mungkin sama seperti saat ia menyukai Dylan. Atau mungkin lebih? Terlintas sebuah pertanyaan dibenaknya, ‘Apakah secepat ini ia menyukai bara?’ “Hayooo.. kenapa kamu senyum senyum lexa?” goda raya. Ia sedari tadi melihat lexa yang senyum-senyum sendiri. Raya berfikir pasti pesan di ponsel lexa, datangnya dari bara. “Dia ngajak gua keluar pulang sekolah nanti ray” ujar lexa. “Wah.. ngdate nih?” goda raya. Lexa malu-malu mengembangkan senyumnya. “Nggak tau juga sih.” Jawab lexa sambil mengendikan bahu nya. Jam pelajaran sekolah pun berakhir. Seluruh siswa masing-masing membenahi peralatan sekolahnya dan pergi keluar dari kelasnya masing-masing. Lexa melangkahkan kakinya menuju gedung jurusan teknik sipil. Ia berjalan menuju belakang gedung tersebut. Lexa menengok kanan kiri mencari pintu yang bara maksud. “Mana ya pintunya? Cicitnya. Lalu lexa melihat sebuah seng panjang berkarat yang berdiri di pojok dinding pembatas halaman belakang sekolah. Lexa berjalan menuju seng tersebut. Ia mencoba mengangkat seng itu, dan ada sedikit celah dinding yang dapat membawanya keluar dari sekolah. Lexa melewati celah tersebut. Lalu ia kepalanya celingukan mencari bara, dan terlihat bara sedang duduk diatas motor membelakanginya. Lexa langsung menghampiri bara. “Bar?” “Kok lama banget sih?” ujar bara sedikit ketus. “Eh..? ma..maaf” lirih lexa. “Yaudah cepet naik” ujar bara yang masih sedikit ketus sambil menyerahkan helm untuk lexa. Lexa sedikit bingung kenapa bara ketus padanya? Apa karena ia sedikit terlambat?. Lexa memakai helm yang diberikan bara. Namun, kembali lexa kesusahan untuk mengancing flip helmnya. ‘duh, kok susah sih?’ benak lexa berujar. Beberapa saat ia tak merasakan pergerakan apapun di jok motor belakangnya. Lalu bara menoleh. Dan ya, ternyata lexa kesulitan mengancing flip helm. Bara memutar bola matanya. Tangannya terulur meraih flip dibawah dagu lexa. Bara menarik flip sedikit kencang agar mendekat untuk ia pasang. Lexa terhuyung karena helmnya di tarik oleh bara. “Aduh!” ujar lexa. Wajah mereka cukup berdekatan “Lama banget sih.” Gerutu bara. ‘klik’. Terkunci sudah flipnya “Gitu aja gak bisa” lalu bara membalikan badannya menghadap depan. Lexa menaiki motor bara. Hati nya sedikit sakit karena tiba-tiba sikap bara yang ketus. Bara melajukan motornya. Sampailah bara dan lexa di sebuah rumah yang cukup megah. Disana terparkir beberapa motor besar yang mirip dengan motor bara. “Ini rumah siapa bar?” “Rumah temen aku” ujar bara sambil meraih tangan lexa. Bara menggandeng lexa memasuki rumah tersebut. Lexa menatap tangannya. d**a nya tiba-tiba menghangat. Rasanya hangat di d**a lexa tersalur dari hangatnya tangan bara. Bara memencet bel rumah tersebut. Beberapa saat menunggu, terbuka lah pintu dan menampilkan lucas di balik pintu. “Weh bar. Lama banget lo” ujar lucas. Lalu ia melirik lexa yang dibelakang bara. “Lexa?” “Gua nggak disuruh masuk?” tegur bara. Lucas lalu memperilahkan masuk kedua orang yang baru datang tersebut. Lucas menggiring lexa dan bara ke ruang tengah dimana Leo, deden, Mario dan sandi berada. Ke empat lelaki tersebut menoleh kearah bara. Dan cukup terkejut saat bara membawa lexa dan membuat gagal fokus adalah genggaman tangan bara pada lexa. “Bar, kunaon eta si lexa di gandeng wae? Siga nini – nini arek nyebrang!” ujar deden. Bara membawa lexa duduk di sofa dan berada di sampingnnya. “Kenalin Ini lexa. Pacar gua” ujar bara dengan santai. Mario yang sedang meminum es tehnya tiba-tiba tersedak mendengar ucapan bara. “Uhuk..uhuk..uhuk..” deden langsung menepuk-nepuk pundak Mario. “Lo seriusan bar?” tanya leo. Bara mengangguk sambil memainkan ponselnya. Genggaman tangan pun telah di lepasnya. “Lexa.. serius lo pacarnya bara?” kini lucas yang bertanya. Lexa tersenyum canggung. Dan menganggukan kepalanya. “Iya.” Ujar lexa. Yang lain cukup terkaget dengan jawaban lexa. Itu artinya rencana bara sedang di jalankan. “Lexa, kenapa kamu teh mau sama si borokokok iyeu? Tanya deden menunjuk bara. Lexa tersenyum manis mendengar pertanyaan deden. Senyum yang ternyata membuat seseorang terpana. Lexa sangat cantik saat tersenyum. “Aku nggak tau. Tapi dia berhasil membuat aku yakin untuk menerima perasaanya” ujar lexa dengan senyum yang masih bertengger manis di bibir mungilnya. “Duh,,, sesek nafas gua” ujar Mario tiba-tiba sembari memegang dadanya. “Loh kenapa kok bisa?” tanya sandi yang menghampiri Mario. “Iya, karena separuh nafas gua terbang kearah lexa pas dia senyum” dan langsung mendapat jitakan dan geplakan dari sandi dan deden di kepala Mario. “BANGKE LO YO!” teriak sandi dan mendapatkan gelak tawa dari Mario. Lexa yang melihat kekonyolan teman-teman bara juga ikut tertawa. Ternyata mereka yang terlihat sombong dari luar, ternyata cukup asik dan sangat baik. “Duh.. lexa pas aa deden liat neng lexa ketawa teh, seketika aa berubah menjadi anak indigo.” Ujar deden dengan tangilnya. “Indigo? Maksudnya?” tanya lexa bingung. “Iya. Indigo. Masa nggak tau indigo” “Indigo itu kan yang bisa ngeliat dunia lain, terus makhluk-makhluk tak kasat mata” kini bara yang menjawab. “Iyap bener tuh.” Ujar deden. “Terus apa hubungannya?” tanya bara heran. “Iya gua berubah jadi indigo. Karena gua melihat sesuatu di dalam diri neng lexa” jawab deden. “Apa?” tanya bara “Gua melihat masa depan gua dalam diri lexa” ujar deden sambil mengedipkan matanya pada lexa. Bantal pun melayang ke wajah tengil deden dari bara. Begitupun teman-temannya yang ikut membully deden. *** Sudah sejam lexa berada dirumah lucas. Ia merasa seperti kambing conge yang tak di hiraukan bara. Bara sibuk main game di kursi gamers bersama dengan teman-temannya. Lexa jenuh dari tadi hanya memainkan ponselnya. “Kenapa bara harus ajak gua kalo ujung-ujungnya gua dikacangin. Mending gua balik” gerutu lexa. Lalu lexa memutuskan untuk berkeliling rumah lucas yang cukup luas. Daripada pinggangnya sakit dan pantatnya panas akibat kelamaan duduk. Lexa berjalan menuju halaman belakang. Disana ia melihat ada taman kecil yang dipenuhi bunga. Dan ternyata itu bunga lily putih, bunga kesukaan lexa. Lexa bergegas menuju taman tersebut. “Ya ampun. Lily putih. Cantik banget” lexa tersenyum sumringah sambil menyentuh bunga-bunga tersebut. Di kursi game para lelaki tersebut masih fokus untuk mengalahkan lawannya. Mereka fokus memainkan hero nya masing-masing. Lucas yang tak ikut main karena ia baru saja bangun tidur. Ia tertidur di karpet dekat sofa yang di duduki lexa. “Loh bar, lexa mana?” tanya lucas. “Mata lo buta! Itu dia ada di sofa” jawab bara tanpa menoleh pada lucas. “Elo yang picek! Mana ada lexa di sofa Gemblung!” kesal lucas. Tak mendapat jawaban dari bara, ia memutuskan mencari lexa di sekeliling rumahnya. “Bar, lo gak kasian, lexa di anggurin aja. Bete nanti dia” ujar leo yang masih mengitak-atik hero nya. “Nggak!” jawab bara singkat. Lucas menelusuri halaman rumahnya. Saat ia sampai di pelataran belakang rumah, ia melihat seorang gadis sedang berada di area taman buatan sang mama. Lexa terlihat cantik. Rambutnya tergerai dengan ujung bergelombang. Ada sedikit semilir angin yang menerpa beberapa helai rambutnya. Terlihat semakin cantik saat lexa tersenyum melihat kupu-kupu yang hinggap di bunga-bunga tersebut. Seutas senyum dibibir lucas mengembang. Ia perlahan berjalan menghampiri lexa. “Gua pikir lo di culik atau ke cebur dicomberan.” Ujar lucas. Lexa menoleh pada lucas. “Lo pikir gua anak kucing kecebur di comberan. Trus emang bisa ya penculik masuk kerumah lo, buat nyulik gua. Sia-sia tau!” jawab lexa “Kalo gua yang nyulik sih, gak akan sia-sia. Gua bakal sekuat tenaga buat dapetin target penculikan kayak lo.” Ujar lucas yang kini berdiri di samping lexa. “Kalo gitu lo bakalan makin rugi! Gua makannya banyak. Tekor lo nyulik perut babon kayak gua.” Jawab lexa dengan terkekeh. Lucas pun ikut tertawa mendengar ucapan lexa. “Jangan kan makan banyak, lo minta otak, hati dan jantung gua buat lo makan juga gua dengan senang hati kasihnya. Asal gua bisa dapetin elo” ujar lucas sambil mengedipkan sebelah matanya. Lexa sontak tertawa mengdengar gombalan lucas. Ia hanya geleng-geleng. “Gombalan lo basi!” ujar lexa sambil masih terkikik. Melihat tawa lexa secara langsung di depan mukanya membuat lucas terpana. Lexa, gadis tomboy yang biasanya cuek dan jutek, kini ada dihadapannya sedang tertawa. Tawa yang menampilkan gigi putihnya. Sangat cantik. Betapa beruntungnya ia saat ini karena menyaksikan keindahan secara langsung. Mereka saling tertawa dan mengobrol ringan di taman tersebut. Bara menyudahi permainannya. Ia haus setelah satu jam setengah mengalahkan tim lawan. Ia berniat ingin mencari minum di dapur, namun matanya tak sengaja melihat ke halaman belakang. Disana terlihat lucas dan lexa yang sedang duduk taman sambil menikmati cemilan dan minuman, mereka berdua bercengkrama di taman yang dipenuhi bunga tersebut. Terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang menghabiskan waktu santai bersama. Sedikit ada rasa kesal pada lexa dan lucas. Sedang apa mereka berduaan disana? Bara keluar dari pintu dapur dan menghampiri keduanya. ‘GREBB!!’ tanpa aba-aba bara merebut minuman es teh yang ingin di minum oleh lexa. Lexa cukup terkejut saat tiba-tiba gelasnya direbut seseorang. Ia pun menoleh, siapa yang merebut minumannya. Dan melihat bara sedang meminum es tehnya hingga tandas. “Lhooo bar, kok es teh aku di minum?” tanya lexa kesal. “Aku haus” ketus bara. Lalu meletakan gelas di meja dengan cukup keras. ‘TAK’!!. Untung saja gelas kaca tersebut tak pecah. “Ayo. Kita pergi” ujar bara sambil menarik tangan lexa. Lexa segera bangkit. Rasanya bara cukup keras mencengkram tangan lexa. Namun tak terlalu menyakitkan. “Mau kemana?” tanya lexa. “Pulang!” ketus bara. “Cepet amat lu balik bar? Biasanya juga sore kalo nggak malem” tanya lucas. “Gua capek!” lalu bara langsung menarik lexa untuk pergi segera. Lexa berpamitan sambil berjalan pada lucas. Ia melambaikan tangan begitu pun lucas. Bara mengambil tas dan kunci motornya di dalam rumah. Lalu berjalan kembali untuk segera pergi dari rumah lucas. “Weh, bar mau kemana lo?” tanya sandi. “Balik” “Lah tumben si moncong lele pulang cepet!” ujar Mario. “Alaaah.. paling alasan si bara aja. Padahal mau cup cup cup sama si lexa” ujar leo dengan wajah tengilnya. “berisik lo pada!” lalu bara pergi dari sana. Bara mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Ia ingat, mereka belum makan siang. Lalu bara membawa lexa ke tempat makan pinggir jalan dekat taman kota. Karena sudah mulai sore, jadi sudah banyak pedagang makanan malam disana. Banyak pilihan dengan berbagai aroma makanan yang lezat. “Kita kenapa kesini bar?” tanya lexa. “Ya mau makan lah. Masa mau dugem!” m=bara masih ketus. Lexa sebenarnya heran, kenapa hari ini bara selalu ketus padanya. Marah-marah tanpa sebab. Lexa kesal. “Gua gak laper! Makan aja sono sendiri!” lexa pun ketus pada bara. Ia berjalan pergi meninggalkan bara. Bara dengan segera mengejar lexa dan meraih pergelangan tangan lexa. “Kamu mau kemana?” tanya bara “Gua mau pulang!” lexa mencoba melepaskan tangannya dari bara. Namun tak bisa karena bara mencengkram cukup kuat. “Nggak! Kita makan dulu baru pulang. Dari tadi kamu belum makan siang.” Ujar bara dengan nada suara normalnya. Lalu ia menarik lexa untuk menghampiri salah satu tenda di pinggir taman tersebut. Mereka berdua duduk di kursi saling berhadapan. “kamu mau makan apa?” tanya bara. Sambil meliat menu nya. “Nggak tau. Terserah !” lexa masih dalam mode ngambek. Bara melirik lexa yang masih cemberut dengan bibir maju kedepan dan mata memicing ke samping. Bara tersenyum dan ia memilihkan menu untuk mereka berdua. “Mang, kupat tahu dua yah. Sama es jeruk dua” ujar bara. “Pedes henteu a?” tanya si mamang “Henteu mang. Sedang aja lah” jawab bara. Lalu mamang kupat tahu pun pergi. Bara lalu melirik lexa yang masih memanyunkan bibirnya. Terlihat pipi lexa gempil saat dia cemberut. Bara jadi gemas. “Kamu kenapa sih? Kok cemberut makan bareng pacar?” tanya bara dengan lembut. “Kamu yang kenapa? Dari tadi bawaanya sewot mulu, ketus mulu.” Jawab lexa dengan jutek. Ya bara memang sengaja untuk ketus pada lexa hari ini. ia akan mulai menjungkir balikan hati lexa. Kecuali saat tadi di taman belakang rumah lucas. Ia memang sedikit kesal. “Tangan aku sampe sakit kamu tarik-tarik” lanjut lexa. “Maaf ya sayang. Tadi aku kesel, kenapa kamu duduk berduaan sama lucas di taman? Jadi aku sedikit jengkel.” Jawab bara. “Maksudnya? Aku Cuma ngobrol sama lucas. Abis aku udah kaya kambing conge di dalam rumah nungguin kamu main game sampe lupa sama aku” lexa mengeluarkan uneg-uneg nya. “Maaf ya aku ke asyikan main game. Udah dong jangan marah lagi. Mirip bebek kamu kalo manyun gitu” ujar bara menggoda lexa. “Bara!! Enak aja” kesal lexa. Ia makin memajukan bibirnya. Bara tertawa melihat lexa yang makin ngambek. Terlihat lucu. “Ya udah maaf. Sini mana tangannya, coba aku liat” bara menarik tangan kiri lexa yang ia genggam dengan kuat tadi. Sedikit memerah pergelangan tangan lexa. Bara menarik pergelangan tangan lexa lalu mendekatkan di depan bibirnya. Bara meniup-nuip lembut tangan lexa, lalu mengusap-usap dan yang terakhir memberi kecupan di kedua sisi pergelangan tangan lexa. ‘Deg..deg..deg.. Jantung lexa kembali menabuh genderam. O..ow.. bahaya! Apakah bara bisa mendengar degup jantung lexa atau, bisakah bara merasakan getarannya lewat tangan lexa? Lexa takut bara tau kalu perlakuannya kini membuat lexa ingin melompat, salto, kayang, lalu acrobat. Lexa gengsi dong kalau sampe bara tau hal sekecil itu dengan mudahnya meluluh lantakan perasaannya. “Udah deh.” Ujar bara. “Maaf ya udah bikin tangan kamu sakit. Maafin aku ya sayang” ujar bara dengan lembut. Lexa mencoba menetralkan degup di dadanya. Ia menahan rasa bahagia ketika panggilan ‘sayang’ terucap dari mulut bara. “Iya.” Jawab singkat lexa. “Nah gitu dong. Lucu deh kalo lagi ngambek” ujar bara sambil mencubit pangkal hidung lexa. Tak lama makanan datang. Keduanya menikmati makanan tersebut. Lexa sangat menikmati makanannya. Selain rasanya enak, ia juga bahagia bara memperlakukannya dengan baik kembali. Beberapa kali bara membersihkan sudut bibir lexa yang ada belepotan saus kacang. Lexa seperti anak kecil saat ini karena beberapa kali bara membersihkan sudut-sudut bibirnya. “Aduh. Kamu makannya berantakan banget sih” gerutu bara. “Hehehe.. abis enak sih” jawab lexa sambil tertawa. Dan keduanya menghabiskan waktu bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD