bc

THE BROKEN PETALS OF GORYEO

book_age18+
4
FOLLOW
1K
READ
adventure
curse
scandal
royal
childhood crush
lonely
love at the first sight
brutal
selfish
wild
like
intro-logo
Blurb

Dia yang lahir ketika gerhana matahari, akan terbunuh. Sebuah ramalan yang mengubah jalan takdir seorang bocah laki-laki.

Ketika gerhana matahari tiba, saat itu Jang Siwoo melihat dunia. Menghirup udara yang sama dengan Wang Hee Seung. Namun bukan sebagai dirinya, melainkan sebagai sosok lain.

Ketika Goryeo memilih tiga orang sebagai Raja. Siapakah yang pada akhirnya akan mematahkan kutukan dan menjadi satu-satunya Kaisar yang diakui oleh rakyat Goryeo?

Wang Hee Seung yang bijaksana?

Jang Siwoo yang berhati dingin?

Atau justru Wang Jung Hwan yang ambisius?

Sebuah ramalan menuntun pertemuan mereka untuk membuat bagian akhir dari kisah memilukan di tanah Goryeo.

chap-preview
Free preview
Chapter 1 : Jatuhnya Sebuah Ramalan
Langkah tegap Jang Sajung memasuki paviliun, membimbingnya memasuki sebuah ruangan. Pandangan Jang Sajung segera mengarah pada sosok wanita yang terbaring di atas ranjang dan tampak kesakitan. Jang Sajung mendekat dan mendapatkan sambutan dari Dayang Choi.  “Tuan sudah datang?” tegur Dayang Choi.  “Kau sudah memanggil tabib?”  “Sudah, Tuan. Sebentar lagi tabib akan sampai di sini.”  Jang Sajung melucuti pedangnya dan mendekati wanita yang tidak lain adalah Putri Yowon, adik kandung dari Raja Wang Geun dan tidak lain adalah wanita yang berstatus sebagai istrinya. Tepatnya satu tahun yang lalu Jang Sajung berhasil mempersunting sang Putri.  Namun meski telah menjadi menantu keluarga kerajaan, Jang Sajung menolak meninggalkan gelarnya sebagai sebagai pengawal pribadi Raja. Hingga detik ini, Jang Sajung masih berdiri di belakang Wang Geun untuk memastikan keselamatan sang Raja.  Jang Sajung duduk di tepi ranjang. Satu tangan pria itu segera menggenggam tangan Putri Yowon. Menyampaikan kekhawatiran ketika melihat wanita itu tampak kesakitan.  “Bertahanlah sebentar lagi, tabib akan segera kemari.” Jang Sajung mencoba menenangkan istrinya.  Putri Yowon membalas genggaman tangan Jang Sajung dan memberikan anggukan pelan. Sementara itu berita tentang Putri Yowon yang akan melahirkan sudah menyebar ke seluruh penjuru istana. Banyak yang menantikan kelahiran anggota baru keluarga kerajaan itu, mengingat Putri Yowon memiliki nama baik bukan hanya di istana, melainkan juga di seluruh dataran Songdo.  Songdo : Ibu Kota Goryeo. Sekarang menjadi Kaesong.  Tak beberapa lama seorang tabib wanita datang dan membantu proses persalinan Putri Yowon. Sedangkan Jang Sajung memilih menunggu di depan pintu kamar dengan wajah yang tampak gusar, dan kegusaran itu semakin bertambah ketika samar-samar terdengar suara dari dalam ruangan. Saat itu seorang prajurit berlari menghampiri Jang Sajung dengan panik.  “Tuan, kau harus melihat ke luar.”  “Ada apa?”  “Terjadi sesuatu pada matahari.”  Netra Jang Sajung menajam. Dengan langkah lebarnya Jang Sajung lantas bergegas keluar. Netra Jang Sajung memicing ketika melihat keadaan yang sedikit menggelap, namun keributan di luar paviliun berhasil menarik perhatian pria itu. Melangkahkan kakinya keluar, Jang Sajung memandang ke langit yang masih cerah, namun keadaan perlahan mulai menggelap.  “Apa yang terjadi?” tanya Jang Sajung kemudian.  Prajurit yang masih berdiri di sampingnya lantas memberi jawaban, “sepertinya akan terjadi gerhana matahari, Tuan.”  Netra Jang Sajung membulat. Dengan cepat tatapan menuntut itu jatuh kepada sang prajurit. Pria itu bergumam tak percaya, “tidak mungkin.”  Jang Sajung kembali masuk ke paviliun. Dengan langkah yang terburu-buru Jang Sajung kembali memasuki ruangan di mana Putri Yowon berada. Jang Sajung segera menghampiri Putri Yowon dan kembali duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan sang Putri yang tengah berjuang.  Jang Sajung mendekatkan wajahnya pada wajah Putri Yowon lalu berucap dengan suara yang pelan, “aku mohon, lahirkanlah seorang putri.”  Dengan wajah yang mengernyit Putri Yowon memandang suaminya. Sang Putri kemudian berucap lirih, “ada apa?”  Jang Sajung menggeleng penuh penekanan dan kembali berucap, “tolong lahirkan seorang putri, berikan kesempatan hidup untuknya.”  “Gerhana?” ucap Putri Yowon susah payah.  Anggukan berat dari Jang Sajung berhasil mengejutkan Putri Yowon. Sedangkan di luar sana tampak begitu ramai hingga kabar tersebut sampai ke telinga Raja Wang Geun.  Duduk di singgasananya. Kasim Hong menyampaikan kabar yang tengah membuat semua orang resah. Dan keresahan itu juga dirasakan oleh Wang Geun sehingga sang Raja mengutus Kasim Hong untuk memanggilkan Cenayang Choi—seorang peramal yang melayani keluarga kerajaan dan bekerja di bawah perintah Ibu Suri.  Berdiri di ujung tangga tepat di bawah singgasana Wang Geun, wanita dengan pembawaan misterius itu sejenak menundukkan kepalanya untuk memberikan penghormatan bagi sang Raja. Meski sudah memasuki usia di akhir empat puluh tahun, wanita itu masih terlihat sangat cantik dengan tatapan dalam yang terkadang menggelap dan mampu menyesatkan siapapun yang melihatnya.  Wang Geun kemudian menegur, “katakanlah sesuatu, Cenayang Choi.”  Tanpa mengangkat pandangannya, Cenayang Choi menyahut, “apa yang harus hamba katakan kepada Yang Mulia? Hamba tidak memiliki niat untuk menemui Yang Mulia sebelumnya.”  “Kenapa gerhana itu datang hari ini?” tanya Wang Geun tanpa basa-basi.  Cenayang Choi tersenyum dan kemudian kembali berbicara, “bagaimana hamba bisa mengetahui jawaban itu, Yang Mulia? Semua ini adalah kehendak alam, hamba tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Yang Mulia.”  Wang Geun tampak resah dan keresahan itu semakin menjadi ketika kegelapan semakin menutupi matahari. Menjadikan langit bersinar Songdo perlahan menemui kegelapan bahkan di saat malam belum ingin kembali.  Menyelesaikan perdebatan batinnya dengan cepat, Wang Geun memandang Kasim Hong dan memberikan perintah yang tak mungkin ditolak oleh siapapun.  “Kasim Hong.”  “Ya, Yang Mulia?”  “Bunuh semua bayi laki-laki yang lahir hari ini.”  Kasim Hong terkejut dengan perintah yang diberikan oleh sang Raja. Namun tidak dengan Cenayang Choi yang justru kembali memperlihatkan senyum misteriusnya.  “Lakukan sekarang juga!” tandas Wang Geun.  “Tapi Yang Mulia … bukankah ini—”  “Aku melakukan ini untuk masa depan Goryeo,” Wang Geun menyela dengan cepat. “Siapapun anak itu, dia tidak boleh dibiarkan hidup. Aku tidak akan membiarkan petaka itu terjadi. Lakukan apa yang aku perintahkan.”  “Baik, Yang Mulia.”  Dengan berat hati Kasim Hong menerima perintah dari Wang Geun. Namun sebelum Kasim Hong bergerak dari tempatnya, saat itu suara Cenayang Choi terdengar.  “Hamba mendengar kabar bahwa hari ini Putri Yowon akan melahirkan …” Cenayang Choi mengangkat wajahnya. Mempertemukan netra gelapnya dengan kedua orang yang berada di tempat yang lebih tinggi dari tempatnya. “… bagaimana jika Putri Yowon melahirkan seorang bayi laki-laki? Apakah yang akan Yang Mulia lakukan?”  Wang Geun terlihat ragu. Namun dengan cepat sang Raja memutuskan. “Kasim Hong.”  “Ya, Yang Mulia?”  “Kirimkan orang ke paviliun Putri Yowon. Dan jika Putri Yowon melahirkan bayi laki-laki, bunuh bayi itu.”  “B-baik, Yang Mulia.” Kasim Hong tunduk, meski hatinya menolak perintah sang Raja.  Bermula dari sebuah ramalan yang mengatakan bahwa kelak Goryeo akan berakhir di tangan seorang bayi laki-laki yang lahir bersamaan dengan terjadinya gerhana matahari, hari itu puluhan bayi laki-laki yang baru ingin melihat dunia harus menutup mata mereka kembali sebagai pengorbanan untuk kedamaian Goryeo di masa depan. Dan pada kenyataannya hal itu juga berlaku bagi Putri Yowon.  Matahari yang semakin kehilangan cahayanya lantas benar-benar menghilang bersamaan dengan lahirnya seorang bayi di dalam istana. Tangis bayi itu terdengar di bawah naungan langit gelap tanpa malam, dan ketika kegelapan perlahan meninggalkan matahari, saat itu pukulan besar diterima oleh Jang Sajung dan Putri Yowon.  “Tuan …” suara si tabib wanita terdengar gemetar.  Jang Sajung beranjak dari tempatnya dan segera menghampiri sang tabib yang kemudian menunjukkan bayi laki-laki yang berada dalam gendongannya.  “Putri Yowon … melahirkan bayi laki-laki,” ucap si tabib wanita dengan nada menyesal.  Jang Sajung tak mampu berkata-kata. Tampak sangat terkejut, begitupun dengan Putri Yowon yang kemudian langsung menangis.  Tatapan gemetar Jang Sajung terjatuh pada lantai. Dia kemudian bergumam, “tidak mungkin.” Jang Sajung kemudian menghampiri tabib itu. “Berikan dia padaku.”  Si tabib memberikan bayi laki-laki itu pada Jang Sajung.  Putri Yowon menegur, “apa yang akan kau lakukan?”  Jang Sajung mengarahkan pandangannya pada tabib dan juga Dayang Choi. Pria itu lantas berbicara dengan nada yang terburu-buru, “kalian dengarkan baik-baik … Putri Yowon melahirkan bayi perempuan, bukan bayi laki-laki.”  Ketiga wanita di sana tampak terkejut. Si tabib kemudian memberanikan diri untuk menegur, “apa maksud Tuan? Putri Yowon telah melahirkan bayi laki-laki.”  Jang Sajung menggeleng. “Ini akan menjadi rahasia kita. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil putraku … katakan pada semua orang di luar sana bahwa Putri Yowon melahirkan bayi perempuan. Jika kalian menolak, keluarga kalian akan menanggung akibatnya.”  Si tabib tiba-tiba merasakan ketakutan yang besar, dan Dayang Choi yang berdiri di samping wanita itu lantas meraih telapak tangan si tabib. Menggenggamnya dan memberikan anggukan sebagai isyarat agar tabib itu menuruti perintah Jang Sajung. Bagaimanapun juga Jang Sajung tidak akan membiarkan putranya terbunuh hanya karena sebuah ramalan yang bahkan tak bisa ia percaya.  Tabib itu kembali memandang Jang Sajung dan mengangguk beberapa kali sembari berucap, “baik, aku mengerti, Tuan. Aku akan melakukan apa yang Tuan katakan.”  “Jaga rahasia ini baik-baik sampai kapanpun. Nasib putraku bergantung pada ucapan kalian.”  “Aku akan berusaha semampuku, Tuan,” ucap Dayang Choi yang memang telah melayani Putri Yowon sejak sebelum sang Putri menikah dengan Jang Sajung.  Jang Sajung menjatuhkan pandangannya pada bayi kecil yang sudah tenang di dalam gendongannya. Tatapan khawatir seorang ayah yang diberikan kepada putranya.  “Tenanglah, ayah tidak akan membiarkanmu terluka. Kau akan tumbuh besar dan bermain dengan kakakmu.”  Jang Sajung kemudian membawa pandangannya bertemu kembali dengan Putri Yowon. Sebagai orang tua, keduanya merasakan kekhawatiran yang sama besarnya.  Dan hari itu, satu bayi laki-laki berhasil selamat dari pembantaian yang terjadi di Songdo. Namun takdir yang rumit membelitnya hari itu juga, ketika ia tidak diperkenalkan sebagai seorang Pangeran, melainkan sebagai seorang Putri.  ..... Langit yang kembali mendapatkan cahaya dari sang surya, memperlihat kesedihan yang terjadi di seluruh penjuru Songdo setelah banyaknya jiwa tak berdosa yang telah dikorbankan. Cenayang Choi hendak meninggalkan paviliunnya, namun saat itu sebuah teguran datang dari samping. "Kenapa kau tidak berusaha mencegah Baginda Raja?" Cenayang Choi menoleh ke samping, mendapati Kang Heo Joon—si penasehat kerajaan yang kerap dipanggil dengan sebutan Guru Kang. Pria itu mendekati Cenayang Choi, namun jawaban akan pertanyaannya barusan tak kunjung didapatkan meski keduanya telah saling berhadapan. "Kau tidak berniat menjawab pertanyaanku, Cenayang Choi?" Cenayang Choi tersenyum, lalu memutar kakinya hingga menghadap pria yang tak jauh lebih tua darinya tersebut. Cenayang Choi lantas berucap, "perintah Yang Mulia adalah kehendak langit. Bagaimana kau bisa melawan kehendak langit, Penasehat Kang?" "Kau yang mengucapkan ramalan itu, kau harusnya bisa menangani masalah ini." "Jangan menuntutku, Penasehat Kang. Jika kau bisa melakukan lebih baik dariku, kenapa kau tidak melakukannya sejak dulu?" Guru Heo Joon tampak menahan kemarahan yang ia bawa sejak saat masih berada di paviliunnya.  "Kau benar-benar." "Jangan mengutukku. Aku hanya menyampaikan apa yang aku dengar ... jika aku kejam, aku sudah pasti menyampaikan ramalan itu pada Baginda Raja." Guru Heo Joon menatap penuh selidik. "Ramalan apa yang kau maksud?" "Tiga Raja yang kelak akan dimiliki oleh Goryeo." "Jangan berani-beraninya, kau!" hardik Guru Heo Joon. Pria itu sejenak memperhatikan sekeliling, memastikan bahwa tidak ada siapapun yang mendengar ucapan si cenayang. Guru Heo Joon kembali memandang Cenayang Choi dan berucap dengan nada bicara yang lebih tenang serta lebih pelan dari sebelumnya. "Jangan pernah mengatakan hal itu pada siapapun. Cukup hanya kita berdua yang tahu." Cenayang Choi kembali tersenyum. "Aku tidak tertarik dengan hal itu. Jangan menggangguku karena aku tidak memiliki urusan denganmu ... selamat tinggal, Guru Heo Joon." Cenayang Choi melanjutkan langkah yang sempat tertunda. Meninggalkan Guru Heo Joon yang memandang penuh kekhawatiran. Bukan pada cenayang itu, melainkan khawatir pada takdir buruk apa yang akan menanti Goryeo setelah sang Raja merebut banyak kehidupan hanya karena ketakutan akan sebuah ramalan. Setelah hari itu, semua masih terlihat begitu damai. Dan bayi laki-laki yang dilahirkan oleh Putri Yowon yang diberi nama Jang Siwoo oleh ayahnya itu, pada kenyataannya harus memakai nama Gahyeon sebagai identitas palsu di hadapan publik. Namun Jang Sajung yang tidak tenang meninggalkan keluarganya di istana lantas memutuskan untuk membawa keluarga kecilnya meninggalkan istana dan hidup sebagai bangsawan biasa. Jang Sajung mengutarakan keinginannya itu pada Raja Wang Geun. Meski sempat mendapatkan penolakan, pada akhirnya Jang Sajung berhasil membujuk sang Raja. Jang Sajung membawa keluarga kecilnya untuk menjalani kehidupan di luar istana, meski ia masih melakukan tugasnya sebagai seorang pengawal pribadi Raja. Sedangkan bayi laki-laki Jang Siwoo tumbuh dengan sewajarnya, menjadi anak laki-laki yang periang bersama dengan sang kakak laki-laki yang hanya memiliki jarak usia tiga tahun. Hidup jauh di luar istana. Baik Jang Siwoo maupun Putri Yowon tak berharap jika mereka akan kembali ke istana. Karena jika itu sampai terjadi, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi pada putra bungsu mereka. Dan demi menutupi identitas putra mereka, mereka pun juga menutupi identitas mereka sebagai bagian dari keluarga kerajaan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Suami untuk Dokter Mama

read
17.4K
bc

My Devil Billionaire

read
94.2K
bc

Single Man vs Single Mom

read
97.2K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
7.5K
bc

My Secret Little Wife

read
55.2K
bc

Dilema Hati Istri Bayaran Sang Bos

read
46.2K
bc

JIN PENGHUNI RUMAH KOSONG LEBIH PERKASA DARI SUAMIKU

read
3.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook