Chapter 3

1326 Words
 "Kita sudah mempelajari tentang dasar-dasar dari Konfusius ..." suara itu terdengar hingga ke luar paviliun belajar Putra Mahkota. "... sekarang, aku ingin mendengar hal itu langsung dari Putra Mahkota." Seorang pemuda yang ditugaskan menjadi guru pribadi Putra Mahkota mengangkat pandangannya dan tertegun ketika melihat sang Putra Mahkota duduk dengan tegap seperti sebelumnya namun dengan mata yang tertutup. Jo Byeong Gyu, putra angkat Menteri Pertahanan yang berusia tujuh belas tahun itu mengerjapkan matanya selama beberapa detik. Memperhatikan sang Putra Mahkota yang tampaknya tertidur. Wang Hee Seung, putra ke tiga dari pernikahan sang Raja dengan Lady Young In yang kini berstatus sebagai Ratu. Bocah laki-laki berusia sembilan tahun itu menjalani kehidupan sebagai seorang Putra Mahkota yang sudah jelas membuatnya merasa tertekan. Karena di saat bocah-bocah seusianya bermain dengan teman-teman mereka, sang Putra Mahkota harus melalui hari-harinya dengan belajar. Jo Byeong Gyu lantas mengetuk meja kecil di hadapannya dengan pelan dan memberikan teguran. "Putra Mahkota ..." Teguran pertama terabaikan, Byeong Gyu mencoba memberikan teguran kedua. "Putra Mahkota ..." Suasana tetap hening. Byeong Gyu memandang sekitar dan tak menemui apapun selain beberapa buku yang tertata rapi di sudut ruangan. Kembali memandang Hee Seung, pemuda itu kembali menegur dengan lebih berhati-hati. "Putra Mahkota ... jam belajar belum berakhir. Mohon agar Putra Mahkota tidak tidur saat jam pelajaran berlangsung." Netra Byeong Gyu membulat ketika tubuh Hee Seung limbung ke depan. Pemuda itu pun memekik, "Putra Mahkota!" Bugh! Pintu ruangan terbuka dengan kasar. Kasim Seo segera memekik tanpa tahu apa yang terjadi, "Putra Mahkota!" Kesadaran Hee Seung kembali dengan paksa ketika tubuhnya jatuh ke atas meja kecil di hadapannya. Bocah itu memegangi keningnya yang baru saja menghantam meja belajar menggunakan satu tangannya. Terlihat wajah yang mengernyit menahan sakit. Kasim Seo dengan terburu-buru masuk dan menjatuhkan kedua lututnya di samping Hee Seung. Tampak sangat khawatir. "Putra Mahkota, Putra Mahkota baik-baik saja?" Hee Seung bergumam, "terjadi sesuatu pada keningku. Sepertinya keningku retak." Byeong Gyu dan Kasim Seo sangat terkejut. Byeong Gyu lantas mendekat, turut menjatuhkan lututnya di sisi lain Hee Seung. Takut-takut Byeong Gyu menegur, "Putra Mahkota, kau baik-baik saja? Itulah sebabnya Putra Mahkota tidak boleh tidur saat jam pelajaran berlangsung ... jika Putra Mahkota berada di Gwanhak. Para profesor pasti akan melempari Putra Mahkota dengan buku." Gwanhak adalah sekolah yang didirikan dan dikelola oleh pemerintah. Kasim Seo memukul lengan Byeong Gyu dengan kesal namun meleset. "Apa yang sedang kau bicarakan?!" Kasim Seo kembali memandang Hee Seung. "Putra Mahkota, mohon bertahanlah sebentar. Aku akan memanggilkan tabib." Mendengar hal itu, Hee Seung segera menegakkan tubuhnya. Wajah rupawan itu terlihat begitu tenang, tak menunjukkan raut wajah kesakitan meski terdapat area yang memerah di keningnya. Hee Seung kemudian berucap seperti tak terjadi apapun, "untuk apa memanggil tabib?" "Tentu saja untuk memeriksa Putra Mahkota ... jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Putra Mahkota. Baginda Raja pasti akan membunuhku." "Kalau begitu jangan panggilkan tabib. Memangnya siapa yang sakit?" "Eh?" Kasim Seo terlihat bingung. Hee Seung mengalihkan pandangannya pada Byeong Gyu. "Guru, apakah kelasnya sudah selesai?" Terlihat bodoh, Byeong Gyu mengangguk tanpa berpikir. "Sudah, Putra Mahkota. Kelas sudah selesai." Kasim Seo menimpali, "kelas masih tersisa satu jam lagi." Hee Seung dengan cepat memandang Kasim Seo. "Guru Byeong Gyu mengatakan kelas sudah selesai, itu berarti memang sudah berakhir." Hee Seung lantas berdiri dan segera meninggalkan ruangan itu. "Eh? Putra Mahkota ingin pergi ke mana?" Hee Seung tak menyahut. Kasim Seo memandang Byeong Gyu lalu berdiri sembari memukul lengan pemuda itu, namun kali ini tepat sasaran. "Kenapa kau mengatakan hal seperti itu pada Putra Mahkota?" "Aku harus mengatakan apa, bagaimana jika dahi Putra Mahkota benar-benar retak?" "Ya! Jaga bicaramu!" hardik Kasim Seo sembari kembali memukul Byeong Gyu. "Sudah, kau pulang saja." Kasim Seo lantas menyusul Hee Seung. "Putra Mahkota ... mohon tunggu sebentar ..." Sementara Byeong Gyu menggaruk bagian belakang telinganya dan bergumam, "kenapa jadi aku yang disalahkan?" Meninggalkan paviliun belajar, Hee Seung menginjakkan kakinya di taman yang berada di dekat aliran sungai kecil yang membelah taman tersebut. "Putra Mahkota ..." Kasim Seo menyusul. Hee Seung berbalik, menyambut kedatangan Kasim Seo yang justru tersandung dan kemudian jatuh tersungkur tepat di depan kakinya. "Aigoo! Punggungku," keluh kasim Seo. Dengan pembawaan yang tenang Hee Seung menegur, "kenapa kasim Seo berlari seperti itu? Jika ada batu di hadapanmu, kepala Kasim Seo bisa saja retak." Kasim Seo bangkit, namun bukannya berdiri dan justru bersimpuh di hadapan Hee Seung. "Kenapa Putra Mahkota meninggalkan paviliun belajar? Jam belajar belum berakhir." "Guru Byeong Gyu mengatakan jam belajar sudah berakhir." "Pemuda itu bicara sembarangan. Mohon agar Putra Mahkota kembali ke paviliun belajar sekarang." "Bukankah Kasim Seo sudah mengusir Guru Byeong Gyu." "Ye?" Kasim Seo tertegun. "Aku mendengarnya. Kasim Seo mengusir Guru Byeong Gyu." Kasim Seo tiba-tiba tergagap, "t-tapi Putra Mahkota ... bukankah Putra Mahkota bisa belajar sendiri di paviliun?" Hee Seung tiba-tiba meraba keningnya dan berucap, "aku merasa keningku tidak cukup baik untuk belajar hari ini." Kasim Seo tiba-tiba berdiri. "Kalau begitu, aku akan memanggilkan tabib untuk memeriksa Putra Mahkota." Hee Seung memandang tak suka dan membuat kasim Seo menatap bingung. "Kenapa Putra Mahkota menatapku seperti itu?" "Aku akan belajar lagi besok. Kau mengerti, bukan?" "Ye?" Kasim Seo kembali terlihat bingung. "Aku akan belajar besok," ulang Hee Seung. "Ah ... baiklah, baiklah. Aku tidak akan memaksa Putra Mahkota lagi." Hee Seung menganggukkan kepalanya dan kembali menjelajah taman. Berjalan dengan tenang untuk sekedar melihat bunga yang bermekaran di musim semi. Seperti biasa, Kasim Seo selalu berjalan di belakang sang Putra Mahkota. Langkah Hee Seung terhenti ketika pandangannya menangkap seekor kupu-kupu yang hinggap di salah satu kelopak bunga. Hee Seung kemudian menegur, "Kasim Seo." "Ye, Putra Mahkota?" "Bukankah kupu-kupu itu sangat cantik?" Kasim Seo melongokkan kepalanya. Menyipitkan matanya untuk mencari hewan yang dimaksud oleh Hee Seung. Dan Hee Seung yang menyadari tingkah Kasim Seo, lantas memandang pria itu dengan dahi yang sedikit mengernyit. Hee Seung kemudian menegur, "apa yang sedang Kasim Seo lakukan?" "Mencari kupu-kupu yang Putra Mahkota maksud." Hee Seung lantas menggunakan jari telunjuknya untuk membimbing pandangan Kasim Seo menemukan hewan kecil yang ia maksud. Kasim Seo kemudian berseru, "ah ... itu?" Hee Seung menurunkan kembali tangannya dan berucap, "kupu-kupu itu mengingatkanku pada seseorang." "Siapakah yang Putra Mahkota maksud?" "Putri Gahyeon." "Putri Gahyeon?" Hee Seung mengangguk. Pandangan pemuda itu mengikuti pergerakan kupu-kupu itu yang terbang dan menjauhi tempatnya. Kasim Seo yang merasa bingung lantas menegur, "apa hubungannya Putri Gahyeon dengan kupu-kupu, Putra Mahkota?" "Kupu-kupu itu terlihat cantik. Nama Putri Gahyeon sangat cantik, wajahnya juga pasti sangat cantik." Kasim Seo mengangguk beberapa kali. "Aku mengerti sekarang ... sejak tuan Jang meninggalkan istana, Putri Yowon belum pernah mengunjungi istana." Hee Seung memandang. "Itulah sebabnya, aku penasaran dengan wajah Putri Gahyeon. Kenapa bibi Yowon memutuskan tinggal di luar istana?" "Bagi anggota keluarga kerajaan yang telah menikah, mereka harus meninggalkan istana, Putra Mahkota." "Lalu bagaimana denganku? Apa aku baru boleh meninggalkan istana ketika aku sudah menikah?" Kasim Seo tersenyum canggung. "Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi pada Putra Mahkota." "Kenapa?" "Karena seumur hidup Putra Mahkota ... Putra Mahkota ditakdirkan untuk tetap berada di sini." Hee Seung menatap sinis, "eih ... bukankah itu tidak adil?" Kasim Seo tersenyum lebar. "Tapi ... apakah Kasim Seo tidak pernah melihat wajah Putri Gahyeon?" Kasim Seo menggeleng. "Seumur hidup, hamba belum pernah melihat wajah Putri Gahyeon. Jika Pangeran Kyung Woo, hamba pernah sesekali bertemu dengannya. Tapi Putri Gahyeon ... sepertinya Tuan Putri tidak pernah meninggalkan rumah." "Di mana kasim Seo pernah bertemu dengan Pangeran Kyung Woo?" "Di luar istana, Putra Mahkota. Saat hamba mengambil masa cuti." "Enak sekali hidup Kasim Seo ... aku juga ingin mendapatkan cuti." Kasim Seo tersenyum lebar. "Apa yang sedang Putra Mahkota bicarakan? Tidak ada masa cuti untuk seorang Putra Mahkota." "Itulah sebabnya, jika aku menjadi Raja, aku akan memberikan masa cuti untuk Putra Mahkota." Kasim Seo yang mendengar hal itu lantas tertawa ringan. "Putra Mahkota ada-ada saja. Tapi ... hamba menantikan hari di mana keinginan Putra Mahkota terwujud." "Untuk itu tetaplah berada di sisiku." Kasim Seo sekilas membungkukkan badannya sembari berucap, "Ye, Putra Mahkota. Hamba akan mengabdikan seumur hidup hamba hanya untuk Putra Mahkota."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD