“ Kau mau ke mana?” Tanya Estell saat melihat Diana tampak begitu cantik tengah bersiap siap dengan tas di tangan
“ Aku akan mengunjungi nenek bu.” Jawab Diana riang. Estell tetap menatapnya sinis
“ Ingat baik baik ya, kau adalah keluarga seorang Zayn Abraham sekarang. Jangan terlalu sering menemui nenekmu karna itu akan memperburuk citra kami. Lagipula nenekmu kan sudah tua, sebentar lagi juga dia mati.” Celetuk Estell membuat jari jari Diana meremas roknya, menahan emosi
“ Ibu maaf, tapi nenek adalah segalanya bagi saya. Tolong jangan bicara begitu.” Pintanya mencoba sopan. Estell hanya tersenyum sinis
“ Kau pikir aku suka putraku menikahi gadis kampung sepertimu hmm? Jika Zayn mau, dia bisa mendapatkan gadis yang ratusan kali lebih baik darimu.” Ucapnya pedas
“ Bu.. tolong jangan berkata begitu, saya...”
“ Diana!!!” Teriak Zayn memotong percakapan mereka
“ Maaf bu, tapi Zayn memanggil saya. Saya tidak mau membuatnya kecewa. Permisi!” Diana kembali meraih tasnya kemudian bergegas melalui Estell, menyambut panggilan Zayn yang tengah menunggunya di ruang tamu.
“ Ya berusahalah untuk tidak membuat Zayn kecewa. Karena jika tidak kau akan kehilangan segalanya. Dasar gadis miskin!” Celetuk Estell kemudian melenggang pergi
----***----***----
Pagi itu udara berhembus sepoi saat beberapa warga terlihat gembira melihat Diana bersama suaminya bergandengan menyusuri jalan menuju rumah nenek tercinta. Beberapa dianta mereka berhenti untuk menyapa sang pengantin baru dan beberapanya lagi saling berbisik memuji keserasian keduanya. Beberapa saat mereka melangkah, akhirnya gubuk reot itu terlihat juga, Diana segera berlari kearah sosok tua yang tampak asik menjemur beberapa ikan asin dipantai.
“ Neneeeekkk!” Teriaknya penuh gairah memeluk tubuh renta itu
“ Cucu- cucukuu….” Senyum wanita tua itu hampir meneteskan air matanya senang. Mata tuanya tampak berbinar- binar. Zayn tersenyum kemudian mencium lembut tangan tua miliknya.
“ Nenek baik- baik saja kan?” Tanyanya ramah.
“ Iya nak, nenek baik baik saja… melihat kalian baik baik saja, nenek sangat bahagia!” Ucapnya haru. Diana kembali memeluk nenek tercintanya itu.
“ Diana kangeeen nenek….” Ucapnya manja. Zayn tersenyum melihat tingkah Diana.. Sebelum…
“ Drrrt drrtttt”
Terdengar ponselnya berdering tanda ada sms masuk. Zayn merogoh sakunya dan mengambil Hp miliknya, sambil tersenyum membaca pesan yang tertera
“ Siapa sayang?” Tanya Diana ingin tau.
“ Bukan siapa- siapa, hanya teman.” Tutur Zayn kemudian. Diana pun tersenyum. Namun beberapa saat kemudian…
“ Drrtt drrtttt” Hp kembali berdering
Diana mengernyit melihat exspresi suaminya yang tampak tersenyum setiap ponselnya berdering.
Menyadari raut wajah cucunya yang mulai berubah, wanita tua itu segera menggandeng tangan Diana lembut.
“ Masuk ke rumah yuk di, gitarmu juga pasti merindukanmu!” Ajak neneknya.
“ Bagaimana kalau kita bermain gitar seperti dulu, kali ini untuk nenek.” Tawar Zayn. Diana pun mengangguk senang.
Hari itu mungkin akan menjadi sejarah bagi mereka, hari yang mungkin tak akan mungkin bisa mereka lupakan, Diana memetik gitarnya dengan riang sementara Zayn menyanyikan sebuah lagu untuk nenek yang duduk pada sebuah kursi reot di depan mereka. Tak ada satupun diantara mereka yang mampu berpikir, itu mungkin adalah akhir dari kebahagian, puncak dari sebuah mimpi indah yang nanti hanya akan menjadi kenangan dalam sekejap. Sesekali Zayn masih menggenggam erat tangan Diana mesra. Seolah Diana adalah Dunia baginya, nenek pun mulai merasa tenang. Wanita tua itu merasa kekhawatirannya selama ini hanya hal yang sia sia saja. Diana terlihat begitu bahagia di sisi Zayn.
“ Zayn., Lusa adalah hari ulang tahun nenek!” Kabar Diana ketika meletakkan gitarnya disisinya.
“ Oh ya, nenek mau hadiah pertama apa dariku nek? Tanya Zayn yang kemudian duduk di hadapan nenek Diana. Wanita tua itu hanya tersenyum kemudian membelai lembut wajah Zayn.
“ Anakku… nenek tidak ingin apa pun selain kebahagiaan kalian berdua, sampai nanti kalian menjadi setua nenek dan tetap bahagia.” Tutur sang Nenek sungguh sungguh. Mendengar itu Zayn mencium lembut tangannya.
“ Aku sangat mencintai Diana nek.. dan keinginan nenek itu pasti akan terkabul, dan nanti kita akan memberikan cicit cicit yang cantik untuk nenek.” Janji Zayn. Nenek tampak berkaca- kaca senang.
Namun… sore itu, hal tidak terduga terjadi, Estell berkali kali menelefon Zayn agar Zayn pulang, karena ada berkas penting yang harus Zayn tanda tangani, berbagai alasan dikemukakan agar Zayn bersedia menuruti permintaannya untuk pulang. Diana mulai merasa jengkel dengan hal itu, merasa seolah Estell tidak menyukai Zayn berada terlalu lama di sana. Apa mungkin karena Estell sangat menyayangi Zayn seperti anak kandungnya sendiri?
“ Sayaaang.. maafkan aku ya, sepertinya kita harus pulang sekarang!” Pinta Zayn kemudian. Wajah Diana berubah masam, ditatapnya sang nenek yang tampak sibuk menjemur kasur di luar karena begitu senang mendengar Zayn berjanji untuk menginap malam nanti.
“ Sayaangg...” Zayn memegang lembut pundak Diana.
“ Kau pulang saja, aku mau di sini, izinkan aku menemani nenek sampai besok!” Tutur Diana dengan nada gemetar, mendengar itu ekspresi Zayn berubah datar.
“ Kau marah karena aku mengajakmu pulang, hei aku ini suamimu!” Zayn mulai angkat suara.
“ Zayn kumohon, aku tidak ingin bertengkar di sini, aku sudah cukup menghargai perasaan Ibumu, aku sudah cukup menghargai perasaanmu, aku mulai khawatir jika rasa takut dihatiku lebih besar dari pada cintaku. Aku hanya minta kamu tepati janji pada nenek kali ini saja!” Pinta Diana dengan mata berkaca- kaca. Mendengar ada nada tinggi, nenek Diana melangkah pelan mendekati mereka.
“ Ada apa nak?” Tanyanya bingung
“ Nek, tolong nasihati Diana, tadi Estell menelefonku, dan memintaku pulang karena ada urusan penting, ada berkas yang harus aku tanda tangani!” Tutur Zayn
“ Kalau begitu tidak apa- apa, kalian bisa menginap lain waktu.” Senyum sang nenek berusaha menyembunyikan raut kecewa dimata tua yang mulai senja.
“ Tidak nek, ini sudah cukup, kita memang orang desa Zayn, tapi aku tidak bodoh hanya untuk mengetahui itu akal akalannya Estell, sudah cukup aku tertekan selama ini.” Air mata Diana menetes.
Ya, aku bisa menerima jika diriku dimaki atau dihina
Tapi jangan nenekku
Ia adalah orang yang membuatku kenyang saat asi ibuku tak bisa kurasakan
Dia orang yang terjaga selama 17 tahun saat aku sakit dan menangis
Hinalah aku! Tapi jangan kecewakan nenekku
“ Tertekan?? Kau bilang selama ini kau tertekan hidup denganku, kau ini benar- benar tidak tau diri ya.” Bentak Zayn kasar akhirnya
“ Bukan kau Zayn, aku bisa menerima semua perlakuanmu karena aku mencintaimu, tapi ini tentang keluargamu.” Diana mencoba membuat Zayn mengerti. Namuun…
“ Terserah kau saja.” Zayn memalingkan wajahnya dan hendak melangkah ke luar.
“ Zaynnn tungguu… kau mau ke mana?” Diana lekas menahan tangannya erat.
“ Dengar ya!! Aku akan pulang ke rumahku, dan kau, tinggallah bersama nenekmu itu, bukankah kau ingin dihargai !.” Bentak Zayn menghempas tangan Diana kasar.
“ Zayn bukan itu maksudku, kumohon dengarkan aku dulu.” Mohon Diana penuh harap, Zayn hanya menatap sinis kearahnya kemudian melangkah pergi tanpa menjawab sepatah katapun lagi.
“ Zaaaaynnn…. !” Teriak Diana dalam tangisnya, namun sosok itu malah terus menjauh seperti mimpi indah yang berakhir dengan buruk.
“ Kejar dia di, nenek tidak apa – apa hidup sendiri, kejarlah suamimu nak.” Pinta neneknya dengan mata berkaca- kaca. Diana menatap neneknya sendu kemudian mengangguk lirih sambil menghapus air mata neneknya. Ia berniat ingin mengejar Zayn sebelum...
Baru saja dia hendak melangkah…
“ Drrrttt drrttttt “
Handphone Zayn berdering di atas meja kayu tak jauh dari tempatnya berdiri. Diana menatap lekang HP itu kemudian melangkah untuk mengambilnya. Tertulis 8 pesan di sana, rasa penasaran menggelitiknya untuk membuka apa isi pesan yang terus mengganggu suaminya sejak tadi pagi. Dan…
Mata Diana yang indah menjadi merah tak percaya dengan semua isi yang tertera di Inbox pesannya.
“ Kau memang pemuda idamanku”
“ Aku harap kamu tidak akan melupakanku”
“ Zayn aku masih mencintaimu”
“ Aku masih sangat mencintaimu”
“ Zayn bisakah kita bertemu lagi “
“ Kau segalanya bagiku, tak peduli dengan istrimu yang kampungan itu”
“ Balas pesanku”
“ Aku menunggumu “
Air mata Diana tumpah bersama lututnya yang lunglai dilantai, matanya nanar masih menjelajah beberapa kali layar HP ditangannya. “ Aldira “ Nama si pemilik pesan.
“ Di.. ada apa nak?” Tanya neneknya mencoba mencari tau. Diana hanya diam tak menjawab, seperti patung hidup yang hanya meneteskan air mata, gadis itu kemudian berdiri ke atas kakinya, tanpa sepatah katapun dia kemudian berlari ke luar dengan HP ditangannya.
“ Di, kau mau ke manaaaa?” Teriak neneknya dengan suara serak, namun tak ada jawaban.
Dia membohongiku
Dia membohongiku
Dengan tanpa alas kaki Diana berlari mencoba mengejar sosok Zayn yang sudah tak terlihat batang hidungnya, berbagai pikiran berkecamuk dibenaknya. Merasa sedih, tertipu, tak berdaya dan hancur. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan, hingga… Diana menghentikan langkahnya di depan pintu megah rumah Zayn, hatinya rapuh saat memegang gagang pintu dan membukanya.
Baru saja Diana menampakkan wajah, di hadapannya Estell berdiri dengan kedua tangan di pinggang dan senyum kemenangan.
“ I.. Ibu dimana Zayn?” Tanya Diana terbata, membaca raut wajah Estell yang tampak sangar sudah tentu Zayn telah menceritakan semuanya.
“ Oh jadi kamu masih ingat kalau Zayn itu suamimu, hah!!” Ucapnya dengan nada tegas, Diana hanya diam menundukkan wajahnya.
“ Bu, sebaiknya ibu tidak ikut campur terlalu jauh urusan kita.” Diana menatap wajah Estell dengan raut penuh kekecewaan.
“ Dasar kamu istri tak tahu diri ya, sebagai istri jangankan nenekmu yang tua Bangka itu, orang tuamu sekalipun harusnya kamu tinggalkan demi suamimu, ini malah membuat Zayn menangis. Kalau memang dasarnya tidak berpendidikan ya tetap jadinya begini!” Bentak Estell dengan nada menyindir mencari celah kesalahan.
Namun tiba tiba...
“ Esteelll cukup!” Ucap Zayn tiba – tiba muncul dari balik ruangan dengan mata sembam.
“ Kau tidak berhak menghina Diana seperti itu!” Belanya. Sejenak Diana tersenyum mendapat pembelaan seperti itu, itu artinya Zayn masih sangat mencintainya.
“ Zayn.. a.. aku .. aku minta maaf… ak..”
“ Cukup Diana, aku sudah mengerti, kamu lebih mencintai nenek dari pada aku kan.” Potong Zayn dengan Egonya
“ Zayn, kau salah paham, aku… tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin kita menginap di sana hari ini saja, bukankah aku selalu menuruti apa maumu selama ini.” Wajah Diana memerah, suaranya serak menahan tangis.
“ Sebaiknya kamu kembali pada nenekmu Diana, aku butuh waktu untuk menenangkan diri, dan memikirkan hubungan kita.” Tutur Zayn. Mendengar itu Estell tersenyum
“ Kau dengarkan Diana? Zayn butuh waktu untuk berpikir, jadi sebaiknya kamu pulang dulu!” Celetuk Estell dengan senyum sinis kemenangan di wajahnya
“ Apa yang membuatmu begitu marah Zayn, harusnya aku yang bertanya tentang SMS di HP-mu.” Diana menunjukkan HP itu dengan mata berkaca – kaca
“ Kau tidak berhak tahu semua urusanku kan, pulanglah ke rumah nenekmu dan jangan berusaha membuatku semakin marah.” Celetuk Zayn, kemudian merampas HP itu dari tangan Diana.
“ Kau dengar kan apa kata putraku, pu-lang!” Tegas Estell
“ Za..yn… kau berjanji kau tidak akan menyakitiku kan.. kau berjanji kau tidak akan meninggalkanku kan?” Suara Diana terbata. Sejenak Zayn menatap Diana dalam- dalam. Pemuda itu terdiam seolah tak mampu menjawab
“ Maafkan aku Diana, terkadang ada sebuah kondisi yang membuat kita harus mengingkari janji.. biarkan aku berpikir, tunggulah aku di sana, jika dalam waktu tiga hari aku tidak datang menjemputmu, maka sebaiknya kau tidak pernah muncul lagi di hadapanku!” Tukas Zayn dengan tatapan datar.
Deg
Jantung Diana seolah terpompa lebih cepat, bibirnya kelu , gadis itu jatuh di hadapan Zayn, tangannya perlahan meraih kaki pemuda yang amat dicintainya itu.
“ Zayn, kau orang pertama dalam hidupku, aku percaya sepenuhnya padamu, tolong jangan hancurkan aku Zayn… jangan Hancurkan aku, jangan bunuh aku dengan semua ini.”
Zayn tak bergeming, pemuda itu malah melangkah mundur dan berkata
“ Tunggulah aku, aku hanya butuh waktu untuk memikirkan semuanya!”ucapnya kemudian melangkah kembali ke kamarnya meninggalkan Diana yang masih terpaku bersimpuh ke atas lututnya dengan air mata berderai.
“ Zayn, seorang istri Cintanya terletak pada kesabarannya, aku akan sabar menunggumu Zayn, kau pasti akan datang kan, kau tidak akan meninggalkanku setelah semuanya kan? Zaaaynnn!!” Teriak Diana, namun tak ada jawaban.
Ya, tidak ada jawaban!
Hari itu aku merasa sangat bodoh
Begitu bodohnya hingga aku memberikan segalanya atas nama cinta
Segalanya...
Akankah Zayn kembali?