Beberapa saat setelah kejadian itu, Diana mencoba mengendalikan perasaannya, tak mungkin dia terus berdiam diri dikamar dan hanya menangis bukan? Maka dengan menepis segala prasangka buruk, gadis itu mulai melangkah keluar, dilihatnya sekeliling ruangan yang tampak sepi. Hanya terdengar sayup sayup orang yang tengah bercakap cakap dari arah ruang tamu. Rasa penasaran membawanya kearah tempat suara itu berasal. Tampak seorang pemuda sedang duduk bersama dengan Estell ibu tiri Zayn. Pemuda itu berhenti dari pembicaraannya ketika menyadari kedatangan Diana. Pandangannya menoleh kearah gadis yang tampak berdiri dengan wajah pucat itu. Ya, dari samping, Diana bisa melihat hidung mancung yang terpahat sempurna, serta bulu mata lentik yang melirik ke arahnya.
Tapi.. kenapa rasanya perawakan pemuda itu tidak asing bagi Diana? Seakan ia pernah bertemu dengan sosok itu sebelumnya.
“ Siapa dia tante?” Tanyanya dengan nada yang seolah tak asing bagi Diana. Seolah suara itu pernah didengarnya di suatu tempat. Ya, tapi di mana?
“ Oh dia… dia Diana!” Jawab Estell singkat dengan lirikan tajam seolah tak menyukai keberadaan gadis itu.
“ Ma.. maaf jika aku mengganggu , aku kembali ke belakang saja!” Senyum Diana gugup hendak beranjak. Namun…
“ Tunggu… !! “ Pemuda itu berdiri, melangkah kearah Diana, kemudian berhenti di hadapannya dengan tatapan menjelajah.
Dia tidak lain adalah pemuda yang pernah menabrak Diana di pantai malam itu, pemuda yang juga ternyata mengenal Zayn dan dekat dengan keluarganya. Diana mengernyit, mencoba mengenalinya. Tetap saja ia tidak bisa mengingat.
“ Sepertinya aku pernah melihatmu, tapi di mana yaa?” Pemuda itu mencoba mengingat. Melihat hal itu Estell berdiri menghampiri Diana.
“ Dia ini istri Zayn, dan kau tidak mungkin mengenalnya Haz, dia bukanlah temanmu dan Zayn di sekolah kalian sebelum kau ke England!” Tutur Estell. Diana hanya diam menatap pemuda yang berdiri di hadapannya itu, pemuda yang memang seolah tak asing baginya. Diana hanya berusaha mengulas senyum, walaupun pemuda itu tampak sangat aneh, melihatnya secara intens, melihat jari Diana yang tampak masih dililit perban membuat kening sexi pemuda berkulit putih itu mengernyit
“ Oh istri Zayn, cepat sekali dia menikah ya. Apa Zayn pernah bercerita tentangku? Kau sudah lama mengenal Zayn? Ini mengecewakan, padahal aku ini salah satu sahabatnya, boleh dibilang satu satunya yang masih bertahan menjadi temannya.. hahaha.” Tawa pemuda berambut brown itu lepas. Diana hanya tersenyum mendengar lelucon yang sebenarnya garing itu.
“ Kenalkan, namaku Hazel, sahabat baik Zayn!” Ucapnya kemudian menyodorkan tangannya ke hadapan Diana. Mencoba berkenalan.
“ Diana!” Balas Diana kemudian menjabat tangannya.
“ Kau cantik sekali!” Tutur Hazel gamblang
“ Apa?” Diana mengerutkan keningnya..
“ Oh maaf, maksudku kecantikanmu itu alami, pantas saja singa lapangan seperti Zayn bisa tunduk , beberapa waktu yang lalu aku sempat datang ke tempat ini untuk observasi di sekitar pantai, tapi kenapa Zayn tidak mengabariku tentang kalian ya… aneh!” Pemuda bernama Hazel itu kemudian kembali duduk ditempatnya.
“ Mungkin Zayn merasa tidak perlu Haz, Diana … sebaiknya kau mengambilkan minuman untuk Hazel ya!” Estell melirik Diana tajam.
“ Iya bu.” Diana mengerti dan hendak beranjak. Sebelum....
“ Tunggu, dia ini menantumu kan… bukannya pembantu, harusnya kau tidak memakai bahasa langsung untuk menyuruhnya kan tante? Kau bisa memberi imbuhan kata tolong sebelum memerintah. Itu terdengar lebih sopan dan cocok untuk wanita seelegant dirimu.” Kritik Hazel membuat Diana sedikit tertegun mendengarnya, bagaimana mungkin ada pemuda yang berani mengkritik tuan rumah seperti itu, walaupun nadanya halus, tapi tetap terdengar v****r. Estellpun terlihat tidak tersinggung, ia justru tersipu saat pemuda itu menyebutnya elegant. Seakan tatapannya pada pemuda itu berbeda. Walau bagaimanapun, umur Estell pasti tidak berbeda jauh dari dirinya bukan?
“ Oohh maksud tante, tante minta tolong padanya agar kau dibuatkan minum… maaf ya Diana.” Senyum Estell dengan wajah memerah, tanpa membantah Diana bergegas pergi dari ruangan itu menuju dapur. Sedikit senyum tersungging dibibirnya mengingat kejadian barusan, entah mengapa dia begitu terhibur melihat pembelaan terang terangan seperti itu. Tanpa Diana sadari pemuda itu pun merasakan hal yang sama ditempat dia duduk di sana, senyum tersungging di wajahnya melihat ekspresi Estell yang tiba tiba berubah masam.
Siapakah sebenarnya pemuda itu? ya, dia tak lain adalah pemuda yang menabrak Diana di pantai… takdir kedua yang dihubungkan Tuhan.
Sosok yang terdiam dalam canda dan sifat riang namun menyimpan misteri yang tak kalah dalam. Hazel menatap pintu dapur itu dengan pandangan yang sukar diartikan. Bola matanya berkaca kaca
“ Kenapa kau menatap ke arah dapur? Kau ingin sesuatu? Aku bisa mengambilkan.” Celetuk Estell membuat lamunan Hazel buyar
“ Tidak, tidak apa apa. Hanya sedikit shock saja, pemuda seperti Zayn bisa mendapatkan gadis secantik dan selugu itu. Semoga Zayn tidak pernah menunjukkan amarah padanya.” Jawab pemuda itu membuat Estell tersenyum kecut
“ Jadi menurutmu dia sangat cantik?” Tanyanya seakan cemburu. Mungkin benar, Estell menyimpan perasaan pada pemuda itu.
Sejenak, pemuda itu menatapnya lalu tersenyum manis
“ Ya, sama cantiknya denganmu.” Ujarnya yang langsung membuat Estell berbunga bunga
Hazel kembali menghela napas
“ Walau bagaimanapun, aku harus menebus kesalahanku padamu Diana. Dengan caraku sendiri.” Batinnya
Lalu siapa Hazel sebenarnya?
***
Malam terasa dingin menusuk tulang, sementara pintu jendela masih dibiarkan terbuka, seseorang berdiri di depannya dengan sebuah gelas berisi teh hangat menatap langit lepas, menghitung beberapa bintang yang tampak berkurang. Beberapa saat terlihat air matanya menetes. Mengapa ditempat yang begitu indah bintang malah meredupkan sinarnya, sementara di sebuah gubuk yang sederhana mereka begitu terang? Dalam diamnya, sesaat memejamkan mata, mencoba merasakan ketenangan yang semakin surut dihatinya. Apa ada yang salah dengan dirinya, sehingga takdir mulai berubah. Jauh dalam pejamnya tiba- tiba dia merasakan sebuah kehangatan, sepasang tangan yang memeluknya dari belakang. Mencium tengkuknya lembut
“ Sayang, kau belum tidur?” Bisiknya lembut. Mendengar suara Zayn, dia menoleh dan langsung memeluknya.
“ Diana, maafkan aku ya,,, apa aku terlalu lama meninggalkanmu?” Tanya Zayn membelai rambut istrinya , Diana tak menjawab, hanya mempererat pelukannya, takut kalau jawabannya akan membuat Zayn marah lagi.
“ Hei… aku ada disini sayang… aku sangat merindukanmu ! jangan cemas ya..!”Zayn memegang wajah Diana lembut. Gadis itu tersenyum senang menyadari Zaynnya telah kembali seperti sedia kala.
“ Aku mencintaimu Zayn!”ucapnya getir. Zayn tersenyum mendengarnya kemudian mengecup lembut kening istrinya.
“ Aku jauh lebih mencintaimu!”balasnya.
“ Jangan marah padaku ya, aku merasa kesepian jika kau marah.” Pinta Diana dengan mata berkaca kaca
Zayn mengangguk, membelai wajah cantik wanitanya lembut
“ Aku hanya terlalu lelah. Maafkan aku, aku berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi.”
Diana tersenyum mendengar janji manis itu, ia kembali menidurkan kepalanya di d**a Zayn
Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa sebagian besar kebahagiaan yang dia punya bukanlah kebahagiaan jika masih meneteskan air mata, namun dengan air mata itu akan terbentuk makna yang sebenarnya dari sebuah kebahagiaan. Itu pula yang tengah dirasakan Diana, saat semua orang mengatakan bahwa cinta pertama adalah cinta yang indah, ketika sebuah kebahagiaan dan kemesraan nyata di tawarkan oleh setiap kisah pengantin baru, tapi, apa yang dia rasakan sungguh berbeda dari semua kisah itu.
Ketakutan
Rasa canggung
Emosi
Justru Diana merasa semakin terikat di dalam lingkaran itu. Seakan hidupnya tidak bebas lagi, seakan cinta yang membuatnya bermimpi mulai mencekik lehernya sendiri
Malam itu, Diana mungkin berbaring tenang di sisi suaminya yang menawan. Akan tetapi... Jauh dalam tenang yang cekam...
“ Dianaa….” Suara itu hanyut bersama desir angin yang berhembus diantara tirai dari jendela yang masih terbuka. Perlahan Diana membuka matanya, mencoba menangkap kabut yang menyeruak dari balik tirai itu. Tubuhnya mulai terasa berat
“ Diana….aa.” Sekali lagi suara itu terdengar , samar seperti habis menangis serak.
“ Siapa”? Tanya Diana lirih mencoba turun dari ranjangnya dan mngenali sosok yang tampak berdiri dibalik tirai. Namuuunn….
“ Malika??” Tubuh Diana mundur beberapa langkah dan kembali terduduk ditepi ranjangnya dengan wajah pucat dan kaki gemetar. Bagaimana tidak, sosok sahabatnya yang sudah lama meninggal kembali hadir dengan wujud menyedihkan, wajah yang pucat dan rambut yang kusut sementara ditangannya tergenggam seutas tali panjang, Malika mencoba melangkah tertatih kearah Diana.
“ Dianaa…. Mari kita bermain layangann..!” Tuturnya dengan tawa mengerikan
“ Gak! Kamu sudah meninggal! Malika tolong jangan menggangguku, apa yang kau mau?” Diana beringsut mundur. Entah kenapa, rasanya ia menjadi sendirian di kamar megah itu dengan Malika yang coba menggapai lengannya
“ Mari kita bermain layangan!”
“ Apa kau tidak merindukanku Di?”
“ Kau tidak mau memelukku?”
Tawa yang mengerikan terdengar menggema. Hingga...
“ Zaaaaaaayyyyyynnnnnnnnn !!”teriak Diana serak seolah terlempar kedimensi lain.. Tubuhnya terasa dingin…
“ Dianaa… bangunn Diana… sayaang.. kau kenapa?” Barulah Diana membuka matanya setelah tubuhnya diguncang oleh Zayn, dia langsung menangis merangkul suaminya. Diana gemetar, wajahnya begitu pasi.
“ Aku takut Zayn.. aku bermimpi Malika lagi.. aku takuut!”tutur Diana sesenggukan. Zayn mengambilkan secangkir air disisinya lalu meminumkannya pada Diana hingga gadis itu sedikit tenang.
“ Kenapa Malika terus menghantuimu, atau mungkin kau masih memikirkannya?” Tanya Zayn getir. Diana hanya menggeleng pelan. Melihat wajah istrinya yang pucat, Zayn memeluknya erat.
“ Sudahlah tenang ya… ada aku, besok kita kerumah nenek, sekalian kita berkunjung ke makam Malika.” Tutur Zayn menenangkan.
“ Benarkah??” Diana berbinar
“ Iya!”
“ Terima kasih Zayn.”
“ Akan aku lakukan apapun agar kau merasa tenang ya.” Zayn mengusap pundak istrinya pelan.
Diana merasa sedikit tenang kemudian memejamkan matanya dipangkuan Zayn. Pemuda itu tampak menatap kearah jendela yang masih terbuka. Wajahnya masam dengan tatapan yang tajam. “ Dasar gadis desa sialan, sudah mati masih saja mengganggu, go to hell!”Gumamnya lirih. Apa yang sebenarnya terjadi?