Waktu demi waktu berlalu begitu cepat, bagai butiran pasir yang terus terkikis ombak di pantai. Hari itu , waktu yang akhirnya dinantipun tiba. Seolah sayap malaikat yang terbang mengepakkan sayapnya kini terbebas ke surga.
“ Demi nyawaku, aku berjanji hidup dan matiku, hanya tanganmu yang akan aku genggam, temani aku menjadi melodi dari syair syairku yang telah lama hilang “ Senyum Zayn begitu tampan dengan jas pengantinnya memegang erat tangan Diana ditangannya.
Begitu cantik hari itu Diana dengan gaun panjang yang menyapu pantai dan mahkota kecil menghiasi rambutnya, merasa seperti seorang putri, putri yang bahkan lebih indah dari mimpinya dimasa kecil. Masyakat desa yang hadir seolah menjadi saksi kebahagiaan Diana yang begitu terpancar.
“ Kau tidak akan mengingkari janjimu kan ?” Senyum gadis lugu itu dengan mata berkaca- kaca. Zayn tersenyum lembut kemudian mencium keningnya, membuat air mata nenek Diana menetes bahagia melihat cucunya. Apalagi saat Zayn dan Diana mencium tangannya, meminta restu dan doa
“ Aku titipkan cucu kesayanganku padamu nak , jagalah dia!” Tutur bibir tuanya penuh harap.
Benar, itu adalah hari pernikahan Diana dan Zayn, hari di mana sang rembulan menemukan perhiasannya, tapi apakah benar dengan perhiasan yang indah sang rembulan akan bahagia?
Tak hentinya Zayn memegang tangan Diana, seolah Diana adalah dunia baginya, mungkin benar pemuda itu mencintai Diana, tapi bukankah cinta memiliki banyak takdir? Saat seorang gadis jatuh cinta, dan cinta itu menjadi mekar begitu cepat dihatinya, maka apapun akan dia lakukan demi cintanya. Termasuk memeluk nenek tercintanya untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan wanita tua itu pada gubuk tuanya, sendirian. Pergi membawa harapan dan penuh dengan angan angan kebahagiaan yang dia pikul bersama impiannya. Diana memilih untuk tinggal bersama suami tercintanya. Meninggalkan si tua bersama dengan kesendiriannya. Itu sudah kemauan takdir, pada akhirnya Nenek harus melepaskan Diana pergi jauh dari pangkuannya. Walaupun begitu, nenek berharap Diana cucu satu satunya tidak pernah menangis lagi, serta bahagia untuk selamanya
Dan hari itu,, lembaran pertama hidupnya dimulai…
Langkah pertamanya di sebuah rumah bak istana dengan sang suami disambut hangat di depan pintu megah berlapis perak, cahaya lampu menghiasi setiap sudut ruangan membuat bola matanya yang indah semakin bersinar terang. Terasa jelas tangannya gemetar, maka Zayn hanya tersenyum kemudian memegang erat tangan istri tercintanya.
“ Selamat datang dirumah sayang…!” Senyum pemuda itu ketika mempersilahkan Diana duduk.
“ Za.. Zayn.. aku gugup,, rumah ini megah dan besar, aku takut, apa aku pantas di sini? Apa aku berhak di sini?” Ucapnya dengan wajah pucat
“ Hei… kenapa takut.. ada aku di sisimu, kau bisa memanggilku kapan saja, aku akan selalu ada di sisimu, di dekatmu!” Senyum Zayn memegang wajah Diana lembut, seketika gadis itu merasa damai dan tenang, matanya redup.. tanpa dia sadari hatinya sudah begitu mencintai sosok suami yang sebenarnya belum lama dia kenal itu. Cinta yang membuatnya percaya bahwa apa yang zayn katakan semua adalah sampul kebenaran.
“ Ada sesuatu yang ingin segera aku tunjukkan padamu ! “ Senyum Zayn menarik lengan Diana.
“ A.. apa?” Tanya gadis itu dengan nada gemetar
“ Kamar pengantin kita!” Bisik Zayn lembut kemudian tersenyum, Diana yang mengerti hanya menyambutnya dengan senyuman sambil memeluk erat tubuh suami tercintanya.
“ Jangan pernah tinggalkan aku Zayn… jangan pernah.” Pinta gadis itu. Zayn hanya menjawabnya dengan anggukan membelai rambut panjang Diana. Lalu mencium bibirnya lembut.. Nafas yang begitu hangat. Dan saat Zayn hendak mengecup lehernya...
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu di kamar pengantin mereka. Terlihat jelas, Zayn marah, namun ia tetap berusaha tenang dan membuka pintunya perlahan. Melihat wajah Estell di sana, justru membuat Zayn semakin kesal saja
“ Ada apa?” Tanyanya dengan sorot mata setajam elang
“ Aku belum menyapa menantu rumah ini, boleh aku masuk?” Senyum Estell mencurigakan. Dan tanpa izin Zayn, iapun bergegas masuk dengan sesuatu di tangannya
“ Hai, Diana!” Sapanya terlihat risih.
“ Iya ibu.” Diana mengulas senyum semanis mungkin
“ Aku membawakanmu ini, di dalamnya ada gelang peninggalan ibu Zayn. Buka dan pakailah. Kau akan terlihat cantik dengan ini. Setidaknya terlihat lebih pantas.” Tuturnya menyerahkan kotak tua ke tangan Diana. Zayn mengernyit, kenapa Estell terlihat begitu baik? Apa tujuannya?
“ Terima kasih.” Diana terlihat bahagia
“ Kau mau makan malam bersamaku?” Ajak Estell
“ Tidak! Cepat ke luar jika urusanmu selesai dengan istriku, IBU!” Pinta Zayn membuka lebar pintu kamarnya
“ Baiklah! Have fun ya. Selamat malam.” Senyum Estell terpaksa
“ Selamat malam.” Jawab Diana tulus.
“ Dia selalu menggangguku.” Celetuk Zayn menutup pintu setelah Estell ke luar
“ Dia kan ibu tirimu? Kau harus bersikap baik padanya.”
“ Sudahlah, aku ke kamar mandi dulu. Pakai gelang itu dan tunggu aku.” Senyum Zayn memainkan mata kemudian mengambil handuk dan bergegas
Diana mengulas senyum menatap foto foto Zayn di dinding. Dilihat dari sisi manapun, suaminya itu terlihat sempurna. Perlahan, ia membuka kotak tua di tangannya, tapi... Baru saja ia membukanya...
“ Aaarrkhhh!!!” Teriak Diana kesakitan.
Zayn langsung ke luar dari kamar mandi
Emosinya meledak melihat kotak itu jatuh berserak di lantai. Seekor kala jengking tampak berjalan ke luar dari dalamnya. Terlihat Diana kesakitan memegang jarinya yang mungkin tergigit
“ Kau baik baik saja?” Cemas Zayn langsung mengambil kotak P3K dan membantu Diana mengobati tangannya
“ Ini tidak bisa dibiarkan! Estell pasti sengaja! Aku harus memberinya pelajaran!” Zayn hendak berdiri dengan amarah menggebu gebu. Tapi...
“ Jangan!” Diana menahan lengannya seraya menggeleng pelan
“ Kotak ini sudah tua Zayn, mungkin ibu tidak sengaja.” Imbuhnya
Pemuda itu menghela napas, bagaimana mungkin Diana begitu baik pada orang yang jelas jelas sudah menyakitinya? Dibelainya pipi Diana lembut kemudian mengecup keningnya pelan
“ Aku sangat mencintaimu sayang.” Bisiknya kemudian memeluk Diana erat. Diana memejamkan mata merasakan kedamaian, darahnya seakan mendidih hangat saat tangan Zayn merusaha melepas resleting gaun yang ia kenakan.
“ Zayn.” Tahannya saat pemuda itu hendak membawanya ke tempat tidur. Ia masih sangat kaku dan merasa malu
“ Aku tidak akan meninggalkanmu Diana, apapun yang terjadi, aku akan selalu berada di sisimu. Jangan takut!” Senyum pemuda itu kemudian menyatukan hidung mancungnya dengan hidung Diana dan melumat bibirnya pelan. Merasakan hembusan napas mereka yang berpadu dengan hening dingin malam yang mencekam.
Ya, malam itu malam penyatuan mereka
Seperti matahari yang selalu tenggelam saat senja
Seperti bintang yang selalu hilang ketika mendung
Tak akan abadi api diantara hujan
Begitu pula kebahagiaan
Yang tak akan berakhir dengan cerita yang sama…
Tanpa adanya “Air Mata” Di dalamnya
-----***----***------
Malam itu ia terlihat menangis, meratapi nasipnya yang berakhir hidup sebatang kara. Berteman dengan gubuk reot, lampu temaram yang terkadang mati jika laut sedang pasang dengan angin yang menggoyangkan sudut sudut tempat kumuh itu. Nenek yang membesarkan Diana seorang diri sejak kecil, tak bisa memejamkan matanya yang terus berair karna rindu. Diana seakan melihat hal itu di dalam mimpinya.
Ingin rasanya Diana menggapai dan memeluk nenek tuanya, tapi asa tak sampai. Diana seakan tidak bisa menggapainya.
Bagaimana kabar neneknya?
Apa yang ia makan selama Diana tidak ada?
Apakah Jenny selalu datang menemaninya?
Atau ia hanya sebatang kara dan menderita di masa tua?
Jauh dalam mimpi yang menyesakkan, tiba tiba...
“ Neneekkk…………!!” Suaranya serak membayangkan gubuk reot dengan penerangan lampu minyak dibenaknya, bayangan yang membuatnya terbangun di tengah mimpinya dengan keringat dingin yang menyeruak. Itu adalah hari ke 4 , Diana tidur dirumah itu.
“ Ada apa?” Tanya Zayn yang juga terbangun mengambilkan segelas air di mejanya.
“ Aku rindu nenek Zayn, aku merindukannya, nenek sendirian di sana!” Air mata Diana jatuh. Perlahan Zayn menghapus air mata itu.
“ Tenanglah, nenek pasti akan baik- baik saja, itu hanya perasaanmu sayang!”hibur Zayn lembut.
“ Tidak Zayn, aku ingin bertemu nenek, tak bisakah kita ke sana?” Pinta Diana merajuk. Zayn menatap Diana tajam.
“ Tenanglah Diana, kita akan ke sana. Tapi tidak sekarang.” Ucapnya mencoba bersikap lembut.
“ Aku mohon, aku tidak bisa tidur jika memikirkan di sana nenek sendirian. Aku takut nenek sakit.” Isak Diana. Namun...
“ Kenapa kau begitu memaksa, sudah aku bilang tenang kan!!” Nada suara Zayn terdengar tinggi dan menekan, membuat Diana menatapnya sendu.
“ Suamiku… kau membentakku?” Tanyanya dengan suara yang mulai gemetar tak percaya.
“ Kau sadar kan kalau aku suamimu dan aku tidak suka dipaksa, jadi diam dan tidur saja, kau pikir aku bisa selalu mengalah pada sikapmu yang kekanakan itu!!” Sambung Zayn kemudian kembali berbaring dibantalnya, menatap Diana yang tampak menundukkan wajahnya berusaha menahan air matanya yang hampir menetes karena rasa takut yang tiba – tiba saja menyerang.
Harusnya aku sadar saat itu,
Aku belum sepenuhnya mengenal suami yang baru aku nikahi.
“ Tidur!!” Pinta Zayn sekali lagi dan akhirnya wanita yang dinikahinya itu pun tunduk kembali berbaring dengan mata berkaca- kaca. Ada apa dengan pemuda yang selama ini bersikap lembut di sisinya? Mengapa ucapan Zayn bisa sesinis itu padanya? Hanya karena Diana mengingat nenek yang dia sisinya? Atau itu memang sikapnya yang nyata?
Beberapa saat setelah fajar berlalu, Diana masih duduk di sisi ranjang dengan wajah pucat. Masih tersirat raut kekecewaan atas sikap Zayn semalam, berbagai pikiran berkecamuk dibenaknya.
“ Sayang, aku ke luar dulu ya, aku ada janji dengan teman- temanku!” Senyum Zayn yang baru ke luar dari kamar mandinya dengan senyum yang seolah tak pernah terjadi apapun. Senyum yang begitu menawan seperti biasanya. Dianapun tersenyum lembut menyembunyikan perasaan sambil berdiri mengambilkan jaket untuk suami tercintanya.
“ Jangan lama- lama perginya ya… aku belum terbiasa tanpamu!” Tuturnya lembut.
“ Tenang saja , kalau kau butuh apa- apa tinggal telfon kan.” Zayn mencium kening istrinya. Tak ada kebimbangan di wajah tampannya.
“ Baiklah, semoga kau selalu dilindungi dan selalu mengingat aku setiap kamu melangkah ya!” Doa Diana tulus
“ Apa maksudmu? Kau mulai berpikir yang tidak tidak tentangku kan, Diana aku ini suamimu, kau tidak boleh berpikiran buruk tentangku!” Nada suara Zayn mulai tinggi lagi.
“ Zayn, aku hanya mendoakanmu, aku tidak bermaksud…” Belum selesai Diana berdalih, Zayn segera mengambil kunci motornya, sambil beranjak ke pintu pemuda itu menoleh dengan wajah sinis
“ Jangan menungguku!” tuturnya dan…
Brak
Terdengar suara pintu terbanting setelah Zayn ke luar. Diana terduduk lemas beberapa langkah, wajahnya memerah dan lututnya gemetar.
“ Apa salahku.. ya Tuhan… inikah sikap suamiku yang sebenarnya? Mengapa sekarang Zayn jadi mudah tersinggung… apa aku salah, neneekk aku merindukanmu… ! mengapa ini terasa begitu sakit?” Tangisnya patah
Diana menangis di sisi ranjang setelah Zayn pergi dan meninggalkan pintu yang terbuka lebar setelah dibanting kasar. Estell yang melihat hal itu, tersenyum diambang pintu, menatap Diana dingin
“ Kau merasakannya sekarang?” Sapanya
Diana bergegas menyeka air mata, ia berusaha mengulas senyum
“ Ibu, ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya
“ Jangan berpura pura tersenyum Diana, sebentar lagi kau akan merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Seharusnya kau berpikir ribuan kali sebelum menerima lamaran Zayn. Apakah gadis sepertimu pantas menyandang nama keluarga Abraham? Kau terlihat menyedihkan sekarang.” Senyum Estell menyindir kemudian melenggang pergi. Meninggalkan Diana yang kembali terisak
“ Nenek aku merindukanmu.” Gumamnya sedih
Gambaran wajah nenek tuanya yang selalu tersenyum hangat seakan terlintas di benaknya.
Terkadang, mimpi yang terlihat begitu mudah terkabul, hanyalah tipuan iblis yang akan menjerumuskan pada duka dan sesal tak berbatas