Kenangan lahir karena waktu
Tapi waktu juga bukan suatu hal yang bisa dihakimi
Bahkan walaupun nafas yang harus terenggut
Waktu tidak akan memihak atau bersimpati
Hari itu Diana mencoba mengakhiri hidupnya. Untuk apa hidup? Sedangkan semua orang yang disayang sudah tiada. Masa depannya telah hancur dan satu satunya sosok yang ia jadikan pilar untuk mimpinya justru merenggut segalanya dan menghilang begitu saja. Bagaimana Diana bisa hidup?
Ya, Diana melemparkan tubuhnya sendiri ke laut lepas. Namun...
“ BODOH”
Celetuk sebuah suara saat nafasnya seolah hampir tercekat dileher. Ya tiba tiba seseorang merenggutnya dari tangan maut. sebuah tangan kuat membawanya melawan arus, membimbing nafasnya kembali berhembus panjang dimuka laut. Kembali lepas dan berurai.
“ Gadis bodoh!” Celetuk sebuah suara yang seolah terdengar begitu dekat dihadapan Diana. Ya, Suara itu terdengar begitu jelas, dan artinya… Diana gagal mengeksekusi dirinya sendiri. Tapi siapakah orang yang menyelamatkannya itu?
“Uhuk… uhukkkk..” Beberapa kali Diana terbatuk , kali ini kelopak matanya tidak terasa berat lagi, cahaya mentari mulai terasa membakar wajahnya. Perlahan mata itu terbuka, menikmati hantaman surya seolah hari itu adalah hari pertama dia lahir didunia, dan sosok pertama yang dia lihat seolah tak asing baginya, seorang pemuda tampak mengibas ngibaskan rambutnya yang basah sambil tersenyum padanya. Pemuda yang familiar dengan kulit putih kemerahan.
Takdir kedua yang mungkin dikirimkan tuhan untuknya
“ K.. kauu??” perlahan diana mengangkat tubuhnya duduk berhadapan dengan pemuda itu.
“ Hai.. !!”Ucapnya slengean, tampak mata biru miliknya begitu terang diterpa sinar mentari kala itu.
“ Hazz?? Sebuah kenangan kembali terdampar dipikirannya, kenangan saat pertama dia kenal dengan pemuda itu dirumah Zayn dulu. Ya, Hazz adalah sahabat Zayn.
Entah dari mana, pemuda itu tiba tiba datang dan menolong Diana. Padahal yang Diana tahu, Hazel sangat dekat dengan Zayn. Apa sebenarnya tujuan Hazel?
“ Kau.. kenapa ada di sini hah?? Apa maumu? Mengapa kau menolongku?? Kenapa?” Bentak Diana seketika dengan mata memerah. Pemuda yang dipanggil Hazz itu hanya mengkernyitkan keningnya heran .
“ Jadi, sekarang menyelamatkan orang sudah berubah menjadi kriminal?” Pemuda itu menggelengkan kepalanya menatap Diana.
“ Iya, kau adalah kriminal.. gara gara kau aku tidak bisa lepas dari penderitaanku, dari masalahku… apa kau mengerti hah? Kenapa kau ikut campur urusan orang lain?” Bentak Diana dengan wajah cantiknya yang memerah karna kesal. Mendengar hal itu, pemuda bermata biru itu menghela napas panjang. Ia menatap Diana kesal lalu berdiri dan berkacak pinggang.
“ Sepertinya ucapan terima kasih sudah langka di dunia ini ya?” Celetunya
Diana memalingkan wajah. Ia terlihat sangat marah
“ Kalau begitu bunuh diri lagi sana!! Aku tidak akan menolongmu, aku hanya akan melihatmu dari sini, melihat tubuhmu hancur dihantam batu karang, dan tulang tulangmu akan retak, ayo bunuh diri sana! Aku akan melihat bagaimana kau mengakhiri hidupmu. Rasakan saja saat kehabisan napas, tubuh bagai ditancap jutaan jarum, lalu saat meninggal tubuhmu akan dicabik cabik hewan laut. Bukankah itu lumayan? Ayo sana! Kenapa masih diam? Silahkan terjun!” perintah Hazz enteng
“ Apa? Kau sudah gila?” Diana mengernyitkan keningnya
“ Katanya kau mau bunuh diri, ayo silahkan!” senyum Hazz sinis.
“ Kau ini gila ya? Bagaimana bisa kau meminta seseorang untuk mati hah!” Diana tak kalah berang
“ Kalau aku gila, bagaimana denganmu hmm? Cemen!” Pemuda itu mengernyitkan alisnya. Diana bungkam menatap pemuda aneh yang memang tidak pernah bisa dia mengerti itu.
“ Kau tidak mengerti apa yang aku rasakan. Jadi lebih baik kau diam saja. Ini bukan urusanmu!” Celetuknya
“ Hanya karena derita kau mau mengakhiri hidupmu? Apa ada suatu hal yang lebih gila dari itu?”Tanya Hazz mengernyut
“ Diamlah, kau tidak mengerti apa yang aku rasakan, karena itu kau hanya bisa membual saja!” Celetuk Diana
“ Apa kau akan terus merengek dan meminta semua orang untuk mengerti? Memangnya apa untungnya bagimu jika semua orang mengerti akan deritamu? Kau akan bahagia karna itu? Tidak bukan? Atau kau mau mereka berteriak, ya tuhan Diana mengakhiri hidupnya, kasihan sekali! Gadis yang malang! Begitukah?” senyum Hazel dingin
Dia memalingkan wajah, air matanya kembali menetes. Benar, apa yang dia harapkan dari pengertian orang lain?
Kenapa Diana menjadi selemah itu?
“ Dengarkan aku, Jika sebuah api membakar emas, maka emas itu akan berubah menjadi perhiasan yang indah, itu sama saja seperti penderitaan, semakin penderitaan itu terasa menyakitkan, maka semakin pula dia akan membuatmu kuat dan berharga, bukannya malah bunuh diri bodooohhh!!“ senyum Hazz mengibaskan jaketnya kemudian kembali mengenakannya. Diana terdiam, menatap hampa pemuda dihadapannya dengan bibir terkatup rapat. Tangannya menggenggam erat butiran pasir disisinya.
“ Mengapa kau berbicara begitu, sedangkan kau adalah teman dari orang yang sudah menghancurkanku?”Tanyanya lirih.
“ Ketika kau merasa hidupmu hancur, sebenarnya pikiranmu sendirilah yang membuatmu hancur. Cobalah membuka mata , aku yakin kau masih belum sepenuhnya terluka. Aku heran, kenapa setiap wanita merasa terluka, ia bukannya bangkit dan menunjukkan kalau ia mampu, malah menangis berhari hari seolah hal itu adalah akhir dari semuanya.” senyum Hazz kemudian membantu Diana berdiri merapikan pakaiannya. Ditatapnya Diana yang juga menatapnya sendu, pemuda itu kembali tersenyum kemudian melangkah pergi tanpa pamit.
“ Kau belum menjawab pertanyaanku! Kenapa kau menolongku padahal kau adalah teman dari pria bengsek itu!!”Teriak Diana. Sejenak pemuda itu menghentikan langkahnya.
“ Aku bisa menjadi teman siapa saja!” Jawabnya tanpa menoleh kemudian kembali melangkah.
“Aneh.” Diana mengawali langkahnya yang masih terhuyung huyung menuju gubuk tuanya, sesekali wajahnya menoleh menatap Hazz yang tampak masih melangkah jauh dibelakang sana.
Siapa dia sebenarnya?
Kenapa rasanya saat hangat saat ia menyentuh tanganku. Seakan aku sangat mengenalnya
Sikapnya yang justru bertolak belakang dengan Zayn dan begitu misterius
Ia seolah berada dimanapun saat aku butuh
Atau mungkin, ia adalah takdir ke duaku?
Diana membuka pintu gubuknya, bola matanya membulat saat melihat berbagai macam makanan sudah terletak di meja rapuh miliknya. Diana baru ingat, ia belum makan semenjak neneknya meninggal. Wanita muda itu melangkah lunglai menyentuh makanan yang terhidang, air matanya lagi lagi menetes.
Ia melirik secarik kertas yang sengaja ditinggalkan di meja, diambilnya kertas itu
“ Makanlah! Nenekmu tidak meninggalkanmu untuk menderita! Jika kau tidak menghargai hidupmu sendiri, maka hargailah kasih sayang orang orang disekitarmu. Oh ya, jangan baper, aku meletakkan makanan ini karna aku tidak tega melihat seorang gadis lemah dan payah kelaparan sendirian. Makanlah!- Hazel.”
Dia segera berlari ke luar, mencari keberadaan pemuda itu. Tapi bagai angin yang datang lalu berlalu begitu saja, pemuda itu sudah menghilang.
“ Apa maumu sebenarnya?” Gumam Diana kemudian menutup pintu gubuk dan dengan tangan gemetar mulai memakan makanan yang dihidangkan. Entah kenapa rasanya begitu lezat, mungkin karna diana tidak makan selama berhari hari.
“ Apa kau menyukainya?” sebuah suara dari kenangan seolah kembali membiak. Diana seakan melihat neneknya tersenyum di kursi goyang sembari merajut syal. Senyum yang sangat ia rindukan
“ Makanlah dengan baik. Nenek menyayangimu di.”Ucap suara itu kemudian menghilang membaur bersama angin
Diana memejamkan mata, lagi lagi hatinya merasa sakit
“ Ya, aku harus hidup. Aku harus hidup.” Gumamnya
Sementara itu, dilain tempat sana, pemuda bernama Hazel itu menghentikan langkahnya. Ia mengintip gubuk Diana dari sisi salah satu pohon kelapa yang menutupi keberadaannya. Ia mengulas senyum, senyum yang begitu indah
“ Mulai detik ini, aku akan melindungimu seperti janjiku. Akan aku kembalikan semua kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikmu, Diana Safana.” Senyumnya
Siapa Hazel sebenarnya?
Hari itu seakan aku terlahir kembali ke dunia
Ya, terkadang luka yang begitu besar membuat kita menyadari, bahwa hidup selalu memberi kesempatan