Rahasia Kepahitan

1759 Words
Ini rokok ke tiga yang sudah tergeletak tanpa menyala malam itu, Diana menghabiskan waktunya dengan diam dan melamun di kursi goyang neneknya sejak kejaian hari itu, bingung, gelisah, tidak tahu seperti apa ia akan melanjutkan hidup. “ Kenapa kau menyelamatkanku? Aku ingin bertemu dengan nenek dan Malika.” Ucapnya sendu sembari menatap sebuah Album kenangan di pangkuannya. “ Tak ada seorang pun yang aku miliki di sini, dunia ini bukan tempatku.” Setetes air bening kembali mengurai lepas dipipi lembutnya. Perlahan ditutupnya Album yang menyimpan begitu banyak kenangan, kemudian, melangkah menuju keluar rumah dengan Syal hitam yang menggelayut dilehernya. Melihat lepas kearah samudra Luas yang terhampar tak jauh dari tempatnya berdiri. begitu pedih melihat batu karang yang dulu menyimpan banyak kenangan ketika ia dan sang mantan suami dulu asyik memainkan nada sambil menikmati alunan suara ombak. Begitu banyak kenangan yang berada di sekelilingnya hingga seakan Diana merasa sesak. Canda Malika, bayangan Zayn, panggilan suara neneknya, semua hal yang tidak mungkin bisa kembali lagi ke dalam hidupnya. Yang tertinggal sekarang hanyalah sepi yang meraungkan sendu. Diana tidak lagi mampu tersenyum, ia bahkan tidak memiliki teman bercanda atau bicara. Kesepian benar benar memeluknya erat “Zayn, kenapa.. aku tidak pernah bisa benar benar membencimu.” Tuturnya. Sebelum tiba tiba…. Siapa itu? Samar- samar terlihat sosok seseorang berdiri disisi batu karang tempat Diana biasa bersantai, cukup gelap tanpa sinar lampu untuk mengetahui siapa ia. Perlahan, Diana melangkah melawan dinginnya malam untuk mencari tahu siapa orang itu, orang yang tampak berdiri tegap menatap ke arah ombak yang berkali kali menghantam karang di depannya. Deg Diana memegang dadanya yang seolah berdetak lebih cepat, semakin dekat Diana dengan sosok itu entah mengapa semakin terasa ia begitu mengenalnya. Ia tampak mengenakan jaket kulit hitam dengan sebuah tas gitar dipundaknya. Walaupun dari belakang, Diana bisa mengenal dengan dekat sosok itu, sosok yang begitu amat ia rindukan. Sosok yang raganya pernah menyatu dengan Diana, yang pelukannya pernah menjadi alasan Diana merasa nyaman. Dan sosok yang tidak pernah bisa benar benar ia benci Mungkin semua orang akan menghujat karena hatiku begitu rapuh Tapi, memaksa melupakan cinta hanya akan membuat kita semakin luka “ Zayn...” Bibir Diana terbata melangkah semakin dekat dengan orang itu, dengan keyakinan penuh bahwa orang itu adalah Zayn. Ini memang sudah tiga bulan lamanya, tapi tak mengubah kenyataan bahwa Diana sangat mengenal dekat sosok mantan suaminya itu. “ Zayn!!” Teriak Diana dengan suara serak. perlahan pemuda itu menoleh dengan mata berkaca- kaca. Benar, ia memang Zayn.. tak salah lagi, walaupun ada sedikit jambang halus yang menutupi dagunya, ia memang Zayn. Pertemuan ini seperti mimpi bagi Diana, ada rasa yang begitu kuat menerpa hati, rasa yang membuat Diana terhuyung ditempatnya tak mampu menggapai sosok yang begitu ia rindukan namun juga begitu ia benci. Sulit mengartikan semua ini, tapi benarkan itu pertemuan yang nyata baginya. “ Zayn ini benar benar kamu kan? Kau pulang?” Bola mata Diana berkaca kaca Pemuda itu mengulas senyum pucat kemudian merentangkan tangan agar Diana memeluknya. Benar saja, Diana langsung berlari ke dalam pelukannya yang terasa begitu dingin “ Kau kembali? Aku sangat kesepian. Kau masih mencintaiku kan? Kau datang untuk menjemputku? Kenapa kau hanya diam?” Tanya Diana sesenggukan Sosok itu menghapus air mata Diana pelan “ Lupakan aku Diana!” Ucapnya getir Diana langsung menggeleng “ Tidak! Aku tidak bisa melakukan itu!” Ucapnya “ Lupakan aku.” Pinta sosok itu kemudian melepaskan pelukan Diana dan hendak beranjak pergi “ Zayn kau mau ke mana?” Teriak Diana Namun, pemuda itu seolah tak mendengarkan “ Zayn!!” Diana mencoba mengejar Tapi... Semuanya serasa semakin jauh, ia tidak bisa menggapai sosok yang hilang ditelan gelap malam itu. Lalu tiba tiba... Bruk Diana terjatuh dan semuanya menjadi gelap Waktu terkadang begitu cepat berlalu disaat kita menginginkannya diam ditempat agar kita tidak merasakan terluka, agar kita tidak merasakan pahitnya rasa kecewa dan agar penyesalan tidak pernah tiba. Begitu pula pagi itu, entah sejak kapan Diana tergeletak di atas dipannya, terbaring dengan bibir yang tak hentinya menyebutkan nama Zayn. Suhu tubuhnya naik, dan wajahnya pucat. Ya, itu hanyalah mimpi, fatamorgana dari rasa rindu yang beriak begitu pekat. Zayn tidak pernah kembali, dan mungkin tidak akan “Diana!” Seseorang menyapa lembut pundaknya, membuatnya perlahan mulai membuka mata. “ Hazz!” Tampak jelas raut kekecewaan dibola mata gadis berusia 18 tahun itu sambil melihat ke sekitar tempat Hazz duduk. Ya, ia kecewa karna yang dilihatnya ada Hazza, bukan Zayn yang selalu ia impikan Diana memang sudah gila! Walaupun Zayn sudah menyakitinya sebegitu berat, ia masih merindukan sosok penyebab derita itu. Melihat Diana yang tampak linglung, Hazza menarik napas panjang “ Ada yang kau cari?” Tanya pemuda itu pelan “ Dimana Zayn? Semalam aku melihatnya di sini, ia menemuiku Haz.” Tutur Diana dengan mata berkaca- kaca. “Zayn?” Hazza mengernyit “iya!” “ Ia ada diamerika Diana, tidak mungkin ia di sini apalagi sampai datang dengan air mata hanya untuk menemuimu.” Senyum pemuda itu menatap Diana “ Lalu… siapa yang...” Diana menghentikan ucapannya, menyadari memang benar tidak mungkin Zayn ada di sana, mungkin itu hanya bayangan masa lalu yang begitu ia rindukan. “ Siapa apanya, hah sepertinya otakmu terbentur ya? Menyedihkan sekali, kau mengingat orang yang bahkan mungkin sudah lupa siapa namamu.” Celetuk Hazza “ Apa bisa sekali saja kau tidak menyindirku? Lagi pula siapa yang memintamu berada di sini? Berani sekali kau masuk ke rumahku!” Balas Diana dengan wajah berang Hazz mengulas senyum dingin “ Jika aku tidak menolongmu, mungkin anjing laut sudah mencabik tubuhmu sekarang. Lagian kapan sih kau bisa mengucapkan terima kasih gitu. Malah ngomel terus.” “ Kau!” Diana terlihat geram “ Apa?” Diana menggela napas berat “ Sudahlah.” Gumamnya kemudian “ Dasar gila.” Celetuk Hazza “ Mungkin kau benar Hazz, aku sudah gila.” Wajah cantiknya tertunduk. Mendengar ucapan Diana, Hazz menghela napas kemudian tersenyum. “ Aku mengenal Zayn sejak dulu , ia bukan orang yang gampang menyesal dengan semua keputusannya, ketika ia sudah membuang sesuatu maka ia tidak akan membuang muka untuk mengambilnya kembali, Diana, berhentilah menyiksa dirimu. Semuanya tidak akan baik baik saja jika kau begini.” Tuturnya mencoba menenangkan. Ia tahu Diana sedang tertekan, dan Hazza tentu tidak mau Diana berbuat nekat lagi “ Iya, aku lupa, kau adalah temannya.” Gumam Diana “ Biar ku beri tahu satu hal, aku bukanlah temannya Diana, dan aku tidak pernah menjadi temannya, aku hanyalah orang yang ingin membuatnya terlihat mempunyai teman, walaupun sebenarnya ia tidak pernah mengakui keberadaan siapa pun selain yang ia kehendaki.” Senyum Hazz. Sejenak Diana terdiam. “ Diana, suatu saat.. kau pasti akan kuat.” Senyum Hazz begitu menenangkan. Perlahan Diana mengangkat wajahnya, menatap mata kebiruan yang seolah ingin memberinya kehidupan baru. “ Tapi kenapa Hazz, kenapa dulu ia begitu baik kepadaku, mengapa ia seolah begitu menyayangi aku, begitu baik, jika akhirnya semua kebaikannya itu hanya melukai aku, kenapa harus aku ?” Mata coklat itu tampak kembali berkaca kaca. Hazz mengambil sesuatu dari sakunya, sebuah sapu tangan berwarna abu- abu yang kemudian diusapkan ke pipi Diana. “ Berhentilah menangis sebelum air matamu kering, karena walaupun kau menangis sebanyak yang kau mau itu tidak akan merubah seperti apa kenyataannya kan, air mata Cuma berfungsi sebagai penenang bukan penghilang beban.” Senyumnya begitu tulus pada gadis yang masih berbaring di hadapannya, gadis cantik yang begitu rapuh karena derita. Bukannya Hazz tidak mengerti, bahwa luka yang dialami Diana jauh lebih berat. Pemuda itu mungkin bersimpati, simpati yang entah akan membawanya menuju dunia yang mana. “ Satu hal yang harus kamu ketahui Diana, Cinta tidak akan membuat seseorang menangis.” Ucap pemuda itu Ia berbeda... Sangat berbeda dengan Zayn yang lembut dan romantis Tapi entah kenapa... Bertengkar dengannya justru mengurangi beban di hati Mata birunya, begitu menenangkan “ Tapi saat ini aku seperti berada diantara lautan air mata Hazz, aku tidak bisa melepaskan hariku tanpa tangisan, hanya itu yang aku punya, tak ada siapa pun yang aku miliki.” Keluh Diana lepas, ya, ia mulai lepas. Perlahan pemuda itu memegang tangan Diana lembut. “Jika berseia, aku bisa menjadi teman siapa saja.” Senyumnya lirih, Diana menatap tangan Hazz lembut kemudian membalas menggenggamnya. “ Seorang temannya harusnya menjadi kaki saat temannya tak mampu melangkah dan menjadi mata saat temannya buta kan?” Tanya Diana penuh harap. Hazz tersenyum manis menatap Diana. “ Juga menjadi sapu tangan saat sahabatnya menangis.” Sambungnya. Diana tersenyum mendengar ucapan Hazz, pemuda itu membuka tangannya lebar agar Diana merangkulnya, Dianapun segera merangkulnya dan menangis dipundaknya, tangisan lepas yang membuatnya merasa tak sendirian lagi didunia ini. “ Sudah sudaah jangan menangis lagi, bukankah aku ini dewa penyelamatmu?” Tawa pemuda itu lepas kemudian menghapus air mata Diana. Diana tertawa mendengarnya. Tawa pertama yang tercipta sejak senyumnya hilang. Benar, Hazz seolah menjadi cahaya baru bagi hidupnya, mendapatkan cinta seseorang mungkin sangat mudah, namun mengembalikan Cinta yang hilang tidaklah semudah membalik telapak hilang. Pemuda itu memang unik, tidak pernah bertanya ataupun ingin ditanya, ia seolah hadir hanya untuk membantu Diana, mengembalikan dunia sang peri kecil seperti sebelumnya. Hazz membuat Diana tertawa bukan hanya tersenyum, membuat gadis itu kembali menatap hari harinya tanpa rasa takut dan menjadi alasan Diana memulai hidup barunya. Sejak hari itu Hazz menjadi sahabat bagi Diana, entah sahabat dalam arti kehidupan yang sebenarnya atau sahabat dalam hati yang sudah lama mati? Hanya waktu yang akan menjawabnya. Karena ujung dari pertemanan yang nyaman... Adalah rasa cinta yang lebih dalam... Apakah Hazza akan menggantikan posisi Zayn di hati Diana? Lalu siapa pemuda itu sebenarnya? Sementara di lain tempat... Seseorang tampak membuka tirai jendela dengan bola mata yang memerah menatap langit pekat. Seluruh ruangan di sisinya tampak dibiarkan gelap “ Kau masih memikirkannya?” Tanya seorang wanita yang meraih semua pakaian di lantai. Wanita yang turun dari ranjang kemudian memeluknya mesra dari belakang “ Kau tampan, menarik dan kaya. Apa kau telah benar benar jatuh cinta?” Tanyanya lagi. “ Pergi! Aku hanya memintamu untuk menemaniku saja. Bukan untuk bertanya.” Jawab sosok itu. Sosok yang tak lain adalah Zayn, pria yang sangat Diana rindukan. “ Baiklah! Apa kau ingin lampu kamarmu dinyalakan?” Tanya wanita itu sambil merapikan pakaiannya “ Tidak.” Jawabnya singkat “ Oke! Panggil aku saat kau butuh ya. Bye.” Wanita itu pun melenggang pergi Zayn kembali menatap langit lepas, kenangan wajah dan tawa lepas Diana seakan menghiasi langit itu. Ia melangkah pelan ke arah meja, mencoba merogoh ponsel di sana. Sepertinya Zayn tengah menunggu panggilan seseorang. “ Maafkan aku Diana.” Gumamnya Tanpa ia sadari, Estell memperhatikannya dari pintu yang dibiarkan terbuka, wanita itu mengulas senyum. Lalu... Tok tok tok Ia mengetuk pintu pelan “ Dokter yang merawat ayahmu ingin menemuimu! Jangan pernah memasang wajah sedih di depannya. Aku menunggumu di ruang rawat!” Celetuk Estell kemudian melangkah pergi Zayn kembali menatap ponselnya, bola matanya berkaca kaca “ Tunggu aku.” Gumamnya serak Aku tidak tahu kenapa tiba tiba ayah menderita serangan jantung di Amerika, hingga kami terpaksa ke sini tanpa mengabari siapa pun. Aku tidak tahu, kenapa ayah begitu benci saat mendengar kabar aku telah menikahi seorang gadis pantai. Ada begitu banyak hal yang belum selesai Hingga memaksa hubungan kita untuk usai Aku harap, kau bisa memaafkanku
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD