Angin tak pernah memberi kabar ketika dia berhembus
Tapi kita dapat memahaminya
Begitu pula hati…
Tak ada suara ataupun kata..
Hanya rasa, rasa yang tiba- tiba ada
Siapa dalang dari semua ini?
Yang harus kita hakimi adalah diri sendiri!”
Beberapa saat kemudian, Diana berlari membawa gitarnya ke tempat itu dan menunjukkannya pada Hazz, namun pandangannya berubah ketika melihat raut wajah sahabatnya. Ada bekas air mata di pipi putih pemuda itu, senyumnya juga tidak selebar tadi. Ia menatap Diana kelu.
“ Hazz? Kau menangis?” Tanyanya melihat mata Hazz yang memerah
“ Mana?” Tanya Hazza mencoba beracting mencari sisa air mata
“ Kau menangis kan? Ini, aku bisa melihat dengan jelas, matamu yang jelek itu membengkak.” Diana menyentuh pipi Hazza yang masih basah
“ Aah ketahuan juga! Memalukan.” Celetuk pemuda itu akhirnya
“ Kenapa?” Tanya Diana curiga.
“ Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?” Imbuhnya
“ Aah tidak ada apa- apa, aku Cuma lagi terbawa suasana saja. Sudahlah jangan dibahas. Hmm jadi ini gitarmu?” Tanyanya mengalihkan topik, Diana berhenti bertanya, mengerti bahwa pemuda di hadapannya tidak akan menjawab semua pertanyaannya dan akan memilih diam. Dari pada suasana menjadi tak enak, ia pun memilih untuk tidak bertanya lagi.
“ Iya, ini gitarku. Baguskan?” Senyum gadis itu
“ Ini Fender ESA-10CE kan, waw bagaimana bisa gitar ini melintasi samudra yang begitu luas dan berakhir ke tanganmu?” Tanya Hazz yang kemudian melihat sisi dalam gitar itu dengan satu matanya.
“ Kenapa kau melihat ke dalam? Tidak ada harta karun yang aku sembunyikan!” Tawa Diana. Tingkah Hazza benar benar menghibur baginya
“ Setauku, gitar ini Unlimited dan ada nomernya, jadi aku ingin tau saja. Kalau ini asli, pasti ada nomor di dalamnya kan? Jangan jangan kw lagi!!” Tawa Hazz konyol. Mendengar itu Diana tertawa, diambilnya gitarnya dari tangan Hazz.
“ Bilang saja kalau kau iri karna gadis miskin sepertiku punya barang semewah ini kan? Makanya, jangan asal menilai orang.” Celetuknya mengembungkan pipi
“ Yaelah, kw nya juga banyak di pasar loak, dua seringgit.” Tawa Hazza menirukan gaya mael di serial upin ipin
“ Aku yakin kau lebih ingin tau caraku memainkannya kan? Dan ini tanpa nomor. Jika aku menjadi penyanyi terkenal kelak, aku akan memungut karcis untuk setiap nada yang aku mainkan.” Ucapnya kemudian mulai memetik senar gitar dengan melodinya. Suara yang begitu indah tercipta di sana, membawa Hazz hanyut dalam nada nada petikan jari lentik gadis berambut panjang yang seolah menyatu dengan melodinya itu
“ You and I by one Direction, iya kan!” Tebak Hazz seketika menghentikan petikan Diana, nafas Diana seolah tersedat menyadari nada apa yang dia mainkan, nada yang selalu dia mainkan bersama Zayn dulu. Mengapa jarinya seolah otomatis memainkannya?? Wajahnya mulai memerah, seberkas kenangan seolah kembali menyeruak di depan matanya. Kenangan saat Zayn memujinya, memainkan gitar itu bersamanya. Wajah zayn yang seperti malaikat baginya, senyumnya, tatapannya, tawanya, seakan kembali tergambar jelas. Namun…
“ Sudah.. cukup! Kau sangat cengeng! Dari pada kau menangis lagi, aku akan mengajarimu nada yang baru.” Ucap Hazz seolah mengerti kemudian mengambil gitar itu dari tangan Diana dan merangkul gadis itu ke dadanya. Diana memeluk Hazza erat, meremas kemejanya bersama tangis yang dibendung, tubuhnya terguncang.
“ Kenapa masih ada sisa sianya dihatiku Hazz, kenapa!!” Air mata pun menyuruak dari kedua bola matanya. Perlahan tangan Hazz menghapus air mata itu dari wajah Diana untuk kesekian kalinya. Diana menatap Hazz dengan mata berkaca- kaca, dilihatnya mata pemuda itu tampak memerah semerah senja sore itu, sebuah cahaya bening kemudian meluncur dari matanya jatuh dan pecah dikedua pipinya.
“ Hazz, kau menangis lagi?”
“ Ku mohon jangan menangis lagi di depanku Diana, kumohon berhentilah menangisi dia!” Pinta Hazza dengan suara serah
“ Kenapa kau menangis, kenapa?” Tanya Diana penasaran
“ Jika kau mau aku bisa menggantikan air matamu, aku akan menangis untukmu, aku tidak tahu kenapa, kumohon jangan menangis! Setidaknya jangan menangis di hadapanku!” Hazz kembali menjatuhkan air matanya, sejenak kedua tatapan itu beradu, seolah pandangan yang begitu lekat dengan kerinduan, tatapan yang begitu tulus yang tak pernah Diana temukan dari sosok rupawan Zayn, tatapan yang membuat hatinya terbasuh seketika dari kekeringan. Dipegangnya pelan wajah Hazz, kemudian menghapus lembut air matanya.
“ Sahabat juga sapu tangan, kau ingat?” Senyum Diana
“ Aku tidak akan pernah menangis lagi di depanmu, itu sumpahku.” Janji Diana kemudian. Hazz tersenyum mendengarnya, digenggamnya erat tangan Diana ke dadanya. Angin lembut yang berhembus seolah menerbangkan sisa sisa cinta yang entah dari mana singgah diantara keduanya, menyelinap pada hati kosong sang pecinta, membuai di tengah pandangan.
Kenangan hari itu sulit untuk mengurai apa yang terjadi, kenyataannya persahabatan mereka hanyalah seperti sampul sebuah cinta yang baru. Ketika mata Diana terpejam merasakan cinta baru yang tak berdaya dia tolak, saat tangan lembut Hazz membelai wajahnya, membelainya pelan, tatapan yang beradu semakin dekat, bahkan hembusan napas yang seakan semakin mengikat.
“ Terima kasih sudah berada di sisiku.” Bisik Diana dengan suara berat
“ Aku akan mengembalikan semua senyummu. Segala yang hilang darimu dan melengkapi kekuranganmu.” Tutur Hazz membuat bibir indah Diana mengulas senyum
“ Jangan pernah pergi.” Diana menarik lengan Hazza mendekat, menyatukan hidung mancung mereka rapat. Hazza pun hanyut dalam irama rasa yang kuat, bermelodikan deburan ombak yang membuat suasana semakin b*******h. Ia mendekat kemudian mencium bibirnya lembut. Perasaan nikmat dan bergelora seolah mengalir begitu saja diantara kedua mata yang masih terpejam itu. Hingga…
Deg
Seketika Hazza melepas tangannya dari wajah Diana yang masih menatapnya sendu dengan mata berair, tersadar akan sesuatu.
“ Tidak.. tidak.. aku mohon maafkan aku!! Ini tidak seharusnya terjadi, kumohon maafkan aku!” wajah pemuda itu seolah berubah pucat selepas mencium Diana, matanya berkaca- kaca seolah tersadar akan sesuatu, pemuda itu berdiri lalu meraih jaketnya.
“ Hazz??” Diana hanya bisa menatapnya tertahan, tak tahu apa yang harus dia lakukan.
“ Diana kumohon lupakan kejadian hari ini, aku minta maaf aku tak seharusnya begini… maafkan aku!” Tanpa mau menatap wajah Diana, Hazz meloncat turun dari batu karang itu kemudian berlari pergi seolah ada perasaan lain yang mengejarnya, perasaan yang membuatnya tega meninggalkan Diana seorang diri di sana, menatap hampa dengan air mata meleleh.
“ Apa kau juga akan pergi??” Gumamnya getir
Sementara di sana, pemuda itu menghentikan langkahnya.
“ Sial!!!” Teriaknya kesal sembari menendang sebuah pohon dengan kaki kirinya, kemudian bersandar di sana dengan hati hancur. Tampak jelas dia masih menangis, menyentuh bibirnya kemudian duduk meratapi kesalahan yang dia lakukan.
“ Apa aku ini sebenarnya, aku berusaha menolongnya dari kesedihan, tapi aku malah membawanya ke dalam luka yang baru, harusnya aku tidak boleh terbawa perasaan, ayolah Harryyyy… kau datang sebagai Hazz, sebagai Hazz.. sebagai orang yang harusnya membuatnya bahagia bukan malah semakin membuatnya menangis, bukankah aku sudah lama mencarinya selama ini ,,, bodooohh!!” Teriaknya mengutuk diri.
“ Aku dilarang untuk mencintainya, aku dilarang!” Ucapnya lagi kemudian menenggelamkan wajahnya diantara lutut dan menangis. Hinggaa…
“ Drrrrtttt… drrrttt… drrrtttt “
terdengar ponselnya berdering. Tertera nama “ My Mom” Di sana.
“ Ha.. Haloo Ibu… !!
“ Harry, kau kenapa nak?
“ Aku tidak apa- apa bu, aku tidak apa- apa.”
“ Suaramu terdengar serak nak, kau ada di mana?”
“ Ditempat yang seharusnya bu !””
“ Di mana?”
“ Di tempat Diana..!” Sejenak suara senyap diantara keduanya,
“ Bukankah ibu sudah melarangmu ke sana, pulanglah Harry, itu bukan tempatmu, kau tau kan bagi ibu gadis itu sudah mati!” Tekan ibunya terdengar penuh beban.
“ Sudah menjadi tanggung jawabku mengembalikan semua yang menjadi hak Diana, setidaknya dia berhak bahagia kan bu? Atau kalau tidak aku tidak akan pernah tenang.” Tutur Harry lembut. Tak terdengar jawaban dari wanita itu, semuanya hanya hening dan.. “ Tut tut tut “ Ponsel ditutup. Bibir Hazz terkatup rapat menatap layar ponsel yang mulai gelap, entah apa yang menyeruak dibenaknya. Siapa pemuda itu sebenarnya?? Apa hubungan dia dengan masa lalu Diana?? Mengapa dia datang dalam kehidupan Diana??
“ Ini sudah terlambat Ibu, aku jatuh dalam air matanya.. ini sudah terlambat, Dosa ini begitu indah memelukku, aku mulai gila.” Gumamnya
Malam bertabur bintang ketika itu begitu terasa berbeda, diantara ruang hampa dan hantaman ombak yang mengikis pantai, dia masih tersenyum memejamkan matanya dengan rambut tergerai panjang diterbangkan angin. Memori bersama Hazz tadi senja membuatnya sulit terpejam. Sentuhan tangan Hazz yang lembut seolah membuatnya mabuk bersama irama malam yang tenang. Harapan yang seolah hampir sirna kini membiak semakin segar dihatinya. Pemuda itu benar benar memberikan warna yang berbeda dalam air matanya, dia yang datang atas nama kebahagiaan, tak ada sumpah yang pernah terucap dari bibirnya, tak ada pertanyaan dan tak ada janji, semuanya mengalir apa adanya, itulah yang membuat dia begitu berbeda. Jauh dalam lamunannya…
“ Dianaaa…”
Diana tersentak mendengar suara angin yang seolah memanggil namanya. Memandang ke sekitarrnya dengan hati yang mulai berdebar kencang.
“ Tidak! Aku pasti sedang berhalusinasi. Aku sudah lama tidak mendengar suara ini. Ini pasti hanya halusinasiku saja.” Gumamnya meyakinkan diri. Bagaimana tidak, suara yang ia dengar, begitu mirip dengan suara dari masa lalunya
“ Dianaaa…”
Suara itu kembali terdengar diantara deburan ombak, kali ini bersama sentuhan yang terasa halus dipundaknya. Seketika Diana berdiri dan menoleh… apa yang dia dapati?
Deg
“ Mau bermain layangan?” Tanya sosok itu sembari memegang tali yang mengikat di lehernya, tali yang kemudian ia tarik dan seketika membuat kepalanya terputus
“ Aaaaarrkkkhh!”
Teriak Diana, dan seketika semuanya menjadi gelap
Kenapa setelah sekian lama, bayangan Malika seolah kembali menghantui Diana?
Kenapa?
Next part : Kehangatan