Aah Luka itu Nikmat!

1882 Words
Beberapa saat setelah ditemukan Diana masih tak sadarkan diri, tak ada luka ataupun cacat pada tubuhnya. Hanya bibirnya yang terus mengigau dan kulit wajahnya yang terasa hangat. Tubuhnya gemetar seakan ketakutan, keningnya berkerut dan sesekali ia berteriak Kenapa Malika kembali mengganggunya? Kenapa saat ia merasa mulai menemukan kembali bahagia bersama Hazza Apa yang coba Malika sampaikan? “ Di.. bangunnn.” Jane kecil yang manis begitu khawatir menggenggam tangannya lembut. Beberapa saat setelah itu, mata Diana terbuka, tampak raut ketakutan di sana. Ia melihat ke segala arah, bahkan tak menatap kehadiran Jane. Diana mirip seperti ia saat depresi dulu dan itu membuat Jane takut. Apa yang terjadi pada Diana? “ Malika.” Ucapnya pertama kali ketika dia membuka matanya. “ Malika?? Kau kenapa di? Kak Malika kan sudah meninggal?” Tanya Jane “ Dimana Hazz Jane, apa dia tidak datang??” Cemas Diana melihat sekelilingnya. Jane menggeleng pelan. “ Kau kenapa? Kau baik baik saja kan?” Tanya gadis kecil itu cemas. “ Aku bermimpi… entah itu mimpi atau nyata, seolah aku… aku melihat Malika tadi malam.. aku takut.” Tutur Diana akhirnya “ Malika?” “ Iya, dia selalu menghantuiku, dan tadi malam aku seolah melihat dia, dan itu seolah benar- benar nyata, apa aku pernah berbuat jahat padanya, kenapa dia terus menghantuiku?” Tanya Diana dengan bibir gemetar. “ Tenanglah di, kau sahabat yang baik, tidak mungkin kau jahat.. mungkin kau hanya bermimpi. Mungkin kak Malika sangat merindukanmu di sana.” Jane menghapuskan keringat dari kening Diana. Tapi itu tak cukup membuat Dia tenang, bayangan Malika tadi malam benar benar membuatnya takut, wajah yang dia lihat seolah Malika benar- benar tersiksa. “ Siapa yang membawaku ke sini?” Tanya Diana “ Kau pingsan di luar. Dan pak Kardi nelayan itu menemukanmu, dia yang menggendongmu ke sini. Aku juga ada di sana. Ibu memintaku membawakan sarapan untukmu.” Tunjuk Jane pada bekal makanan yang masih rapi di meja. Diana mengusap wajahnya kemudian menghela napas panjang, menenangkan diri “ Apa kau melihat Hazza?” Tanya Diana “ Kakak yang mirip orang bule itu? Tidak, aku tidak melihatnya. Apa dia akan datang lagi? Aku menyukainya.” Senyum jane polos Sebaliknya, wajah Diana berubah masam “ Hazz kau dimana??” Tuturnya dengan suara getir Diana tidak menemukan sosok Hazza hari itu, bahkan sampai matahari terbenam pemuda itu tak menampakkan batang hidungnya. “ Apa karna kejadian kemarin?” Pikir Diana sambil menatap indahnya taburan bintang dengan hati gelisah. Apa ia akan meninggalkanku? Apa ceritaku akan sama seperti sebelumnya? Hazza kau di mana? Diana hanyut termenung, perasaannya gelisah. Sebelum tiba tiba... “ Hey.” Seseorang menepuk pundaknya seketika membuatnya menoleh, senyum sumringah mengembang dibibirnya saat mengetahui siapa yang berdiri di belakangnya, pemuda yang dia tunggu – tunggu datang dengan penampilan Kasual malam itu, hanya mengenakan celana jeans dan T-Shirt abu abu dengan sebuah tas dipundaknya. “ Hazz.!” Senang Diana langsung berdiri menjajarinya. “ Senang banget kayaknya, rindu ya?” Canda Hazz kemudian duduk bersila di atas butiran pasir pantai sambil membuka tasnya. Pemuda itu tidak terlihat canggung sama sekali, dan hal itu membuat Diana merasa lega. Ia duduk di sisi Hazza, menatap wajah tampannya lekat. “ Kau beda banget, dari mana saja, aku kira karna kejadian kemarin kau akan meninggalkan aku.” Tutur Diana merajuk, mendengar itu pemuda bermata biru di hadapannya tersenyum manis. “ Lihatlahh, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu.” Tuturnya , Diana pun mendekat, memperhatikan sesuatu yang Hazz ambil dari tasnya. “ Ini untukmu.” Hazz menunjukkan sebuah kotak terbungkus rapi dengan pita merah di atasnya membuat Diana tercengang kaget. “ Selamat ulang tahun ya….!” Senyum Hazz kemudian, seketika wajah Diana berubah merah, matanya mulai berair, sudah lama ia melupakan ulang tahunnya sendiri, bagaimana Hazz bisa mengingatnya? Dengan tangan gemetar diambilnya kado itu dari tangan Hazza. “ Bagaimana bisa kau tahu kalau hari ini ulang tahunku?” Tanya Diana tiba- tiba. Deg Wajah Hazza berubah pucat. “ Siapa kau sebenarnya?” Tanya Diana lagi dengan sorot mata penuh tanda Tanya. “ Aa.. aku ...” Pemuda itu bingung mencari alasan. Namun kemudian Diana tersenyum senang. “ Kau pasti tahu dari Jane kan, sudahlah jangan malu kalau kau memang mencari tahu tentangku.” Senyumnya membuat Hazza bernafas lega. “ Ya, aku mencari tau dari Jane , maafkan aku.” Ujarnya getir. Pemuda itu mengusap rambut curlynya yang berkeringat Perlahan Diana membuka bungkus kado itu, wajahnya tampak berseri seri saat mendapati sebuah lambu Kristal hias berbentuk bintang berwarna bening. Hazza menghidupkan tombol lampu dan membuatnya seolah menyala ditangan Diana. “ Hazz, ini indah sekali!” Setetes air bening mengalir lembut di wajah Diana menerima kado yang begitu indah ditangannya. Hazza menghapus air mata itu dan berkata “ Bukankah kau sudah berjanji tidak akan menangis lagi?” “ Tapi ini. Ini benar benar indah Hazz, setiap gadis pasti akan senang menerima kejutan seperti ini, Hazz kau benar benar baik.” Wajah Diana tampak Cantik diterpa sinar Lampu yang terus menyala terang ditangannya, Rambutnya yang lembut terurai lepas menari bersama angin malam. “ Semoga lampu ini bisa menerangi tidurmu, hingga kau tak merasa takut lagi sendirian!” Senyum Hazz lembut. Diana menatap lampu itu . mungkin itu hanya sebuah lampu, tapi baginya itu seperti sebuah cahaya baru, cahaya yang menerangi kegelapan hatinya dan membuatnya selalu berpikir “ Dia tidak sendirian”. Itu seperti simbol sebuah kehidupan baru baginya. *** Terkadang bahagia membuat orang lupa Bahwa bersama tawa akan selalu ada air mata Pagi itu suasana begitu tenang, cahaya fajar begitu indah menyinari kehidupan di pesisir pantai, sinar yang begitu lembut menyapa air laut, membuatnya seolah dihiasi oleh emas murni yang mengambang bersama ombak. “ Selamat pagi peri kecil ...” Sapa beberapa orang yang lewat dengan jala ditangannya untuk menangkap ikan ketika melihat Diana berlari lari kecil sambil berusaha menerbangkan layangannya bersama beberapa anak- anak. “ Selamat pagiiii...” Jawab Diana dengan wajah seindah pagi. “ Dianaaaaa…...!” Tampak Jane berlari dengan seragam sekolah SD-nya yang sudah rapi. “ Ada apa Jane?” “ Aku mengantarkan seseorang yang ingin bertemu denganmu!” Tutur Jane kemudian menunjuk ke belakangnya. Tak jauh dari sana seorang gadis berjilbab berdiri dengan anggunnya menatap Diana, melangkah pelan kearah tempatnya bermain. “ Oh iyaa, terima kasih ya Jane… kamu sekolah gih.” Pinta Diana kemudian mencium kening gadis kecil itu “ Baiklah Di...” Beberapa saat setelah Jane pergi, gadis itu melangkah mendekati Diana, dilihat dari dekat, dia memang tampak sangat cantik, kulit yang berwarna eksotik dengan jilbab krem yang membuatnya tampak sangat anggun, serta tingginya yang semampai membuat Diana mendongakkan wajah sedikit ke atas saat menatapnya. “ Kau Diana Safana kan?” Tanyanya dengan nada ramah, namun tatapannya seolah Liar menjelajahi setiap bagian tubuh Diana dari ujung rambut sampai ujung kaki. Diana hanya mengangguk lirih dengan senyum ramah. “ Aku Dalila, Dalila Kasmir dari Jakarta!” Senyum Gadis penuh misteri. “ Kau mencariku?” Tanya Diana polos “ Ya, aku mencarimu, maaf, aku kurang lengkap memperkenalkan diriku, aku Dalila Kasmir tunangannya Hazza.” Senyumnya kemudian mengulurkan tangan. Mendengar itu wajah Diana seketika redup, cahaya dimatanya memudar, namun dia masih mencoba tersenyum dan menjabat tangan gadis itu ramah. Diana mengajaknya duduk dipohon tumbang yang biasa ia duduki. “ Kau datang jauh jauh untuk mencariku, ada apa.. maaf apa benar kau tunangannya Hazza?” Tanya Diana dengan nada getir “ Ya, benar… dan aku sangat mencintai dia, karena itu aku datang kemari mencarimu. Aku dan dia sudah dijodohkan sejak kecil, aku tahu Hazz memiliki pesona yang terkadang sulit untuk disangkal membuatnya disukai banyak gadis. Tapi menemukan namamu dibuku Diarynya membuatku cukup Shock, aku berusaha menghubungi ponselnya berkali kali dan melacak posisinya. Simple saja, aku Cuma mau Tanya ada apa antara kau dengannya?” Senyum Dalila manis, senyum yang seolah mematikan bagi Diana yang hanya bisa terkatup dengan rasa sakitnya sendiri. “ Kami hanya berteman.” Jawabnya penuh rasa sakit. Entah kenapa nyeri itu seolah memakan ulu hatinya “ Baguslah, jawaban itu yang ingin aku dengar, jadi… kenapa dia selalu ada di sekitarmu? Dari yang aku lihat, kau bukanlah anak kecil bukan? Lalu kenapa dia sangat tertarik dan bahkan berada di sini dalam waktu yang lama?” Diana menatap wajah Dalila kemudian mengernyitkan kening, pembawaan gadis itu begitu tenang serta selalu dihiasi dengan senyum yang membuatnya terlihat ramah namun memabukkan. Pertanyaannya selalu mengena pada perasaan lawan bicaranya. “ Apa maksudmu Dalila , kau tidak sedang cemburu kan?” Tanya Diana lembut. “ Kalau kau mengartikan begitu, mengapa tidak. Seorang kekasih berasa begitu lama bersama gadis lain, bagaimana perasaanmu? Bukankah aku sangat layak untuk cemburu?” Jawab gadis itu dengan senyum manis dan lirikan tajam. Beberapa saat suasana menjadi hening.. hanya terdengar tiupan angin dan deburan ombak menghantam pantai seolah mengerti perasaan yang sedang melanda Diana saat itu, hingga… “ Diana….” Seseorang memanggil diantara celah angin, Diana mendapati sosok Hazza malangkah kearahnya dari jalan setapak, pemuda itu tampak elegan berbeda dengan semalam, dia tampak rapi dengan Hem dan jaket kulit di luarnya. Seketika langkahnya terhenti melihat sosok Dalila yang berdiri mengawali Diana tersenyum padanya, senyum diwajah eloknya tiba- tiba surut. “suru!” Ucapnya mengernyit tak suka “ Apa kabar Hazz, kau tampak seperti biasanya, apa kau merindukanku, tatapanmu seolah berkata tidak! Itu sangat aneh mengingat kita sudah lama tidak bertemu.” Senyum Dalila melangkah ke hadapan Hazz. Diana berdiri dari duduknya. Hazz menatap Diana yang tampak terpaksa tersenyum dengan mata berkaca- kaca. “ Aku akan menyiapkan minum untuk kalian ya...” Ucapnya dengan suara gemetar, hendak melangkah pergi, namun… “ Hazz?” Wajahnya terdongak ketika Hazz menahan tangannya. “ Tetaplah di sini, Diana!” Pintanya “ Wow! Kenapa tidak kau biarkan dia bersikap baik pada tamunya Hazz?” Senyum Dalila menyindir. Mendengar itu Diana melepas genggaman Hazza “ Lebih baik aku membuatkan minuman, kau pasti juga ingin menghabiskan waktu dengannya kan!” Diana menundukkan wajahnya kemudian berlari ke gubuknya. Hazza menatap wajah Dalila tajam. “ Kenapa? Marah? Biasa aja kali!” Senyum gadis itu “ Bukankah kau kulian di Oxford?” Senyum Hazz kemudian “ Ya, kenapa sayaang?” “ Pantas saja kau kehilangan kesopananmu sebagai tamu, otakmu sudah dicuci bersih dari budaya timur rupanya.” Balas Hazza dengan wajah datar. Mendengar itu senyum di wajah Dalila memudar. “ Kau bermaksud membalas sindiranku?” “ Jika menurutmu iya, mengapa tidak?” Balas Hazza dengan mengangkat bahu. “ Kau punya mata untuk melihat aku masih berjilbab kan calon suamiku tersayang, bukankah ini untukmu, kau selalu menyukai gadis yang menutup aurat kan? Bukan gadis seperti tadi!” Dalila tersenyum merapikan jilbabnya. “ Kau mau tahu pendapatku?” Tanya Hazza “ Tentu.” “ Bagiku kau terlihat telanjang, bagian luarmu memang tertutup rapi, tapi hatimu menelanjangi kepribadianmu.” Ucap Hazz, Dalila menatap Hazza tajam, tampak jelas kemarahan diwajahnya. “ Kenapa? Marah? Bukankah nada bicaramu pada Diana juga seperti ini?” Senyum Hazza melanjutkan. Namun… tiba- tiba Dalila melangkah meraih leher Hazza dan memeluknya. Hingga... Prank terdengar sebuah nampan yang dipegang Diana terjatuh melihat hal itu. “ Dianaaa….” Hazz mendorong Dalila melihat air mata mulai turun dari mata indah Diana. “ Baiklah Hazz, terima kasih ya...” Senyum Dalila senang. Entah apa lagi yang ia rencakan “ Terima kasih untuk apa?” Hazza mengerutkan keningnya “ Karena kau telah memintaku untuk menemani Diana sementara waktu dirumah ini, dari semua yang aku baca dibuku Diarymu , Diana hidup seorang diri kan… aku bersedia menemaninya. Jangan khawatir, aku pernah tinggal di gubuk selama seminggu saat ke pedalaman. Jadi aku rada aku akan menyukai ini!” Senyum Dalila. Gadis ini sepertinya benar benar licik “ Apa?” Diana melirik kearah Hazza tajam. Gadis itu benar- benar sulit ditebak, Hazza mengerti akalnya agar dia bisa memantau dirinya setiap saat bersama Diana. “ Iya tadi Hazz memintaku untuk menemanimu Diana, bolehkan?” Tanya Dalila dengan wajah ramah. Diana menatap kearah Hazza tajam. Wajah pemuda itu tampak risau. Namun kemudian dia tersenyum. “ Aku mohon Diana, biarkan dia menemanimu untuk sementara waktu. Aku hanya khawatir tentangmu.” Senyum Hazza mengikuti alur yang diciptakan Dalilla . Dalila mengernyitkan keningnya. Mengapa Hazza mengiyakan? “ Baiklah.” Jawab Diana lirih kemudian masuk ke dalam gubuknya. “ Mau main- main denganku?” Senyum Hazza pada Dalila kemudian mengikuti Diana masuk ke gubuknya, meninggalkan Dalilla sendirian dengan bibir manyun. “ Sial! Aku kira mereka akan bertengkar! Kenapa justru aku yang terjebak di gubung sialan ini! Merepotkan!” Celetuknya kesal
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD