Harapan si Peri

2043 Words
Waktu adalah hal yang tidak bisa terganti, setiap detiknya adalah hal yang sangat berharga… dan seperti hari kemarin, hari itupun berlalu sama seperti hari setelahnya. Hanya satu yang seolah menetap, hati Diana, sejak bertemu dengan pemuda itu, Diana selalu menyempatkan waktu untuk melihat jalan pertama ketika dia melihatnya. Entah sejak kapan harapan itu muncul, seolah menjadi boomerang dalam hatinya. Sosok pemuda yang sama sekali belum pernah dia kenal, bahkan belum tau siapa namanya, tapi seolah sudah terasa sangat dekat dihati. “ Dia tidak akan kembali di!” Ucap sang nenek menyadari Diana yang tengah termenung dijendela menatap deburan ombak di pantai. “ Apaan sih nenek, dia dia siapa?” Senyum Diana berdalih “ Ya dia, pemuda sok baik dan manis tapi ganteng itu!” Tutur neneknya gambling “ Ah nenek, jangan menilainya begitu ah, nenek kan belum kenal dia, dia itu baik nek, sopan… ramah, jarang lo ada orang seperti dia yang bersikap ramah pada ke luarga gak punya!” Senyum Diana berbinar- binar menceritakan. “ Siapa pun dia, nenek memang sudah tua di, tapi nenek bisa melihat dan membedakan, mana karakter yang baik dan mana yang palsu. Tapi ya semoga saja dia memang seperti yang kamu ceritakan, karena nenek tidak mau cucu kesayangan nenek ini terluka!” Ujar Neneknya tenang. Diana tersenyum kemudian kembali menatap deburan ombak dipantai. “ Tapi kalau dia memang mengalami perasaan yang sama sepertimu ini, pasti dia sudah datang kerumah ini menemuimu lagi, nah ini buktinya sudah seminggu dia gak datang kan, dan nenek yakin dia belum pikun kan di!” Ucapan neneknya membuat senyum diwajah Diana surut. Benar, ini sudah seminggu.. dan ucapan neneknya memang benar. “ Jadi, sebelum kamu terlanjur cinta , sebaiknya lupakan saja dia, toh kalau jodoh pasti akan kembali kan.” Nasehat sang nenek. Diana menoleh, kemudian memeluk erat tubuh renta neneknya. Dalam diam, hatinya ingin menangis. Menyudahi hati bahkan sebelum memulainya. Cinta macam apa ini? Mungkin waktu dan diam, adalah cara yang tepat untuk membisukan rasa, tapi waktu pulalah yang membuat senyuman itu terus berseri entah sampai kapan… karena tali takdir yang sudah terlanjur terikat, tidak mungkin bisa lepas, bahkan oleh waktu sekalipun. “ Diana… coba tebak… !” Seru Malika sore itu usai mengadu layangan bersamanya, kedua sahabat itu duduk santai disebuah pohon tumbang sambil menikmati indahnya suasana sunset. “ Iya, aku tau… pasti kamu lagi senang kan!!” Senyum Diana tanpa menoleh “ Loh kok tau, iiihhh udah jadi dukun ya kamu sekarang !” Tawa Malika riang “ Aku kan udah kenal kamu dari kecil, masak iya gak hafal hafal karaktermu !” Senyum gadis berambut panjang itu. “ Di, kamu benar, suatu saat aku pasti akan menemukan sosok yang tepat untuk diriku yang akan membuatku gak lirik lirik lagi !” Malika berbinar- binar “ Hmmm pasti jatuh cinta lagi ya, kamu ini cabe cabean banget sih Lik !” Tawa Diana. “ Iis dengar dulu, ini beda lo… beneran kayaknya aku jatuh cinta beneran, tatapannya aja bikin hatiku kesemutan !” Decak Malika manyun. “ Hahaah kesemutan?? Manis dong hatinya… !” Tawa Diana “ Aku serius di, aku ketemu dia tu 2 minggu yang lalu, dia nganterin aku pulang karena ban sepedaku kempes, sumpah dia itu gak hanya keren, tapi baiiikkk dan sopaaannnn banget, kesemsem deh aku !” Semangat Malika. “ Dia dia siapa sih, apa aku kenal?” Tanya Diana penasaran “ Hmmmm kayaknya enggak deh, soalnya dia itu pindahan.. ! Deg Hati Diana seolah menangkap firasat, bahwa sosok yang diceritakan sahabatnya adalah pemuda yang mungkin sampai saat ini senyumnya masih belum bisa dia lupakan seperti lem yang terus melekat. “ Trus kalian udah jadian?” Wajah Diana berubah masam. “ Hmm gitu deeh,, tapi kayaknya dia mau seriusin aku deh, soalnya malam ini dia ngajak aku ketemuan , kamu temenin aku ya !”Malika memegang tangan Diana memohon. Sejenak Diana terdiam, kalau dia ikut, dia yakin 100 persen dia akan terluka, karena Diana yakin sosok yang diceritakan Malika adalah pemuda yang sama. “ Maaf ya lik, kamu kan tau aku gak pernah ke luar malam, bisa dihukum sama nenek, lagipula kan gak baik seorang gadis ke luar malam dengan seorang pemuda !” Senyum Diana polos. “ Hmm gitu ya, tapi kan Cuma ke luar di, gak ngapa ngapain juga, masak kamu mau gini terus, jomblo abadi itu kan gak enak di !” Senyum Malika “ Insyaallah aku kuat menerima semua godaan Lik, karena aku yakin Allah pasti ngasih yang terbaik buat aku, dan kenapa juga aku harus takut sendiri, mati juga nanti sendiri kan?” Senyum Diana. “ Iya juga siiihh.. tapi kan Cuma ke luar bentar, lagipula aku juga sering ke luar malem kok, tapi gak ngapa ngapain, nenek kamu memang fanatic ya, jangan jangaan dia menang olimpiade Jomblowati dulunye !” Tawa Malika “ Hus mulut tuuu… itulah yang terbaik, kita kan gak tau kapan godaan akan datang, aku ini orang gak punya Lik, kalau aku gak jaga kesucian aku sendiri, apa yang bakal aku banggakan buat suami aku nanti !” Senyum Diana berharap sahabatnya itu mau mengerti. Malika hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. Dia bisa menebak apa yang ada dipikirkan Malika, pasti dihatinya Diana seperti candaan dari orang jaman dulu, atau apalah seperti yang selama ini teman- temannya sandangkan,. Tapi Diana malah merasa senang dengan hal itu, karena baginya hubungan itu bukan hal main- main. Tapi… di luar sangkaannya, tiba tiba Malika tersenyum menepuk pundaknya “ Kamu hebat di, aku selalu ingin sepertimu, tapi jujur aku gak bisa, semoga impianmu terwujud mendapatkan pemuda yang baik yang seperti kamu idam idamkan !” Ucap Malika membuat Diana tersenyum senang “ Makasih ya! --- Mungkin hari itu adalah hari terakhir Diana berada begitu dekat dengan Malika, karena sejak saat itu dia jarang sekali bisa bermain bersamanya, entah apa yang membuat hubungan mereka menjadi renggang. Sikap Malika setelah itu menjadi dingin kepadanya. Jarang mengangkat telfon, bahkan saat bertemu hanya sepatah dua patah kata yang terucap. Diana berusaha berbaik sangka, mungkin saja Malika tengah sibuk atau asik dengan kekasihnya, atau mungkin saja dia sedang ada masalah, berbagai hal coba Diana yakinkan pada dirinya sendiri, namun tetap saja, gadis itu merasa sedih. Merasa kehilangan sosok sahabat yang begitu dia sayangi. Pagi itu… wajahnya tampak masam, melangkah diantara jalan jalan yang masih tampak ramai masih dengan seragam SMU yang dia kenakan “ Hai peri kecill !!!” Sapa seorang wanita dengan sekeranjang ikan segar ditangannya. Dia adalah ibu Sarah, ibu dari Jane, suaminya seorang nelayan, dan pastilah ikan yang dia bawa adalah hasil tangkapan yang akan dia jual di pasar. “ Eh Ibu !” Senyum Diana senang “ Masih pagi kok sudah pulang? “ Ada rapat dikantor bu, ibu mau jualan ya, mau saya bantu bawa kepasar? Tawar Diana seperti biasa. “ Oh tidak usah, kamu pasti capek kan… ibu bisa sendiri, makasih ya,oh iya, ibu mau ngucapin makasih beberapa minggu yang lalu kamu sudah belikan layangan untuk Jane !” Senyum Ibu Sarah “ Tidak apa- apa bu, Jane kan sudah saya anggap adik sendiri, lagi pula Cuma layangan !” Ucap Diana tulus “ Benar- benar gadis yang baik seperti peri, cantik lagi, semoga kamu dapat jodoh yang baik, kaya dan pokonya cocok buat kamu nak.. ibu doakan !”doa Ibu Sarah “ Ah ibu bisa saja, saya Cuma gadis desa bu, mana ada yang mau !”wajah Diana memerah. Namuunnn…. “ Jangan menebak taqdir lhoo.. !!”seseorang menepuk pundak Diana dari belakang, gadis itu langsung menoleh kaget. “ Ya tuhan !!”keluhnya spontan saat melihat siapa yang berdiri di belakangnya. “ Ibu duluan ya nak !” Senyum Ibu Sarah mengawali langkahnya, tersenyum melihat ekspresi kaget dari wajah Diana ketika menyadari seseorang berdiri di belakangnya, seorang pemuda dengan kemeja hitam yang ditekuk sampai sikunya, dipundaknya tampak memegang sebuah tas gitar. “ Ka.. kau?? Diana masih tercekat “ Kau kan pemuda yang dulu itu kan? Mencoba meyakinkan diri padahal sudah jelas dan nyata. “ Iya, Diana… kenapa aku selalu bertemu denganmu disaat sedang kesulitan ya!” Senyum pemuda itu lepas. Diana menarik nafas panjang mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah senang. “ Sejak kapan kau di sini, dan kenapa ada di sini? “ Tadi motorku jatuh, dan aku melihatmu lewat, jadi aku ikuti kamu kesini !”jawab pemuda itu singkat, Diana melihat lengan pemuda itu, memang benar, tampak berlumpur dan memerah luka. “ Mau ikut aku kerumah? Aku akan mengobati lukamu!” Tawar Diana mengambil kesempatan. “ Apa tidak merepotkan? “ Tidak, ayo ikut !”Diana berbinar, pemuda itu tersenyum manis lalu mengikutinya. Mungkin ajakannya hari itu adalah awal dari taqdir yang akan disesalinya seumur hidupnya kelak. Namun, Diana merasa begitu senang, tidak pernah dia segembira pagi itu. “ Kenapa kau tidak pernah berkunjung kerumahku?” Tanya Diana disela- sela langkah yang gontai. “ Aku malu, aku merasa malu, aku sangat merepotkanmu waktu itu !”jawab pemuda itu dengan nada datar “ Kenapa musti malu, aku tidak merasa terbebani , malah aku senang memiliki teman baru!” Senyum Diana berdalih, pemuda itu terlihat tersenyum mendengarnya. Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah Diana, “ Wah pemandangan di sini indah sekali ya, aku baru menyadarinya. Pasti betah tinggal di sini !”ulas pemuda itu sambil meletakkan gitarnya disebuah bangku terbuat dari kayu di depan rumah Diana, Diana hanya tersenyum mendengarnya. “ Sebentar ya, aku ambil kotak P3K ku dulu, kamu santai dulu menikmati keindahan tempat kumuh ini !” Ucap Diana melangkah kedalam. “ Benar- benar lugu.. hah !” Senyum pemuda itu sinis seperginya Diana. Beberapa saat kemudian, Diana kembali dengan sebuah kotak putih berlogo + merah. “ Maaf ya !” Senyumnya tulus kemudian mengangkat lengan pemuda yang terluka itu, dengan telaten Diana membersihkan lukanya, kemudian mengobati dan memperban lukanya dengan rapi. Sejenak pemuda itu terdiam, diatatapnya wajah Diana yang tampak begitu tulus, senyum mengembang di wajahnya. Mungkin awalnya kedekatannya dengan gadis itu cumalah sekedar basa- basi, tapi mengapa… ada perasaan damai dihatinya ketika berada didekat gadis itu, seolah dia mendapatkan ketenangan yang selama ini berusaha dia cari, ketenangan yang bahkan tidak dia temukan di rumahnya. “ Selesai !!” Ucapan Diana menghentakkan lamunnya,. “ Terima kasih ya.. !” Senyumnya senang. Diana mengangguk lirih kemudian menatap tas gitar yang tergeletak disisi pemuda itu. “ Itu… !!” Diana menunjuk ragu “ Oh ini, ini gitar milikku, kau mau melihatnya?” Tawar pemuda itu melihat wajah Diana yang tampak tertarik, Diana mengangguk senang. Pemuda itupun membuka kunci pembungkus gitarnya, kemudian menunjukkan gitar akustik berwarna kayu alami yang tampak terawatt begitu rapi. “ Waah ini kan… Cole Clark FL1A kan, bagaimana kau bisa mendapatkannya!” Seru Diana dengan mata berbinar. Pemuda itu tersenyum senang melihat ekspresi Diana. “ Waww kau tau sejauh dan sedetail itu tentang alat music, bagaimana bisa? Takjubnya “ Tunggu aku sebentar ya, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu !” Diana segera berlari ke dalam rumahnya, mengambil sesuatu, kemudian kembali kehadapan pemuda itu dengan sebuah gitar ditangannya. “ Ini kan..? Sedikit ternganga pemuda itu menatap gitar yang dibawa Diana. “ Iya ini, termasuk gitar lama Fender ESA-10CE , jangan kaget gitu napa.. bukan karena aku miskin aku tidak bisa memiliki gitar sebagus ini kan?” Senyum Diana. “ Ah tidak.. tidak.. bukan begitu.. tapi… ini kan gitar langka yang hanya diproduksi di jepang, dan harganyapun sangat mahal sekitar 21 juta lebih, bagaimana bisa? Pemuda itu masih ternganga. Diana duduk di samping pemuda itu. Wajahnya yang rupawan terlihat semakin indah saat kaget. “ 3 tahun yang lalu aku memiliki kenalan didesa ini, rumahnya dikompleks perumahan mewah sama sepertimu, aku sering membantu nenek di rumahnya, beres- beres, menemaninya. Dia itu hidup sendirian, dan usianyapun lumayan berumur. Dan putranya itu pemilik gitar ini, tapi meninggal diusia muda karena over dosis. Jadi sebelum dia pindah dia memberikannya padaku !”cerita Diana semangat. Sejenak pemuda itu terdiam. Ditatapnya lembut wajah Diana . baru kali ini dia menemukan gadis yang benar- benar baik dan suka menolong sepertinya. “ Apa kau bisa memainkannya?” Tanyanya pada Diana. “ Sedikit, mau aku tunjukkan? Gadis itu tampak semangat, apalagi melihat wajah pemuda idamannya yang tampak begitu senang dan tertarik. Perlahan jari lentiknya mulai memetik senar gitar dengan lembut mengalunkan melodi yang begitu merdu, Diana seolah terbawa menjadi nada yang dia mainkan, music seolah menyatu kedalam dirinya. “ And then, I see you on the street, in his arms, I get weak, my body fails, Im on my knees prayin’’’.. when he open his arms and hold you close tonit, it just wont feel right, coz I cant love you more than this” Petikan syair yang dia nyanyikan dari lagu more than this menjadi begitu menyentuh di hati pemuda disisinya dipadu suara Diana yang begitu halus merdu. “ Caramu memainkan gitar, dan suaramu begitu indah Diana… begitu indah.. maukah kau bermain denganku?” Senyum pemuda itu senang. Gadis lugu itu begitu merasa senang mendengar pujian darinya, dari seseorang yang dia harap buah dari doanya, wujud dari ikhtiarnya dan cinta sejatinya. Beberapa saat wajahnya tampak begitu berseri menyanyikan beberapa lagu dan memainkan beberapa melodi bersama pemuda rupawan disisinya. Neneknya hanya bisa menatap mereka dari balik pintu kumuh rumahnya, berharap cucu kesayanagnnya itu tidak terluka. “ Semoga nasib ayahmu tidak terulang kepadamu nak.. !” Doa yang terpanjat dari bibir tuanya yang mulai mengkerut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD