Hati yang Patah

1103 Words
Hari pun mulai beranjak siang, ketika pemuda itu pamit pulang. “ Tunggu… ini tidak adil, aku belum tahu siapa namamu…! Tanya Diana ketika pemuda itu menyandang tas gitarnya dipundaknya. “ Tidak perlu, besok kita akan bertemu lagi kok." Jawab pemuda itu dengan senyum yang begitu manis. Sungguh wajah itu milik malaikat. “ Bagaimana mungkin kita berteman, kalau kita tidak saling mengenal? Tanya Diana heran “ Persahabatan atau apalah itu hanya sebuah nama yang diberikan manusia kan, pada dasarnya perasaan itu tidak memiliki nama!" Jawaban pemuda itu begitu cerdas. Diana hanya bisa tersipu dengan gurat merah yang mulai muncul dipipinya yang merona. “ Sampai ketemu besok, aku akan datang ke sini lagi… Diana." Ucap pemuda itu kemudian melangkah pergi. Diana menarik nafas panjang memegang dadanya yang seolah jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, “ Ya Tuhaann,,, apakah ini yang dinamakan rasa suka? Sejenak matanya terpejam menghayati perasaan yang ada. Terasa begitu hangat, namun…. “ Malika?? Kenapa aku bisa lupa? Harusnya aku menanyakan nama Malika pada pemuda tadi, apa benar Malika adalah kekasihnya, jika itu benar, aku tidak akan masuk terlalu jauh ke dalam kehidupannya!" Wajah berbinar itu tiba- tiba redup. Diana berusaha menahan perasaannya, tapi mengapa malam itu dia tidak bisa memejamkan matanya, berharap dia memiliki tongkat sihir yang bisa mempercepat waktu. Semakin dia berusaha melupakan, semakin dia ingin mendekat. Hari itupun berlalu, dan waktu yang begitu dia harapkan akhirnya datang juga. Gadis itu menatap jalan sore yang sunyi di dekat rumahnya dari arah jendela, berharap sosok yang diharap segera datang. “ Jangan terlalu terbang tinggi di, nanti kamu jatuh!" Ucap neneknya “ Aku tidak terbang nek, lagi pula Diana sadar kok Diana Cuma seekor ayam kecil, mana mungkin Diana bisa terbang." Sanggah Diana menatap wajah neneknya yang tampak sendu “ Kamu seekor angsa di, kamu bisa terbang jika kamu mau, tapi meskipun kamu seekor angsa yang cantik , kamu tidak boleh terpengaruh dengan cara elang terbang, karena kamu tidak akan mampu nak." Senyum neneknya “ Maksud nenek? “ Kau yakin pemuda itu akan datang? Dia pemuda berstrata tinggi, wajahnya juga tampan, terpelajar, mana mungkin dia melirikmu, nenek bukan berburuk sangka hanya saja, nenek ingin menjagamu nak. Mungkin ada pemuda seperti dia yang benar benar tulus, tapi dalam 1000 hanya ada satu orang di…!" Nasehat neneknya. “ Ada sebuah kekuatan dibalik kepercayaan nek, dan aku percaya dia pasti adalah 1 orang itu!" Semangat Diana. Wanita tua itu menarik nafas panjang. Benar, dia bisa melihat dengan jelas cucunya telah tumbuh menjadi gadis remaja, yang tidak bisa selamanya dia jaga. Tapi hati tuanya begitu percaya, Diana gadis yang kuat. Beberapa saat suasana menjadi sepi… hinggaa… “ Assalamualaikum…!!" Terdengar panggilan salam dari luar… “ Tu kan nek, dia datang!" Senyum Diana girang seraya berlari membukakan pintu, benar saja, pemuda itu berdiri dengan kemeja putih yang dilipat sampai siku lengannya. Dipundaknya tampak menggendong tas gitar yang kemarin. “ Nenek, sehat?" Senyum pemuda itu begitu ramah dan sopan mencium tangan tua nenek Diana seperti mencium tangan neneknya sendiri. “ Sehat, Diana sudah menunggumu dari tadi , nenek akan buatkan teh ya!" Wanita tua itu hendak berdiri dari duduknya. “ Oh tidak perlu repot nek, saya cukup air putih saja…! Sopan pemuda itu. “ Ayo kita ke batu karang di depan sana, main gitar di sana begitu menyenangkan!" Ajak Diana. Pemuda itu hanya mengangguk lalu mengikuti langkah gadis 17 tahun di hadapannya. Benar saja, batu karang setinggi 4 meter itu memang begitu indah, berdiri di atasnya membuat perasaan seseorang berada disinggasana sebagai seorang raja. Sementara ombak dan hamparan pantai yang begitu luas seolah abdi yang tak sanggup menggapainya. “ Indah bukan! Tegur Diana menyadari wajah pemuda itu yang begitu menikmati hamparan alam semesta yang begitu menakjubkan. “ Iya, ini tempat yang sangat indah, aku seolah menjadi Rohit dalam film India kahona pyar hai!" Tawa pemuda itu lepas. “ Kau suka film India? Cengang Diana melongo “ Ya Cuma beberapa film saja, tapi aku jadi ingin mengajakmu menonton film itu bersamaku." Tawar pemuda itu “ Itu kan film lama." “ Meskipun lama, tapi kalau menontonnya bersama orang yang kita suka pasti kesannya berbeda kan? Ucapan pemuda itu membuat Diana tersedat. ” Suka?" Namun ia terlalu malu untuk bertanya. “ Eemmmm boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Diana dengan wajah serius “ Namaku lagi?” Astagaaa senyumnya begitu manis. “ Bukan! “ Lalu? “ Malika, apa kau mengenalnya?" Tanya Diana, seketika ekspresi wajah pemuda itu menjadi datar. “ Kau mengenalnya kan, apa dia pacarmu?" Tanya Diana sekali lagi, sejenak pemuda itu terdiam. “ Tidak, aku tidak mengenalnya. Memangnya siapa dia?" Tanya pemuda itu dengan suara getir kemudian duduk di atas lututnya sibuk mengeluarkan gitarnya. “ Benarkah, tapi sepertinya tadi kamu kaget mendengarnya?" Diana mulai curiga. Pemuda itu menarik nafas panjang menatap Diana, “ Ya tuhan…!" Diana melihat matanya memerah, tampak berkaca- kaca. “ Ya Diana, Malika itu nama Ibu kandungku, saat seseorang menyebut namanya aku selalu teringat wajahnya. Dia meninggal saat aku berusia 10 tahun, strees karena kelakuan ayahku yang suka kawin cerai. Dan sekarang, aku terjebak dengan ibu tiriku yang cerewet dan ayahku yang sakit sakitan!" Ceritanya dengan mata berkaca- kaca. Diana sedikit tercengang mendengar cerita sedih pemuda di hadapannya, pemuda yang baginya tampak selalu tersenyum dan tenang. Ia merasa bersalah karna telah menaruh curiga. Bagaimana mungkin pemuda sebaik itu akan berbohong bukan? “ Maafkan aku ya, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih, aku menyesal." Perlahan Diana memegang pundak pemuda itu lembut. “ Sudahlah, harusnya aku yang tidak menceritakan semua kisah ini kau pasti merasa terganggu." Senyum pemuda itu. “ Oh tidak kok, aku senang kalau kamu terbuka, kalau kau mau kau bisa menceritakan semuanya padaku." Senyum Diana tulus, pemuda itu tersenyum.. “ Zayn!" Tuturnya kemudian.. “ Apa?" Diana tak mengerti “ Namaku, Zayn!" Senyum pemuda itu perlahan memegang tangan Diana yang masih berada dipundaknya. Deg Seperti udara yang tercekat dipangkal lehernya atau daya listrik yang begitu kuat membuat hati gadis itu seolah berguncang hebat. “ Kau memberi tahukan namamu padaku?" Senyumnya senang “ Iya… namaku Zayn…dan baru kali ini aku menemukan seorang gadis yang begitu unik sepertimu!" Senyum Zayn memikat. “ Unik?” Wajah Diana tersipu merah seperti Tomat " Ya, kau gadis terunik, baik dan juga cantik yang pernah aku temui di daerah sini." Bisiknya memainkan mata. Yang sumpah demi apapun, Zayn benar benar memiliki tatapan yang begitu menggoda. Tapi apakah sikap manis yang ia tunjukkan adalah dirinya yang sebenarnya? Benarkah Zayn adalah malaikat impian Diana atau justru firasat buruk neneknya akan menjadi nyata? Tanpa mereka sadari seseorang berdiri dari kejauhan sana, menatap mereka dengan perasaan hampa penuh luka. Air mata tampak menetes di kedua pipinya, sementara jari jarinya mengepal erat. “ Ini bukan sebuah story kan, di mana seseorang harus bahagia sementara yang lainnya menderita!” Ucapnya dengan suara getir. " Aku berjanji, kau akan menerima karma karena telah melakukan ini padaku. Aku bersumpah!" Gumamnya dengan tatapan penuh kebencian. Ia bahkan tidak merasakan sakit akan pecahan beling yang menancap di kaki telanjangnya Karena aku adalah hati yang kau patahkan! Siapakah dia?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD