Hari demi hari berlalu, seperti bunga yang bermekaran dimusim semi, cahaya dihati Diana begitu kuat berkembang setiap hari, saat sore tiba sang pangeran impian selalu datang bercanda dan memainkan music bersamanya. Ya, cinta mereka bersemi seperti nada yang dimainkan. Ketulusan dihati Diana mampu meredup dan menundukkan hati seorang seperti zayn. Pemuda itu tampak sangat betah bersamanya.
Namun siang itu…
“ Malika?” Diana menemukan sahabatnya tengah duduk di depan rumahnya dengan seutas layangan ditangannya. Wajahnya tampak pucat, dan rambutnya dipotong pendek dengan pandangan mata yang redup.
“ Hai Diana… bagaimana kabarmu, aku ingin sekali bermain layangan denganmu, kalau dipikir lagi kita sudah lama tidak bermain bersama kan!” Senyum Malika manis seperti biasanya.
“ Ya tuhaaann Malika… aku kangeennn sekali sama kamu, sudah sebulan ini aku jarang melihatmu!” Diana memeluk sahabatnya itu, namuun… “dingin” Tubuhnya tarasa sangat dingin.
“ Diana… kita ke sana yuukk…!!” Ajak Malika menunjuk pada kayu roboh yang biasa mereka duduki kalau bermain layangan.
“ Ayuukk!!” Ajak Diana senang.
Benar saja, Malika hari itu tampak sangat berbeda, matanya terlihat bengkak. Senyumnya dingin dan sesekali menyeka air matanya.
“ Malika kamu kenapa?” Tanya Diana memegang erat tangan sahabatnya itu.
“ Aku tidak apa- apa di, aku baik- baik saja, aku baru sadar aku sangat merindukanmu!” Ucap Malika tanpa melihat ke arah wajah Diana.
“ Kamu patah hati ya Lik?" Tebak Diana
“ Bagaimana bisa kau tau?” Malika menatap Diana sendu
“ Kamu sahabatku sejak kecil, kamu selalu datang menangis padaku setiap kali kamu patah hati, dan aku akan selalu heran karena kau sangat senang patah hati lika. Entah sudah keberapa kalinya kau begini!” Senyum Diana. Mendengar itu Malika tersenyum.
“ Kau memang sahabatku di, kau selalu menjadi obat bagiku disaat aku luka.. aku janji aku gak akan membebanimu lagi, kau benar, harusnya aku gak main main dalm cinta, harusnya aku mendengarkanmu!” Malika memeluk Diana erat, menangis seperti anak kecil di pangkuan ibunya.
“ Cinta tidak salah lik, cinta itu murni, hanya saja kita tidak mengerti dan tidak bisa membedakan apa itu cinta, cinta sejati tidak akan membuat kita menangis, kalau ada yang mengaku mencintai kita tapi selalu membuat kita menangis, itu bukan cinta namanya!" Ulas Diana
“ Kau terlihat bahagia, apa kau sedang jatuh cinta?” Tanya Malika. Diana menundukkan wajahnya malu. Apa begitu terlihat?
“ Aku tau, aku sudah dengar dari orang orang katanya kamu didekati sama pemuda yang baru pindah di perumahan elit itu ya…?” Tanya Malika lagi.
“ Hmmm sebenarnya aku tidak tau ini perasaan apa… yang jelas aku senang bermain bersamanya, tapi bagaimana kau bisa tau?” Senyum Malika senang
“ Di, kau memang bukan seorang artis, tapi kau memiliki banyak fans di daerah ini. Kau ingat kan bagaimana mereka memanggilmu.. peri kecil.. jadi benar ya, kamu sedang dekat dengannya?” Tanya Malika, entah kenapa Diana seolah menangkap raut lain di wajah sahabatnya itu, seolah ada sesuatu yang ingin ia ketahui.
“ Ya begitulah, mungkin aku menyukainya!” Senyum Diana.
“ Oh begitu ya di. Kau tahu? Kau temanku yang paling baik, aku berharap kamu mendapatkan jodoh yang tepat, yang benar- benar kau cintai dan tidak akan pernah membuatmu terluka, aku tidak ingin melihat air mata pertamamu jatuh karna jatuh cinta pada orang yang salah sepertiku!” Malika kembali memeluk Diana.
“ Aku tidak akan menangis Lika, dia pemuda yang sangat baik dan ramah , aku yakin dia tidak akan membuatku menangis!!” Senyum Diana sembari membelai lembut punggung Malika.
“ Aku sangat menyayangimu di… aku tidak mau kamu terluka , apapun akan aku lakukan asalkan kau bahagia!" Gumam Malika dengan suara parau
Entah mengapa, Diana merasakan ada suatu hal yang ganjil ketika itu, paras Malika yang dingin dan kata- katanya yang begitu terasa hampa dan datar. Ada apa dengan Malika?
" Ini sudah sore, kau mau menginap? Kita akan banyak bercerita seperti dulu." Ajak Diana. Malika menyeka air matanya kemudian memegang pipi Diana lembut
" Aku tidak bisa menginap. Lain kali aku akan datang. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan." Tolaknya
Diana mengambil napas mengerti, melepas sahabatnya itu berdiri lalu menatapnya sendu sebelum akhirnya melambaikan tangan dan mengucapkan selamat tinggal.
Seperti daun yang jatuh begitu saja
Ia tidak akan pernah bisa kembali
Lalu yang tersisa darinya, hanya kenangan yang perlahan memudar
Lalu sirna menjadi abu
Seharusnya hari itu, aku tidak membiarkannya pergi
Seharusnya aku menahan lengannya yang mungkin tidak akan pernah bisa aku gapai kembali
Ya, seharusnya
-----***-----***-----
Malika melangkah lunglai menatap langit yang mulai gelap. Sesekali ia memejamkan mata, menahan pedih di hatinya. Melihat wajah Diana yang begitu bahagia tadi, ia mengurungkan niat untuk mengatakan yang sebenarnya.
Perlahan, Malika mengusap lembut perut datarnya, air matanya kembali turun
" Aku bodoh, aku tidak seberuntung Diana. Bagaimana bisa aku begitu bodoh." Gumamnya sedih
" Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan pada Diana. Ada begitu banyak, sampai aku tidak tahu harus memulainya dari mana." Isaknya.
Beberapa saat kemudian, Malika tiba di depan pintu rumahnya. Tidak cukup megah, tapi jauh dari kata sederhana. Melihat kondisi rumah yang gelap, Malika tahu ayahnya pasti belum pulang dari berlayar. Gadis malang itu membuka pintu rumahnya pelan, hendak menyalakan lampu. Sebelum...
Deg
" Hmm." Ia seakan kehabisan napas. seseorang tiba tiba membekap mulutnya, mendorongnya terjatuh membentur kursi. Malika pucat melihat siapa yang berdiri dihadapannya.
" Bukankah sudah aku bilang jangan temui dia! Kau berani melanggar apa yang aku minta huh?" Seringainya menakutinya
" Aku sudah muak! Diana harus tahu siapa kamu sebenarnya!" Tekan Malika dengan mata berkaca kaca
" Lalu apa kau sudah mengatakannya?" Orang itu mencengkram dagu Malika kasar. Memaksa Malika menatap iris matanya yang menyiratkan ratusan kebencian
" Tidak! Tapi nanti aku pasti akan mengatakannya! Aku pasti akan memberi tahunya!" Jawab Malika berusaha melepaskan diri
" Oh ya?" Sosok itu mengulas senyum
" Kau mau aku melakukan hal yang lebih buruk dari sebelumnya?" Tanyanya berbisik. Membuat Malika ketakutan. Apalagi saat melihat seutas tali berada di genggaman sosok misterius itu
" Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Malika beringsut mundur
" Apa? Kau ingin tahu? Bagaimana kalau kita bermain main terlebih dulu?" Senyumnya seraya memainkan mata.
" Aku akan berteriak!" Ancam Malika ketakutan
Ya, ia adalah Iblis berwujud manusia
Tangannya haus akan darah
Napasnya memburu seakan lapar dengan mangsa
Walaupun ia terlihat seperti bulan yang bersinar
Cahayanya mampu membutakan siapapun yang mendekat
" Berteriaklah jika kau mampu!" Seringai sosok itu. Lalu...
" Prank!"
Diana tertegun menatap potret dirinya dan Malika yang tiba tiba jatuh ke lantai. Perasaannya tidak enak dan jantungnya berdegup cepat.
" Ada apa di?" Tanya nenek saat mendengar suara gaduh di sana
" Foto Malika nek, foto Malika terjatuh. Diana ingin menyusul Malika ke rumahnya ya? Diana takut terjadi sesuatu yang buruk padanya." Pinta Diana cemas
Nenek menghela napas kemudian mengulas senyum
" Ini sudah malam di, tidurlah! Angin laut sedang kencang, wajar jika foto itu terjatuh. Gubuk kita kan dari anyaman. Mungkin pakunya sudah tidak kuat lagi." Hiburnya
Diana mengambil bingkai foto yang pecah itu. Entah kenapa perasaannya begitu sedih dan khawatir
" Di? Kau mendengar apa yang nenek katakan nak?" Tanya neneknya
" Nenek benar, mungkin ini hanya firasatku saja. Selamat malam nek." Senyum Diana getir
" Selamat malam sayang."
Harusnya aku menemuinya...
Harusnya aku tidak membiarkannya sendirian...
Sejak malam itu, tinta kenanganku penuh dengan darah dan penyesalan.
Malika, anda aku bisa meminta maaf padamu...
Apa yang akan terjadi pada Malika
" Aaarrkkhh!!!" Hanya suara teriakan yang menggema di segala sudut rumah yang memecah keheningan kemudian menghilang menjadi gelap yang cekam.