Luka Abadi

1315 Words
Waktu adalah tangan kanan tuhan Baik takdir atau kehidupan tidak bisa melawannya Jangankan kehidupan, Waktu bahkan lebih dekat dengan kematian dan perpisahan “ Dianaaa……!” Teriak neneknya memebangunkan Diana dari mimpi indahnya, tubuh rentanya tampak gemetar serta wajahnya yang terkatup pucat, wanita tua itu melangkah cepat kearah bilik Diana tidur. Mencoba membangunkan cucunya. “ Diana! Nak! Bangun nak!” Isaknya sesenggukan “ Nenek ada apa?” Tanya Diana dengan wajah pucat, selama Diana hidup, ia tidak pernah melihat ekspresi seperti itu dari neneknya “ Diana… Malikaa.. Malikaa…!” Suaranya seolah tercekat, ingin mengatakan sesuatu tapi menatap wajah cucunya seakan membuat ucapannya tertahan “ Malika kenapa nek?” Tanya Diana mulai cemas, apalagi jika mengingat firasat buruk semalam. “ Malika…. Malikaa…!” Seolah tak mampu berkata , wanita tua itu jatuh dalam duduknya lalu menangis, Malika baginya sudah seperti cucu kandungnya sendiri, menangkap ekspresi seperti itu, Diana segera melepas selimutnya dan dengan tanpa alas kaki sang peri kecil berlari ke luar, mencoba mencari tau apa yang tengah terjadi. “ Malika… kamu kenapa?” Bisik hatinya disepanjang jalan, dia sama sekali tidak peduli dengan duri duri pantai yang menyapa kakinya, dia semakin mempercepat langkahnya menuju rumah sahabatnya. Hinggaa…. Terkadang … Untuk meluruskan sebuah benang, kita harus memotong benang yang kusut Terkadang… Untuk mengerti suatu kondisi… Kita harus kehilangan… Deg Jantung Diana seakan berdetak lebih cepat. Bagaimana tidak, ia melihat banyak orang berkerumun dari luar rumah sahabatnya itu. Diana bergegas menerobos kerumunan, bahkan polisi tampak hadir di sana. Dan sesampainya di dalam... “ Malikaaaaa………!!!” Diana terjatuh di atas lututnya. Air matanya tumpah. Bagaimana tidak, setibanya di rumah Malika yang tersisa hanya segerombolan penduduk yang berusaha mengerumuni sebuah jasad, jasad yang masih tampak tergantung di antara atap dan lantai. Ya, tepat pada hari sabtu 23 juli Malika ditemukan gantung diri dengan seutas tali yang menggelayut dilehernya. “ Malika!!!” Teriak Diana seakan suaranya mencekik kerongkongan Seolah merasakan separuh dirinya pergi, Diana tak hentinya menangis. Air mata yang terus berjatuhan seolah tiada arti baginya saat menyadari sahabat tersayangnya pergi dan tak akan pernah kembali. “ Diana, aku hanya ingin kamu bahagia, aku hanya ingin kamu bahagia, aku janji aku tidak akan membuatmu terbebani lagi! Kata kata Malika seolah membebani hatinya. Perlahan dipegangnya tangan dingin sahabatnya itu seraya menangis sesak. Namun… apa ini??? Diana mengambil secarik kertas yang sudah lusuh di genggaman mayat Malika. Sebuah pesan sederhana yang sepertinya sengaja Malika tulis untuk sahabatnya “ Nona tolong jangan sentuh jasadnya! Kita ingin menyelidiki terlebih dulu penyebab kematiannya.” Pinta polisi mencoba memaksa Diana menjauh “ Apa menurut anda kematian seperti ini masih layak diperiksa pak? Apa anda tidak punya hati? Saya sahabatnya! Saya hanya ingin mengucapkan selamat tinggal.” Diana merogoh kertas dari tangan Malika lalu menyembunyikannya. “ Tetap saja sebaiknya anda menjauh!” Pinta polisi Diana menghela napas, ia menatap wajah pucat Malika yang sudah tak bernyawa. Rasanya ini seperti mimpi buruk Gadis itu menjauh dan membuka kertas itu di dalam salah satu sudut ruangan “ Diana,, dalam sebuah samudra yang begitu luas, ada beragam kehidupan yang bergantung di dalamnya, namun juga tak jarang beberapa orang ingin merusaknya. Diana, aku melihatmu dalam wujud samudra itu, dan aku tak ingin ada yang merusakmu, tetaplah jernih dan tersenyum… ---Sahabatmu!!” Malika Diana memeluk erat surat terakhir dari Malika, napasnya seolah berat. Dipeluknya erat tubuh sahabatnya ketika ambulans datang untuk membawanya pergi. Seolah baru kemarin Malika masih duduk bersamanya sambil bermain layangan, tiada terduga, hari ini dan esok.. dia tidak akan bisa bertemu Malika lagi. Diana kembali memeluk surat di tangannya. “ Apa yang membuatmu menyerah Malika… apa yang membuat bibirmu bungkam, adakah sesuatu hal yang tidak ingin kau ceritakan padaku?” Berbagai pikiran berkecamuk dibenaknya. Semua pertanyaan yang mungkin sudah tak ada jawabannya. Dan tak akan pernah terjawab untuk selamanya Diantara kerumunan orang itu, tampak seseorang mengenakan jaket dan tudung hitam yang mengulas senyum. Tangannya tampak sedikit memar, bekas perlawanan Malika semalam. Ia kemudian merapikan tudung wajahnya dan beranjak pergi. “ Harusnya kau tidak mencoba menentangku.” Gumamnya dengan ekspresi yang begitu lega ***------***------***-----*** Setelah kepergian Malika, keadaan tidak akan pernah sama. Diana lebih banyak menghadapi hari harinya sendirian, ia menjadi lebih pendiam, sering terjaga saat tidur dan berteriak karna mimpi buruk. Diana bahkan tidak tersenyum dan bermain bersama Jane lagi. Ia benar benar berduka, hingga hari itu... “ Diana!” Tak seperti biasanya, pagi itu Zayn datang menepuk pundaknya, ini adalah hari ke 7 setelah kepergian Malika. Diana menatap Zayn tanpa gairah, tampak pemuda itu membawa sesuatu di tangannya. Diana bahkan tidak bertanya, apa yang Zayn bawa untuknya. “ Hai… kau kenapa?” Masih sedih?” Tanyanya dengan nada menghibur kemudian duduk di dekat gadis itu “ Aku ingin sendirian … kumohon biarkan aku sendirian!!” Pinta Diana dengan wajah masam. Mendengar itu Zayn terdiam sejenak, dikeluarkannya apa yang dia bawa, ternyata sebuah biola. “ Lihat! Aku membawakan sesuatu.” Tunjuknya. Diana menghela napas panjang. Hari itu Zayn tampak begitu tampan dengan pakaian serba hitam yang kontras dengan kulit putihnya. Tapi semua itu tidak cukup untuk membuat Diana melupakan kesedihannya. “ Kenapa kau membawa benda itu, aku sedang tidak ingin mendengarkan apapun!” Tolak Diana. Zayn menarik nafas panjang tanpa berkata sepatah katapun pemuda itu mulai meletakkan Biolanya di bawah dagu lalu mulai memainkannya. Suasana yang hening, tanpa ada Satu pun yang bersua, hanya melodi indah yang terus menggema dari irama yang dimainkan Zayn, membuat hati Diana luluh, air matanya kembali jatuh. Irama yang begitu indah seolah membawa senyum Malika kembali diangan angan, membuat jiwa sedih Diana yang tak berkesudahan seolah menemukan titik terang. “ Kata orang suara biola mampu menghibur siapapun yang sedang sedih.” Senyum Zayn. Pemuda itu tampak seperti orang yang selalu mengetahui segala hal, ia mampu membuat Diana menangis ataupun tersenyum “ Aku tidak ingin mendengarkan opinimu Zayn, kau tau kan aku sedang sedih , mengapa kau terus datang menggangguk?” Diana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Namun… Deg Seketika jantung Diana seolah berhenti berdetak, bagaimana tidak, Zayn menghentikan permainan Biolanya dan tiba- tiba memegang kedua tangan Diana yang menutupi wajahnya, lalu menghapus air mata Diana dengan tangannya. “ Kalau ada tanganku untuk menghapus air matamu, kau tidak perlu bersembunyi di dalam tangismu kan.” Senyumnya begitu tenang. Diana menatap Zayn dalam, air matanya menggenang, seolah tak sanggup menahan beban dihatinya , gadis itu jatuh di kedua tangan Zayn dan menangis di sana. “ Malika pasti sedang sedih Zayn, dan aku tidak ada saat dia menangis, aku bukan sahabat yang baik itu kenapa Tuhan mengambilnya dariku. Malika pasti merasa sendirian.” Tangis Diana pada akhirnya. Zayn menarik Diana ke dalam pelukannya, berusaha menepuk pundaknya menenangkan “ Mungkin iya Malika sedang sendirian, tapi bukankah menyesali hal yang sudah lewat hanya akan sia sia bagimu? Diana, aku tidak ingin kamu menangis. Dengan kepergian Malika apa kau bermaksud meninggalkanku sendirian?” Pertanyaan Zayn membuat Diana menatapnya kelu, jauh dalam hatinya sungguh sulit untuk mengakui kebenaran akan perkataan Zayn. “ Sejak kematian Malika kau selalu mengabaikanku. Apa kau akan meninggalkanku?” Tanya pemuda itu sekali lagi “ Tidak Zayn kumohon jangan berpikiran begitu, aku hanya … aku hanya tidak bisa terima dengan kepergian Malika , dia sudah seperti saudari bagiku.” Isak Diana menatap paras tampan Zayn yang juga menatapnya teduh “ Aku mengerti, tapi akankah kau mengabaikan aku?” “ Zayn... “ Jangan mengacuhkanku Diana, aku merasa kesepian di tempat ini tanpamu. Malika memang sudah tiada. Kita tidak bisa mencegah hal itu. Tapi aku masih di sini bukan?” Pemuda itu berkaca kaca “ Tidak!” Jawab Diana dengan mata berair. Perlahan, Zayn menghapus sisa air mata di wajah Diana. “ Aku tidak akan membiarkan kamu menangis Diana.” Hiburnya menenangkan. Namun.... “ Tanganmu kenapa?” Tanya Diana saat menyadari tangan Zayn memiliki luka memar Pemuda itu menghela napas panjang “ Ada sedikit insiden kecil tadi di rumah. Biasalah, ibu tiriku selalu membuat ulah. Jadi aku memutuskan ke luar melalui jendela. Tanganku tergores.” Tutur Zayn menjelaskan Diana meniup luka itu dengan lembut, membuat Zayn tersenyum menatap wajah cantiknya. Diana benar benar gadis yang polos. Dibalik jendela sana sang nenek memperhatikan cucunya yang tampak mulai mekar di pangkuan cinta. Wanita tua itu perlahan memegang dadanya cemas. Ini cinta pertama baginya, bagaimana kalau Diana terluka? Entah mengapa sebaik apapun sikap Zayn selalu saja ada cahaya negatif yang menyelinap di dalam benak wanita tua itu. Batin tua yang mengatakan bahwa Zayn bukanlah pangeran impian cucunya yang sebenarnya. Entahlah!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD