Selalu ada air mata dibalik Cinta yang bersemi
Selalu ada duka dibalik tawa yang terurai
Apakah ini kodrat dunia…
Atau hanya mitos yang melegenda …?
Hanya jiwa pecinta yang memiliki jawabannya…
“ Dari mana saja kau? Ucap seseorang saat Zayn masuk kerumahnya. Namun lagi- lagi pemuda itu tak mendengarkan malah meletakkan sebuah Aerphone ditelinganya dan duduk bersantai di sofa. Seakan tidak ada yang menegur ataupun berbicara padanya.
“ Zayn… ibu mencemaskanmu dan ini sikapmu? Kamu ini semakin hari semakin keterlaluan ya ..!” Tutur wanita yang ternyata Ibu tirinya menarik Aerphone dari telinga Zayn. Pemuda itu seketika berdiri menatap tajam wanita yang sudah merawatnya beberapa tahun ini. Tatapannya begitu tajam dan menantang, tidak ada rasa hormat sedikitpun di dalam pandangannya. Ia hanya menatap dingin dengan senyum sinis pada wanita paruh baya di hadapannya sekarang.
“ Bisakah kamu bersikap wajar saja hah, mengganggu saja!” Tutur Zayn geram, sikap yang benar- benar berbeda dengan apa yang ditunjukkan Zayn saat ia bersama Diana. Seakan akan ia adalah pemuda yang berbeda, dengan sikap yang bertolak belakang dan menyimpan ribuan misteri seperti apa diri Zayn yang sebenarnya
“ Zayn, Ibu mencemaskanmu, dan ini balasanmu?” Tanya wanita itu dengan mata berkaca- kaca. Mendengar itu pemuda berparas tampan itu tersenyum sinis. Senyum yang mengiris perasaan
“ Bisakah kau menghormatiku sedikit saja? Ibu hanya tidak ingin terjadi apapun padamu Zayn.” Imbuhnya menyeka air mata. Ibu mana yang tidak akan terluka jika sikap anak yang selama ini iasuhnya sesinis itu?
“ Ibu, ibu, ibu… berhenti menggunakan kata- kata itu seolah kamu ibuku, berhenti bersikap seolah olah kamu benar benar menghawatirkan aku!” Tegas Zayn menatap sosok itu dengan rahang mengeras
“ Zayn… aku menyayangimu!”
“ s**t! Kau masih saja bersandiwara tante! Saya bukan anak kecil lagi!” Senyum Zayn dingin
“ Tidak nak! Aku benar benar menyayangimu, mencemaskanmu. Percayalah, aku begitu menyayangimu Zayn.” Isak wanita itu sedih. Tapi...
“ Oohh benarkah? Sebagai anak atau sebagai seorang pria?” Sanggah Zayn sinis.
“ Apa maksudmu Zayn?”
“ Ayolah! Aku tampan, aku menarik, apa kau pikir aku tidak tahu apa yang ada di dalam benakmu? Apa yang kau mau hmm? Kau terus pura pura perhatian padaku! Apa kau mau bersama denganku satu malam saja? Jawab aku!” Seringai pemuda itu menghina. Namun..
Plak
Sebuah tamparan mendarat dipipi Zayn, tamparan pertama yang ia terima dari sosok yang benar benar tidak ia suka.
“ Beraninya kau… !” Wanita itu memerah
“ Kau sudah keterlaluan Zayn Abraham, kau sungguh keterlaluan!” Tangis wanita itu kemudian berlari dari hadapan Zayn menuju kamarnya, meninggalkan Zayn yang masih memegang pipinya dengan mata memerah.
“ Sial!” Bisiknya geram kemudian kembali duduk di sofa seolah tidak ada apa apa sambil kembali mendengarkan Aerphonenya.
Ia sama sekali tidak merasa bersalah dengan sikap keterlaluannya barusan.
---
Sementara itu dilain tempat...
Malam itu udara terasa begitu dingin, langit mendung yang seolah tak bersahabat membuat suasana semakin mencekam.
Suara gemuruh terdengar bersahutan di luar sana, berbalut suara reot gubuk yang ditempati Diana dan neneknya. Untung saja deburan ombak seolah menjadi irama tidur bagi Diana. Gadis itu terlelap dalam mimpi indahnya… hingga…
Perlahan seolah ada yang memegang tangannya, kulit yang begitu dingin…
“ Dianaa….. !” Suara yang seolah begitu lekat ditelinganya membuat mata Diana kembali terbuka. Nafas yang entah kenapa menjadi berat.
“ Ka.. kau? Suara Diana tercekat mendapati sosok yang tengah duduk menatapnya disisi ranjangnya, sosok yang begitu dirindukannya.
“ Diana..!” Suaranya terdengar begitu berat, Diana mencoba bangkit dari tidurnya namun tubuhnya terasa begitu sulit untuk digerakkan. Seakan ada beban berat yang menahannya
“ Ma.. Malika?” Hanya air mata yang menetes dari sudut matanya melihat kondisi sahabatnya yang tampak begitu menyedihkan, tak ada kata yang terucap dari bibirnya yang pucat. Wajahnya tampak sangat sedih. Benarkah ini nyata? Di sisi lain, Diana merasa itu hanyalah mimpi. Tapi Diana merasa mimpi itu begitu nyata, seakan akan Malika datang untuk mengobati kerinduan yang Diana rasakan
“ Mali.. Malika… kau kenapaa?” Suara Diana akhirnya lepas, perlahan tubuhnya mulai terasa ringan… digenggamnya erat tangan Malika yang terasa begitu dingin.
Gadis itu hanya meneteskan air matanya tanpa berkata sepatah katapun, hanya tampak tangannya yang satunya membelai lembut perutnya sendiri. Diana tidak mengerti apa yang coba temannya itu sampaikan, hanya tangan Malika seolah begitu erat memegang lengan Diana. Diana bangkit dari tidurnya berusaha menggapai tubuh sahabatnya.
“ Malika.” Bibir Diana getir
Malika terlihat begitu sedih. Air matanya tidak berhenti menetes, ia tidak mengatakan sepatah katapun, hanya bibir pucatnya yang seakan mengatakan “ Tolong”
“ Malika, kau kenapa?” Diana berusaha menggapai tubuh sahabatnya. Sebelum...
Perlahan tubuh itu menghilang seperti kapas lembut yang terbang, hawa panas tiba- tiba menyerang tubuh Diana.. hingga…
“ Malikaaaa…. !” Matanya kembali terbuka, keringat dingin mengucur dikeningnya. Teriakan yang seolah tercekat menjadi begitu keras
“ Kau bermimpi?” Tanya neneknya yang entah sejak kapan duduk disisi ranjangnya. Diana melihat kearah tangannya, masih terasa genggaman Malika tadi. Apa benar ini hanya mimpi?
“ Nenek… apa mungkin… Malika meninggal karena bunuh diri?” Tanya Diana membuat neneknya mengernyit
“ Bagaimana bisa kau berfikir begitu di?”
“ Tadi aku seolah bertemu ia nek, wajahnya tampak sangat sedih, ia mencoba mengatakan sesuatu padaku tapi aku tidak bisa mendengar suaranya. Aku sangat mengenal Malika nek, sulit rasanya percaya kalau ia meninggal bunuh diri! Malika itu tangguh, berkali kali ia patah hati dan ia selalu bisa kembali seperti sedia kala. Malika tidak mungkin sebodoh itu. Malika tidak mungkin bunuh diri kan nek?” Sanggah Diana.
“ Mungkin karena kau begitu menghawatirkannya, sebaiknya kamu doakan ia ya nak… agar arwahnya tenang.” Nenek membelai punggung Diana lembut kemudian meninggalkan gadis itu menuju dapur. Diana mengusap wajahnya yang terasa basah , namun..
“ Apa ini?” Gadis itu Merasakan sesuatu terselip di bawah selimutnya. Sesuatu yang terasa mengganjal…
“ Pasir?” Diana mengkerutkan keningnya, bagaimana mungkin ada pasir ditempat tidurnya. “ Atau jangan.. jangaannn…? Bulu kuduknya berdiri, gadis itu pun segera bangun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Sejak saat itu pikiran gadis 17 tahun itu berkecamuk, resah, bayangan Malika selalu saja hadir disetiap lamunnya. Tatapan yang tampak sangat sedih dan wajah yang kusam.
“ Ada apa sebenarnya denganmu sahabatku?” Pikirnya resah. Pikiran Diana tentang Malika semakin menjadi jadi, jika diingat dengan baik.. karakter Malika tidak mungkin menjadi seorang sad girl yang bisa mengakhiri hidupnya sendiri dengan tragis tanpa alasan yang jelas.
Perasaan itulah yang membawa kaki Diana melangkah menyusuri jalan kecil menuju peristirahatan terakhir Malika pagi itu, ditatapnya pusara yang masih tampak basah karena gerimis kemarin. Tangan Diana gemetar mencoba menggapai batu Nisan yang masih terbuat dari kayu itu. Hingga tiba tiba
“ Peri kecil, kau disini?” Sapa seeorang seketika memegang pundak Diana. Gadis itu langsung menoleh dengan wajah yang masih pucat karena kaget.
“ Ba.. bapak Sam ?” Celetuk Diana lega menatap Pria tua dengan Celurit kecil ditangannya tersenyum padanya. Ia adalah Pak Sam sang penjaga makam. Penampilannya memang sedikit nyentrik dan menyeramkan bagi yang belum kenal. Pria tua itu mengulas senyum lebar menenangkan Diana
“ Sedang apa pagi pagi disini neng?” Tanyanya ramah. Diana tak menjawab, hanya tatapannya yang kemudian memberi jawaban menatap kearah makam Malika. Pria tua itu tampak mengerti kemudian tersenyum
“ Kalau tidak salah ia teman neng Diana kan ya, sayang sekali ya, ia harus meninggal mengenaskan diusia muda, bapak ikut mengurusi jenazahnya waktu itu. Anak bapak seusia ia, dan pasti anak ini juga belum mau mati diusia sekarang kan… masa depannya masih panjang!” Basa- basi si tua.
“ Benar pak, sulit mempercayai kalau Malika memilih cara seperti ini untuk pergi!” Mata Diana kembali memerah, sementara tangannya mengusap air mata yang hampir jatuh kepipinya.
“ Terkadang apa yang terlihat dipilih itu sebenarnya hanya usaha untuk menutupi keterpaksaan nak!” Ucap Pak Sam. Diana mengkerutkan kening mendengar ucapan itu.
“ Maksud bapak?” Tanyanya tak mengerti. Pria tua itu tampak menghela napas, mimik wajahnya berubah serius
“ Saat bapak ikut mengurusi jenazahnya, bapak melihat adanya keanehan nak.” Mulainya
Tatapan Diana semakin meruncing
“ Keanehan apa pak? Apa bapak melihat sesuatu yang janggal?” Tanya Diana
“ Ya, bapak sudah berusaha menjelaskan pada orang orang yang juga ikut membantu menurunkan jenazah waktu itu, bahwa kematian non Malika ini aneh, bapak sendiri sudah berpuluh puluh tahun membantu mengurusi jenazah, jadi bapak hafal, tapi ya namanya penduduk desa, mereka tidak percaya.” Senyum pria tua itu mengambil posisi yang tepat kemudian duduk didekat makam Malika.
“ Bapak bisa tolong menceritakan kepada saya pak, saya mohon! Pinta Diana yang kemudian ikut duduk di hadapan orang tua yang sudah hampir berusia 87 tahun itu. Sambil mengambil nafas panjang , situa itupun mulai bercerita
“ Biasanya nak, orang yang meninggal karena gantung diri itu matanya melotot, atau paling tidak lidahnya menjulur karena ada tekanan dari rongga lehernya, tapi non Malika kan tidak, hanya bapak lihat bibirnya agar biru dan …
Pak Sam menarik napas berat, ia terlihat ragu melanjutkan ucapannya.
“ Dan apa pak?” Tanya Diana tak sabar
“ Gak enak membahasnya , tapi berhubung neng ini teman baiknya dan non Malika ini gadis yang baik, jadi mungkin neng ini orang yang tepat untuk bapak kasih tau satu hal.. bahwa.. sepertinyaa..!” Pria tua itu tampak risau
“ Tapi apa pak…? Tolong ceritakan pada saya.” Malika mulai berkaca kaca
“ Sepertinya non Malika itu hamil Non.”
Deg
Seketika jantung Diana seolah berhenti berdetak, hamil?? Ingatannya menerawang pada mimpinya tadi malam, raut wajah sedih, tangan yang begitu erat memegang lengan Diana dan tangan satunya memegang perutnya
“ Apa itu mungkin?” Nafas Diana menjadi berat tak teratur. Ia benar benar shock
“ Bapak menemukan ini di mejanya nak, ini obat penguat kandungan, kalau bukan milik non Malika, ini milik siapa? Dan kalau memang non Malika hamil sepertinya ia ingin mempertahankan kandungannya. Lalu apa alasan yang membuatnya harus bunuh diri? Bapak benar kan non?” Pria tua itu mencoba meraih kantong dari jaket usang yang ia kenakan dan memberikan sebuah botol dengan isi yang masih penuh. Diana semakin tercekat, tangannya gemetar meraih botol obat ity.
“ Malik.. Malikaa… !” Air matanya seketika jatuh, Diana menangis sesak. Tidak bisa membayangkan jika apa yang dikatakan penjaga tua itu benar. Malika benar benar tengah menderita. Namun, jauh dalam sedihnya... Tiba tiba
“ Sedang apa kau di sini?” Tanya sebuah suara yang seketika membuat Diana kaget. Botol yang ia pegang terjatuh ke tanah.
“ Kau?” Diana mengernyit.
Kenapa ia di sini?
“ Dan anda pak, apa hak anda bercerita yang bukan bukan padanya?” Tekannya pada penjaga tua itu dengan tatapan tajam penuh kebencian.
Bahkan dengan melihat matanya, membuat pria tua itu merasa takut dan bergegas beranjak
Siapakah sosok itu?