1. Story anaya
Hai kembali lagi sama gue Anaya phameswari ellison. Gue emang bukan dari keluarga ellison tapi gue udah tinggal lama sama keluarga ellison. Biar ngga bingung sama jalan cerita story anaya baca cinta anaya dulu.
Kalo ngomongin tentang cinta Anaya. Huh membuat gue keingat dia lagi alriko lighter walley. Oh iya di cerita gue ini nama gue berubah menjadi anaya lighter ellison itu nama Riko yang gue ambil.
Setelah gue tamat di sekolah ellison high school gue pun kuliah di universitas mark yang terkenal di jakarta. Ya kalian tau lah punya siapa lagi kalo bukan kakek Mark.
Setelah kepergian Riko gue memutuskan tinggal di rumah Riko bersama bi laras. Gue tinggal di kamar Riko.
Anaya berlari memasuki rumah kediaman keluarga walley dengan perasaan senang dan memakai kebaya yang artinya anaya baru saja tamat dari sekolah ellison high school.
"RIKO, NAYA LULUS!" teriak Anaya menggema di dalam rumah. Bi Laras yang mendengar teriakan Anaya menghentikan tugasnya di dapur dan melihat anaya.
"Ada apa non naya? kenapa teriak teriak?" tanya bi Laras.
"Anaya lulus bi, anaya mau ke atas dulu kasi tau Riko." Bi Laras mengangguk.
Bi laras menatap Anaya sendu sudah lama ditinggal Riko tapi Anaya terus terusan saja merasa Riko ada di dekatnya.
Bi laras tak tega melihat Anaya yang begitu kehilangan Riko. Kehilangan Riko membuat Anaya seperti...ah sudahlah payah di jelaskan.
Anaya memasuki kamar Riko dan menyimpan bunga yang diberikan teman temannya dan keluarganya.
"Riko! kamu tau ngga nih," canda Anaya.
"Aku lulus dengan nilai terbaik dan aku bakalan masuk universitas mark."
"Yah itu universitas milik kakek."
Anaya merebahkan tubuhnya di kasur dengan kaki yang menjuntai dan memeluk bunga.
"Kamu tau ngga kami semua disini senang loh bisa lulus."
"Oh iya perasaan aku masih sama kayak 1 tahun yang lalu ngga ada berubah."
"Hiks hiks hiks."
Anaya menutup wajahnya. Ia menangis, setiap harinya Anaya selalu berbicara sendiri dengan menatap poto besar Riko yang berada di kamar Riko.
Anaya berbicara dengan poto Riko. Kepergian Riko sangat menyayat hati Anaya sehingga ia tidak mau mengenal cinta lagi. Cukup Riko saja.
setiap saat, setiap waktu, detik, menit, jam dan hari bahkan seminggu berganti bulan anaya selalu berbicara dengan poto Riko.
"Hari bahagia hiks seharusnya aku bersama kamu hiks kayak teman kita hiks yang lain hiks tapi aku sendiri hiks ngga ada yang dampingi hiks ngga ada yang kasi semangat hiks ngga ada Riko."
"Aku tau di dalam hiks hati Nathan dia juga menangis hiks tapi di depan aku dia selalu tegar hiks." Anaya menghapus air matanya.
"Oh iya, hari ini aku belum ke makam kamu. Aku istirahat dulu yah sore nya baru ke makam kamu," ujar Anaya.
Anaya beranjak dari baringnya dan menuju meja belajar Riko. Baru kali ini Anaya duduk di meja belajar Riko dan melihat surat yang terselip di buku Riko dan sedikit berdebu. Anaya membuka surat itu dan membaca semua isinya.
Anaya
Naya maaf aku cuman bisa nyusahin kamu. Maaf selama ini ngerepotin kamu. Mungkin kamu akan baca ini setelah aku pergi atau kamu ngga baca sama sekali hehe. Aku ngga mau ngebebanin kalian lagi, aku ngga suka kamu nangis, maaf aku harus pergi ngikut mama. Aku ngga sanggup lihat kamu menderita karna ulahku sendiri. Stop please jangan nangis. Kamu tau aku juga sayang sama kamu, cinta sama kamu. Cinta aku ngalahin cinta Anaya. Oh iya selamat wisuda yah semoga nilai kamu bagus eh kalo kamu bacanya sebelum wisuda ngga papa juga kan aku ngga tau. Aku turut senang aja deh biarpun aku ngga ada di samping kamu kayak yang lain. Senyum dong bacanya hehe. Maaf yah aku ninggalin kamu ini jalan terbaik buat kita Naya. Ingat cinta aku ke kamu itu abadi. Jangan buat diri kamu menderita Naya. Cintai juga orang lain kamu butuh cinta, butuh pendamping, butuh penyemangat dan butuh kekasih selain aku. Naya aku tau setelah kamu mendengar kematian aku kamu ngga mau lagi buka hati kamu tapi demi aku buka hati kamu Naya buat orang yang sayang sama kamu jangan buat dirimu menderita. Aku sayang kamu Naya :) Maaf
Alriko lighter walley
Anaya pun menutup surat Riko dan menyimpannya di tempat yang baik agar tidak rusak. Air matanya mengalir saja.
Ya gue tau itu setelah kepergian Riko gue emang nutup banget hati gue lagi karna hanya riko di hati gue ngga ada yang lain.
Semua teman gue punya kekasih baru yang kalian tau Nathan dan Agatha, Iqbal dan Diana, Surya dan Chelsea, Mila dan Bintang.
Ya memang awalnya Bintang menyukai Chelsea tapi ngga tau deh kisahnya lari ke Mila.
Cerita kehidupan gue selama satu tahun ya gitu aja. lanjut ke Story anaya.
* * * *
Anaya berjalan menyusuri makam. Anaya berjalan dengan membawa 2 bunga yang di gendongnya.
"Pak mamat!" panggil Anaya sedikit berteriak.
"Udah bapak bersihkan tadi non," ujar pak Mamat.
Pak Mamat merupakan penjaga makam sekaligus tinggal di dekat pemakaman. Anaya sudah lama mengenal pak Mamat.
Saat pemakaman mama Riko ataupun Riko pak Mamat belum ada sudah sebulan Riko di makam pak Mamat pun baru ada. Pak Mamat penjaga makam baru.
"Makasih pak," ucap Anaya.
Anaya mengganti bunga yang ada di makam Riko dan mama Bella dan meletakkan bunga yang baru. Anaya berdoa untuk kedua makam tersebut.
"Aku duduk dulu capek Riko," kata anaAnayaya.
"Huh bosan tau ngomong ngga di tanggapin," kesal Anaya.
"Oh iya naya lupa kasi tau mama Bella kalo Naya udah lulus dan dapat nilai terbaik loh, Anaya mau masuk universitas mark dan ngambil jurusan kedokteran bagian kanker aja kayak nya deh, biar bisa nolongin orang yang terkena kanker."
"Hiks hiks hiks."
Anaya menutup wajahnya tiada hari tanpa menangis bagi dirinya. Sangat kehilangan sehingga datanglah 2 remaja yang berbeda jenis kelamin siapa lagi kalo bukan Agatha dan Nathan.
"Naya," panggil Agatha mensejejerkan tubuhnya dengan Naya.
"Gue kangen hiks Riko."
"Gue kangen hiks."
"Hiks gue juga mau kayak yang lain hiks lulus bareng bareng hiks engga kayak gini hiks lulus sendiri hiks."
"Gue ngga bisa hiks terus terusan kayak gini hiks gue bakalan ngubah hidup gue hiks, gue ngga mau lagi hiks kejadian terakhir Sma kita hiks terulang lagi gara gara hiks sifat ramah gue hiks."
Memang saat kenaikan kelas ada cowok yang menyukai Anaya. Anaya kira hanya bercanda saja ternyata perasaan itu lebih dan hampir saja Anaya ingin di culik dan di kawin paksa sama cowok itu. Ya kalian tau lah Anaya kan mafia jadi nasib cowok itu udah mati.
Nathan memeluk Anaya erat. Sudah biasa bagi Agatha. Nathan juga menganggap Anaya seperti adiknya sendiri. Jadi selama tidak ada Riko, Nathan seperti kekasih Anaya tapi sebatas abang saja. Agatha tidak masalah itu biarpun cinta nya harus dibagi demi sahabat tidak masalah.
Begitupun Anaya yang sadar diri ia tidak akan mengambil kekasih sahabatnya. Nathan dianggapnya seperti Iqbal abangnya sendiri. Untuk berpikir merebut kekasihnya itu tidak pernah.
"Nath hiks ngga bisa apa riko hiks bangun bentar meluk gue kayak hiks lo meluk gue sekarang hiks, gue rindu hiks pelukannya Nath, hiks gue rindu canda guraunya hiks."
"Bilangin Nath hiks ke Riko gue rindu hiks."
Ya setiap harinya Anaya selalu begini menangis sendiri. Nathan juga sering menjenguk mama Bella dan Riko seminggu sekali bersama Agatha terkadang bersama dengan Anaya juga.
"Naya Riko ngga suka lo nangis setiap hari kayak gini, kalo lo nangis yang ada Riko merasa bersalah Nay," bujuk Agatha mengelus punggung Anaya.
"Gue kangen Tha hiks hiks."
"Gue kangen hiks."
"Kita tau lo kangen Nay, please jangan nangis setiap hari, setiap hari mata lo sembab terus," kata Nathan.
Anaya melepas pelukannya dari Nathan dan menghapus air matanya kasar. Ia berdiri dari duduknya.
"Gue ngga peduliin mimpi gue, gue akan kembali lagi ke Anaya yang ditinggal Riko." Anaya berlari meninggalkan makam Riko.
"Naya! Naya! Anaya!" Anaya tak memperdulikan teriakan Nathan dan agatha. Agatha menatap Nathan dengan banyak pertanyaan.
"Anaya kembali ke sifatnya lagi dingin tak tersentuh." Agatha menundukkan kepalanya air matanya mengalir saat mendengar ucapan Nathan.
"Riko gue sama Agatha datang buat jengukin lo dan mama Bella. Gue akan jaga Anaya seperti lo jaga Anaya. Gue rela lakuin apa aja demi Anaya," ujar Nathan.
"Maaf Riko kita belum bisa jagain Anaya dengan baik. Gue rela jika Nathan bersama Anaya sepanjang waktu demi kembalikan sifat Anaya lagi gue rela demi sahabat hiks gue sendiri hiks, gue ngga mau hiks Anaya yang dulu hiks, gue mau hiks Anaya yang ceria Riko hiks, maaf hiks." Nathan memeluk Agatha erat.
Mereka berdua berdoa setelah itu mereka pamit pulang untuk menjenguk Anaya di rumah Riko. Nathan dan Agatha sering banget nginap di rumah Riko menemani Anaya.