2. Pertemuan

771 Words
nathan dan Agatha memasuki rumah Riko yang sepi bahkan mobil Anaya pun tidak ada di bagasi. "Naya pulang Nath?" tanya Agatha. "Kayak nya engga pulang deh, mobilnya ngga ada," jawab Nathan. Mereka pun ke dapur dan melihat bi Laras. "Bi," panggil Nathan. "Iya den Nathan, ada apa?" tanya bi Laras. "Naya ada pulang bi?" tanya Agatha. "Loh kan non Naya tadi pamit mau ke makam den Riko sama nyonya Bella dan belum pulang," kata bi Laras. "Oh yaudah bi kita pamit dulu," pamit Nathan. Mereka pun memasuki mobilnya dan melajukan membelah jalanan ibu kota. Nathan dan Agatha tau kemana Anaya kalo ngga ke tempat Mark pasti ke markas. Jika sudah menangis seperti ini Anaya pasti akan pergi ke markas karna di mansion Mark sedang kosong. Mark dan Stevan pergi ke luar negeri untuk pertemuan dengan rekan bisnisnya. * * * * Anaya meletakkan kepalanya di meja. Ia duduk di bawah dengan air mata yang sudah kering. Sinyo, Reno, dan Joko sudah tau apa masalah Anaya makanya mereka membiarkan saja. "Naya," panggil Agatha saat memasuki ruangan Anaya bersama Nathan di belakang. Agatha duduk di sofa diikuti Nathan. Agatha mengelus punggung Anaya. "Dicariin juga," kata Agatha. "....." "Kalo di ajak ngomong itu jawab," ujar Agatha. "Hm," deheman Anaya. "Mau balik dingin lagi?" tanya Nathan. "Iya," ketus Anaya. "Kalo balik dingin lagi entar ngga ada yang mau lagi sama lo," ucap Agatha. "Bodo," acuh Anaya. "Nyo, ada masalah di markas lagi ngga?" tanya Nathan. "Ngga ada Nath, markas aman terkendali tenang aja kalo sama gue," jawab Sinyo. "Intinya kalo ada masalah apa apa jangan libatkan Anaya dulu selama lo bisa nyelesaikan sendiri sama yang lain!" peringat Nathan. "Jangan khawatir Nath," ucap Sinyo. "Besok daftar universitas Nay," kata Agatha. "Hm," dehem Anaya. "Ambil jurusan apa lo?" tanya Reno. "Gue sama yang lain ngambil dokter," kata Agatha. Memang Agatha,Anaya,dan Chelsea ambil jurusan dokter. Diana? Diana ikut Iqbal kuliah di stanford dan kabar baiknya Diana dan Iqbal sudah menikah di usia muda jadi tidak perlu khawatir ditinggal jauh jauh. Mila? dia ikut kedua orangtuanya ke new zealand dan ldr an sama Bintang yang berada di Australia. Dan di indonesia hanya tinggal Nathan, Surya, Agatha, Chelsea, dan Anaya saja sisa mereka berlima. "Lah lo ambil jurusan apa?" tanya Nathan. "Gue sih dokter juga, kalo Reno sama Joko bisnis biarpun umur tuaan kita tapi kuliah nomor 1," ujar Sinyo. "Gue sama surya juga bisnis," kata Nathan. "Wah satu fakultas dong kita," senang Joko. * * * * Pagi pagi Anaya sudah sarapan ditemani bi Laras. Ia akan pergi mendaftarkan dirinya untuk masuk ke fakultas kedokteran. "Naya pamit bi," pamit Anaya dan menyalami bi Laras. "Hati hati non!" teriak bi Laras. Anaya memasuki mobilnya dan mengendarai membelah jalanan ibu kota. Ia akan pergi ke universitas barunya. Anaya turun dari mobil dan melihat kedua teman temannya yang sedang asyik dengan hp Agatha. "Itu Naya," kata Agatha. "Hai Naya," sapa Mila dan Diana. Agatha dan Chelsea sedang vidcall Mila dan Diana. Anaya hanya melambaikan tangannya saja dengan ekspresi datar. "Gue duluan," pamit Anaya dan pergi meninggalkan mereka berdua. "Anaya kenapa?" tanya Mila dan Diana. "Sifatnya balik lagi kayak dulu," lesuh Agatha. "Yah gue jauh jadi ngga bisa bantuin kalian," keluh Diana. "Gapapa di, kita berdua bisa kok. Eh jangan lupa bikinin gue keponakan yang lucu yah," kata Chelsea. "Pala lo, gue mau selesaikan kuliah dulu," kesal Diana. "Diana!" teriakan itu dari Iqbal. "Laki gue manggil udah dulu bye," pamit Diana dan mematikan sambungan vidcall nya. "Gue juga yah dadah," pamit Mila. Sedangkan dilain tempat di ruangan yang luas Anaya sedang mendaftarkan dirinya di fakultas kedokteran. "Naya tadi tuan Mark nelpon saya dan bilang bahwa Naya tadi tidak mengangkat telponnya," ujar pembimbing pendaftaran. "Oh ponsel Naya di pouch." Anaya merogoh ponselnya di pouch dan banyak sekali panggilan dari Mark. "Naya cuman mau kasi ini." Anaya menyerahkan berkasnya dan pergi dari ruangan itu. Di perjalanan menuju parkiran ia menelpon kakeknya. "Naya!" Anaya mengusap telinganya akibat dari teriakan sang kakek. "Aduh kek sakit nih kuping Naya, jangan teriak teriak kakek!" "Kamu kemana aja dari tadi kakek telpon? udah daftar belum? kamu masuk fakultas kedokteran kan? udah makan belum? jaga kesehatan naya! kakek akan segera pulang." "Kakek please kalo nanya itu satu satu gimana Nay mau jawab kek! pusing nih ngadapin kakek." "Iya kakek minta maaf kamu masuk di universitas kakek kan." "Iya kek." Brukk Anaya tak sadar hingga menabrak seorang cowok yang tampak tergesa gesa hingga dirinya jatuh terduduk. "Shh aww," ringis Anaya. "Eh maaf tadi gue buru buru." Cowok itu mengulurkan tangannya membantu Anaya berdiri, Anaya pun menerima uluran tangan cowok itu. "Hm" dehem Anaya. Dingin amat dah batin cowok itu. "Gue dengar," ketus Anaya. "Oh iya gue mau nanya fakultas bisnis dimana ya, gue tadi buru buru maaf juga nabrak lo, oh iya kenalin nama gue...." "Duluan," pamit Anaya. "Naya dengar kakek ngga." "Iya kek Naya dengar." Anaya pergi meninggalkan cowok itu dan masuk ke dalam mobilnya. Cowok itu yang ingin menjabat tangan pun menarik tangannya kembali dan tersenyum. "Cantik dan menarik," gumam cowok itu dan melihat kepergian mobil Anaya. "Gue terlambat." Cowok itu berlari mencari fakultas bisnis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD