3. Lari pagi

838 Words
Anaya duduk di balkon kamarnya atau lebih tepat kamar Riko dengan coklat panas dan beberapa biskuit. Ia duduk dengan memangku buku diary nya. Tinta bolpoin pun menyatu dengan kertas putih yang cantik. Tinta bolpoin hitam pun merangkai kata dengan indah. Dear / diary Bilang kepada bintang cahaya bulan mulai merindu dan ingin kembali seperti dulu. Alriko & Anaya Anaya menghapus air matanya yang mengalir di pipinya. Selalu begini terus terusan. Hidup penuh kesendirian. Anaya melamun dengan sedikit duduk berselonjor dan meringkuk memandangi taburan bintang malam dan cahaya bulan yang begitu terang. Tanpa sadar ada seorang cowok yang memandangi dirinya di balkon kamarnya yang saling berhadapan tapi sedikit jauh. Cowok itu memandangi Anaya dengan tangan yang ia masukan di saku celana dan berdiri. Gadis yang menarik dan mempunyai banyak misteri bagaimana pun aku harus bisa masuk ke dalam kehidupannya batin seorang cowok. Anaya bisa mendengar batin itu biarpun jaraknya jauh. Tanpa basa basi Anaya memasuki kamarnya dan mengunci pintu balkon. Anaya tak menyadari cowok yang memandangi dirinya. Anaya terlalu asik bergelut dengan pikirannya. * * * * * * * "Pak Udin," sapa Anaya sambil membawa nampan berisikan gorengan dan kopi panas. "Eh non Naya ngerepotin aja," ujar pak Udin tak enak dan mengambil nampan yang di pegang Anaya. "Gapapa pak sekalian naya mau lari pagi juga," kata Anaya. Pak udin pun membuka kan gerbang untuk Anaya keluar. Anaya mengernyitkan dahinya bingung. "Itu rumah udah di tempatin pak?" tanya Anaya melihat rumah kosong yang tepat di depan rumah Riko sudah berisikan orang. "Udah non kemarin pindahnya." "Kok Naya ngga tau yah pak, ah bodo lah Naya duluan pak." Anaya pun berlari kecil keluar dari gerbang dengan memegang handuk yang berada di pundaknya. "Semangat!" ucap seorang cowok dan berlari kecil keluar rumahnya menyusul Anaya atau lebih tepatnya mengikuti Anaya dari belakang tanpa sepengetahuan Anaya. Anaya berlari keliling taman tanpa menyadari bahwa di belakangnya ia sedang diikuti cowok tampan. Cowok blasteran belanda-indo dengan hidung mancung, kulit putih bersih serta tinggi, bibir yang berwarna pink dan sedikit terbelah dan mata yang bewarna biru, dengan gaya khasnya rambut acak acakan membuat kesan tampan. Anaya duduk di bangku taman setelah lama berlari dan ia kaget melihat cowok yang juga duduk di sampingnya. Cowok yang ia tabrak di parkiran universitas. Riko tapi matanya beda batin Anaya melihat setiap inci wajah cowok yang tersenyum lebar di sampingnya. Ya cowok itu persis mirip Riko tetapi lebih periang dan mata nya juga beda kalo Riko hitam pekat tapi cowok itu biru dan cowok itu ke bule bulean sedangkan Riko tidak. "Gue ganteng itu udah biasa," pede cowok tersebut. Anaya memutar bola matanya malas dan mengelap keringatnya memandang kedepan. "Lo cewek yang gue tabrak di parkiran dan cewek yang tadi malam gue lihat di balkon lagi ngelamun kan. Balkon kamar lo persis depan balkon kamar gue tapi sayangnya lo ngga lihat gue," ujar cowok itu panjang lebar. "Bawel!" ketus Anaya. "Lo capek ya?" "Ngga." "Oh iya kenalin gue Alryan fitgurh adiningrat dari keluarga ningrat yogyakarta. Gue asli jogja tapi lama tinggal di belanda. Mama gue jogja papa gue belanda," jelas Ryan panjang lebar. "Kenapa harus Al?" tanya Anaya.  Karna nama Riko juga al yaitu Alriko. "Gue ngga tau kenapa Al." "Lo mau kemana?" Ryan menahan tangan Anaya saat akan beranjak dari duduknya. "Pulang," ketus Anaya. "Lo lupa rumah kita itu depanan dan lo tetangga gue otomatis jalan kita searah jadi lo pulang bareng gue." "Lepas!" ucap Anaya tajam seketika ryan melepaskan tangn Anaya dan mengikuti Anaya dari belakang. "Kenapa lo bisa dingin gini?" "Ngga tau." "Kalo di w*****d w*****d yang gue tau cowok yang dingin bukan cewe." "Oh." "Lo kuliah di universitas mark." "Iya." "Jurusan kedokteran?" "Iya." "Bisa dong lo ngobatin luka di hati gue." "Bodo amat." Anaya berlari meninggalkan Ryan yang berada di depan rumah Anaya. Anaya memasuki rumahnya dan pergi begitu saja. "Menarik," gumam Ryan. "Ryan ngapain disitu?" tanya seorang wanita paruh baya sambil melambaikan tangan ke arah Ryan. Ryan pun berlari dan menyusul bunda nya mencium kening bunda nya dengan sayang. "Ngapain kamu di depan rumah Riko?" tanya Hana widyaningrat bunda Ryan. "Loh bunda tau dari mana itu rumah Riko. Yang nempatin gadis cantik bun bukan Riko. Riko kan cowok bun." "Itu rumah tante Bella. Kamu tumbenan bangun pagi biasanya susah di bangunin mentang mentang punya tetangga gadis cantik. Siapa namanya?" "Ngga tau bun, Ryan lupa nanya. Ayah belum pulang bun?" "Seminggu lagi katanya pulang yaudah yuk masuk." Di lain tempat Anaya sudah bersih dan sudah mandi dengan handuk kecil yang melekat di atas kepalanya mengeringi rambut yang basah. Anaya mengambil ponselnya dan duduk di tepi kasur. Hanya berisikan komentar netizen saja di ig nya. Cahaya putih dari dindingnya bersilau dan muncul kembali lagi Meghdisnya sysusynolebnian kickneon. Sosok peri dari dunia hitam yang membantu anaya mengembalikan permata hitam. "Disnya!" pekik Anaya dan memeluk Disnya. Ia sangat merindukan Disnya. Anaya melepaskan pelukannya. "Tumbenan lo datang kesini?" tanya Anaya. "Ratu iblis," tajam Disnya. "Ck, kenapa lagi kan gue udah lama ngga berubah jadi iblis Disnya." "Hihihi jiwa itu akan kembali karna raja iblis sudah berkhianat dengan ratu iblis di rekarnasi dan permata hitam itu gue bawa nih." Disnya menyerahkan permata hitam kepada Anaya. "Ngga, gue ngga mau lagi berurusan dengan permata hitam ini." Anaya menolaknya. "Lo harus makai nya Nay, dan kita akan bersiap siap berurusan lagi dengan bayangan hitam." Dengan terpaksa Anaya menerima nya dan menempelkan pada dahinya lagi. Cahaya hitam mancar dari dahi Anaya dan kembali hilang. "Siap?" tanya Disnya. "Insyaallah gue siap," ujar Anaya. "Lewati rintangan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD