4. Fakta

991 Words
"Riko!" teriak Anaya yang berlari menyusuri pantai. "Kejar kalo bisa!" teriak Riko. "Riko jangan lari!" Brukk "Awww." Riko yang melihat Anaya terjatuh pun berlari menyusul Anaya dan membantu Anaya duduk. "Sakit ngga?" tanya Riko. "Sakit nih, tuh luka kan." Anaya menunjuk dengkulnya yang luka. Riko merogoh sakunya dan mengambil plester. Mempelster luka Anaya. Riko memang selalu bawa plester. "Huhh" tiup Riko. "Tuh udah sembuh kan, udah di plester juga," sambung Riko. Anaya menatap Riko sendu mata Riko dan mata Anaya saling bertabrakan dan saling pandang. "Kamu ngga akan pergi dari aku kan?" tanya Anaya. "Ngga akan ada yang ninggalin kamu." Riko mencium kening Anaya dengan sayang. "Kalo kamu pergi dari aku gimana?" "Kalo aku pergi dari kamu, kamu tinggal kejamkan mata kamu dan buka secara perlahan aku akan ada di depan kamu." Anaya membuka matanya dan terkejut apa yang ia lihat. "Riko." "Gue Ryan." Bukannya Riko yang di lihat Anaya melainkan Ryan. Anaya melihat mata Ryan dan benar itu bukan Riko melainkan Ryan dengan mata biru. Malam malam Anaya melamun di taman depan rumahnya dengan tangan sebagai bantal dan bersandar di bangku taman. "Kalo boleh tau Riko siapa?" tanya Ryan. "Kekasih." Hati ryan sedikit perih saat Anaya bilang Riko kekasihnya. "Oh iya lo belum kenalkan nama lo." "Anaya." "Nama yang indah." "Oh iya kata bunda gue ini rumah tante bella, tante bella mama lo?" sambung Ryan. "Mama Riko." "Riko yah, gue boleh ngga sih ketemu Riko yang lo bilang tadi apa mirip sama gue sampai sampai setiap kali lo lihat gue dan bilang gue Riko terus" Bukannya menjawab Anaya malah beranjak dari duduknya namun tangannya di tahan oleh Ryan. "Gue cuman nanya Riko Naya." "Lepas!" bentak Anaya. Ryan pun melepaskan tangan Anaya. Anaya berlari memasuki rumahnya dengan air mata yang mengalir di pipinya. "Dia nangis?" tanya Ryan kepada dirinya sendiri. Anaya berlari memasuki kamarnya membuat Disnya yang sedang nonton film india pun terganggu. "Hiks hiks hiks." Disnya mendekati Anaya yang duduk di sisi ranjang dan mengelus punggung anaya. "Naya. Kenapa lagi?" tanya Disnya. Anaya menggeleng. Disnya memeluk Anaya erat membiarkan Anaya menangis. "Kenapa nya hiks?! dia mirip Riko! hiks buat gue ngga hiks bisa move on dari hiks Riko. Hiks setiap kali gue hiks mikirin Riko dia selalu ada hiks. Gue mau Riko hiks." "Nay lo tau kata orang setiap di penjuru dunia kita mempunyain kembaran yang mirip dengan kita cuman kita ngga tau dia berada di mana dan sekarang lo dipertemukan dengan kembaran Riko," jelas Disnya. "Tapi nya, gue hiks mau riko hiks. Dia pergi dan ngga akan hiks kembali. Hiks gue cuman mau riko hiks yang ada di hadapan hiks gue bukan Ryan hiks." "Sabar Nay." Disnya memeluk Anaya membiarkan Anaya menangis. Ia sesekali mengusap punggung Anaya. Huh film india nya harus di tonton nanti kalo udah kayak gini padahal lagi seru serunya. Sedangkan dilain tempat Ryan memikirkan sesuatu yang membuat dirinya resa dan bercermin memandangi setiap inci wajahnya membut bunda nya heran. "Kamu ngapain Ryan?" tanya Bunda. "Ryan mirip Riko ya bun?" "Riko? Bunda ngga tau wajah Riko gimana." "Setiap kali Anaya lihat Ryan dia bukannya manggil Ryan tapi Riko dan dia bilang mata Riko hitam sedangkan Ryan biru dan wajah Riko ke indonesiaan dan Ryan ke bule bulean." "Mungkin dia kira wajahmu sama karna Bella merupakan kembaran bunda." "Kembaran? gimana bisa? yang Ryan tau bunda anak tunggal." Ryan duduk di samping bundanya dan berbaring di paha bunda nya. "Bunda emang ngga pernah cerita soal kembaran bunda. Bella beda 5 menit dari bunda. Bella dulu baru bunda. Bella di kabur dari rumah saat umur 17 tahun dan penyebabnya karna cinta nya yang tak direstui oma dan opa. Bella sangat mencintai Varo saat itu. Dan bunda hanya mengetahui tempat tinggalnya dan tak pernah mengunjungi nya. Besok bunda akan mengunjungi nya." "Dan mungkin karna itu Riko mirip kamu," sambung bunda. "Ryan ikut ya bun." Semangat Ryan. Hana pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Tidur sana udah malam," ujar Hana. * * * * Anaya selesai lari pagi. Anaya menyeka keringatnya dan memasuki rumahnya. "Hay ketemu gue lagi," sapa Ryan dengan senyum lebar di bibirnya. Anaya hanya memandangi Ryan datar. Saat ingin berlari memasuki kamarnya Ryan menahan tangan Anaya. "Kenapa lo ngehindar dari gue?" tanya Ryan. "Non Naya sini," Panggil bi Laras. Anaya pun melepaskan tangannya dari Ryan dan menyalami Hana. Anaya terkejut melihat wajah Hana. "Tante Bella," Gumam Anaya. "Saya Hana kembaran Bella," kata Hana. Ryan duduk di samping bunda nya. Anaya pun duduk di samping bi Laras. Hana menjelaskan semuanya kenapa ia mirip dengan Bella. Anaya awalnya terkejut lama kelamaan sudah biasa. "Oh iya Bella kemana ya? dan Riko anaknya kan? dan Varo papa Riko juga ngga ada?" tanya Hana. "Bunda tanya itu satu satu," sahut Ryan. Anaya yang di tanya seperti itu menundukkan kepalanya dan menghapus air matanya. Bi Laras pun diam juga. "Kenapa?" tanya Hana. Anaya berlari memasuki kamarnya ia tidak bisa menjawab pertanyaan Hana. "Kenapa bi, Naya nangis?" tanya Hana. "Nyonya Bella depresi karna selingkuhannya melarikan uangnya dan akhirnya nyonya Bella bunuh diri. Tuan Varo meninggal di luar negeri saat bersama istri barunya. Den Riko meninggal karna penyakit leukemia dan juga bunuh diri. Makam den Riko dan nyonya Bella berdekatan." "Muka den Riko sangat mirip dengan den Ryan. Sehingga membuat non Naya selalu frustasi melihat wajah Ryan yang mirip dengan Riko." "Ini foto fotonya." Bi laras pun memberikan foto foto Riko dan Bella. Hana menangis mendengar kakaknya sudah tiada. Namanya juga takdir jadi tidak bisa apa apa lagi. Sekarang Ryan mengerti kenapa anaya saat ditanya tentang Riko hanya diam dan tak menjawab. "Assalamualaikum." "Walaikumsalam." Nathan dan Agatha memasuki rumah Anaya dan melihat Hana dan Ryan terkejut. "Tante Bella sama Riko Nath?" tanya Agatha kepada Nathan. "Engga saya hana dan ini anak saya Ryan," ucap Hana. Nathan dan Agatha pun duduk. Hana menjelaskan semuanya kepada Nathan dan Agatha. Nathan dan Agatha mengangguk ngerti. "Naya kemana bi?" tanya Agatha. "Di atas non Agatha " jawab bi Laras. "Agatha permisi ke kamar anaya dulu," pamit Agatha dan diangguki yang lain. Agatha memasuki kamar Anaya dan melihat Anaya yang termenung dengan air mata yang mengalir dan bersandar di ranjang. Agatha mendekati Anaya dan duduk di sisi ranjang memeluk Anaya erat dan mencium puncak kepala Anaya dengan sayang. "Ngga ke makam Riko?" tanya Agatha. "Ntar aja." "Kenapa?" "Gapapa." "Gue sama Nathan kesini mau bareng lo ke makam Riko." "Hari ini engga dulu, gue capek." "Yaudah tidur." Agatha membantu Anaya berbaring. Anaya berbaring dan mengejamkan matanya memasuki ke alam mimpi. Agatha membersihkan kamar Anaya dan mencuci pakaian kotor Anaya. Ia tau yang Anaya rasakan saat ini ingin sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD