Semilir angin mampu menerbangkan rambut Nadira yang tidak ia ikat, sesekali ia mengedarkan pandangannya sambil merapihkan rambut. Helaan napas yang berkian kali, membuat Nadira tidak lebih lega dari sebelumnya. Sebenarnya sengaja memilih taman ini untuk merenung dan memenangkan diri sendiri, tetapi sebaliknya tidak membantu sama sekali. Kini ponselnya merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel yang menampilkan berpuluh-puluh pesan. Ia bingung, nama Irham yang memenuhi layar ponsel ini membuatnya semakin tertekan. Menolak orang lain memang tidak sesulit mengundang, namun jika itu dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki perasaan yang sama. Nadira akui ada rasa senang di dalam dirinya, karena Irham lah yang sempat menemani masa terpuruknya. Pesan itu tidak jauh isi nya agar Nadira m

