Ayla berteriak senang tak sabar ingin menonton film kesukaannya bersama Alyo.
Ayla mengganti bajunya di sekolah sebelum pergi ke Mall. Tak mungkin jika ia masih mengenakan seragam.
Ayla menunggu Alyo di depan parkiran, pria itu masih berada di kelas karena sedang piket.
Alyo menghapus papan tulis, ia mengambil kerjaan yang paling mudah saja jika piket di kelas.
"Alyo, nonton film bareng aku yuk, ini aku udah beli dua tiket nonton film Action terbaru itu loh," ajak Tari memamerkan dua tiket nonton.
"Lo dapetin tiketnya?" tanya Alyo pura-pura terkejut.
"Iya, hebat kan!"
"Tiket film terbaru itu?" tanya Alyo berbinar-binar, Tari tersenyum lebar pasti ajakannya kali ini tak ditolak.
"Wahh..." takjub Alyo semakin menjadi-jadi.
Tari makin tersenyum lebar, matanya berbinar-binar, sebentar lagi Alyo pasti akan mengajaknya keluar untuk menonton bersama.
"Lo pasti mau kan?" tanya Tari bersemangat.
"Nggak!" balas Alyo tanpa beban.
Senyum Tari tiba-tiba luntur akibat penolakan Alyo, kenapa sangat sulit mendapatkan pria itu? Tari sudah melakukan berbagai cara.
"Gue mau nonton bareng adek gue!" ucap Alyo lalu keluar dari kelas.
Tari menghentakkan kakinya kesal, lalu tatapan Tari beralih ke Angel, gadis itu sedang menyapu.
"Ck. Kenapa bukan lo yang diajak nonton bareng?" cibir Tari mengejek Angel.
"Setidaknya gue gak ditolak mentah-mentah kayak lo," jawab Angel berani, tangannya masih sibuk mengayunkan sapu di lantai.
Alyo tadi sudah berjanji jika ia akan mengajak Angel menonton lain waktu, kebetulan Angel tak terlalu suka menonton film Action karena, ia lebih suka menonton film romantis.
"Oh lo udah berani ya ngejawab!" bentak Tari.
"Sorry ya Kak, tapi asal lo tau gue gak suka mencari masalah."
"Lo mau gue hajar lagi ha? Gak kapok lo?"
"Emang Kakak berani ngehajar gue sendiri tanpa bantuan teman-teman kakak?"
"Ngelunjak ya Lo!"
Tari segera menghampir Angel hendak menamparnya, namun tangan Tari ditahan oleh Angel.
Angel bukanlah cewek lemah yang menunduk takut kepada kakak kelasnya, mungkin Tari bisa mengkroyoknya pada saat itu, karena Angel tak sedikitpun membalasnya.
Tapi sekarang, Tari sudah membangkitkan jiwa Angel yang dulu, Angel Ra yang akrab disapa Rara bukan Angel. Rara yang kejam dan semena-mena.
Plakk
Angel dengan cepat menampar pipi Tari dengan sekuat tenaganya.
"Ra, tahan emosi lo! Jangan sampai lo kehilangan kendali!"
Ucapan seseorang itu kembali teringat oleh Angel yang membuat Angel terbungkam, Angel kembali mengingat dia.
Angel mengepalkan tangannya, menahan segala emosinya, ia sudah cukup sabar geng Tari selalu mengganggunya, tapi sekarang kesabaran Angel sudah habis, ia juga tak ingin dianggap rendah.
Brakkk
Angel memukul meja di hadapan Tari membuat Tari terkejut tak menyangka Angel bisa semengerikan ini.
Tatapan tajam Angel yang berbeda dari biasanya.
"Sekali lagi lo gangguin gue, hidup lo gak akan tenang, gue gak main-main!" ucap Angel dingin lalu beranjak dari situ meninggalkan Tari yang masih terpaku tak menyangka Angel yang lembut dan baik hati bisa berubah kejam seperti itu.
Angel menghela nafasnya pelan, ia sudah sulit mencoba mengubah dirinya, ia tak ingin kembali seperti dulu.
ANGEL RA!
Siapa yang tak tahu nama itu? Nama yang sangat terkenal di SMP MELATI karena kenakalan gadis tomboy itu.
Angel Ra atau akrab disapa Rara, tinggal berdua bersama bundanya di kota cantik, Bali.
Rara yang berpenampilan tomboy, berteman hanya dengan satu orang laki-laki yang menjadi sahabatnya dari kecil, yaitu Viono sepupunya.
Ibu Viono adalah adik kandung Wati, bunda Angel Ra. Namun sang adik beserta suaminya sudah meninggal sejak Vio berumur 10 tahun akibat kecelakaan.
Vio dan Rara. Dua bocah nakal yang selalu membuat onar di sekolah. Rara si anak tomboy yang selalu menggertak siapa saja, Vio si tukang cabut dan termasuk Badboy di sekolah.
Bisa dibilang, Vio dan Rara adalah pasangan Badboy and Badgirl.
Angel tersenyum getir mengingat dirinya yang dulu, sangat berbeda dengan yang sekarang.
Dirinya sekarang sangat berbanding terbalik dengan yang dulu, Rara yang hanya menatap datar, dingin kepada semua orang kecuali kepada Bunda dan Vio. Rara yang bahkan pernah membully seseorang karena berpenampilan cupu dan keluguannya.
Angel sangat berdosa jika mengingat dahulu, ketika hidupnya sulit karena Bunda sulit mencari kerjaan untuk menghidupinya, tapi ia malah selalu membuat masalah.
"Rara yang dulu sudah mati! Sekarang hanya tinggal Angel yang lembut sesuai namanya."
Angel kembali mengembangkan senyumannya, ia tak boleh seperti dulu, ia sudah berubah menjadi lebih baik.
Angel menjadi seperti sekarang karena bantuan seseorang, siapa yang mampu mengubahnya? Semua berkat Vio dan juga tentunya berkat.... Ayla.
***
Alyo menggandeng tangan Ayla memasuki Mall, mereka akan menonton sesuai perkataan mereka kemaren.
Bioskop disulap dengan banyaknya balon-balon yang bergantungan, memang sekarang adalah ulang tahun bioskop ini. Para pelayannya membagikan totebag kepada orang yang menonton hari ini, Alyo menunjukkan tiketnya lalu pelayan perempuan itu langsung memberikan dua totebagnya kepada Alyo dan Ayla.
"Langgeng ya, Mas, Mbak!" ucap pelayan itu lalu pergi dari sana.
Ayla menyembunyikan senyumnya, orang lain selalu memandang jika ia dan Alyo adalah sepasang kekasih padahal mereka adalah adik-kakak.
"Lucu ya Mbaknya, masa kita dikira pacaran, Ay!" ucap Alyo terkekeh pelan.
"Lagian lo mana mau sama gue! Kan gue bukan tipe cowok lo walaupun gue cowok yang paling ganteng di dunia ini."
"Mau kok!" jawab Ayla refleks.
Ayla menutup mulutnya, kenapa ia malah keceplosan, "eh!"
"Ha? Maksudnya?" tanya Alyo tak mengerti.
"Ma-maksud gue, mau it-itu mau popcornnya hehe iya, beliin popcornnya dong, Kak!" ucap Ayla mencari alibi.
"Oh itu, oke bentar yah gue beliin dulu."
Ayla mengangguk, lalu menghela nafas lega, kanapa pula ia sampai keceplosan, kalau Alyo mikir yang aneh-aneh bagaimana?
Alyo kembali lagi membawa dua buah popcorn di tangannya, Alyo memberikan satu kepada Ayla yang langsung disambut oleh gadis itu.
"Makasih Kak!"
"Iya."
"Kira-kira apa ya isi totebagnya?" tanya Ayla penasaran, lalu ia membukanya dan melihat apa isinya.
"Wah, kita dapat voucher nonton satu film gratis, sama boneka ini, wah bagus banget," ucap Ayla girang mengeluarkan isi totebag itu.
"Yaudah nih, bonekanya untuk lo aja, gak mungkin gue mainin boneka pula," ucap Alyo menyodorkan totebag miliknya ke Ayla.
"Wah makasih kak, gue kira lo mau ngasih ke Angel," ucap Ayla pula, Alyo kembali menarik totebag miliknya.
"Oh iya-ya, buat Angel aja," ucap Alyo membuat Ayla memanyunkan bibirnya, kenapa Alyo malah bertukar pikiran? Tahu begini Ayla tak mengingatkan kakaknya itu.
"Kan udah gue bilang, bibirnya jangan dimanyunin gitu, gemesh gue liatnya," Alyo menggigit bibir bawahnya gemas melihat Ayla, lalu tangannya bergerak mencubit pipi chuby Ayla. Gadis itu langsung merona malu, semburat merah langsung muncul di pipinya.
"Ih, sakit tau," kesal Ayla mengusap pipinya.
"Sakitnya 1% bapernya 99999% kan?" tanya Alyo terkekeh.
"Dih, siapa juga yang baper sama lo Kak, jangan kegeeran deh," bantah Ayla.
"Yaudah nih buat lo, gue cuma becanda doang kok tadi, lagian gue kan punya adek cewek, kalau dapat boneka ya dikasih ke lo lah, masa ke pacar."
Ayla tersenyum mendengarnya, lalu Ayla menarik boneka yang disodorkan Alyo.
Ayla terdiam sebentar, otaknya memikirkan sesuatu tentang boneka ini, biar ada gunanya.
"Kak, gimana kalau boneka milik gue ini buat lo, dan boneka punya lo buat gue? Kita tukeran gitu," saran Ayla.
Boneka yang mereka dapatkan adalah boneka panda kecil berukuran sedang, boneka Ayla bewarna hijau, sedangkan boneka Alyo bewarna biru.
Alyo hanya menatap tak mengerti ucapan Ayla, gadis itu memutar bola matanya malas.
"Maksud gue tuh gini," Ayla menyodorkan boneka pandai hijaunya kepada Alyo.
"Ini buat lo Kak!"
Lalu Ayla memegang boneka panda biru yang dikasih Alyo tadi.
"Ini buat gue!"
"Tapi kan gue gak main boneka Ay, emang gue banci pake main boneka segala?" elak Alyo.
"Ish maksud Ayla bukan gitu, Kak! Jadi boneka gue ini gue kasih nama 'Alyo' nah, boneka punya lo itu kasih aja namanya 'Ayla' biar kita bisa saling mengingat satu sama lain kalau lihat boneka itu," jelas Ayla.
"Yaelah Ay, kita kan serumah, kayak jauh aja pake ada yang pengingat segala."
"Udah, nurut aja apa kata gue!" ucap Ayla tak terbantahkan.
"Yaudah deh, gue simpan nih boneka, apa perlu nih gue bawa kemana-mana?"
"Boleh banget," jawab Ayla puas.
Tak lama terdengar bunyi tanda filmnya akan dimulai, para penonton disuruh masuk ke dalam ruang teater.
Alyo langsung menarik Ayla ke studio 6 untuk menikmati film yang akan mereka tonton.
Alyo dan Ayla mulai menonton, isi studio ini penuh diisi oleh penonton, sangat ramai.
Alyo dan Ayla sangat menikmati filmnya, mereka memang pencinta film Action. Mata Ayla tak berhenti menatap layar putih besar itu.
Alyo memperhatikan muka Ayla yang terkena cahaya layar, tampak sangat cantik. Alyo baru menyadari kecantikan Ayla memang memesona.
Perlahan Alyo menarik tangan Ayla, menggenggamnya, Ayla tak menolak matanya masih asik menonton. Alyo tersenyum melihat muka serius adiknya itu.
"Cantik!" ucap Alyo pelan.
Ayla menahan senyumnya, ia sadar, ia tahu jika sejak tadi Alyo memperhatikannya, namun Ayla bersikap biasa saja, matanya sengaja tak lepas dari layar agar tak menatap Alyo.
"Kenapa Kak Alyo, muji-muji gue gitu sih, kalau gue baper emang dia mau tanggung jawab?" Batin Ayla.
Ayla mengatur detakan jantungnya agar tak terdengar oleh Alyo betapa kencang bunyinya sekarang.
Ayla merasa berpacaran dengan kakaknya, sikap Alyo barusan membuat ia semakin tak ingin melepaskan Alyo untuk siapapun.
"Ayla, lo mau gak jadi pacar gue?"
Degh
Degh
Degh
Jantung Ayla berdebar sangat kencang, bahkan mungkin bisa lepas dari tempatnya.
Apa maksud ucapan yang didengarnya, Ayla tak menyangka apakah kakaknya mencintainya? Ayla benar-benar tak percaya. Ayla masih dilanda keterkejutannya, lalu Ayla menoleh ke Alyo arah Alyo yang masih menatapnya sambil tersenyum.
"G-gue..." ucap Ayla gemeteran.
***