PMS

1549 Words
Ayla menekan perutnya yang terasa melilit pagi ini, Ayla tak konsen belajar, rasa keram menjalar ke seluruh perutnya. "Lo kenapa, Ay?" tanya Kina yang duduk di sebelah Ayla. "Gatau, perut gue keram," jawab Ayla masih memegang perutnya. "Lo udah sarapan tadi pagi?" tanya Kina. "Udah kok," jawab Ayla menahan kesakitan. "Terus kenapa? Lo salah makan gitu." "Gatau." "AYLA KAMU KENAPA?" tanya guru di depan yang sejak tadi memperhatikan Ayla. "Ayla sakit perut, Buk!" bukan Ayla yang menjawab melainkan Kina. "Yaudah ke UKS sana," suruh Buk Ira yang mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia. Ayla mengangguk lemah, ia dibantu berdiri oleh Kina, Ayla mengatakan jika ia bisa sendiri kepada Kina, Ayla tak mau jika Kina ketinggalan pelajarannya demi menemani Ayla di UKS. Dengan berat hati, akhirnya Kina mengangguk saja, lalu Ayla masih memegang perutnya berjalan keluar kelas namun, belum sampai di depan pintu kelas, teman-teman Ayla menertawakannya. "ADA YANG BOCOR!" "AHAHAHAHAAHHA" Ayla yang tak mengerti teman-temannya menertawakan apa, lalu ia membalikkan badannya, Ayla merasakan hangat di rok belakangnya, apa mungkin Ayla PMS? Teman-temannya semakin menertawakan Ayla, kepala gadis itu membesar, ia sangat malu apalagi ditertawakan teman sekelasnya, suatu minpi buruk bagi Ayla. Ayla bergegas berlari keluar kelas, air mata sudah membendung di sudut matanya, jahat sekali teman Ayla, apa ia pantas jadi bahan ketawa di kelas? Hanya Kina yang tak menertawakannya, bahkan Tusa ikut menertawakan Ayla tadi. Ayla tak jadi ke UKS, ia malah lari ke taman belakang sekolahnya, di sana ada pohon besar untuk berteduh. Ayla duduk di bawah pohon itu, kemudian ia terisak pelan, seumur hidup Ayla baru kali ini ia dipermalukan di kelas, apalagi ditertawakan teman-temannya. Ayla menundukkan kepala menyembunyikan kepalanya di kedua lipatan tangan yang diletakkan di atas pahanya. Ayla menangis meraung, emosinya jika sedang PMS tumbuh berkali-kali lipat. "Ayla!" panggil seseorang. Ayla tak menoleh ia terlalu malu menampakkan kepalanya lagi. "Ay!" "Lihat gue!" Ayla sepertinya kenal suara itu, ia mengetahui siapa yang ada di hadapannya sekarang. "Jangan nangis Ayla." Ayla segera mengangkat kepalanya, lalu berhamburan memeluk kakaknya itu, Ayla sangat malu, ia tak sanggup memperlihatkan mukanya lagi. "Kak Alyo, Ayla malu!" rengek gadis itu menyembunyikan kepalanya ke d**a bidang Alyo. "Gak usah malu, kalau mereka bisa menertawakan Ayla, pasti Ayla juga bisa menertawakan mereka nantinya," ucap Alyo mengusap rambut adiknya. Alyo mendapatkan sms dari Kina jika Ayla ditertawakan di kelas dan gadis itu pergi begitu saja, khawatir memikirkan adiknya Alyo segera mencari Ayla. Alyo menemukan Ayla di sini, ia melihat gadis itu sedang menangis menyembunyikan kepalanya. "Ayla gak pernah digituin kak," ucap Ayla terisak. "Biar kakak yang marahin mereka nanti, Ayla jangan nangis lagi ya," ucap Alyo lembut. Jika Ayla sedang bersedih, jiwa seorang kakak Alyo akan tampak. Begini begini Alyo juga bijak sebagai kakak. "Udah dong nangisnya, ntar cantiknya ilang," ucap Alyo memghapus air mata yang masih mengalir di pipi gadis itu. "Kak Alyo kok bisa tau sih Ayla di sini?" tanya Ayla heran. "Ya bisa dong kan pakai A, kalau pakai U jadinya bisu, ditambah L malah jadi bisul," ucap Alyo yang membuat Ayla tertawa, pria itu lega akhirnya Ayla bisa kembali tertawa. "Ah kak Alyo mah." "Udah ayo cari makan, lo kan kalau lagi PMS doyan makan," ucap Alyo yang sangat mengetahui sikap adiknya. "Ciee perhatian," goda Ayla. "Iya dong, adik gue kan cuma lo satu-satunya," ucap Alyo lalu membantu Ayla berdiri. Alyo membuka jacket yang selalu dipakainya, lalu memasangkan ke pinggang Ayla, gadis itu tersenyum malu, pipinya merona merah. "Makasih ya Kak!" "Sama-sama sayang." Oksigen!!! Tolong beri Ayla oksigen sebanyak-banyaknya. Ayla merasa terbang setinggi-tingginya, Ayla tak menyangka Alyo akan memanggilnya dengan sebutan sayang. Walaupun terlihat aneh karena sebenarnya kata sayang kepada adik itu terlihat biasa saja, namun Ayla tak peduli, ia sangat bahagia, pipinya sudah seperti kepiting rebus. "Ay, ayoo!" ajak Alyo menarik tangan Ayla namun gadis itu hanya diam saja. "Oh gue tau nih, lo pasti mager kan? Mau gue gendong?" tanya Alyo dan Ayla langsung tersadarkan. "Eh, i-iya mau, mau kak!" siapa yang akan menolak jika ditawari akan digendong? Ayla bahkan sangat menginginkannya. Alyo membungkukkan badannya lalu Ayla segera naik ke atas punggung Alyo, tak susah bagi Alyo menggendong adiknya itu karena badan Ayla memang sangat kecil dan mungil. Alyo membawa Ayla ke kantin, Alyo sedang tidak belajar karena ia sudah selesai mengambil nilai praktek olahraga, jadi Alyo bebas jika mau kemana saja. Sedangkan Ayla ia sudah disuruh Buk Ira ke UKS walaupun akhirnya ia ke kantin. Alyo langsung memesankan makanan untuknya dan Ayla, rasa malu yang dirasakan Ayla tadi tertutupi oleh perhatian manis Alyo kepadanya. "Kak, boleh tolong beliin pembalut ke ibu kantin?" tanya Ayla. Alyo terkejut mendengar pertanyaan Ayla, jika menolak pasti adiknya itu sedih atau bisa marah kepadanya, karena emosi Ayla ketika sedang PMS tak beraturan. Dengan pasrah Alyo mengangguk saja. "Oke, bentar gue beliin dulu," ucap Alyo langsung berjalan menghampiri bilik ibu kantin. "Buk, beli anu satu," ucap Alyo ragu-ragu. "Beli apa toh, den?" "Itu, roti yang ada sayapnya." "Oh pemb--" Alyo menutup mulut Buk Ros, jangan sampai teman-temannya tahu. "Iya iya Buk, jangan teriak dong," bisik Alyo. Buk Ros mengangguk singkat lalu mengambilkan pembalut. "Loh Alyo, lo beli pembalut?" Mampus! Dimana diletakkan muka Alyo? Ember mana ember? "Eh Maw-mawar ini buat adik gue, yakali gue pake beginian, hehe kagak lah," ucap Alyo cengengesan. Mawar merupakan sekretaris di kelas Alyo yang mempunyai mulut pedas dan tukang gosip, mampus Alyo jika sampai digosipin beli pembalut ke teman-teman sekelasnya. "Oh untuk adek lo, gue kira untuk pacar lo, bodoh banget jadi cowok kalau mau disuruh-suruh pacar gitu, disuruh beli pembalut lagi, cih gue sih ogah," tuhkan mulut pedasnya sudah keluar. "Gue sebagai kakak yang ganteng, baik hati, rajin menabung, suka menolong ya harus gagah berani beliin nih pembalut untuk adek gue," jawab Alyo pula. "Ck. bucin sama adek sendiri," ucap Mawar berlalu dari situ. "Yee sama aja kayak namanya, Mawar penuh duri," kesal Alyo. Lalu Alyo segera pergi dari situ sebelum teman-temannya yang lain pada tahu. Alyo kembali lagi duduk di meja kantin bersama Ayla, gadis itu tengah meniup-niup kuah bakso yang masih terasa panas. Alyo membantu meniupkan mangkok bakso Ayla agar adiknya itu tak kecapekan nantinya, Ayla tersenyum senang, perasaannya menghangat setiap Alyo bersikap manis kepadanya. Lalu Alyo menancapkan sendok garpu ke bakso itu lalu menyuapkan ke mulut adiknya, Ayla melahap bakso itu dengan lahap. "Jangan pernah nangis lagi, Ayla!" ucap Alyo menarik dagu Ayla untuk menatapnya. "Gue gak suka liat lo sedih," ucap Alyo menatap mata Ayla. Perlakuan Alyo yang seperti inilah yang membuat Ayla semakin menyukai kakaknya itu. Tidak salah kan jika Ayla bisa jatuh cinta dengan kakaknya sendiri? "Gue suka sama lo, Kak!" Sayangnya, kalimat itu hanya mampu terucapkan di dalam hati Ayla, ia tak mungkin menyatakan perasaanya kepada Alyo sesungguhnya, sudah pasti Ayla akan disangka sudah tak waras. *** Ayla masuk ke dalam toilet untuk memasang pembalutnya, di luar ada Alyo yang senantiasa sejak tadi menemaninya. "Lo gak boleh suka sama kakak lo, Ayla!" "Lo gak mungkin bisa bersatu dengan kakak lo, itu mustahil." "Berhenti berharap jika kak Alyo juga menyukai lo!" "Lo harus ingat Angel, dia udah jadi sahabat lo sekarang, lo gak mungkin mengkhianati dia." Ayla terus terusan menyalahkan dirinya, Ayla memang sudah gila jika ia terus termakan perasaannya. Ayla menarik nafasnya lalu membuangnya kasar, Ayla melangkah keluar dari toilet. "Udah?" tanya Alyo. "Udah Kak," jawab Ayla. "Lo mau kemana?" "Ayla gakmau ke kelas lagi, Ayla mau pulang aja," ucap Ayla ia tak mungkin kembali lagi ke kelas. "Oke, biar gue anterin," ucap Alyo menarik tangan Ayla. Urusan tas Ayla yang masih di dalam kelas bisa diurus oleh Kina, sahabatnya itu pasti akan membawakan tas Ayla pulang, beruntung sekali mempunyai sahabat seperti Kina. Alyo meminta izin ke guru piket dahulu untuk mengantarkan Ayla pulang dengan alasan gadis itu sakit. Untung saja guru piket yang sedang bertugas adalah Buk Meri, Alyo bisa sangat mudah berurusan karena wanita tua itu senang digoda oleh Alyo. "Eh Ibuk Meriang," sapa Alyo sok asik. "Eh ada apa ganteng?, nama ibuk jangan ditukar gitu dong, panggil BuMer ya sayang, tapi kalau di luar sekolah mah panggil Nomer aja alias Nona Meri," ucap Buk Meri panjang lebar dengan gaya super duper centilnya. "Emang Ibuk tau arti Meriang itu apa? Bukan merindukan kasih sayang loh Buk," ucap Alyo yang membuat Buk Meri penasaran. "Trus apa?" tanya Buk Mere mengerling-ngerlingkan matanya ke arah Alyo, Ayla memutar bola matanya nasib-nasib punya kakak ganteng, semua orang bisa dibikin baper oleh Alyo. "Meriang itu singkatan dari Meri sayang," ucap Alyo yang sebenarnya pengen muntah. Buk Meri langsung terbang setinggi-tingginya, jiwanya melayang digoda oleh murid tampannya itu. "Auw kamu bisa aja, ganteng!" "Dih, alay banget sih Buk, ingat tuh uban udah pada nongol di kepala," ucap Ayla santai, Alyo terkekeh pelan. "Yaudah kalau gitu, saya dan adik saya boleh keluar kan Buk? Tolong izinin ke guru yang mengajar di kelas kami juga ya, Buk!" ucap Alyo lalu menuliskan nama dan kelasnya di buku piket tak lupa menuliskan nama Ayla juga di sana. "Ah iya itu mah gampang, hati-hati ya sayang," ucap Buk Meri memberikan kissbye nya. Alyo bergidik ngeri lalu segera menarik Ayla pergi dari sana. *** Setelah sampai di rumah, Alyo menoleh ke samping, ternyata Ayla tertidur, gadis itu terlelap nyenyak, Alyo Jadi tak tega membangunkannya. Alyo memperhatikan muka gadis itu, siapapun yang mendapatkan Ayla nantinya, Alyo percaya pria itu pasti sangat beruntung karena bisa mendapatkan gadis secantik Ayla. Alyo mengusap pipi Ayla pelan, namun gadis itu semakin nyenyak tidurnya, akhirnya Alyo memilih keluar dari mobil dan membuka pintu mobil tempat Ayla dan mengangkat gadis itu, Alyo menutup kembali pintu mobilnya agak kesusahan karena kedua tangannya sedang menggendong Ayla. Alyo mendorong pintu rumah yang memang tak dikunci karena ada mamanya di dalam, Alyo langsung saja membawa Ayla ke kamar gadis itu. Alyo membaringkan Ayla ke atas kasur, lalu menyelimuti kaki gadis itu tak menyelimuti badannya takut Ayla nanti kepanasan karena hari masih siang. Lalu Alyo menundukkan kepalanya, mencium kening gadis itu menyalurkan kasih sayangnya kepada Ayla. Kasih sayang seorang kakak ke adiknya. Alyo tersenyum singkat lalu ia melangkah keluar dari kamar Ayla, ia akan kembali lagi ke sekolah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD