Persahabatan baru antara Ayla, Kina, dan Angel membuat heboh satu sekolah. Ayla memperkenalkan kepada teman-temannya jika ia mempunyai sahabat baru.
Lihat, persahabatan mereka bertiga membuat orang-orang iri melihatnya.
Mereka bertiga memakai jacket bewarna sama, tas juga sama, dan kacamata gaya yang mereka pakai membuat semua orang terpana.
Geng Kece Badai.
Itulah yang terbesit di pikiran teman-temannya. Ayla, Kina, dan Angel melangkah bersama namun langkah mereka berpisah karena Angel harus ke kelas 11. Sedangkan, Ayla dan Angel ke kelas 10.
"Na, kayaknya geng Tari kalah deh sama kita," ucap Ayla terkekeh.
"Iya dong Ay, kita kan gak sealay tuh itik semok," balas Kina tertawa pelan.
"Kapan-kapan, kita ajakin Angel nginep bareng biar seru," saran Ayla diangguki oleh Kina.
"Ide bagus," jawab Kina mengacungkan dua jempolnya.
Seseorang yang duduk di belakang menutupi mukanya dengan buku menatap sinis, ck. ia terlupakan!
Bel masuk berbunyi, Ayla segera merapikan tempat duduknya dan mengeluarkan buku mata pelajaran pagi ini, hari ini ia sangat bersemangat belajar.
Pelajaran demi pelajaran berlalu dengan cepat, tiga jam sudah berlalu, sekarang tiba saatnya jam istirahat.
"Na, kantin yuk!" ajak Ayla.
"Ayo Ay, gue telpon Angel dulu biar ke kantin bareng," ucap Kina mengambil ponselnya di dalam laci.
Ayla melirik seseorang, mengode Kina, namun Kina hanya mengangkat bahunya.
Ayla menghela nafas pelan, lalu ia menghampiri gadis itu, "Tut, ke kantin yuk," ajak Ayla.
"Gak, gue bawa bekal," jawab Tusa tanpa melirik Ayla, ia sibuk menulis di bukunya. Ayla mengangkat bahu cuek.
"Oh yaudah," ucap Ayla berlalu dari situ dan mengajak Kina keluar dari kelas.
"Eh Ngel, lo udah di depan kelas kita aja," ucap Ayla terkejut melihat Angel yang sudah duduk di depan kelas Ayla.
"Iya, gue sengaja nunggu kalian di sini biar ke kantin bareng," jawab Angel.
"Oh, ayo kita ke kantin, gue udah laper nih," ajak Kina mengelus perutnya, kedua sahabatnya tertawa melihat ekspresi Kina, seperti tak makan setahun saja.
"Ayoo!" ajak Ayla, dan ketiganya melangkah bersama menuju kantin.
"Na, si Tuti kenapa sih? Dari tadi pagi kok sombong banget?" tanya Ayla menyendokkan somay ke dalam mulutnya.
"Gatau, mungkin dia ada masalah, gak seperti biasanya," jawab Kina.
"Dia juga tadi pindah duduk jauh dari kita, emang kita salah apa sama dia?"
"Gatau, bodo ah, ntar juga baik sendiri," ucap Kina tak mau ambil pusing.
"Mungkin dia gak suka kalau kalian temenan sama gue kali," ucap Angel angkat bicara.
"Emang dia siapa larang-larang kita temenan sama lo?" kesal Ayla.
"Mungkin aja kan Ay," ucap Angel.
"Udah, gak usah dipikirin, kalau dia mau temenan sama kita lagi, dia pasti mendekat kok bukan menjauh," ujar Kina.
"Iya."
Tiba-tiba Alyo datang menghampiri meja Ayla.
"Hai Pacar," sapa Alyo kepada Angel, namun tangannya mengacak-ngacak rambut Ayla.
"Ish, berantakan rambut gue," kesal Ayla.
"Eh hai adek gue," sapa Alyo terkekeh menatap Ayla.
"Apa sih, kak!" kesal Ayla merapikan lagi rambutnya.
"Ngel, ntar pulang sekolah gue anterin lo pulang ya, mau kan dianterin sama cowok ganteng?" tanya Alyo menaik turunkan alisnya.
"Dih pede banget lo kak," ucap Ayla.
"Iya mau," jawab Angel menatap Alyo.
"Trus gue pulang sama siapa?" tanya Ayla, dalam hati ia mengerang kesal namun segera ditahannya, ia benar-benar ingin menghilangkan perasaan eneh itu.
"Gue anterin lo dulu, masa gue tinggalin," jawab Alyo, Ayla tersenyum lega.
"Nanti lo ikut ke rumah gue dulu ya Ngel, nganterin si Ayla, abis itu baru ke rumah lo," ucap Alyo diangguki Angel.
"Eh eh gue numpang sekalian ya kak," ucap Kina memelas.
"Yaelah sekampung aja sekalian, untung mobil gue besar dan mahal, bisa ngangkut lo semua, oke-oke tak masalah bagi rang ganteng," jawab Alyo dengan pedenya.
Kina terkekeh pelan, "makasik kak!"
***
Setibanya di rumah Ayla, Angel memilih mampir sebentar, karena ia belum pernah ke rumah Alyo, Angel juga ingin berkenalan dengan mama Alyo.
"Wah ini ternyata pacar kamu, pandai juga ya kamu nyari pacar," puji Fira yang membawa Angel duduk di ruang tamu.
"Oh iya dong, Ma! Alyo si cowok ganteng gitu loh," ujar Alyo bangga.
"Siapa nama kamu?" tanya Fira, dengan deg-degan Angel menjawab,"Angel Tante!"
"Sebenarnya Tante belum bolehin si Alyo pacaran, tapi karena ternyata kamu udah jadi pacarnya, tante gak bisa nolak," ucap Fira jujur.
"Loh Mama gak pernah bilang kalau Alyo gak boleh pacaran," sanggah Alyo cepat.
"Sstt diam kamu," suruh Fira yang sedang pencitraan.
"Angel, kalau Alyo macem-macem, tendang aja otongnya ya," ucap Fira santai tak peduli Alyo sudah melotot garang.
"Ah Mama, ngomong apaansih," ucap Alyo malu.
Angel terkekeh pelan, ternyata mama Alyo tak semengerikan bayangannya.
"Tante, maaf bukannya Angel gak mau lama-lama di sini, tapi Angel harus pulang sekarang, takut bunda nyariin, Angel pulang dulu ya tante," pamit Angel lembut, Fira tersenyum pelan.
"Iya, sering-sering ya main ke sini," jawab Fira ramah.
"Iya makasih Tante," ucap Angel tersenyum manis.
"Alyo anterin pacar kamu pulang, hati-hati ya!" pesan Fira.
"Siapp Mom!" ucap Alyo memberi hormat kepada Fira.
***
Setibanya di rumah Angel, Alyo segera mengetuk pintu, "eh kagak bisa dibuka, gimana nih?" tanya Alyo celingak celinguk gak jelas.
"Kan belum dibuka kuncinya, " ucap Angel memperlihatkan kunci rumahnya.
"Oh iya, hehe," ucap Alyo dengan tampang cengonya.
"Bunda lo belum pulang ya?" tanya Alyo tak bermutu.
"Belum lah, kalau udah pulang pasti pintunya gak terkunci dari luar, Alyo!" gemas Angel.
"Eh iya," jawab Alyo dengan tampang oonnya lagi.
Setelah pintu terbuka, Alyo menyolonong masuk duluan meninggalkan Angel yang masih di luar.
"Alyo ini rumah gue!" teriak Angel, buru-buru Alyo keluar lagi.
"Kan kata Bunda lo, anggap aja kayak rumah sendiri," ucap Alyo santai kembali masuk ke dalam rumah Angel tanpa basa-basi.
Alyo langsung duduk di ruang tamu seolah-olah ialah pemilik rumah itu.
Angel membuka pintu rumahnya lebar-lebar biar tak terjadi fitnah, mungkin sebentar lagi bundanya akan pulang.
"Gue mau ganti baju dulu," ucap Angel diangguki oleh Alyo.
Diam bukan Alyo namanya, ia melihat-lihat foto yang terpajang di rumah Angel, mata Alyo melirik ke bingkai foto anak bayi yang hanya memakai popoknya, Alyo terkekeh tak mungkin itu Angel.
Tangan Alyo tergerak mengambil foto itu lalu memperhatikannya, "ahaha malu banget nih bocah, tuh popok juga udah lusuh lagi."
Alyo memperhatikan foto itu lagi dan lagi, kenapa muka bayi itu seperti wajahnya? Oh tidak mungkin dimana pula Angel mendapatkan fotonya waktu kecil.
Lagian Alyo yakin ia waktu kecil gak mungkin ia hanya memakai popok lusuh seperti bayi di dalam foto itu, mamanya pasti memakaikan baju bayi yang mahal untuknya.
"Ah elah biasa rang kaya," ucap Alyo sombong seperti biasanya.
Sebuah tangan mengambil foto itu dari Alyo, pria itu terkejut ternyata Angel yang mengambil darinya.
"Lo ngapain liat foto ini?" tanya Angel.
Alyo memperhatikan penampilan Angel dari atas sampai bawah, gadis itu hanya mengenakan baju kaos oblong beserta celana pendek di atas lutut, Alyo kan cowok ada pisang eh maksudnya ada nafsu, ia takut khilaf.
"Yaelah nih Angel gak ada celana lain apa, buat mata orang ganteng khilaf aja, " ucap Alyo dalam hati.
"Hei Alyo!" ucap Angel menyadarkan Alyo yang melamun.
"Eh iya Karo!" jawab Alyo spontan.
"Karo? Apaantuh?" tanya Angel mendengar asing nama itu.
"Oh ehm... itu emm panggilan baru gue ke lo," alibi Alyo.
Ntah kenapa tiba-tiba Alyo menyebutkan nama itu. Karo adalah bahasa Padang yang artinya adalah kera atau monyet.
"Kok gue baru denger, bahasa apa itu?" tanya Angel heran.
"Ba-bahasa Padang," jawab Alyo gugup jangan sampai Angel menanyakan artinya pula.
"Oh bahasa Padang," ucap Angel mengangguk paham, ia tahu jika Alyo pernah tinggal di Padang 3 tahun, Ayla yang memberitahunya.
"I-iya," jawab Alyo gugup.
"Emang artinya apa?"
MAMPUS!
Alyo kalang kabut, tak mungkin pula ia menyebutkan arti yang sebenarnya kepada Angel, bisa dicincang Alyo oleh Angel apalagi mengingat Angel yang dulunya mengerikan, bulu kuduk Alyo tiba-tiba berdiri, ia harus memutar otaknya mencari jawaban.
"Eum, ha it-tu artinya bid-bidadari yah bidadari," jawab Alyo lega.
"Wah bagus banget artinya," puji Angel tersenyum senang, ternyata Alyo romantis juga, pikir Angel.
Alyo tersenyum canggung, ia harus merahasiakan arti yang sebenarnya dari Angel, jangan sampai gadis itu tahu jika Karo itu adalah Monyet.
"Mulai sekarang lo panggil gue karo aja, biar beda dari yang lain," suruh Angel.
Bejubuset!
Alyo harus apa?
Alyo dengan susah menelan air ludahnya, Alyo tak mungkin menolaknya, sepertinya Angel sangat senang mendengar panggilan itu, andai saja Angel tahu arti sebenarnya.
"Hei, lo gakmau ya?" tanya Angel mengerucutkan bibirnya.
"Eh eh mau kok, ii-iya gue bakal panggil lo karo," jawab Alyo tersenyum kepada Angel.
"Makasih ya Alyo!" ucap Angel malu-malu.
"Sama-sama Karo!" jawab Alyo menampilkan senyumnya.
Dalam hati Alyo tak tahan menahan untuk tidak tertawa, masa iya ia harus memanggil pacarnya dengan sebutan monyet sih!
"Oh ya, gue bakal kasih lo puisi!" ucap Alyo berdehem pelan.
"Hekhem... bayangmu eum bayangmu selalu teringat di saat... eumm di saat malam, engkau selalu tampak pada saat mati lampu, eumm... muka mu agak mirip seperti dia yang terkikik-kikik haha hihi huhu... wajahmu putih pucat seperti Mbak Kunti di pohon jambu... walaupun, kamu mirip seperti hantu, tapi jangan ragukan sayangku padamu Oh Karoo ku..."
Alyo menyelesaikan puisi yang sudah dipikirkannya siang dan malam, Angel mengerutkan keningnya.
"Jadi lo ngatain gue kayak hantu gitu?" kesal Angel.
"Em iya," jawab Alyo tanpa beban.
"Kok gak romantis," kesal Angel.
"Lah, kan udah gue bilang di ujung, walaupun lo mirip kayak hantu tapi gue tetap sayang sama lo Karoo!" tekan Alyo.
"Iya deh iya, makasih ya!"
"Iya Karo."
Tak lama kemudian bunda Angel masuk, Alyo segera menghampiri bunda Angel, lalu menyalaminya diikuti oleh Angel.
"Sore Bunda," sapa Alyo.
"Sore, Nak!" balas bunda Angel tersenyum.
"Bunda mau ke kamar dulu, ya!" ujar bunda Angel berlalu dari situ.
Alyo kembali duduk di sofa, du sebelah Angel.
"Alyo, seru gak tinggal di Padang?" tanya Angel.
"Seru banget, gue jadi pengen ke sana lagi, gimana kalau liburan semester depan kita ke Padang?" ajak Alyo.
"Boleh," jawab Angel setuju.
"Oh ya, bahasa padangnya bagus apa?" tanya Angel.
"Rancak," jawab Alyo.
"Oke, mulai sekarang gue akan panggil lo Karak!" ucap Angel yang membuat Alyo teesedak.
"Kok karak sih? Eh maksudnya karak maksud lo apaan?" tanya Alyo.
"Karak itu kepanjangannya Kamu Rancak, kan cocok Karak dan Karo!" ucap Angel sumringah.
Alyo menggaruk tengkuhnya tak gatal, 'Rancak' sih memang 'Bagus' artinya. Tapi, kalau sudah dipendekkin jadi 'Karak' artinya malah jadi beda.
Bahasa Padang Karak, yang artinya adalah daki, atau semacam kuman yang membandel.
"Nasib-nasib rang ganteng disamain kayak kuman, mending sih daripada dia gue kasih nama Karo, itu kan monyek uukk aakk uukk aakk," ucap Alyo tekekeh di dalam hati.
Dan terjadilah pacaran antara Karo (Monyet) dan Karak (Kuman). Panggilan baru Alyo dan Angel.
****