Setelah Salfa mengetahui apa yang telah terjadi pada suaminya, dia pun langsung mengaja Hani untuk melihat sendiri apa yang telah ia dengar. Hani sebenarnya sudah memberitahukan pada Salfa kalau untuk saat ini sebaiknya jangan dulu datang ke rumah Raziq, karena baginya percuma. Salfa tidak akan bisa mendapatkan apapun disana. Namun Salfa tetaplah Salfa, gadis keras kepala yang selalu melakukan apa yang ia fikirkan saja.
Hani pun hanya pasrah, dia akhirnya menemani Salfa untuk datang ke rumah Raziq. Karena dirinya tidak tega melihat keadaan Salfa yang begitu kacau setelah mengetahui kabar ini.
Sesampainya di rumah Raziq, Hani memarkirkan mobilnya di seberang rumah tersebut. Awalnya Salfa akan turun dan kembali bertanya pada satpam rumah Raziq, tapi lagi-lagi Hani melarangnya.
“ Please fa, kali ini kamu dengerin aku. Aku mohon sama kamu jangan bertindak gegabah begini fa. Mau kamu bertanya seratus kali pun satpam itu akan menjawab dengan jawaban yang sama fa. Sebaiknya kita tunggu di dalam mobil dulu sambil memikirkan langkah apa yang akan kita ambil, supaya ngga salah langkah fa.” Saran Hani.
“ Tapi aku benar-benar khawatir Han, aku pingin banget tahu keadaannya. Aku isterinya Han, harusnya aku ada disamping dia disaat keadaan sedang seperti ini.” Ucap Salfa dengan air mata yang tak mau berhenti.
“ Aku ngerti kamu khawatir, kamu rindu. Tapi ngga semua orang bisa mengerti keadaanmu fa. Apalagi keluarga Raziq, apa yang akan terjadi dengan hubunganmu dan Raziq jika mereka tahu kamu itu isteri Raziq. Dan ngga mungkin juga kamu memberitahukan hal ini disaat Raziq mengalami hilang ingatan, yang tandanya dia pun ngga bisa mengenal siapa kamu.” Balas Hani yang mulai emosi melihat sahabatnya yang akan bertindak gegabah.
“ Tersu aku sekarang harus gimana Han, apa yang harus aku lakukan.” Tanya Salfa yang memang sudah tidak bisa berfikir lagi.
“ Aku antar kamu pulang dulu ya, kamu tenangkan hati dan fikiranmu dulu fa. Kamu harus percaya kalau saat ini suami kamu baik-baik aja. Apalagi dia sudah bersama dengan keluarganya. Justru mulai saat ini kamu harus mencari cara supaya suamimu bisa mengenalimu. Kamu faham kan yang aku katakan ini.” Saran Hani
Salfa pun mengangguk, kali ini dia setuju dengan apa yang Hani katakan. “ Ok kali ini aku akan lakukan seperti apa yang kamu katakan.”
Kemudian Hani pun siap untuk melajukan mobilnya, namun sebelum mobil itu menyala. Salfa menghentikannya.
“ Ada apa fa.” Tanya Hani yang bingung.
“ Itu mas Raziq Han.” Ucap Salfa ketika melihat Raziq keluar dari pintu rumahnya. Air mata yang tadinya sudah berhenti pun kembali keluar karena melihat sosok yang begitu ia rindukan. “ Ya Allah bby, Mai kangen banget sama kamu. Kenapa kisah kita harus seperti ini bby. Kembalinya kita justru membuat kita semakin jauh seperti ini. Mai janji, Mai akan buat kamu kembali ingat pada Mai, bby. I love you, bby.” Ucapnya.
Sedangkan Raziq yang berada di depan pintu rumah pun heran melihat orang yang berada di mobil. Dia seperti terus-terusan memandangi dirinya. Namun Raziq tidak bisa melihat jelas sosok tersebut, hal itu karena dirinya masih belum sembuh total. Dan pandangannya pun terkadang masih belum jelas.
“ Ziq.”
“ Mama.”
“ Makan siangnya udah siap, kita makan sekarang ya.” Ajak mamanya.
“ Tunggu dulu ma, apa mama kenal sama orang yang ada di dalam mobil itu. Kok keliatannya dia terus memandang kesini ya ma.” Tanya Raziq pada mamanya.
“ Mama ngga begutu faham ziq. Mungkin hanya orang lewat aja.” Jawab mamanya, karena kaca mobil sudah tertutup lagi. Kemudian Raziq dan mamanya pun masuk kedalam.
Salfa yang menyadari kalau Raziq tahu dirinya terus memandangnya pun langsung menutup kaca mobilnya. Apalagi ketika Raziq menunjuk kearahnya, dia khawatir mama Raziq akan melihat dirinya disana. Walaupun mungkin Salfa dan mama Raziq belum pernah bertemu, tapi bisa saja dia mengenali dirinya sebagai anak dari Nizar lewat media. Hani pun mengusap punggung Salfa, dia tidak tega melihat keadaan Salfa begini. Kemudian dirinya pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah Salfa.
***
Ketika Salfa sampai dirumah, dirinya tidak menyangka kalau ternyata papanya juga berada di rumah. Salfa pun berusaha merubah wajahnya yang terlihat sedih. Dia tidak mau orang tuanya kembali mencurigainya.
“ Pa, kok tumben papa ada di rumah. Apa hari ini papa ngga berangkat kerja.” Tanya Salfa.
“ Papa lagi kurang enak badan fa, biasa darah tinggi papa naik.” Jawab mamanya.
“ Ya gitu kalau anak terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Sampai papanya sakit aja dia ngga tahu.” Sindir papanya pada Salfa.
Salfa pun yang merasa tersindir langsung menghampiri papanya, dia menyesal karena memang selama ini dia terlalu memikirkan hal tentang rumah tangganya sampai dia melupakan keduaorang tuanya yang masih membutuhkan dirinya.
“ Maaf ya, pa. Salfa tahu kalau Salfa salah. Salfa janji kalau Salfa ngga akan ulangi lagi. Salfa akan jaga papa.” Ucap Salfa dengan manja pada papanya.
“ Papa ngga mau kamu kebanyakan janji tapi ngga ada yang bisa kamu lakukan. Papa mau kamu menuruti satu permintaan papa.”
Salfa pun faham arah pembicaraan ini, pasti papanya meminta dirinya untuk membantu dirinya mengurus perusahaan.
“ Salfa mau bantuin papa, tapi ngga sekarang juga pa. Salfa takut kalau Salfa bantuin papa sekarang, justru papa yang akan malu. Karena Salfa belum sepenuhnya menguasau hal ini.” Jawabnya.
“ Apa susahnya sih fa, coba kamu nurut seperti Hani kan mudah. Darah tinggi papa juga ngga akan naik seperti ini.” Ucap papanya.
“ Maksud papa.” Tanya Salfa yang bingung karena tiba-tiba papanya menyebut nama sahabatnya. Memang ia akui kalau Hani jauh lebih dewasa dalam berfikir dibanding dengan dirinya. Tapi tidak pernah sekalipun papanya membanding-bandingkan dirinya seperti ini.
“ Hani udah bergabung dengan perusahaan papa.” Ucap papanya.
“ APA ! Kok Salfa baru tahu. Kok kamu ngga kasih tahu aku sih Han.” Ucap Salfa yang terkejut, karena baru mengetahui hal ini.
“ Sorry fa, aku bukannya ngga mau bilang ke kamu. Aku pun awalnya ngga menyangka kalau om Nizar ajak aku bergabung di kantor. Karena awalnya aku Cuma iseng-iseng aja bantuin om. Tapi lama kelamaan aku mulai tertarik dengan dunia kantor om Nizar. Jadi aku bersedia deh bergabung dengan perusahaan papamu.” Jawab Hani yang merasa bersalah karena sahabatnya tahu dari papanya bukan dari dirinya sendiri.
“ Papa memang hebat untuk masalah membujuk orang.” Balas Salfa.
“ Bukan masalah itu fa. Papa pun bisa liat kok kemampuan Hani dalam bekerja. Dia mampu kok, Cuma kurang di gali aja bakatnya. Papa yakin semakin Hani giat pasti dia akan semakin bisa berkembang. Begitu juga dengan kamu fa, hal yang sangat wajar kalau kamu berfikir kamu takut mengecewakan papa dan membuat malu papa karena kamu anak baru. Kalau memang seperti itu, kamu bisa mulai dari bawah fa. Supaya kamu bisa belajar sedikit demi sedikit. Papa yakin lama kelamaan kamu pasti bisa kok.” Ujar papanya yang tidak berhenti membujuk Salfa.
Salfa diam sambil memandang kearah papanya. Hatinya pun tidak tega melihat papanya yang begitu berharap dirinya mau bekerja di perusahaannya. Apalagi mengetahui keadaan kesehatan sang papanya yang membuat Salfa semakin merasa bersalah kalau kali ini dia kembali menolak.
“ Ok, Salfa akan mulai masuk ke kantor papa. Tapi Salfa akan menggunakan saran papa. Salfa akan memulainya dari bawah. Dan Salfa akan jadi karyawan biasa dulu seperti Hani.” Jawabnya.
“ Alhamdulillah, papa senang sekali dengar hal ini dari kamu. Terserah kamu mau ambil jabatan apa. Yang penting kamu mau memulainya fa.”
“ Ya udah Salfa mau naik dulu ya pa, ma.”
“ Mmmm, kalau gitu Hani pamit pulang dulu aja ya tante, om, fa.”
“ Kok pulang Han.”
“ Iya fa, aku kan juga harus mempersiapkan diri buat kerja besok.”
“ Benar yang Hani katakan, dia udah terlalu lelah mengikuti kemauan kamu yang ngga ada habisnya. Biarin dia istirahat.” Sindir papanya lagi.
Dalam hatinya Salfa mengakui hal yang papa katakan padanya. Memang beberapa hari ini Salfa begitu merepotkan Hani. Dia yakin Hani pasti lelah mengikuti semua kamauannya. Salfa pun langsung menghampiri sahabatnya.
“ Maaf ya Han aku udah ngerepotin kamu terus.”
“ Kamu ngomong apa sih fa, kamu sama sekali ngga ngrepotin kok. Ini gunanya sahabat, selalu ada untuk sahabatnya. Aku harap kamu kuat ya. Aku percaya pasti ada jalan keluarnya untuk menyelesaikan masalahmu ini.” Ucap Hani dengan lirih karena takut terdengar oleh orang tua Salfa.
Salfa mengangguk, kemudian Hani pun pamit pulang pada kedua orang tua Salfa. Setelah Hani pulang Salfa pun langsung masuk kedalam kamarnya. Hati dan tubuhnya pun begitu lelah, karena menghadapi masalah yang belum juga selesai.
Ketika Salfa sedang berbaring, tiba-tiba pintu kamarnya pun terbuka. Disana terlihat mamanya yang sedang berdiri sambil tersenyum kearah dirinya.
“ Mama, kenapa mama berdiri di sana ma. Masuk aja ma.” Ucap Salfa yang langsung bangun.
“ Takut ganggu waktu istirahat kamu sayang.” Jawab mamanya.
“ Ngga dong ma. Salfa juga pasti ngga bisa tidur kok. Oh iya ada apa mama kemari.” Tanya Salfa.
“ Ngga ada apa-apa, pingin ngobrol aja sama anak gadis mama ini. Kan udah lama kita ngga ngobrol santai berdua. Kalau ngga salah terakhir kita ngobrol santai sebelum Salfa berangkat kuliah di luar negeri deh.” Ucap mamanya.
Salfa pun langsung bergelayut manja pada mamanya. “ Iya ya ma, Salfa aja sampai lupa.”
“ Ya, namanya juga anak mama udah gadis. Mungkin dia udah malu cerita ke mama.” Ledek mamanya.
“ Apaan sih ma, ya nggalah. Salfa kan masih sering kok cerita ke mama.” Balasnya.
“ Tapi mama melihat ada perubahan pada diri kamu semenjak kamu pulang ke sini fa. Mama merasa kalau ada sesuatu yang ngga bisa Salfa ceritakan ke mama. Apa jangan-jangan Salfa udah punya cowok tapi Salfa ngga cerita ke mama ya.” Tanya mamanya yang mulai mencurigai dirinya.
Salfa pun terdiam karena terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun tak lama kemudian, dia langsung berubah tertawa karena ia takut mamanya akan curiga.
“ Ya ampun ma, kok mama bilangnya gitu sih. Kalau memang Salfa udah punya cowok pasti langsung Salfa kenalin ke mama kok. Kan mama segalanya buat Salfa, jadi mama pasti akan tahu kalau kelak ada laki-laki yang mencintai anak mama ini.”balasnya.
“ Mama bahagia kalau kelak ada laki-laki yang mencintai anak mama ini. Tapi ada yang harus Salfa tahu jika kelak kamu berumah tangga. Pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua insan yang saling mencintai. Namun pernikahan itu pun menyatukan dua keluarga yang nantinya akan menjalin persaudaraan. Jadi untuk hal itu kita harus perhatikan benar-benar fa.” Ucap mamanya yang memberi nasehat padanya.
Salfa pun semakin erat memeluk mamanya, rasa bersalahnya semakin besar karena sudah berbohong pada kedua orang tuanya. Hatinya semakin takut dan khawatir, apa yang akan terjadi pada orang tuanya jika sampai rahasianya terbongkar. Apakah dia akan mendapatkan maaf, atau justru sebaliknya.
“ Maafin Salfa karena udah jadi anak yang durhaka pada mama dan papa karena berbohong tentang hal yang begitu besar. Salfa harap kelak jika mama tahu semuanya, mama mau memaafkan Salfa ya ma. Salfa sayang mama.” Batinnya.