12. KIC

1637 Words
Akhirnya Salfa pun mulai masuk ke kantor. Papanya menempatkan Salfa sebagai karywan biasa. Banyak yang belum tahu kalau Salfa ini anak dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Karena memang sedari dulu Salfa jarang menampakkan dirinya di kantor sang papa, dan dia juga lama berada di luar negeri.Salfa ataupun papanya tidak mau mentupinya tapi mereka membiarkan para karyawan tahu dengan sendirinya. Papa Salfa pun tidak ingin mengistimewakan anaknya, karena dia benar-benar ingin melatik kkeprofesional serta kemandirian putrinya dalam bekerja, sehingga kelak jika Salfa memimpin perusahaan sang papa tidak terkejut dan berputus asa dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di dalam perusahaannya. Selama beberapa hari ini pula, Salfa  tidak datang ke rumah Raziq. Semenjak mamanya merasa dirinya semakin jauh dari keluarga pun membuat Salfa lebih sering berada di rumah. Dia tidak mau mengundang kecurigaan lagi pada keluarganya. Apalagi setelah Salfa mengetahui tentang keadaan suaminya, dia semakin lebih berhati-hati karena ia tahu sekarang suaminya tidak akan pernah mengenalinya. Maka Salfa pun selalu berfikir dengan cermat cara yang akan ia gunakan untuk mengembalikan ingatan suaminya. Di kantor pun Salfa bekerja dengan baik, dia tidak ingin mengecewakan papanya. Begitu juga dengan Hani, dia pun mulai bekerja di perushaan milik papa Salfa. Namun Hani dan Salfa tidak di tempatkan di tempat yang sama. Papanya tidak mau mereka tidak bekerja secara profesional jika berada dalam satu bidang, maka dari itu penempatan mereka berbeda. Tapi tetap saja, Salfa dan Hani sulit untuk di pisahkan. Setelah waktu istirahat tiba, Salfa dan Hani bertemu untuk makan bersama. Salfa yang sudah menunggu Hani di kafe depan kantir pun heran ketika melihat Hani yang datang dengan tergesa-gesa. “ Ya Allah Han, siapa sih yang ngejar kamu sampai kamu lari-lari begini.” Tanya Salfa yang heran. Hani pun yang baru duduk langsung mengatur nafasnya. “ Alhamdulillah akhirnya aku sampai juga, fa ada kabar baru apa kamu udah tahu.” “ Kabar apa.” “ Tentang suami kamu.” Ucap Hani sedikit keras, Salfa pun langsung membekap mulutnya karena takut ada yang mendengarnya. “ Sorry fa, keceplosan.” “ Ini tempat umum Han, gimana kalau ada yang denger.” Kemudian Hani pun memberikan ponselnya pada Salfa. Disana terlihat sebuah berita yang memberitakan tentang Raziq yang sudah mulai kembali beraktivitas bekerja seperti biasa. “ Jadi mas Raziq udah mulai kerja lagi.” “ Iya fa.Terus apa yang akan kamu lakukan sekarang fa.” Tanya Hani. “ Mungkin untuk saat ini aku akan menemuinya secara diam-diam Han. Dan pelan-pelan aku pasti akan buat dia kembali ingat ke aku Han, aku yakin pasti mas Raziq akan kembali padaku lagi Han.” Jawab Hani. “ Semoga aja fa, aku akan selalu doakan yang terbaik untuk hubunganmu dengan dia.” “ Makasih ya Han.” *** Seusai bekerja, Salfa pun langsung pergi dengan terburu-buru. Dia ingin sekali memulai langkahnya untuk kembali mendekati Raziq. Salfa sudah begitu merindukan suaminya. Kali ini Salfa tidak mendatangi rumah Raziq, melainkan kanto milik suaminya. Didalam mobil Salfa terus mengintai kantor tersebut, matanya pun tidak lengah untuk melihat siapa saja yang keluar masuk dari kantr tersebut. Mata Salfa kali ini terbelalak ketika dirinya melihat sosok yang sangat familiar keluar dari kantor dan masuk kedalam sebuah mobil. Kemudian Salfa pun mengikuti mobil suaminya. Dalam perjalanan pulang mobil yang Raziq tumpangi pun berhenti di sebuah mini market. Mobilnya terparkir di pinggir jalan. Salfa yang sengaja mengikuti mobil Raziq pun ikut berhenti. Dia melihat orang yang keluar dari mobil tersebut tapi itu bukan Raziq melainkan supirnya. “ Berarti mas Raziq masih ada di dalam mobil. Gimana ya caranya supaya mas Raziq bisa keluar dari mobil itu. Biar aku bisa ngliat dia.” Ucap Salfa sendiri sambil memikirkan cara. Tak lama kemudian senyuman di wajahnya pun mulai terpancar. Salfa langsung kembali menyalakan mobilnya. “ Maaf mas, tapi ini satu-satunya cara yang saat ini bisa aku fikirkan.” Ucapnya. Dengan menutup mata Salfa melajukan mobilnya sampai menabrak mobil milik Raziq yang sedang berhenti. Raziq yang sedang memejamkan mata sambil menunggu supirnya membeli barang pun sangat terkejut ketika terjadi goncangan dalam mobilnya. “ Ya ampun ini kenapa. Ada yang nabrak mobilku.” Ucapnya yang mulai emosi ketika melihat ke belakang mobilnya. Benar dugaannya sudah ada mobil yang menubruk mobilnya. Raziq pun langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri pengendara mobil yang menabraknya. Sedangkan Salfa terus menutupi wajahnya di stir, dia pun syok dengan apa yang baru saja dia lakukan. “ Ya Allah kenapa aku bisa senekad ini.” Ucapnya yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan. TOK..... TOK.... TOK... Suara ketuka kaca mobil pun terdengar, Salfa yang masih syok pun terkejut mendengar itu. Namun dirinya langsung terbengong tidak percaya dengan apa yang dia lihat kali ini, di luar mobilnya ada sosok yang begitu dia rindukan. Salfa tidak lagi bisa menahan air mata yang ingin keluar, namun dia tidak mau mengundang kecurigaan pada Raziq, pun langsung menghapus air matanya. Dengan perasaan gugup, sedih sekaligus bahagia akhirnya Salfa keluar. Kali ini dia pun harus beakting di hadapan suaminya. “ Lama banget sih keluarnya.” Omel Raziq yang kesal melihat Salfa baru keluar dari mobilnya. Namun tidak dengan Salfa, dia fikir dirinya langsung bisa berakting namun ternyata tidak. Dia pun hanya bisa diam terpaku melihat wajah tampan suaminya. “ Bby.” Ucapnya. “ Apa.” Tanya Raziq yang mendengar ucapan Salfa. Sesaat kemudian Salfa sadar, dia langsung menelan ludahnya karena keceplosan memanggil suaminya. “ Oh maaf. Maksud saya mas. Mmm, saya benar-benar ngga sengaja mas. Maaf karena saya sudah menabrak mobil anda.” Ucap Salfa yang memulai aktingnya. “ Sebenarnya mata kamu itu di taruh dimana, kalau ngga bisa nyetir ngga usah nyetir.” Ucap Raziq dengan lantang. Salfa kembali menelan ludahnya, dia tidak menyangka kalau Raziq akan semarah ini padanya. Dan ini juga pertama kalinya Raziq memarahi dirinya. “ Saya tahu saya salah, tapi ngga usah marah-marah gitu dong mas. Saya mau kok ganti rugi.” Balas Salfa yang jadi ikut emosi karena Raziq memarahinya. “ Jelas anda harus ganti rugi.” Balas Raziq. “ Kalau gitu kita bawa ke bengkel aja mobilnya, nanti saya yang bayar.” Ujar Salfa. “ Ada apa ini tuan.” Tanya supir Raziq. “ Ini pak, ada yang tiba-tiba nabrak mobil kita.” “ Ya Allah, neng gimana sih neng nyetirnya.” Ucap supir tersebut. “ Maaf pak, saya ngga sengaja.” “ Ya udah pak Timo langsung bawa mobilnya ke bengkel aja, biar  saya pulang naik taksi aja.” Ujar Raziq. “ Tapi tuan, nanti kalau nyonya Maryam tahu tuan naik taksi bisa-bisa saya yang kena marah.” Ujar pak Timo. “ Ngga kok pak, nenek pasti ngerti ini kan juga bukan salah pak Timo, melainkan salah gadis yang baru bisa nyetir ini.” Balas Raziq. Salfa hanya mengalihkan pandangannya ketika Raziq berkata seperti itu. “ Ehh, tunggu kenapa harus naik taksi mas. Biar saya anterin aja. Kan saya yang udah nabrak mobil masnya. Jadi sebagai tanda permintaan maaf saya, saya akan anterin masnya pulang. ” Ajak Salfa yang mencari cari alasan agar bisa dekat dengan Raziq. “ Ngga perlu, kamu urus saja mobil saya dan mobilmu. Saya bisa pulang sendiri. Nanti kalau saya ikut kamu bukannya saya pulang ke rumah tapi bisa-bisa saya pulang ke rumah sakit. ” Jawab Raziq dengan sombong. “ Ehhh tunggu, tadi waktu saya nabrak kan masnya ada dalam mobil, kalau ngga saya anterin masnya ke rumah sakit aja ya, siapa tahu aja ada luka yang harus di obati.” Ajak Salfa yang terus mencari alasan supaya dirinya bisa dekat dengan Raziq. “ Ngga perlu saya baik-baik aja.” Jawab Raziq dengan tegas. “ Eh tunggu mas.” “ Apalagi sih, kamu benar-benar bawel ya.” “ Saya Cuma mau bilang nanti kalau saya mau bayar ganti ruginya gimana, kalau ngga saya minta nomor ponselnya aja ya mas.” Ucap Salfa yang terang-terangan. Dia terus saja mendekati Raziq. Tapi ternyata sikap Salfa membuat Raziq justru merasa risih. “ Dengarkan saya baik-baik. Urusan kamu sama supir saya, jadi kalau ada apa-apa hubungi saja supir saya. Saya ngga ada kaitannya dengan hal ini. ” Ucap Raziq yang langsung menaiki taksi. “ Tunggu mas... mas.” Panggil Salfa. Dia kesal karena cara ini tidak berhasil. “ Padahal Salfa udah senekad ini, tapi ternyata belum berhasil juga.” “ Terus ini gimana neng.” Tanya pak Timo. “ Mmm, gini aja pak. Bapak langsung aja bawa mobilnya ke bengkel. Terus ini saya kasih kartu nama. Nanti soal biaya bapak langsung kasih tahu saya aja, biar saya kirim langsung.” “ Tapi neng, kalau nanti neng...” “ Tenang aja pak, saya bukan penipu. Saya jamin akan langsung mengirim uangnya.” Jawab Salfa. “ Ya sudah neng, kalau gitu saya permisi dulu.” Jawab pak Timo. “ Ehhh tunggu pak. Saya boleh tanya sesuatu ngga ke bapak.” “ Tanya apa neng.” “ Itu bukannya tuan Raziq ya, anak pemilik PT. Raditya group.” “ Iya neng, dan sekarang dia yang jadi CEOnya disana.” “Oh ya.” “ Tapi kok keliatannya dia ngga sehat gitu ya pak. Seperti orang habis sakit. Apa dia baru aja sakit.”Tanya Salfa. “ Oh maaf neng kalau masalah itu saya ngga tahu, kalau gitu saya langsung saja ya.” Ucap pak Timo yang langsung pergi meninggalkan Salfa sendiri. Setelah kepergian pak Timo, Salfa pun berdiam diri di samping mobilnya. “ Kenapa sepertinya semua orang mau menutupi keadaannya mas Raziq ya. Pemberitaan tentang kecelakaannya pun udah ngga ada di media.” Ujar Salfa. Tak lama kemudian dia kembali menghela nafas, raut wajahnya pun berubah sendu. “ Dulu kita begitu dekat mas, kenapa sekarang bicara berdua aja susah banget mas. Ditambah lagi kamu yang ngga bisa mengenaliku lagi. Kamu semakin jauh dariku mas.” Ungkap Salfa yang hatinya merasa terluka mengingat hal tadi, dia bahagia bisa melihat suaminya lagi. Tapi sikap Raziq begitu cuek dan tidak mengenalinya membuat dirinya merasa kasihan dan sedih. Karena sosok yang ia sayangi tidak ada lagi disisinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD