Lihat Aku!

1940 Words
Kale mengulum senyumnya. Ohyah... gimana bisa bagian bawah wanita itu terbuka untuk mengangkangi pahanya yang besar. "Heemm.., duduk miring bisa?" tawarnya. Mina menggeleng... Ia gak mau duduk disana. Mau miring, mau mengangkang bahkan kayang sekalian tetap gak mau. "Kale yang geram menggendong tubuh Mina untuk duduk di pangkuannya. Tidak sulit karena Mina memang kecil. Sekarang Mina sudah ada di pangkuannya tidak bergerak sama sekali. Wanita itu bahkan menjauhkan dirinya dari Kale. "Ayok cepet cium gue!" suruh lelaki itu. Karena rasanya bakalan malu jika ia yang mencium Mina lagi tanpa sebab musabab. "Gak bisa?" terka Kale merasa menang. "Hemmm gue lagi" gerutunya dengan memasang tampang gengsi dan sungkan. Yaah... padahal inilah yang ditunggu-tunggunya Detik kemudian ia menghapus bibir Mina yang sedikit kotor terkena saos spahageti. Gerakkan tangannya di bibir Mina begitu lembut, dengan tatapan sangat memuja wajah istrinya yang terlihat sangat polos namun cantik. Mina memang tidak seperti wanita kebanyakan. Ia memiliki wajah putih alami dengan sedikit frackless coklat muda pada sisi hidungnya. Dan itu justru semakin membuatnya terlihat imut "Jorok!" koment yang keluar dari mulutnya. Mendengar suara tak suka suaminya membuat Mina mengangkat jarinya yang juga kotor dan menjilatinya di depan wajah Kale. Mina cuma takut Kale juga memeriksa tangannya dan mengatainya yang enggak-enggak seperti tadi. Sedang fantasi Kale membayangkan seandainya Mina menjilati miliknya persis seperti caranya menjilat jarinya sendiri. "Arrggghhkk... Kale sudah tidak bisa menahannya. Ia langsung merebahkan tubuh Mina. "Mas...!" Mata Mina menatap ke arah Kale yang berada di atasnya. Tadi katanya Kale cuma mau diajak ciuman. "Tadi katanya cuma mau cium, Mas" protesnya "Gimana cepet punya anak kalau cuma ciuman" sahut Kale menoel bibir bawah Mina berulang kali "Jangan cemberut, sekarang senyum" pinta Kale. Mina justru memalingkan wajahnya ke samping "Heeeeemmm..." Kale mengembalikan fokus Mina ke dirinya, kembali menyentuh bibir bawah Mina dengan ibu jarinya. "Bibir lo berdarah?" tanyanya perhatian dengan menyeritkan alisnya. Membuat alis gunungnya itu saling bertaut. Sebenarnya Kale gak perlu tanya. Ia bahkan tahu siapa pelakunya yang membuat bibir sensual Mina terdapat bekas luka pada bagian dalamnya. Tentu saja ulahnya sendiri yang mencium Mina dengan kasar. "Makanya lo jangan gigit bibir lo, gigit ajah bibir gue" bujuknya Kemudian Kale menempelkan bibirnya di atas bibir Mina, lagi ia menyesap bibir bawah Mina kuat. "Eempphh..." Kaki Mina berontak spontan. Tapi Kale tak peduli ia semakin kuat menekan bibirnya bahkan ia kembali memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Mina "Aaauuhhkk..." teriak pria itu karena Mina mengigit lidahnya kuat. Haah... Tahu rasa tadi minta Mina untuk mengigitnya saja kan "Kenapa lo gigit?!" ketusnya. Kale bangun dari atas Mina sambil menjulurkan lidahnya keperihan. Mina bangun dengan wajah merasa bersalah. "Maaf, Mas. Tapi tadi katanya gigit ajah" jawab Mina apa adanya "Heemm... "sahut Kale bangun. Rasanya gairahnya telah surut hilang entah kemana. "Ya udah keluar dari kamar gue" suruhnya dengan suara jutek "Iyah, Mas" Mina tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. "Mienya boleh ku bawa,yah. Mas?" ijinnya karena Mina masih mau makan mie itu. Seraya berdiri merapikan bathrobenya yang sedikit terbuka saat ia terlentang tadi. "Spahageti" sahut Kale pendek. "Iyah itu..." kata Mina polos. Sikapnya membuat Kale bingung kenapa ia malah membenci wanita itu. Wanita yang ia jelajahi tubuhnya dengan begitu nikmat semalaman "Tunggu..." panggil Kale nampak berubah pikiran "Apa lagi, Mas?" desah Mina, ia pikir sudah bebas dari terkaman harimau lapar "Lo kayaknya perlu makan yang banyak deh, lo kurus banget" jujur Kale. Dengan lancang pria itu membuka bathrobe Mina. Mina ikut menarik kembali tak ingin buah dadanya terekspose di depan Kale. "Lihat, gue pegangnya kayak gak berasa gitu" keluh Kale yang berhasil menangkup d**a kiri Mina meski masih ditutupi bathrobe, Mina menghempaskan tangan Kale yang di dadanya. "Lepasin!" sentak Mina, tapi Kale yang dibentak tak terima ia merangkul tubuh Mina lagi. "Gue udah bilangkan semua atas dasar perintah gue. Apa yang ada di tubuh lo semua adalah hak gue!" ancamnya kembali menjilati leher Mina. "Jangan, Mas!" Tak mengindahkan Kale melempar tubuh Mina ke ranjang, membuka bathrobenya. Dan kembali menyesap kulit d**a Mina. "Mas...!" Kali ini Mina berontak spontan. Tapi Kale justru semakin suka. Bagai menaklukkan bom dengan kekuatan beberapa skala ricther, penuh perjuangan dan pastinya peluh yang membanjiri tubuh keduanya. Kale duduk di antara paha Mina. kembali mengangkangi paha istrinya itu. Sementara Mina hanya bisa menatap tubuh bawahnya. Karena kedua tangannya dikunci Kale dalam satu genggaman tangan besarnya. Lelaki itu menunjukkan miliknya. Ini kali pertamanya Mina melihat sendiri moment penyatuan mereka. Ia mengigit bibir bawahnya. Matanya terpejam, sangat takut perih kembali mengusai bagian intinya. Kale menggosokkan ujung miliknya. Menatap Mina yang terpejam kuat dan dari wajahnya terlihat begitu tersiksa. "G-gue kan udah bilang. Jangan tutup mata lo saat kita sedang bercinta!" suruhnya dengan nafas memburu. "Kita gak lagi bercinta, Mas. Karena ini cuma kewajiban aku sebagai b***k kamu. Semua kita lakukan tanpa ada rasa apapun di dalamnya" sahut Mina berani. Air matanya turun. Berapa kali ia harus merasakan sakit pada miliknya. Tapi yang paling perih adalah hatinya yang merasa tidak di anggap sama sekali. Wajah Kale memerah. Marah sudah pasti, tapi ia juga tidak mengerti harus marah ke siapa. Apa kepada wanita yang menangis sesenggukkan di bawah kungkungannya. Kale mengacak rambutnya frustasi. Di saat hasratnya membumbung tinggi. Tapi Mina justru membuat ia ingin marah. Tidak memperdulikan ia justru memasukkan juniornya kuat ke dalam Mina. "Aaahhhkkk...!" desah Mina. Kale menjatuhkan tubuhnya di atas Mina. "Lo tahu'kan kalau lo cuma b***k seks gue. Jadi seharusnya lo berhenti untuk menangis" katanya. Sebenarnya ia ingin meminta Mina untuk menghentikan tangisnya dengan perkataan jauh lebih lembut. Tapi ia yang seorang militer dan tidak pernah sekalipun berinterksi intim oleh wanita lain, tidak mengerti cara merayu wanita. Lagipula Kale tak ingin terlihat lemah. Kale kembali berdiri, menarik tubuh Mina tanpa melepaskan miliknya di dalam milik Mina. "Sekarang lo gerak!" titahnya memukul b****g Mina. Mina yang tidak terbiasa duduk seperti ini refleks memegangi leher kokoh Kale. Ia mengikuti mau Kale. Berusaha bergerak sekaligus menahan isak tangisnya. "Hiikksss...hhiikksss..." suara tangis berusaha Mina pendam dalam kerongkongannya. Kale menahan tubuh Mina yang bergoyang kaku. Percuma itu semakin menyiksa miliknya karena gerakkan Mina yang malu-malu. "Kenapa, Mas?!" tanya Mina heran. Kenapa tangan Kale memegangi bahunya supaya menjauh. "Minum dulu... Lo tadi habis makan lupa minum'kan" kata Kale. Mina melirik ke belakang. Melihat ke arah nakas. Yah... disana memang ada satu botol air mineral. Tapi ia bingung bagaimana cara mengambil botol itu. Kale yang paham langsung menyeret tubuh mereka mendekati nakas. Ssrreegghhh... Mina kaget dengan gerak'kan Kale. Tapi Kale terlihat santai saja. "Kenapa gak di lepas dulu?!" tanya Mina bingung. "Gak usah, masukinnya lagi susah. Punya lo'kan sempit" jawab Kale. Entah itu rayuan atau perkataan biasa. Yang pasti Mina merasa berdebar. Dengan susah payah Mina meraih botolnya. Ia langsung meminum air itu terburu-buru. Gglleeekk... gglleeekk.. "Pelan-pelan minumnya!" sahut Kale yang cemas. Cewek ini kayak gak pernah minum ajah. kutipnya dalam hati Mina menyudahi minumnya, melap bibirnya dengan punggung tangannya. "Iyah, Mas! Mas mau minum?!" tawar Mina. Menunjukkan botol yang isinya tinggal sedikit. "Gak usah lo ajah!" sahut Kale sabar menunggu Mina untuk bergerak kembali. Meski juniornya terasa sangat sesak di bawah sana. "Aku sebentar lagi rapi minumnya, Mas. Tinggal dikit lagi" Mina kembali menenggaknya sisanya hingga tandas. Membuat buah dadanya yang di depan wajah Kale membusung ke depan. "Gue minum ini ajah!" hemat Kale menangkup d**a Mina. Mina melotot melirik tangan Kale yang menutupi d**a kirinya. "Aku gak ada susunya!" balasnya sambil menerjapkan matanya pelan. "Gue juga tahu...." balas Kale seraya melintir ujungnya. "Iiisshhh..." desis Mina perih. Ia bergoyang, membuat milik Kale semakin lekat masuk ke dalamnya. "Aahkk... terus, Udik!" pinta Kale. Kuat Mina menggoyangkan lagi tubuhnya, apalagi rasa sakit tak lagi ia rasakan sejak awal ia berada di atas. Bahkan Mina tadi hampir lupa jika Kale ada di dalamnya. Kale melumat d**a Mina yang sudah menegang. Ia cukup tahu jika Mina sudah tersulut gairahnya. Wanita itu bahkan merapatkan dekapannya di leher Kale. Sehingga mulut Kale semakin mudah melahap p******a Mina. "Aahhhkk...!" Mina ingin menolak lumatan kasar Kale di dadanya, tapi seluruh tubuhnya terpanggil untuk menuntaskan sesuatu dalam dirinya. Ia bergerak secara insting, hanya mengikuti naluri sebagai seorang manusia biasa yang bagaimanapun memiliki dorongan birahi. Sebenarnya Mina membenci reaksi alaminya. Tapi semua yang dalam diri Kale terlihat sangat seksi bagi siapapun. Bahu yang kuat serta punggung yang lebar dengan dilengkapi otot samar merangkai setiap inci kulitnya. Jangan lupakan dadanya yang bidang. Begitu nyaman rasanya berada dalam dekapan pria itu. Apalagi jika ia jauh lebih memakai perasaannya. Sayang, hatinya kaku sebab kebencian yang sejak awal ditaman dan disiram hingga tumbuh besar oleh Rose. Mina semakin mengenjot miliknya ke atas dan ke bawah. Terkadang melakukan gerakkan seakan mengulek milik Kale. Lelaki itu hanya mampu terpejam penuh kenikmatan. Ia terlalu lelah menyusu di kedua d**a Mina yang mungkin sudah merah merekah karena ulahnya. Setengah jam sudah, tapi baik Kale dan Mina belum sampai pada apa yang mereka inginkan. "Eeegghh... Eeuuh..." "Terus, Udik!" lirih Kale berat "Aku gak kuat, Mas!" jujur Mina yang merasa ada sesuatu hal ingin meledak dari dalam dirinya. Kale paham, ia berniat mengganti posisi mereka. Kale mendirikan tubuh Mina yang telah lunglai begitu letih dengan gerakkannya sejak tadi. "Aahhkkk...!" terlalu lemas, Membuat Mina ingin jatuh. Beruntung lengan kekar Kale menahannya. Iapun membalikkan tubuh Mina "Sekarang lo nunduk, Udik!" suruhnya. Mina spontan menundukkan wajahnya. Kale menggeleng, bukan itu maksudnya. Tapi tubuh Mina lah yang ia minta merunduk agar ada jalan untuk juniornya kembali masuk ke dalam Mina. Masih dalam hasratnya, membuat Kale mengelus tengkuk Mina penuh nafsu, menekuk punggung wanita itu dan memintanya bertumpu pada sebuah nakas ada di depannya. "Mas...!" pekik Mina kaget. Kenapa tangan Kale menahan punggungnya untuk tak bergerak. Ia menengok, ada Kale yang sudah menempel di belakangnya. Cepat lelaki itu mencari jalan, memasukkan juniornya kembali di dalam Mina. "Aahhkk...!" desis Mina seraya merapatkan mulutnya kuat karena Kale sudah kembali memasukkan miliknya ke milik Mina. Mina menggigit bibir bawahnya kuat seraya terpejam. Ia juga memukul-mukul meja nakas itu merasa sangat tak tahan. "Cukup, Mas!" jeritnya Tak memperdulikan Kale terus menggenjot dirinya "Mas... Aku gak kuat!" lirih Mina, satu tangannya ke belakang berusaha menggapai tubuh Kale, namun Kale justru menyingkir. Dan menahan tangan Mina. Sekarang posisi Mina sedikit miring tiga puluh derajat menghadap Kale membuat lelaki itu bisa melihat sisi samping d**a Mina. Kale membungkukkan tubuhnya kembali meletakkan kedua tangan Mina untuk mencengkram ujung nakas. Lalu ia melumat bibir Mina. Semua itu ia lakukan tanpa melepas miliknya di dalam inti kenikamatan Mina Mina yang tak kuat lagi hanya mampu menerima semua perlakukan Kale padanya Ia bahkan ikut membalas ciuman Kale. 'Bagus... Gitu dong, Udik!' bathin Kale puas Nafas Mina tersengal, mungkin jika Kale tak melepaskan pagutannya ia akan betul-betul pingsan. Cepat Kale menegapkan tubuh Mina, merangkul pinggulnya. Membuat Mina melepaskan pegangannya di ujung nakas. Kale mencabut miliknya sebentar dari dalam Mina. Sementara Mina tak mampu lagi bereaksi. Netranya terpejam dengan bibirnya yang sudah membengkak. Ia hanya menyender di d**a Kale sebagai tumpuannya. Sisa-sisa percintaan mereka begitu terasa di raganya, bahkan peluh belum sebulirpun sempat ia hapus dari wajahnya. Dadanya naik turun mencoba mengatur nafasnya. Dan Kale sangat menyukai menatap Mina yang terlihat begitu tersiksa karena ulahnya "Udah capek, Dik?!" ledeknya. Sedikit Menyingkirkan rambut Mina yang menempel di curug lehernya sendiri. Kale mengecup leher basah Mina. Awalnya hanya kecupan ringan membuat sesaat Mina terbuai dengan kelakuan suaminya itu. Tapi lama-kelamaan Kale menggigit lehernya, seraya mengisap kuat. "Aahhh...!" reaksi Mina ingin menjauh kepalanya dari Kale. Tapi lelaki itu menahan pinggulnya membuat ia tak bisa bergerak. Tiga tanda Kale ciptakan di leher mulus Mina. Kemudian ia membalikkan tubuh istrinya. "Lihat gue, Udik!" kata Kale kasar Sekuat tenaga Mina membuka matanya mengikuti mau Kale. Keduanya saling tatap, meski pandangan Mina masih begitu sayu. Tapi ia masih bisa melihat senyuman nakal keluar dari bibir Kale. 'Apa yang mau lelaki ini lakukan lagi padaku?!' bathinnya kalut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD