DUA PULUH TUJUH

1735 Words

Anissa mengetuk kamar Adji dan masuk setelah mendapat jawaban. “Bagas, nggak makan?” tanya sang mama ketika mendapati anak satu-satunya belum ada di meja makan, malam ini. Adji menghentikan petikan gitar. Dia sedang tidak bernafsu untuk makan. “Nanti. Belum lapar, Ma.” Giliran Anissa menyatukan alis. Tumben Adji menolak makan. Biasanya, jadwalnya selalu teratur, makan tepat waktu, beribadah tepat waktu. Adji adalah anak lelaki kebanggaan keluarga mereka. “Yakin? Ada sate kambing, tuh.” “Nanti aja, Ma. Bagas belum lapar,” jawab Adji lagi. Anissa mengangguk dan meninggalkan kamar. Sementara Adji menghela napas panjang. Seharusnya, tidak boleh ada kehilangan karena hal yang tidak pernah dimiliki. Seharusnya dia tidak kehilangan karena sikap Naraya yang sangat dingin. Kenyataannya, dia sang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD