# Gi meletakkan buket bunga yang ia pegang diatas nisan mungil yang dihiasi oleh sisa-sisa lilin yang sepertinya dinyalakan pada malam sebelumnya. Vayenanda Arruni Darmawangsa, nama yang terukir di atas nisan itu dan Mahendra mengusap perlahan nama di nisan itu. “Kalau dia masih ada, mama-mu pasti akan memanggilnya Va, sama seperti ia memanggilmu dan Vi” ucap Mahendra. “Adek masih ada kok Pa, ada disana….,” ujar Gi sambil menunjuk ke arah langit yang mulai menjelang sore. Mahendra menarik napas pelan, namun tatapannya masih terlihat sendu. Ia ingat ketika kedua putrinya lahir, saat yang sama Arruna akhirnya menyadari kalau kedua anak mereka kembar dan bahwa salah satunya tidak bisa bertahan hidup. Saat itu Arruna memeluk jasad Va dengan erat. “Ini salahku….. ini salahku….” Saat it

