4. Bibit Pelakor

1096 Words
“Dia sangat pintar di atas ranjang, kok Eyang. Kami bahkan melakukannya sampai beberapa ronde,” ucap Regina membuat Agam tersedak. Tidak hanya Agam tapi adik-adik sang suami pun merasakan hal yang sama. Eyang Fatimah tertawa mendengar apa yang dikatakan Regina. Hingga tawanya sedikit reda melihat seorang wanita yang baru saja datang. “Sore Eyang, Tante, Om.” “Astagfirullah …” Regina seketika berucap melihat pakaian wanita yang baru saja datang. Kurang bahan, itulah yang dipikirkannya. Memang dia sudah pernah melihatnya tapi entah kenapa pada wanita yang baru saja datang Regina beristigfar. Sekilas mata Regina melirik ke arah Eyang Fatimah, raut wajah wanita itu berubah. “Kenapa kau ada di sini?” tanya Eyang Fatimah dengan ketus. “Tania yang mengundang Bianca, Ma,” seru Tania sambil tersenyum pada wanita yang baru saja datang. Dari moment singkat itu bisa Regina nilai jika Eyang Fatimah tidak senang dengan kehadiran wanita yang dipanggil Bianca oleh mama mertuanya itu. “Bian, ayo duduk.” Nada bicara Tania sangat jelas terdengar menyukai wanita yang baru saja datang itu. Berbeda dengan kedatangannya yang disambut nada ketus dari sang mertua. “Kenapa kau mengundangnya? Apa kau lupa jika Agam dan istri datang, kenapa malah mengundangnya?” Regina mempertanyakan sosok Bianca. “Ma, sudahlah. Tania hanya mengundangnya.” Hendra, Ayah Agam berusaha untuk menenangkan suasana. Bianca tersenyum, apalagi matanya melihat ke arah Agam yang tengah sok sibuk dengan makanannya kemudian melihat ke arah Regina. “Jadi kamu, istri Kak Agam?” Pertanyaan itu terdengar simple tapi di telinga Regina terdengar ada nada mengejek. Regina menganggukan kepalanya. “Aku wanita yang akan dijodohkan dengan Kak Agam,” ucap Bianca membuat suasana menjadi menengang. “Kenapa kau mengatakannya padaku?” tanya Regina dengan santainya. Agam berdecak, dia tidak suka Bianca membahasnya lagi. “Kenapa harus kau bahas Bianca. Aku sudah menikah sekarang.” Agam membuka suara setelah sekian lama dia membisu. “Aku hanya ingin dia tahu jika kau milikku sejak awal sampai dia—“ “Sampai—pria yang kau bilang milikmu ini kabur dari perjodohan, begitu?” Regina memotong perkataan Bianca membuat wanita itu kesal. “Lagipula tidak aka nada yang berubah jika kau mengatakannya. Kau hanya wanita yang dijodohkan dengannya sedangkan aku jodoh yang dikirimkan Tuhan, sekarang aku istrinya.” “Apa pekerjaan orang tuamu?” Bianca bertanya tapi Regina tidak mengubris. “Apa pekerjaanmu, kau lulusan dari mana?” Lagi-lagi Bianca mencecar Regina dengan pertanyaan. Walaupun Regina tidak ingin menjawab tapi Bianca bukan tipe wanita yang akan mudah menyerah begitu saja. “Saya tidak mau menjawabnya. Lagipula tidak ada keuntungan jika Anda tahu. Bukankah lebih baik Anda diam, makan dan pulang setelah ini? Anda datang untuk makan, kan? Apa di rumah Anda tidak ada yang memasakkan untukmu?” Wajah Bianca memerah menahan emosi. Saat diperjalanan dia membayangkan jika istri Agam berasal dari desa jelas memiliki kepribadian yang lemah lembut. Sayangnya, apa yang dibayangkan itu salah. Agam menatap Regina, ternyata sikap blak-blakan istrinya itu sangat berguna. Bahkan membuat wanita yang selalu menganggunya itu kesal. Sudah lama dia ingin menyingkirkan Bianca tapi tidak pernah berhasil, dia terpikirkan mungkin hadirnya Regina bisa membuat Bianca tidak menganggunya. Tanpa mereka sadari jika ada Azka yang tengah menahan tawa karena Regina. Istri kakaknya itu benar-benar membuatnya tertarik. Mendengar perdebatan singkat di meja makan itu membuat Eyang Fatimah sedikit pusing. “Bianca … Regina. Jika ingin berdebat kalian bisa pergi dari sini,” tegur Eyang Fatimah membuat Regina mengatupkan mulutnya. Wanita lanjut usia itu benar-benar bisa bijak, bahkan saat menantunya mengundang Bianca dia masih memikirkan perasaan Regina yang saat ini menjadi istri cucunya. Dan makan malam pun berakhir. Saat semua orang telah berpindah ke ruang tengah, Regina memilih untuk membantu ART. “J-jangan. Nyonya Gina sebaiknya ikut masuk saja, biar kami yang membersihkan mejanya.” Agam yang menyadari jika sang istri tidak ikut masuk, kembali. “Apa yang kau lakukan di situ?” “A-aku mem—“ “Itu sudah jadi pekerjaan mereka. Ayo masuk!” Regina sebenarnya tidak tega tapi dia pun tidak bisa membantah Agam saat ini. Mau tidak mau dia ikut masuk “Ma, kami pulang dulu,” seru Agam membuat Regina terkejut. Rasanya makanan yang baru saja di makan belum turun sempurna, Agam dengan ide gilanya ingin pulang membuat Regina terkejut. “Kenapa cepat pulang?” tanya Tania. “Kan di sini masih ada Bianca.” “Masih berani kau bertanya Tania, kenapa Agam ingin pulang. Jelas-jelas dia tidak nyaman ada Bianca di sini,” ucap Eyang Fatimah seakan tidak senang dengan perkataan menantunya. “Sebenarnya Gina ingin pulang,” jawab Agam berbohong membuat Regina mencubit suaminya, bisa-bisanya pria itu menjual namanya di saat seperti ini. Bianca mengerucutkan bibirnya. Padahal dia datang untuk bertemu dengan Agam, dia sama sekali tidak peduli jika Agam sudah menikah, lagipula pernikahan Agam dan Regina karena sebuah masalah. Agam segera menarik pergelangan tangan Regina. Melihat itu Bianca pun menyusul dia ingin mengatakan sesuatu pada Agam. “Kak Agam, tunggu …” panggil Bianca membuat langkah Agam terhenti. “Aku ingin bicara sebentar.” “Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Bianca. Aku sudah menikah!” “Tapi kalian tidak saling mencintai!” Regina mencebikkan bibirnya, wanita itu secara terang-terangan menginginkan Agam. “Itu tidak ada urusan denganmu, Bian. Mau pernikahan kami seperti apa, itu urusan rumah tangga kami,” ucap Agam. “Pernikahan kalian tidak akan bertahan karena tidak ada cinta. “Memangnya kenapa kalau kami menikah tanpa cinta? Kami bisa pacaran untuk saling mengenal!” batah Regina, dia menegakan punggung dan menatap tajam Bianca. Dia tidak ingin harga dirinya juga diinjak-injak. “Kau sama sekali tidak cocok dengan Kak Agam. Kau hanya—“ “Gadis dari desa, maksudmu?” Potong Regina. “Maksudmu, karena aku dari desa dan kau dari kota besar kau cocok untuk dia?” tanya Regina sambil menunjuk Agam. Pria itu benar-benar hanya diam. Jika biasanya dia menghindar kali ini tidak, ada Regina dengan ke bar-barnya. “Kau tidak punya hak untuk mengatakan cocok atau tidak, ya. Kami menikah karena kami cocok di mata Tuhan.” Azka yang menjadi penonton pun tidak bisa berkata-kata. Kakak iparnya benar-benar luar biasa. “Itu hanya kesalahan bukan karena cocok.” Tangan yang tengah bersidekap tatapan menantang Bianca, Regina maju selangkah. “Jadi kau pikir kau sangat cocok, ya. Kau pikir jika kau menikah dengan suamiku pernikahan kalian akan bertahan juga? Hanya kau yang menginginkan perjodohan. Kau harusnya sudah mengerti jika dia kabur karena tidak ingin menikah denganmu.” Perkataan Regina menampar Bianca. “Ayo kita pulang saja, aku malas berdebat dengan wanita yang punya bibit-bibit pelakor sepertinya dia,” sindir Regina menarik Agam pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD