3. Menantu Vs Ipar-Mertua

1132 Words
Agam tidak berkomentar banyak, dia sudah biasa dengan sikap Regina seperti itu. “Kau sudah sampai Agam,” seru Tania, mama Agam, ibu mertua Regina. Melihat Regina di belakang Agam membuat raut wajahnya berubah. “Mama pikir kau tidak akan datang bersama dengan istri dadakanmu, Agam." Regina yang mendengar sindiran mertuanya menunjuk dirinya sendiri, istri dadakan? Jelas ia tahu jika yang dimaksud oleh ibu mertuanya adalah dirinya. Agam tidak berkomentar, sedangkan Regina mengekori suaminya. Walaupun di rumah mereka sering berdebat tapi tidak ada yang dia kenal selain suaminya di rumah mertuanya. Apalagi sikap mertuanya yang sangat jelas tidak bersahabat. Saat tiba di halaman belakang rumah, mendadak semua orang menjadi keki, suasana ruang makan berubah mencekam. Tidak ada tatapan persahabatan untuk Regina. “Kau pasti istri dari cucuku, ya?” Seorang wanita rentah menegur Regina, dia nenek Agam, Fatimah. “Eyang!” Agam menyapa wanita itu membuat Regina mau tidak mau harus menyapa. Melihat Agam memanggilnya Eyang, sudah pasti itu wanita yang ingin melihatnya. “Usiamu berapa?” “Dua puluh enam tahun.” Fatimah terdiam. “Beda tujuh tahun dengan Agam, tapi tidak masalah.” Regina hanya cengengesan. Dia tidak tahu harus mengomentari apa lagi, haruskah dia membuat suasananya menjadi nyaman. “Duduk.” Fatimah pun mempersilahkan Regina untuk duduk. Di atas meja semua terhidang makanan yang membuat Regina menelan salivanya tapi, dia pun tidak tahu apa makanan itu cocok dilidahnya yang kampungan atau tidak. Perbedaan keluarganya dan keluarga Agam sangat jauh. “Azka Wilson, adik Mas Agam,” seru pria yang Regina taksir tidak jauh berbeda umurnya dengannya. Cara sapaan Azka padanya menandakan jika pria itu sedikit welcome dengannya, setidaknya itu sudah lebih dari cukup berada di rumah dengan aura neraka, itu pikir Regina. “Regina.” Regina menjawab dengan senyum tipis. “Ini Alana, adik bungsu, seumuran denganmu mungkin.” Azka kembali memperkenalkan anggota keluarganya, walaupun Agam pernah memperkenalkan padanya. Punya mertua baik, itu keinginannya. Sayangnya, Tuhan malah mengirimkan mertua spek ibu tiri jahat padanya. Mau mengeluh tapi dia sadar jika Tuhan pasti punya rencana sendiri untuknya, Tuhan pasti tahu apa yang diberikan-Nya pada hamba-Nya. Peralatan makan yang berada di hadapannya membuat Regina kebingungan harus memakainya. Dia sama sekali tidak tahu cara memakainya, garpu, pisau, sendok jika di desa jelas hanya pakai sendok atau garpu. Dia mengutuk siapa yang menciptakan pisau harus tersedia juga. Sudah cukup lama mereka menyantap makanan, Azka di ujung meja tengah memperhatikan Regina yang tengah menggunakan peralatan makannya. Lucu dan polos itulah yang dilihatnya dari istri kakaknya. “Kau harus membantuku agar Mama aku tidak dijodohkan. Buat mereka percaya dengan pernikahan kita. Kau paham?” Perkataan Agam sebelum berangkat masih saja berkeliling di otak Regina. “Sialan, Kulkas Kutub,” umpat Regina dalam hati. “Apa pekerjaan orang tuamu?” Setelah lama terdiam, Tania akhirnya membuka percakapan. “Petani.” “Huh. Kenapa juga aku harus menanyakan hal yang sudah pasti.” Regina memiringkan kepalanya, dia tidak mengerti. “Kau harus bersyukur menikah dengan Mas Agam, wanita dari kampung sepertimu bisa menikah dengan keluarga kami. Bahkan pekerjaan orang tuamu tidak selevel dengan keluargaku.” Tatapan Regina berubah, tidak masalah jika dirinya yang diremehkan karena berasal dari kampung tapi jika itu menyangkut orang tuanya dia tidak terima. “Memangnya apa yang salah dari pekerjaan petani?” Suara Regina terdengar tegas, di beberapa kata terdengar intonasi ketidaksukaan. Semua mata tertuju pada Regina, termasuk Agam. Tidak terkecuali, Azka. Adiknya, Alana memang sangat ceplas-ceplos dalam mengatakan apa yang dipikirkan. “Hanya saja tidak cocok. Pebisnis seperti keluarga kami bersanding dengan keluarga pertani.” Regina terkekeh sesaat sebelum mengubah raut wajahnya. “Nona Alana, keluarga Anda tidak akan menjadi pebisnis jika tidak ada petani. Memangnya apa yang akan dijadikan bisnis jika petani tidak ada. Bukankah Anda tidak bisa melakukan eksport-import tanpa bahan-bahan dari para petani yang Anda katakan tidak selevel dengan keluarga Anda? Jangan meremehkan satu profesi, Nona. Anda hidup dari orang yang Anda katakan tidak selevel dengan keluarga Anda.” Tercengang. Jelas, siapa yang akan menyangka jika wanita dari desa sepertinya begitu berani mengatakan hal seperti itu dengan sangat tegas bahkan kata-katanya pun tersusun rapi. Bisa dilihat jika public speakingnya sangat bagus. “Kau–” “Cara Anda mengomentari seseorang membuat orang-orang tahu, bagaimana Anda dididik, Nona Alana.” Kali ini kalimat yang keluar dari mulut Regina menampar orang tua Agam secara tidak langsung. Tania yang mendengar hal itu hanya bisa mengepalkan tangan, meremas garpu dan pisau di tangannya. Regina menjadi mendapatkan kartu merah dari mertuanya itu. Tania tidak menyukainya. “Jangan pernah melupakan nilai zero jika Anda sudah ada di level ten, Nona Alana. Lagipula, Anda bukan siapa-siapa tanpa privilege keluarga.” “Lancang sekali kau!” “Saya tidak lancang, saya mengatakan yang sebenarnya. Jadi Nona Alana, saya tegaskan jangan pernah bawa orang tua saja jika Anda ingin menghinaku. Saya memang dari kampung, orang tua saya pun hanya petani yang tidak lulus SD tapi, saya diajarkan bagaimana bersikap pada orang lain dengan seharusnya. Anda sopan, saya akan lebih sopan dengan Anda.” Kini tatapan Alana saling bertemu dengan Regina, bagi Alana itu sebuah singgungan tersirat. “Agam, ternyata kau menikah dengan wanita yang pandai berbicara juga,” sindir sang mama membuat Regina melihat ke arah Agam. Suaminya bahkan tidak membela, Agam hanya diam. Hati Regina sakit, dia pikir hanya di novel-novel yang dibacanya menikah dengan suami dingin, diintimidasi mertua dan ipar. Namun, dia malah merasakan sendiri. Ada perasaan sesak yang sejak tadi ditahan oleh Regina membuat meminta izin ke belakang. Kedua sudut bibir Azka terangkat, dia tertarik dengan istri kakaknya. Tidak pernah ada yang membalas perkataan sang adik, bahkan membuat wajah sang mama memerah karena menahan emosi. Regina benar-benar berbeda dari wanita lain. Sayang sekali, gerutu Azka sambil kembali fokus pada makanannya. Kepergian Regina membuat Azka pun beranjak dari tempat duduknya. “Azka mau ke mana?” “Malas bicara dengan orang-orang yang tidak punya perasaan,” singgung Azka kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan keluarganya. Di toilet Regina memuntahkan semua makanan yang dimakan, bukan karena tidak enak tapi, menahan perasaan menyesakan di dalam hatinya. Bahkan air matanya luruh saat itu juga. Muntah disertai dengan air mata adalah sebuah jawaban jika dia tidak sanggup dengan intimidasi dari keluarga suaminya. “Sudah … sudah, jangan berdebat. Apa tidak bisa kita makan dengan tenang.” Fatimah berusaha menenangkan keadaan yang menegang. “Alana, kau harus menjaga bicaramu. Jangan pernah menganggap kalau kita ini keluarga terpandang.” Alana mengerucutkan bibir. “Dia hanya mendadak jadi kakak iparku. Lagian ini salah Mas yang menolak untuk dijodohkan, liat ‘kan, Mas menikah dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya.” Alana tidak melanjutkan kalimatnya karena Regina baru saja datang. Keadaannya sudah lebih baik dari sebelumnya. “Regina …” Fatimah memanggil membuat wanita yang dipanggilnya menoleh. “Bagaimana cucu saya di atas ranjang?” Pertanyaan itu membuat Regina maupun Agam tersedak makanan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD