Braak!
Pria itu tajam menatap kami berdua. Langkahnya cepat mendekat, dengan tegas dia bicara lantang pada Papa, "Apa yang tengah Anda lakukan pada gadis ini?" Tangannya mengepal sampai terlihat buku-buku tulang yang memutih. Sesaat, aku mengira dia malaikat penyelamat. Namun, tangan kekarnya malah menjambak rambut panjangku. "Argh, sakit!" keluhku tanpa suara.
"Inikah gadis yang akan aku miliki? Nice, kamu cantik!" ucapnya sembari menyimpan kembali kepalaku yang masih sakit karena tarikannya. Aku tak berkata apapun untuk menjawabnya. Saat ini, hanya ada kekakuan yang aku rasakan. Entah takut melihatnya atau karena luka bekas cambukan.
Papa mendekati pria tegap dengan terpogoh, "Ini gadis semata wayang kami, Tuan!" Dia berkata seperti pengecut yang tak punya nyali.
Cih! Ingin rasanya aku memakinya. Bagaimana bisa dia menjadi seorang ayah yang kerjanya hanya bisa menghamba pada harta dan ego.
"Aku akan membawanya sekarang! Apa kamu keberatan, tuan Fredicson?" tanyanya pada papa seraya menatapku kembali. Aku pun menatap sekilas, setidaknya aku tahu makhluk apa yang akan membawaku. Netraku cepat beralih menatap pada papa. Aku menunggu jawabannya dengan cemas. Berharap dia akan menolak keinginan pria yang terus memainkan rambutku dengan jari jemarinya.
"Silahkan, Tuan! Bawa saja gadis tidak tahu diuntung ini. Buatku mereka hanya penghalang kuasaku!" jawabnya dengan nada tinggi. Dia membuang mukanya ke sembarang arah, tapi tak berani menatapku. Sedangkan, aku hanya bisa bergetar mendengar perkataannya. Sakit di tubuhku tidak seberapa dibanding mendengar kejujuran dia yang seharusnya menjadi pahlawan untuk anak perempuannya. "Jadi, selama ini aku dan mama dianggap apa?" gumamku yang entah terdengar atau tidak oleh pria tegap yang masih setia berdiri di sampingku.
Pria dengan setelan jas hitam, makin mencengkram rambutku. Aku hanya bisa menjerit dalam hati.
"Well, Nona. Ayahmu saja tidak menginginkanmu. Murahkah dirimu? Sampai seorang ayah tega memperlakukan anaknya bak sampah di tengah jalan! Fred, urus laki-laki tua ini. Jangan biarkan tubuhnya menikmati semua kekuasaan yang kita berikan!" tegasnya memerintah pada kedua bodyguar.
Papa mendekati pria tersebut, "Tuan Nevelas, ampuni aku. Bukankah aku telah memberikan apa yang kamu inginkan? Termasuk memberikan anak semata wayangku!" Papa memohon dengan menempelkan kepala di sepatunya. Aku tidak mengerti untuk apa dia melakukannya? Merendahkan diri di hadapan orang yang baru dikenal. "Oh, Tuhan! Sungguh aku malu memiliki papa seperti dia!"
"Ampuni aku, Tuan! Aku mohon jangan hilangkan nyawaku!" lirihnya semakin menampakan kegelisahan.
Pria yang disebut Nevelas menarik tubuh Papa, sehingga tak ada jarak antara mereka. "Cih! Kamu hanya seorang manusia licik tak berperasaan. Aku memang manusia paling kejam. Tapi, untuk urusan keluarga ... aku akan melindungi mereka. Tidak sepertimu yang menganggap anakmu hanya sebagai barang!" Kemudian dia menghempaskan tubuh papa ke depan bodyguar.
Aku menyaksikan sendiri, bagaimana dia diseret melewati pintu kemudian menghilang. Hanya jeritan dan permintaan maaf yang terus dia keluarkan dari mulutnya.
Sedangkan, Nevelas mendekatiku dengan senyum smrik-nya. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan terhadapku. Sebisanya aku melantunkan lagu-lagu doa agar dia tidak melakukan hal diluar kendali manusia.
Dia duduk di samping tubuhku yang masih bergetar, kemudian tangannya merogoh sesuatu dari celana hitam bahan. "Lap dulu darah di bibir jelekmu itu!" ucapnya sembari menyodorkan saputangan berwarna krem.
Aku meraih perlahan, seakan sapi yang dicocok aku menuruti semua perintahnya. "Terima kasih!" ucapku seraya mengembalikan saputangannya.
Dia tersenyum sesaat dan berkata kembali, "Simpan saja."
Aku menurunkan kakiku yang masih terlipat. Dia menatap ke arahnya, seakan memindai barang yang akan dibeli. Repleks aku menutup paha yang setengah terbuka karena pada saat ini aku memakai rok blue jeans di atas lutut. "Kenapa menatapku seperti itu?" tanyaku bergeser menjauhi dirinya. Walaupun, masih terasa sakit tapi aku paksakan tubuh ringkih ini untuk bergerak.
"Nona, apa kamu sudah lupa? Kalau kamu sudah jadi milikku!" Bariton tegas terdengar kembali di telingaku. Ketika mendengarnya aku hanya bisa menundukkan pandangan. "Kenapa? Kamu tidak menginginkan aku, Nona?" tanyanya sembari menaikan kedua alis.
"Cih, naif! Cepat katakan apa yang harus aku lakukan?" tanyaku dengan nada tinggi seraya menegakkan kepala. Ini adalah simbol perlawananku yang sudah begah dengan basa basi. Biarlah dia mau menilaiku seperti apa? Yang paling penting aku sudah menunjukkan rasa kesal kepadanya.
Prok! Prok!
Dia bertepuk tangan di sebelah telinga kananku. "Waw, interesting! Kamu liar juga! Good, i like you!" Suaranya seperti mengejek dengan tatapan mata tajam menghunjam.
Kemudian dia menarik kaos putih yang aku pakai. "Kenapa dia menarik kaosku dengan kasar? Ya, Tuhan! Selamatkan hambamu ini!" teriakku di dalam batin. Aku bergerak berusaha berlari menjauhinya. Aku tidak mau harta yang selalu aku jaga selama dua puluh tiga tahun harus direnggut oleh laki-laki yang belum menjadi suamiku.
"Mau ke mana?" tanyanya dengan suara keras. Tangan panjangnya dengan cepat menarik pinggangku. Alhasil, tubuh rampingku mendarat di atas pahanya.
Bugh!
Kini, seringai licik tercipta di bibirnya. "Mau kemana, Sayang? Tetap di sini dan jangan berontak!" Dia membelai pipiku dengan jari-jemarinya yang hampir menutupi seluruh wajah tirusku.
"Kamu cantik, Tatiana Fredicson! I like you!" ucapnya sembari mendekatkan bibirnya pada bibirku. Perlahan bibirnya menempel, ku biarkan sesaat permainannya.
Krek!
Ku gigit bibirnya sampai dia terluka. Dia meringis karena kuatnya gigi-gigi tajamku. Tanpa basa-basi dia langsung bermain gila di atas bibirku. Sesaat, aku tidak bisa bernapas, kemudian dia melepasnya sebentar dan kembali memagut.
"Ini hukuman karena kamu telah lancang melukai seorang Nevelas Vernon!"
Tanpa sadar lelehan air mata kembali, membasahi pipiku. "Aku minta maaf! Aku mohon lepaskan aku, Tuan!"
"Hahhahha!" Tawanya pecah seakan mengejek kelemahanku.
"Aku sudah bilang menurut tapi lihat apa yang telah kamu lakukan kepadaku!" Dia berteriak sembari melempar kepalaku ke sandaran sofa yang tengah kami duduki.
"Ikut aku!" perintahnya dengan tegas. Berpikir sejenak sembari menenangkan pikiran yang aku lakukan pada saat ini. Namun, belum sempat aku berpikir dia meraih lenganku dengan kasar dan memaksa tubuh ini mengikutinya.
Nampak empat orang bodyguar mengikutinya. Bibirku hanya bisa melongo dibuatnya, bukankah tadi ada dua orang yang membawa papa. Tetapi, di sini masih ada yang lainnya. "Oh, My Lord. Siapa manusia yang tengah menyeretku ini?"
Setelah melewati beberapa ruangan yang telah sepi dari para karyawan. Kami memasuki lift dan dia membanting tubuhku sampai ke pojokan. "Awas saja! Kalau kamu berani melarikan diri lagi. Aku tidak akan segan membuat hidupmu lebih menderita dari yang di lakukan oleh tua bangka itu. Camkan, gadis kecil!"
Mataku tak berani lagi menatap seperti yang aku lakukan tadi di ruangan Papa. Dalam hati hanya ada kata umpatan untuk mereka kamu Adam yang selalu menertawakan dan memanfaatkan segala kelemahan kaum hawa.
Ting!
Pintu lift terbuka dan aku melihat enam orang berbaju serba hitam berbaris mempersilakan kami untuk masuk ke dalam mobil Limosin warna hitam. Begitu mengkilat, ban mobil begitu bersih. Seakan tak pernah menyentuh jalanan.
"Masuk!"
Aku menuruti saja kemauannya. Ketika di dalam mobil mataku tak bisa diam karena luasnya mobil. Mungkin sepuluh orang temanku bisa ikut masuk kedalam ruangan ini.
"Hai, Nona! Belum pernah menaiki mobil sebagus ini kah?" Dia meledek dengan tatapan penuh geli melihat pada wajahku yang masih celingukan.
Aku baru tersadar ketika dia mengangkat tubuhku, dan menyimpan di pangkuannya. Aku bergerak-gerak, setidaknya melawan dengan segala macam cara.
"Hai, Nona! Semakin bergerak maka kamu telah membangunkan hasratku untuk memiliki tubuhmu!" Suara baritonnya berubah menjadi parau. Dan aku baru tersadar akan apa yang tengah aku lakukan. Aku menatap berang ke arahnya, sedangkan dia tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu mau mencoba bermain di dalam mobil, Nona Fredicson?"