Aku Sudah Melihat Semuanya

1102 Words
"Do you wanna play with me?" tanya Nevelas padaku dengan wajah yang telah berubah bak pria nakal di klub malam. Aku menggerakkan kembali tubuhku, menyingkir dari orang ini mungkin akan lebih baik. Dengan sekuat tenaga aku berusaha bangkit dari pangkuannya. Namun, tangannya semakin mencengkram pinggangku. Napasnya begitu terasa di atas leher kemudian tengkuk, dia sengaja memancing kelemahanku. Aku mulai terbuai dengan perlakuannya. Tapi, aku mencoba menguatkan diri untuk tidak merespon apa yang dia mau. Dengan menghela napas panjangnya, Nevelas menyimpan tubuhku disampingnya. Kemudian aku melihat dia merogoh suatu benda dari dalam saku jasnya. Benda yang mengkilat ketika terkena cahaya. Tak lama dia menaruh tanganku di atas pahanya. Dengan senyum smrik, dia mulai menempelkan benda itu di lenganku yang mulus. Satu sayatan tergores di tanganku, sakit, perih yang aku rasakan. "Are you crazy? Kenapa tanganku, kamu lukai, Tuan?" tanyaku sembari mencoba menariknya. Namun, dia tetep menahannya. Kemudian tanpa risih dia menghisap darah yang mengalir dari lenganku. Ada sensasi aneh yang aku rasakan pada saat ini. Perih, namun kenapa terasa menenangkan. "Ahh, aku baru pertama merasakannya," ucapku dalam batin. "Do you like it?" Dia bertanya disela kegiatannya. Aku hanya melihatnya dengan tatapan tak percaya. Kenapa aku tak bisa berbuat apa-apa? Padahal jelas-jelas dia dengan sengaja melukaiku. "Aku tidak tau!" jawabku ketus dan pendek. "Kamu akan terbiasa dengan ini, dan mungkin kamu akan menyukainya!" Tatapannya semakin tajam mengarah padaku. Setelah darah di lenganku tak keluar lagi. Dia menarik tengkuk, tapi aku menahannya. Tak sudi aku menyerahkan harga diriku pada orang yang telah memaksaku mengikutinya dan aku pun teringat, bagaimana kondisi Papa saat ini? "Dasar gadis liar! Menurutlah padaku!" Baritonnya semakin tegas, rahangnya mengeras. Kemudian jari-jarinya seakan besi yang mencengkeramku. Benar-benar sadis, dengan sengaja dia mencekik leherku. "Tuan, le–lepas, Tuan!" Aku memohon karena persediaan oksigen dalam tubuhku semakin berkurang. Sesekali aku memukul tangannya, mencoba menyadarkan perbuatan yang tengah dia lakukan. Namun, semua sia-sia. Kepalaku terasa berdenyut, apalagi kerja jantungku sudah tak beraturan lagi. "Sudah menyerah, Nona?" Dia bertanya sembari menatap netraku yang mungkin telah berubah menjadi sayu. Aku hanya bisa mengangguk karena aku tak tahan lagi. Kemudian dia melepaskan cengkeramannya. Sesaat aku terbatuk, mungkin udara terlalu cepat menuju paru-paruku. "Jadi, apa aku boleh memiliki kamu, Nona?" tanyanya sembari membelai punggungku. Aku hanya bisa menghela napas, "Hari apa ini? Begitu banyak kejadian yang menimpaku," lirihku seraya mengeluarkan air mata yang tak sanggup lagi terbendung. "Maaf, Tuan. Aku tidak akan menyerahkan kesucianku pada sembarang orang!" bantahku. "Waw! Kamu masih suci? Aku tidak percaya, di jaman sekarang masih ada gadis yang masih mempertahankan harga dirinya." Tatapannya terus mengarah padaku. "Itu prinsipku, Tuan!" "Kalau begitu besok kita akan mengadakan pesta pernikahan. Tapi, jangan harap kamu bisa menguasai diriku!" "Apa? Menikah denganmu? Satu abad pun, aku tidak akan luluh. Walaupun, Anda membawa semua harta. Aku tidak Sudi menikah dengan Anda, Tuan!" tegasku sembari melipat kedua tangan di atas dadaku. Dia menampar kedua pipiku dengan keras dan setelahnya aku hanya bisa meraba pipiku yang masih terasa panas. "Kalau kamu menolakku sebagai suami. Maka, aku akan menyayat tubuh Papamu sampai dia merasakan sakit disetiap sendinya!" Senyuman licik tercipta kembali di bibirnya. Walaupun, aku sangat membenci Papaku, tapi aku tidak rela dia disiksa oleh mafia sekelas Nevelas Vernon. "Baiklah aku akan menuruti segala kemauanmu, Tuan," lirihku, entah terdengar atau tidak. "Good girl. Dua hari lagi kita menikah!" ucapnya yang berhasil membuat tubuhku melemah tak berdaya. *** Dua jam perjalanan kami tempuh menuju tempat yang dia tuju. Mataku takjub ketika aku keluar dari dalam mobil. Seperti di dalam mimpi, kini aku berdiri di sebuah rumah besar. Mungkin bukan sebuah rumah, tapi ini mansion mewah yang baru aku lihat sepanjang umur. Para pelayan dengan seragam hitam putih, berjejer saling berhadapan. Tatapannya menunduk, tak ada satu orangpun yang berani mengangkat kepalanya ketika kami melewatinya. Aku masih bertanya-tanya siapakah Nevelas? Harta yang melimpah di depan mata, orang-orang setia menghamba padanya. Belum lagi tersadar dari semua lamunanku, dengan sengaja dia, mengalungkan tangan pada bahuku. "Aku akan tunjukan, kamar sementara untuk kamu! Sebelum kita akan bersama dalam satu kamar!" Aku terbelalak mendengarnya. Dia tidak memaksaku untuk menemaninya, syukurlah. Jadi aku bisa menghindarinya beberapa saat, atau mungkin aku akan mencoba untuk kabur ketika dia lengah. Lamunan terus menari dalam benakku. "Aw, Tuan! Kenapa menjambak?" tanyaku sembari meringis, karena tiba-tiba dia menjambak rambutku. "Aku tidak suka dengan orang yang selalu berpikir macam-macam! Ingat Nona, aku Nevelas Vernon tidak akan membiarkan kamu lolos dari pengawasanku! Jadi, jangan mencoba untuk melarikan diri." Hah! Kenapa dia bisa tahu recanaku? Aku harus lebih berhati-hati terhadapnya. Setelah melewati beberapa kamar, pada akhirnya dia membukakan pintu. "Nah, tidurlah! Besok kita fitting gaun pengantin. Jadi istirahatlah dengan tenang!" Aku mengangguk untuk menjawabnya karena aku takut dia akan melakukan hal-hal yang aneh. Segera aku masuk ke dalam kamar dan segera menutupnya. Mataku terbuai tak percaya dengan segala barang yang tersusun rapi dan bisa dipastikan ini adalah barang mahal. Aku menyusuri setiap detail dari ruangan ini. Seperti yang baru saja melihat barang mewah, jiwa miskinku ternganga melihat semuanya. Aku mendekati kasur yang terbuat dari kayu ukiran. Seprai putih mendominasi, seakan mengajakku untuk berbaring dan menghempaskan tubuh lelahku. Kemudian terbersit dalam otakku yang kecil ini, untuk melompat-lompat di atas kasur. Walaupun, tubuhku sakit dan penuh dengan luka. Tapi, jiwa penasaranku lebih menguasai. Perlahan aku menaiki kasur dan meloncat kecil. Tanpa sadar aku terus melompat dengan kencang. Beberapa kali lompatan, mampu membuat tubuh dan jiwa ini terhibur sesaat. Lompatanku mungkin terlalu kencang, sehingga tubuh terhempas keluar dari kasur. Aku merasa, pasti akan jatuh dilantai. Namun, yang ada aku merasakan ada seseorang yang menangkap tubuhku dengan sigap. Grep! Kini tubuhku ada dipangkuannya. Dengan wajah datar, dia menurunkan tubuhku yang masih terbalut dengan pakaian yang sama. "Mandi dulu! Aku akan mengobati semua luka di tubuhmu!" "Untuk apa, Tuan menolongku?" tanyaku. Dia menaikkan kedua alisnya, "Kamu akan menjadi pengantinku, sudah seharusnya aku menjaga semua yang menjadi milikku." Kemudian dia memberiku sebuah paperbag berwarna hitam. "Pakailah! Asistenku yang membelikannya, jadi dia juga tidak tahu seleramu!" Sesaat aku terharu mendengarnya. Apapun alasannya, tetaplah dia memikirkan semuanya. "Baiklah, aku masuk kamar mandi dan membersihkan luka!" Aku menjawab seadanya. Dia hanya mengangguk tanpa menatapku. Di dalam kamar mandi aku takjub kembali dengan peralatan mewah. Perlahan aku mengisi bathtub dengan air hangat, sengaja aku mencampurnya dengan aroma terapi yang telah tersedia. Aroma Orchid begitu menenangkan. Aku masuk ke dalamnya dan merasakan rasa perih karena tubuhku masih banyak luka. Beberapa saat aku terhanyut dan mungkin tertidur, karena aku terbangun oleh tangan kekar yang tengah memijit bahuku. Refleks aku terbangun dan menutupi dadaku dengan kedua tangan. Walaupun, tidak semua tertutupi, tapi setidaknya aku berusaha tidak menampakkan tubuhku di depan pria yang belum sah menjadi suamiku. "Turunkan tanganmu, aku sudah melihat semuanya!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD