Adel vs Giselle..

1081 Words
 Saat Bian tengah asik menonton televisi tiba tiba ada seseorang yang menutup matanya dari arah belakang "Ck, Shafa buka nggak, tangan kamu bau tau!"  "Hmm.. kamu nggak kenal aku Ay" ucap wanita yang telah menutup mata Bian dari belakang   Betapa terkejut nya Bian ketika mendengar suara wanita di belakang nya, saat Bian menoleh ke belakang dia melihat seorang wanita dengan wajah yang memberengut  "Giselle, kamu!" kata Bian sedikit tak percaya   Giselle pun tersenyum lalu berjalan dan mendudukan dirinya di samping Bian, Giselle adalah kekasih Bian sebelum dia di jodohkan dengan Adel dan sampai sekarang pun ternyata mereka masih menjalin hubungan, tanpa sepengetahuan Roy pastinya. Bian merasa kesal karena dia tidak mau berpisah dengan kekasih nya tapi bukan Roy jika tidak bisa membuat anak nya melakukan apapun yang dia inginkan  "Kamu ngapain kesini Ay?" Tanya Bian yang bingung kenapa bisa wanita di hadapan nya ini bisa datang ke rumah nya lebih tepat nya lagi adalah rumah kedua Orang Tua Bian apalagi saat ini ada adik perempuan nya juga disini "Aku kangen kamu lah Ay, aku nggak boleh kangen sama pacar aku sendiri huh" jawab nya dengan wajah yang memberengut membuat Abian tak tega   Bian pun mengenggam tangan kekasih nya lalu berucap. "Bukan nya begitu Sayang, kamu kan bisa telepon aku kalau kangen sama aku, nanti aku yang samperin kamu ke rumah"   "Dari kemarin aku hubungin kamu tapi handphone kamu nggak aktif gimana aku mau bilang nya kalau kaya gitu" kesal nya pada Abian    Abian melupakan ponselnya dia pun tidak tahu di mana ponselnya saat ini mungkin ada di kamar nya   "Maaf Ay, seperti nya ponsel ku mati" ucap nya penuh penyesalan    Giselle tetap memasang wajah murung nya "Kenapa kok muka nya di tekuk gitu sih, katanya kangen sama aku?"   "Semalam kamu ngapain aja sama istri kamu!"   "Hmm.. aku nggak ngapa-ngapin kok Ay, serius. Aku nggak mungkin kan hianatin kamu" ucap nya seraya mengelus puncuk kepala kekasih nya   "Awas ya kamu macem macem!" Peringat nya pada sang kekasih    Abian pun tersenyum menatap lekat lekat wajah sang kekasih yang sudah sangat dia rindukan, Abian merentangkan tangan nya "Mau peluk"   Tanpa menunggu lebih lama lagi Giselle pun langsung berhambur memeluk tubuh Abian, menyembunyikan wajahnya di d**a bidang kekasih nya yang sudah menjadi suami dari Adel.  "Mas Bia.." preeeng...   Suara nampan yang jatuh ke atas lantai membuat sepasang kekasih yang sedang berpelukan malepas rasa rindu satu sama lain terperanjat di buat nya.   Shafa membulat kan matanya dengan bibir yang menganga dan wajah terkejut nya "Ma-Mas Bian!!"    Shafa benar benar dibuat shock oleh sang kakak, bagaimana bisa dia berpelukan dengan mantan kekasih nya itu, setahu Shafa kakak nya itu seharus nya sudah tidak menjalin hubungan dengan Giselle karena sekarang dia sudah menjadi suami dari Adel, yang menjadi kakak iparnya saat ini.   Adel yang tengah membuat teh pun dibuat kaget dengan suara nampan dan toples yang berjatuhan  "Kenapa Shaf?" tanya nya panik masih belum menyadari dua orang yang terduduk diatas sofa  "Hah. Aku nggak apa-apa kok Mba" jawab nya lantas Adel pun menatap dua orang yang terpaku duduk di atas sofa sana.   Adel membulat kan matanya, bibirnya terasa kelu, dadanya terasa sesak matanya panas melihat sang suami duduk berdua dengan seorang wanita yang bukan mahram nya dengan tangan yang saling betaut. Shafa sampai tidak habis fikir dengan kakaknya, bagaimana bisa dia tetap menjalin hubungan dengan Giselle padahal dirinya sudah menikahi Adel.  "Emm, hai Shafa" sapa Giselle dengan raut wajah sedikit gugup, karena melihat wajah Shafa yang tidak bersahabat ketika menatap nya   Shafa tidak menanggapi sapaan Giselle, dia lebih memilih menoleh kearah Adel sang kakak ipar dengan raut wajah penuh penyesalan dan iba terhadapa kakak iparnya "Mba" panggil Shafa yang melihat Adel masih terpaku di tempatnya, gadis manis itu pun mengelus lembut punggung Adel menyalurkan kehangatan membuat Adel mengalihkan pandangan nya pada Shafa.    Adel menyungging kan senyumannya pada sang adik ipar "Em, Shafa tolong ambilkan sapu ya" Shafa pun mengangguk dan berlalu ke belakang untuk mengambil sapu, Adel berjongkok mengambil pecahan kaca yang besar dari toples yang terjatuh tadi, sampai suara deheman seseorang menghentikan aktifitasnya.  "Ekhem, bisa bicara sebentar?" tanya seorang wanita membuat Adel mendongak menatap asal suara dan wanita berhijab itu pun lantas berdiri.  "Bisa kita bicara?" Ucap ulang Giselle, dengan sedikit rasa ragu Adel pun mengangguk  "Kita bicara di taman belakang" ucap Adel mereka berdua pun berjalan dengan Adel berada di depan dan Giselle yang mengikuti nya di belakang, sesampainya di taman belakang mereka mendudukan dirinya di atas kursi besi taman yang menghadap ke arah kolam renang.    Untuk sesaat hanya ada keheningan yang tercipta sampai Giselle membuka suaranya.  "Kamu tau, dulu aku selalu bermimpi untuk bisa membangun rumah tangga yang bahagia bersama Bian, memiliki Buah Hati yang lucu-lucu dan Bian akan selalu bermain dengan mereka, aku selalu berharap impian ku itu menjadi kenyataan, karena ketika aku memikirkan nya itu terasa seperti nyata. Tapi semua impian ku hancur karena kedatangan tamu yang tak di undang di hubungan kami, kamu tau bagaimana rasanya, ketika impian yang kita selalu impikan itu sirna begitu saja.. " Adel terdiam menyimak setiap perkataan yang terlontar dari bibir Giselle "Aku harap kamu bisa paham karena kita sama-sama seorang wanita, lepaskan Abian tinggalkan dia, agar aku bisa menata kembali mimpi-mimpi ku yang telah berhasil kamu hancurkan!"    Sesaat Adel terdiam setelah mendengar setiap ucapan yang terlontar dari bibir Giselle "Maaf, aku tidak bisa meninggalkan dan melepaskan Mas Bian, karena kami telah mengikat janji atas nama Allah suatu ikatan yang suci, maaf bukan nya aku egois hanya saja aku juga ingin mempertahankan apa yang sedang aku bangun"   "Tapi Bian sama sekali nggak mencintai kamu, dia hanya akan mencintai aku seumur hidup nya, apa kamu tetap akan bersamanya. Hidup bersama seseorang yang tidak akan pernah mencintai kamu!!" Tekan Giselle    Adel menampilkan senyum manisnya "Karena aku punya Allah, dengan kehendak-Nya, Dia bisa membolak balikan hati manusia. Aku percaya semua ini sudah jalan takdir yang Dia berikan dan kehendaki untuk aku, aku percaya akan ada pelangi setelah badai datang. Dan aku akan menunggu pelangi itu. Jika tidak ada yang akan kamu katakan lagi aku permisi" Adel pun beranjak dari duduknya dia sudah tidak bisa menahan tangis nya jika terus berada di samping Giselle. Berada di dekat Giselle akan terus membuatnya merasakan sakit  karena melihat perlakuan Abian kepada nya dan Giselle sangat berbanding terbalik, tapi dia sadar pernikahan ini atas dasar perjodohan bukan kehendak Bian sendiri tapi Adel pun tidak bisa mengakhiri pernikahan nya begitu saja hanya karena Giselle, itu tidak boleh terjadi.    Giselle terpaku ditempat nya "Ternyata nggak semudah itu buat bikin lo nyerah dan mundur dari pernikahan konyol ini" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD