Pagi yang sama, matahari masih terbit dari timur, langit pun masih berwarna biru dengan sedikit awan putih menghiasi. Namun, suasana ini sungguh berbeda. Terbangun di rumah orang lain dan menyaksikan sang pemilik menyiram sambil berbincang dengan tanamannya dan satu tangan lain membawa secangkir teh, tentu saja bukan pemandangan yang umum Andra dapatkan. Kelopak matanya masih cukup berat untuk terbuka, tetapi ia tak ingin melewatkan sedetik pun momen langka ini. Mungkin, hanya ini satu-satunya kesempatan Andra untuk merasakan pagi dengan sambutan cerah dari wanita yang selama ini selalu menjadi bunga tidurnya. “Oh, Good morning, Sir!” seru Alice setelah melihat Andra yang sudah terjaga. Alice mengernyit bingung saat pria itu tak kunjung membalas sapaannya dan malah terus memperhatikannya

