"Saya mau jadi kekasih Pak Jaxton." jawab Anas tanpa ragu. Senyum samar terlihat dari sudut kedua bibir Jaxton. "Jawaban yang sangat pas. Kalau begitu, temani saya makan siang." balas Jaxton sambil jalan tanpa menunggu jawaban Anas. Jaxton berjalan dengan semburat senyum kemenangan, hatinya berbunga. Kaki panjangnya berjalan dengan elegan, tangan kanan berada di saku celananya. Sungguh tampan sekali dia, saat senyumnya tidak luput dari bibirnya. Anas yang sadar menoleh ke Jaxton dan berlari kecil mengejarnya. "Pak Jaxton tunggu. Tunggui saya, kenapa jalannya cepat banget sih." Jaxton tiba-tiba berhenti. Brugggg... "Awwwww." Anas mengadu sakit seraya menyentuh dahinya. Jaxton buru-buru berbalik. "Kau tidak apa-apa?" tanya Jaxton sedikit berbungkuk untuk menjangkau dahi Anas. Wajah me

