••
Seperti permintaan Marvel sebelumnya agar Abeen menjaga dan ngelola cafenya untuk sementara itu dijalankan dengan baik. Marvel cuma bilang kalo dia akan menemani Maria dalam masa-masa sulitnya.
Mulai dari pembukuan, perekrutan dan t***k-bengek lainnya, Abeen dibantu Han mengelola cafe Marvel. Untuk balas budi dan permohonan maaf atas apa yang terjadi pada dirinya dan Maria. Dan dua tahun ini, Abeen sama sekali nggak dapat kabar apapun dari gadis itu. Senyap. Buntu. Jangankan kabar dari Marvel, sekadar kabar dari akun medsos milik Maria pun nggak ia dapatkan. Padahal cewek itu pecinta kuliner. Harusnya ia tahu sedikit kabar tentangnya.
Nyak Romlah memang mencabut gugatannya. Tentu saja dengan pertukaran yang setimpal. Dia harus setuju dan nerima usulan lamaran Nyaknya pada Sari. Abeen udah pasrah.
Namun, Abeen sedapat mungkin mengulur waktu. Sungguh, kayak pengecut nggak tahu diri! Terhalang restu Nyak Romlah dan terlanjur mengucap janji. Pantang buat Abeen ingkar janji. Cowok yang dipegang itu janjinya.
Sepulang dari cafe, lelah menyergap. Tiga hari ia nggak pulang, karena kebetulan cafe sedang rame-ramenya. Apalagi para konsumen tahu kalo di cafe itu ada cogannya, anak band yang lagi naik daun pula.
"Been," sapa Nyak Romlah sambil menyodorkan segelas teh manis hangat.
"Makasih, Nyak." Abeen menerima gelas itu lalu meneguknya hingga tandas.
"Been,"
"Maaf ya Nyak, Abeen capek. Besok lagi ngobrolnya. Cafe tadi rame, besok pagi juga Abeen ada kuis di kampus."
Sengaja Abeen buru-buru menyela,
sebisa mungkin ia menghindar dari interogasian Nyak Romlah. Ia takut emosi. Kalo sampe emosi, Abeen menggeleng, jangan sampe!
"Besok kapan? Pagi-pagi banget lo udah ngabur, lo ngindarin Nyak Been! Nyak pengen ngomong serius sama elo, bujang!" seru Nyak Romlah.
"Nyak udah tua. Siapa yang ngurus Nyak kalo bukan lo? Nyak bukan pamrih, Nyak pengen lo hidup teratur, bahagia dunia akhirat. Apa Nyak salah?"
Mendadak raut Nyak Romlah merengut kesal.
Abeen mengangguk,"Abeen kan lagi usaha Nyak. Abeen kuliah, Abeen juga kerja. Apalagi?"
"Bukan cuma dunia aja, Been. Buat akhiratnya mana? Nyak udah kagak pernah liat lagi lo ngaji, salat. Trus, janji lo yang katanya mo ngelamar Sari, mana buktinya?"
Matanya memejam. Capek, ditanyain hal ini mulu.
"Nyak, Abeen salat masak harus laporan sama Nyak? Abeen udah gede. Makasih Nyak ngingetin Abeen. Abeen nggak lalai sama kewajiban Abeen sebagai muslim kok. Kalo ngaji, iya Abeen belum ada waktu. Maaf, kalo soal lamaran Sari, Abeen udah bilang nanti udah Abeen lulus. Untuk saat ini belum kepikiran," elaknya.
Raut lelah anak sulungnya itu membuat Nyak Romlah terdiam.
"Lo nggak demen beneran sama Sari?"
"Buat apa Abeen jawab? Ngejawab iya apa nggak, buat Nyak sama aja kan? Pilihan Nyak tetep Sari. Sari yang terbaik, yang solehah, yang perhatian sama Nyak. Iya kan?"
Nyak Romlah diam.
"Abeen lagi nunggu Maria, Nyak. Kalo emang dia udah nggak bisa Abeen jangkau, bukan jodoh Abeen, dan dia udah bahagia, baru Abeen bakal lepasin Maria. Marvel belum pulang, cafe nggak ada yang ngurus. Itung-itung ini permohonan maaf Abeen sama Marvel dan Maria. Semoga Nyak ngerti," lanjutnya.
Lihat Nyaknya cuma mematung, Abeen beranjak.
"Maaf,"
Lalu Abeen masuk ke kamar. Nggak mau liat Nyak Romlah nangis yang nanti malah bikin hatinya kocar-kacir dan nangis darah. Nggak!
Rebahan. Natapin wallpaper ponselnya, ngeliat foto mereka berdua. Dulu. Senyum terukir. Jempolnya mengusap wajah di wallpaper itu.
"Gue kangen Ya," lirihnya.
"Kalo aja gue tahu lo dimana, gue pasti susulin. Abang lo bener-bener dendam sama gue. Dia nggak mau ngasih tahu lo ada dimana. Pulang Ya, pulang..."
Zzzz...
•
Cafe lagi rame. Maklum, malam Minggu. Apalagi ada anak band baru manggung. Anak-anak D'day sesekali manggung, karena mereka udah mulai ngadain road show a.k.a tour ke pelosok, bahkan kabarnya mereka bakal manggung di Cina dan Malaysia. Wow! Prestasi yang banggain cafe Marvel.
"Kalian oke juga buat pemula, good job, Lix." Abeen menepuk bahu Felix, si anak baru.
"Kita juga makasih udah dikasih kesempatan buat manggung di sini. Ini berkat Awang, thanks bro."
Ya, Awang, temen se-kos Abeen dulu. Ternyata dia temenan sama Felix, lalu nawarin anak itu manggung, karena tahu Felix doyan nyanyi.
"Biasa manggung dimana, Lix?"
"Di acara kawinan, Bang. Kadang suka diajak temen nyanyi di gereja juga," jawab Felix.
Abeen ngangguk,"Warna vokal lo oke juga. Jarang ada vokal kayak gitu. Semoga betah ya?"
Felix tersipu, pipinya memerah. Abeen lalu menepuk bahu bidang itu.
"Kalo laper pesen aja sama Lula di pantry," ucapnya.
"Iya, Bang. Eung, Abang udah makan? Kita makan bareng aja," tawar Felix.
"Iya, Bang setuju. Perut jangan dibiarin kosong ntar nggak konsent," sambung Ayen.
Abeen senyum,"Oke deh."
Maka acara malam Minggu itu cukup membuat Abeen melupakan masalahnya. Walau sementara. Di sudut hatinya tetap mikirin Maria. Cuma Maria.
Abeen selaku yang dipercaya Marvel ngelola usahanya, benar-benar bersikap hati-hati dan bijak. Para pegawai pantry pun nggak pernah ngeluh ini-itu. Abeen benar-benar berusaha sebagai majikan pengganti yang baik dan perhatian.
Dilihatnya Han yang baru bikin kopi. Tuh anak satu dari tadi bolak-balik bikin kopi. Abeen nyamperin.
"Ngapain lo? Cari penyakit, abis berapa gelas?" cetusnya.
Han meringis,"Sumpah gila! Gue lagi kelimpungan buat sempro. Yaelah, lo sih enak udah kelar. Sidang, udah. Di acc semua lagi. Gue?"
"Gue juga pernah ngalamin itu juga kali. Kalo nggak, tahun kemaren gue lulus," balas Abeen.
"Anak baru itu asik nggak, Been?"
Abeen memajukan bibirnya lalu mengangguk.
"Performa mereka bagus. Yang namanya Felix, punya warna vokal oke. Diajak nge-rap boleh tuh," sahutnya.
Han ngangguk-ngangguk.
Abeen nyambar jaket dan kunci motornya.
"Gue pinjem motor. Ntar gue isiin full-tank," kata Abeen sebelum berlalu.
Han geleng-geleng kepala. Merasa iba iya, tapi bangga juga sama sahabatnya yang satu itu. Di tengah masalah yang merundungnya akhir-akhir ini Abeen tetap bersikap profesional. Entah kalo dirinya yang ngalamin, udah se-frustasi apa.
"Bang!"
Abeen yang siap menstater motornya berhenti begitu Felix nyamperin.
"Ada apa, Lix?"
"Boleh ikut sampe depan?" tanyanya.
"Depan mana?"
"Maksudku sampe terminal aja deh,"
"Oh, oke. Nih pake," Abeen ngasih helm.
Sedang dipikirannya bertanya-tanya, emang daerah sini ada terminal ya? Halte ada.
"Abang mau kemana?" tanya Felix saat motor udah melaju.
"Keliling,"
"Eoh? Keliling? Kayak ronda aja Bang,"
"Iya,"
Mereka udah sampe terminal yang menurut Abeen nggak kayak terminal.
"Di sini, Lix?"
"Iya kali ya?"
Nih anak apaan sih?
Abeen menengok ke belakang.
"Gue sebenarnya lagi buru-buru, Lix. Sori bukannya nggak mau nganter. Tapi ini lagi urgen," kata Abeen.
Felix tersenyum kikuk lalu turun dan ngembaliin helmnya.
"Oke deh. Sori ya Bang? Aku malah ngerepotin,"
Aku? Geli banget. Gue sama Maria aja kadang masih gue-elo.
"Nggak pa-pa. Udah ya, bye.."
Abeen pun tanpa menengok ke belakang lagi langsung meluncur. Felix diam dengan dua kepalan tangannya.
•
Dua tahun lalu...
"Nyak bakal cabut laporan dan gugatan Nyak sama Maria. Tapi dengan syarat..." kata Nyak Romlah.
"Ya Abeen tahu, ngelamar Sari kan? Akan Abeen lakuin apapun buat Maria dan kebahagiaan Nyak," potongnya cepat.
"Tapi Abeen pun ngajuin syarat, Abeen baru akan ngelamar Sari seudah Abeen lulus kuliah. Nggak sekarang," geleng Abeen.
Nyak Romlah sebenarnya udah menduga hal ini. Abeen nggak mungkin menuruti langsung keinginannya.
"Baiklah," pasrah Nyak Romlah.
Rasanya dadanya pengen meledak! Menyerukan cuma ada nama Maria dalam hatinya. Mau dibilang bucin level dewa kayak Han bilang, Abeen nggak peduli. Namun apapun yang dia bikin sekarang adalah demi Maria. Abeen nggak mau main-main kalo itu udah nyangkut Maria. Pun yang bikin permainan itu Nyaknya sendiri.
Maka setelah Nyak Romlah mencabut dan batalin gugatannya, Abeen buru-buru nemuin Marvel, berharap ia masih bisa ketemu Maria...
Tiba di bandara, beneran dia bisa ketemu Maria. Cewek pelipur rindunya selama ini.
"Kemana aja kamu, Ya? Aku kangen," hamburnya ke pelukan Maria yang tengah menatapnya dalam.
"Aku harus ikut Mama Papa, Been. Maaf harus ninggalin semua," Maria juga meluk Abeen erat.
Dua-duanya kangen. Sekejap aja Abeen telat datang ke bandara, ia kayaknya nggak akan ketemu Maria.
"Kangen," Abeen masih meluk Maria sambil sesekali mengecup pelipis cewek itu. Nggak peduli orang-orang pada liatin.
Tapi cepat Maria melepas pelukannya dan ngedorong Abeen. Maria nangkup wajah cowok di depannya.
"Kabar Nyak sama Fido, gimana?"
Abeen senyum,"Baik. Masih kamu inget Nyak, padahal--"
"Been, aku nggak marah sama Nyak. Kalo posisiku kayak Nyak, aku pun akan lakuin hal yang sama. Aku sempet ribut sama Bang Marvel juga Mama Papa. Makanya aku gantiin dengan ikut mereka," sela Maria.
"Asal mereka nggak ngungkit masalah ini lagi."
Abeen mengusap pipi Maria. Rasa rindu udah meletup-letup dari tadi. Dipeluknya lagi Maria yang rasanya makin kurusan.
"Tetap di sini, jangan pergi lagi Ya."
Maria senyum di balik punggung Abeen. Maunya kayak gitu, tapi mungkin nggak akan mudah buat keduanya, kalo kembali terpisah.
"Aku nggak bisa lama-lama Been. Aku harus pergi," lirihnya.
Abeen menggeleng,"Nggak. Nggak boleh. Kamu harus tetap di sini."
"Been..."
"Nggak Ya," pelukannya mengerat.
"Karena dua tahun ke depan Marvel mesti laporan terus, jadi dia pasti bolak-balik. Maaf, nggak bisa nemenin." Suara Maria memberat seiring bongkahan emosi yang tersendat di kerongkongannya.
"Ya, aku masih mertahanin kita," kata Abeen, mencoba melarung luka.
"Been, aku selalu cinta sama kamu. Bukannya aku nggak mau mertahanin, tapi aku pengen kamu tetap jadi anak Nyak yang bisa dibanggain. Aku lakuin ini buat Nyak. Nyak udah tua, siapa yang bisa beliau percaya dan diandalkan kalo bukan kamu?" Maria menatapnya dalam.
Mereka sama-sama terluka. Tapi sama-sama terpasung, hingga mereka nggak bisa untuk sekedar saling menghibur.
"Ya, ini udah tahun kedua kita, apa nggak ada yang bisa menahanmu? Hm?" tatap Abeen penuh permohonan.
"Been, bisa kita nggak egois? Kita pisah, itu yang sakit cuma kita berdua. Tapi kalo milih egois buat tetap jalani ini, kita nyakitin banyak orang. Terlebih Nyak. Aku bisa ninggalin Mama Papa, toh aku punya Marvel yang bakal selalu dukung aku. Tapi kamu? Kamu punya siapa selain Nyak? Pahami ini, Been."
Abeen erat genggam tangan Maria, hingga cewek itu cukup kewalahan.
"Aku bisa ninggalin Nyak buat kamu."
"No! Jangan Been. Dido udah nggak ada, Fido masih kecil. Lalu kamu mau ninggalin Nyak? Kalo kamu bersikeras gini, aku akan membencimu Been!" serunya.
"Oke," Abeen lepasin tautan tangannya.
Ada perih di hati Maria. Tangannya nggak lagi digenggam tangan itu. Abeen melesakkan topinya guna nyembunyiin rautnya yang kusut dan airmatanya yang mulai nggak tahu diri pengen eksis.
"Oke, pergilah. Gue masih mau ketemu sama Marvel."
Maria memandang cowok yang tengah tertunduk itu.
"Been," Maria kembali memeluk tubuh itu.
"Maaf, kita akan rasain sakit ini bareng-bareng Been."
Maria melepas topi Abeen lalu berjinjit menggapai bibir kuncup favoritnya. Abeen menyesapnya dalam. Sedalam rindunya. Lalu mereka saling melepaskan dengan isak lirih.
Maria bergegas masuk ke gerbang keberangkatan yang ternyata sejak tadi seseorang menunggunya di sana. Dan Abeen hanya mampu menatapi kepergian Maria. Matanya terpejam. Masih sakit.
"Baik, Ya. Aku akan belajar lupain semua. Demi kita. Demi Nyak."
••
tbc