17. kelabakan

1596 Words
• Di cafe, di kampus, bahkan dimanapun Abeen nggak menemukan sosok itu barang batang hidungnya sedikit pun! Kemana Maria? Jelas, telpon dan chattnya pun nggak berbalas. Sama halnya dengan Marvel. Abang Maria satu-satunya itu pun banyakan diam. Kalo ditanya soal Maria dia cuma menggeleng dan mengalihkan pembicaraan setelahnya. Hal ini bikin Abeen makin frustasi. "Nora!" panggilnya. Nora begitu liat siapa yang manggil, langsung melengos dan narik tangan Rino, pacarnya. "Ra, dimana Maria?" cegat Abeen. "Mau ngapain?" tatapnya galak. "Ra, please. Gue perlu ngomong sama dia," mohon Abeen. "Menurut gue, nggak ada yang perlu kalian omongin lagi. Lo sama Maria udah end. Tamat. Ngarti kagak?" "Ye nggak bisa gitu dong. Gue perlu ketemu, Ra." Nora menggeleng,"Iya kalo gue tahu dimana Maria. Sehabis pulang dari rumah lo dan ceritain semuanya ke gue, dia pulang. Selepas itu gue nggak tahu. Gue telpon pun nggak diangkat. So, percuma lo tanya gue. Kenapa nggak lo coba nanya bang Marvel? Jiper lo?" Abeen ngembusin napasnya. Iya, sia-sia semua. Nanya ke siapa pun percuma. Abeen pengen pisah baik-baik. Bukan kayak gini. Kalo gini dia merasa bersalah. "Udah kan? Yok No," Nora narik tangan Rino lagi. "Lo nggak bilang kalo mereka putus. Serius?" bisik Rino. "Cowok sama aja!" dengkus Nora. Abeen nggak salahin sahabat ceweknya itu bersikap kayak gitu. Dia duduk dengan nelangsa di anak tangga. Sebuah tepukan di pahanya, nyadarin keberadaan yang lainnya dan sekitar. Han. Cowok bergigi kelinci itu senyum setipis mungkin. Ikut duduk di sebelahnya seudah menyugar rambutnya yang blonde. "Masih nggak ketemu?" tanyanya. "Gue udah nelpon, udah ke rumah, udah kemana pun Han. Nihil. Maria kayak nggak pengen ditemuin," jawab Abeen sengau. "Lo sebenernya pengen ngapain sih kalo ketemu Maria? Lo bilang kalian udah putus," usik Han. "Gue kangen, Han. Kangen sama Maria. Pake banget," lirihnya. Han terkikik. Nggak sangka cowok beraura dark itu bisa kangen dan keliatan lemah. Kayak bukan Abeen yang biasanya. Sekarang Abeen kayak ayam sayur, atau kayak singa ompong yang nggak bisa lagi unjuk gigi. Cowok yang biasanya tengil dan mood booster bagi kelompoknya, kini kayak pesakitan. Jadi seorang pecundang. Han merasa kasian tapi mau gimana lagi, itu urusan rumah tangga orang. Dia milih nggak ikut campur. "Prioritasin yang emang harus jadi prioritas lo Been. Saat ini prioritas lo itu kuliah, kerja sama bahagiain Nyak lo," lanjut Han. "Lagian, sampai lo ngelilingin ribuan kali komplek rumah Maria pun, lo nggak bakal nemuin dia. Karena dia nggak mau ditemuin. Mubazir tenaga sama pikiran lo. Mending lo fokus deh, kuliah sama Nyak." Han meletupkan permen karetnya, macam bocah kurang bahagia. "Masalahnya ada yang belum kelar, Han. Mana sekarang Nyak terus-terusan nyuruh gue ngelamar Sari. Bisa butek gue! b******k banget gue," sembur Abeen. "Nah itu lo tau kalo lo b******k," tunjuk Han. "Lo masih temen gue pan, Han?" Han nyengir,"Masih. Santuy ma' bro." "Marvel juga jadi beda sama gue," keluhnya. "Iyalah, secara lo potekin hati adek kesayangannya. Untung aja lo nggak sampe kena bogem mentahnya. Tapi gue yakin dia nggak bakal lama diemin lo. Percaya gue," Han lagi-lagi nepuk bahu sahabatnya. Abeen senyum miris. Saat ini dia mending kena bogem Marvel, biar plong. Daripada didiemin kayak orang asing. Maria... Dimana kamu? • Nyak Romlah merhatiin semuanya. Sikap anak lakinya yang jadi pendiem belakangan ini. Walau anak itu keliatan nyoba buat ceria di depannya dan Fido. Tapi hati seorang Ibu nggak bisa dibohongi. Nyak Romlah mandangin secarik kertas yang datang seminggu lalu lewat Pak RT. Pemberitahuan dari pengadilan. "Nyak mau kemana?" tanya Abeen, yang baru pulang dari salat Ashar di mesjid. "Mau ke rumah Pak RT," "Oh," "Lo makan dulu, Been. Dari sepulang ngampus belum isi tuh perut lo. Pagi juga nggak sarapan Nyak liat. Biasanya juga abis sebakul lo!" "Hm," Abeen ngeloyor ke kamar. Nyak Romlah udah pergi ke rumah Pak RT. Abeen nggak tahu Nyaknya mau ngapain. "Do, beliin Abang rokok dong. Asem nih mulut," suruhnya. "Idih, tapi ntar bagi ya?" "Bagi apaan lo? Rokok? Gue piting lo," Fido cengengesan,"Orang pengen jajan juga. Orang gede mah emang suka egois, nyuruh yang lain baek-baek, eh giliran dia asem-asem ae. Fido mah nggak mau gede-gede ah, pusing." "Bener Do, jangan pengen cepet tumbuh gede. Capek jadi orang dewasa. Abang aja pengen jadi bocah terus," sahut Abeen lirih, pandangnya keruh. Sadar roman abangnya berubah, Fido cepet kabur ke warung buat beli pesanan abangnya. Abeen duduk dekat meja makan. Matanya melirik sebuah surat tergeletak gitu. "Surat apaan nih, resmi banget." Matanya melotot. Surat itu menyatakan kalo Nyak Romlah disuruh hadir di pengadilan, untuk melengkapi pembaruan berkas pelaporannya 7 tahun lalu. Nyak Romlah menggugat Maria dan pengen membuka kembali kasus tersebut. "Maria..." desisnya. Baru aja Abeen mau keluar, di pintu udah paspasan sama Nyak Romlah. "Mau kemana?" "Jadi Nyak tahu semuanya? Nyak tahu Maria yang bikin Dido meninggal? Nyak yang minta pembaruan laporan? Kenapa Nyak? Jadi karena ini Nyak nggak setuju Abeen sama Maria? Karena ini Nyak keukeuh Abeen harus milih Sari?" cecarnya. "Been..." Jelas Nyak Romlah liat guratan kecewa dipandang anak lakinya. Wajahnya memerah sampai ke kuping. Tanda si sulung kebelet marah. "Abeen udah tahu, Nyak. Maria yang cerita semua. Dia jelas nyesel banget. Dia sampe minta putus waktu itu dan jauhin Abeen. Tapi Abeen yang keras kepala ngejar dia. Abeen nggak bisa tanpa Maria. Abeen cinta sama Maria, Nyak." Kepalanya menggeleng berkali-kali, mukulin dadanya yang kerasa sesak mendadak. "Abeen nggak mungkin minta sama Nyak buat narik semua omongan Nyak. Cuma satu Abeen minta, cabut gugatan Nyak maafin Maria. Maria nggak sengaja," mohonnya. Nyak Romlah meluk si sulung yang tengah patah hati, buat numpahin semua air matanya. Dipikirannya saat ini anak sulungnya itu nggak ngerti apa-apa, nggak ngerti gimana rasanya kehilangan anak, gimana rasanya direndahkan, dihina. "Sekarang gimana, Nyak? Kenapa Nyak laporin Maria? Abeen harus bilang apa sama abangnya, sahabat Abeen itu dan sama keluarga mereka?" digigitnya getir bibir kuncupnya. Nyak Romlah masih bungkam, matanya pun ikut berkaca-kaca. Terus lo nggak mikirin perasaan Nyak lo, Been? Perasaan orang lain lo utamain... "Nyak maafin Maria kan? Abeen mohon Nyak cabut laporan Nyak. Abeen akan lamar Sari buat Nyak, kalo itu emang mau Nyak. Tapi ijinin Abeen ketemu Maria. Abeen pergi dulu. Assalamualaikum," "Wa'alaikumussalam," Nyak Romlah nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Dia nyesel juga atas apa yang terjadi pada Abeen dan Maria. "Been, kenapa lo cinta mati sama ntuh cewek?" gumamnya sedih. • Marvel natap Abeen yang dari tadi nunduk. Mau marah nggak tega, nggak marah juga nyesek. "Kenapa jadi gini sih?" tanya Abeen masih nunduk. "Ya, nggak mungkinlah kalo gue biarin Maria yang dibui. Dia salah. Tapi gue nggak mau adek gue satu-satunya berakhir di sini. Ini perkara serius, Been. Masa depan Maria taruhannya, masih nggak paham lo?" sahut Marvel tercekat. "Lagian itu kejadian udah lama. Apa nggak ada kemungkinan lain? Pokonya gue jabanin kalo itu buat Maria," sela Abeen. "Trus nyokap lo? Keluarga gue bukannya mau lari dari tanggung jawab, tapi Papa pun mikirin Maria yang masih bocah. Belum dia yang trauma seudah kejadian itu. Mungkin kalo dengan gue yang maju gantiin Maria..." kalimat Marvel menggantung karena nggak tega melanjutkan. Abeen makin tertekan sama perasaannya. Makin merasa bersalah, karena ternyata masalah ini pun akan nyeret Marvel. Pelan-pelan wajahnya terangkat, balik natap Marvel. Hal yang nggak mungkin menggantikan orang masuk bui. Abeen tahu itu. Lalu jalan keluar kayak apa yang akan menjadikan semuanya lebih baik? Keningnya berkerut, serasa kepalanya berdenyut nyeri. "Gue sama Maria pengen menebus kesalahan kita. Maafin Papa sama Mama gue kalo mereka sempet bikin sakit hati Nyak Romlah. Gue tahu, nggak seharusnya kami merendahkan kalian. Walaupun sebenarnya uang itu uang duka atas meninggalnya adek lo. Sungguh, nggak ada maksud sengaja buat ngerendahin Nyak, Been." Abeen ingat, Nyaknya pernah bilang orangtua si penabrak ngasih uang damai. Lalu Marvel menyodorkan beberapa berkas. "Kita udah nerima gugatan dari Nyak Romlah, cuma tinggal nunggu waktu mediasi," cetusnya. "Secepat ini?" kaget Abeen. Marvel ngangguk lemah. Dia dan pengacaranya sedang berusaha untuk mengajukan mediasi susulan dengan Nyak Romlah. "Nyak Romlah belum jawab permintaan kita. Kira-kira..." "Apa pun akan gue lakuin biar lo sama Maria nggak usah jalanin ini. Maafin Nyak gue ya Bang? Mungkin karena masih emosi, karena gue nggak nurutin maunya beliau." Abeen menyela dengan cepat. Abeen harus bertindak cepat, kalo nggak akan banyak yang terluka. Cukup dia aja yang terluka. Matanya terpejam sambil ngembusin napas beratnya. Berharap semua akan baik-baik aja. "Bang, lalu dimana Maria?" Marvel mendengkus,"Gue suruh pergi. Nenangin diri dan pikirannya. Gue suruh dia ikut bonyok. Nggak sehat buat dia di sini terus. Gue bisa nahan semua di sini. Tapi gue yakin kalo Maria tetap di sini, bukan nggak mungkin Maria bakal mati berdiri." "Kemana?" "Mau ngapain lo? Masih ngarep sama adek gue, Been? Seudah apa yang dia lakuin ke keluarga lo?" kedengaran sinis di nada Marvel menguarkan diksinya. "Kemana Maria, Bang?" Abeen nggak peduli sindiran atau apapun yang terlontar dari bibir Marvel. "Lo nggak boleh nemuin dia kalo lo pengen dia bahagia. Biarin Maria lupa sama lo, biar dia lupa sama sakit ini. Biar dia lupa sama adek lo. Ini yang terbaik buat kalian," jawab Marvel. Abeen frustasi nggak dapet jawaban yang muasin dirinya. Diremas rambut ash gray-nya. Kesal segunung ngehimpit dadanya. Liquid bening merayapi pipinya tanpa isak. "Lo pikir gue--" "Please. Berusahalah buat lupain Maria. Jagain cafe, jaga-jaga aja kalo ternyata kejaksaan setuju kasus ini dibuka lagi," Marvel tersenyum samar. Akhirnya Abeen ngangguk, toh dia ada di tengah-tengah masalah ini. Antara Nyak Romlah dan Maria. Dan mereka bukan pilihan. Emang apa yang harus dia lakuin selain ngelakuin semua petunjuk Marvel? Lagian dia nggak mau sampe kehilangan kabar Maria. Se-nggaknya kalo dirinya ada di sana, dia bisa tahu soal keberadaan Maria. Nggak kayak sekarang, cewek itu hilang kayak ditelen bumi. Entah kemana, entah dimana. Aku harus ketemu Maria... •• tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD