•
"Bangke!" teriak Marvel geram.
Virgo nunduk. Merasa bersalah. Ia tahu karena cemburu buta, maka dengan gegabahnya nyewa preman. Kini ia minta penangguhan atas laporan terhadapnya.
"Please, Vel. Gue abis dicecar bokap. Gue terancam hengkang dari sini. Dan gue nggak mau dimutasi ke KL," cicit Virgo.
"Ya itu masalah lo!" sergah Marvel.
"Kalian udah putus, ngapain sih masih diributin? Giliran adek gue lo campakin, nggak ada tuh gue petantang-petenteng nantagin lo!" cetus Marvel.
"Tapi adek guenya aja kelewat baik, nggak mau ngajak ribut. Pacar adek gue kalian bikin bonyok juga, ya itu urusan lo ngomong sama si Abeen. Urusan dia mau manjangin masalah, nggak ada hubungannya sama gue atau Maria," imbuhnya.
Virgo manggut-manggut. Marvel pengennya sih udah aja ngehajar cowok songong ini tapi dia keinget Maria. Yang udah wanti-wanti nggak nambah masalah.
"Maria bilang, asal lo mau minta maaf sama Abeen, habis perkara."
"Beneran Vel?"
"Beneran lah. Coba aja, sono minta maaf."
Virgo ragu nyamperin Abeen yang tengah ngotak-atik sound di stage sambil ngobrol sama anak-anak d'Day. SJ nyikut lengan Abeen.
Cowo itu noleh, dilihatnya Virgo yang kikuk banget nyamperin dia.
"Been, g-gue minta maaf. Sori udah keterlaluan bikin lo sampe kayak gini," cetusnya.
Abeen nengok ke arah Marvel yang lagi berkacak pinggang di depan kaca gede itu.
"Ck, udah basi juga. Btw, gue terima maaf lo demi Maria. Gue bakal cari lo sampe ujung dunia dan akhirat kalo perlu, kalo lo macem-macem lagi. Paham?"
Aura Abeen emang lagi dark banget, pantes aja Virgo sampai nervous.
"Paham, Been. Gue yakin Maria bahagianya sama lo. Jagain ya? Aku nyesel nggak bisa jagain dia," tuturnya lirih.
"Gue sih seneng aja kalian putus tapi lebih seneng lagi kalo Maria bahagia," sahut Abeen mantap.
"Oke bro, gue pamit."
"Ntar gue rembukan sama Marvel soal pencabutan pelaporan gue," lanjut Abeen dengan bergaya cool masukin sebelah tangannya ke dalam saku jinsnya.
Virgo melayangkan dua jempolnya, tersenyum kikuk.
"Easy come, easy go..." gumam Abeen, menatap punggung Virgo yang berlalu.
"Kenapa nggak dihantam aja, Been?" tanya SJ. "Kebiasaan tuh anak ntar ngelunjak!"
Abeen mendelik,"Nggak dikasih ijin sama yayang bebeb. Tahu pacar gue baiknya banget. Keterlaluan baiknya,"
SJ nyengir,"Padahal pengen kan nonjok tuh muka songong?"
"Udah gatel tangan gue, SJ."
Lalu kembali Abeen tekun menyetel alat-alat sound di sana.
"Recording waktu itu gimana? Sukses?" tanya Jae.
"Sukseslah! Gue denger mau dibikin MV juga, iya bang?" Wondo melirik Abeen.
"Tapi keduluan kalian nih suksesnya," sela Maria yang tiba-tiba muncul kayak jin Iprit.
"Eh? Baru pulang?" Abeen menoleh sekejap.
Maria nyamperin senyum-senyum sambil mengangguk.
"Dianter Nora sama Rino tadi,"
"Trus, merekanya mana?"
"Ya pergi lagi. Pulang kali atau ngedate."
Ponsel Abeen berdering.
"Ya Sar, ada apaan?"
"...."
Mata Abeen melotot,"Apa?! Trus, Nyak dibawa kemana?"
"..."
"Ya udah, aku pulang."
Maria menatap penuh tanya. Abeen mengusap wajahnya. Perasaannya mendadak nggak enak.
"Nyak jatoh," katanya.
"Hah, jatoh? Ya udah yuk, kita liat. Buruan!" Maria narik tangan Abeen.
"Guys, bilangin ke bang Marvel ya?"
Anak-anak d'Day kompak mengangkat tangan,"Oke!"
Saat Abeen dan Maria mau keluar, Han baru masuk.
"Loh? Mau kemana lo?"
"Nyak jatoh, Han."
"Kok bisa?"
"Taulah, Sari yang telpon."
Maria mencelos. Selalu cewek itu selangkah di depannya.
Sedeket itu ya...
•
Nyak Romlah masih tertidur karena minum obat. Keningnya diperban. Sempat dibawa Sari ke UGD puskesmas sekitar.
"Makasih banget ya Sar," kata Abeen.
"Nggak apa-apa. Nyak Romlah udah kayak ibu aku Been," sahut Sari.
Maria cuma diam mandangin Nyak Romlah. Teringat kata-kata Nyak Romlah padanya saat Maria mengantar Abeen pulang dan dalam keadaan kacau.
"Neng Maria, bisa kagak jauhin anak Nyak? Kalian tuh ibarat kate, kayak bulan sama matahari. Nggak mungkin ketemu, nggak mungkin bersama. Abeen bukan anak gedongan kayak Neng Maria. Nyak nggak mau Abeen dihina, disia-sia."
Saat itu Maria cuma bisa diam, mendengarkan segala ganjalan Nyak Romlah terhadapnya. Iya juga. Sekarang aja Nyak Romlah belum tahu soal dirinyalah yang tanpa sengaja nabrak Dido, udah nggak kasih restu dan sekhawatir itu akan hubungan mereka. Apalagi kalo Nyak Romlah tahu yang sebenarnya? Mendadak Maria panik sendiri.
Abeen melihat perubahan Maria. Cewek itu lebih banyak diam. Apa cemburu lagi?
Abeen mejamin matanya. Otaknya nyari jawaban yang kira-kira masuk akal nantinya kalo Maria mulai nanya-nanya.
Sari pamitan. Dia merasa canggung sendiri kalo di sana ada Maria. Lebih baik dia tahu diri buat mundur.
"Ya, kenapa?" Abeen mendekat.
Maria menoleh,"Been, please jangan sekarang. Emang ada yang perlu aku omongin. Tapi nanti, seudah Nyak sembuh. Sekarang, kamu fokus aja sama Nyak. Nanti aku absenin sama Marvel."
"Hey, ada apaan?" tangan itu dicekalnya. Abeen tetep penasaran ingin tahu.
"Nanti Been, nanti. Oke?"
Abeen mengernyit nggak paham. Maria menyerahkan bungkusan pada Fido dan menyuruhnya untuk nanti menghangatkannya.
"Kalo ada yang perlu kubantu, ngomong aja. Nanti kubantu," ujar Maria sambil mengambil tas selempangnya.
Abeen menatapnya,"Aku nggak suka kalo main teka-teki gini, Ya."
"Ini bukan teka-teki, Been."
"Aku cuma bersikap sewajarnya orang berterima kasih Ya. Sari udah nolongin Nyak, salah aku bersikap baik sama Sari? Sekedar membalas kebaikannya? Nggak lebih nggak kurang," Abeen nampak nahan emosi.
Maria merengut, Abeen menyudutkannya kayak begitu, padahal sikapnya kayak gini nggak ada hubungannya sama Sari. Bukan cemburu sama Sari melainkan ada hal yang lebih serius di depan mata mereka. Dan butuh penyelesaian secepatnya.
Diam itu lebih baik, itu pikir Maria. Dia nggak mau nambah kacau dengan membalas emosi cowok bermata sipit itu.
"Kalo cemburu nggak pada tempatnya itu begini nih," imbuhnya sambil melepas topi.
Maria menatapnya tajam sebelum menyeret tungkai kakinya pergi dari hadapan Abeen.
"Ya!"
Maria mempercepat langkahnya, bahkan bisa dibilang setengah berlari.
"Ya! Maria!" Abeen mengejarnya.
Sungguh, dia nggak mengerti. Apa yang bikin Maria marah?
"Ya!" Abeen menarik lengan Maria hingga tubuh cewek itu terhuyung dan menubruk d**a Abeen.
"Kenapa sih?" Abeen merengkuh tubuh Maria.
"Aku kan milih kamu, Ya. Masih nggak percaya, hm?" lirih Abeen di telinga Maria.
Terdengar isakan Maria, tentu aja Abeen kaget.
"Hey, Ya..." Abeen menarik dagu Maria. Menatap mata yang basah.
Abeen mendekatkan wajahnya. Dikecupnya bibir Maria sekilas.
"Masih marah?"
Maria tetap diam, tapi dia lalu memeluk Abeen. Kemudian Maria beranikan diri buat buka mulut.
"Aku nggak marah, aku nggak cemburu. Aku cuma mikirin Nyak. Aku pulang ya? Nggak enak, Nyak lagi sakit. Besok aja aku kesini lagi," Maria melepas pelukannya.
Tapi Abeen masih merasa ada yang janggal. Abeen merasa Maria nyembunyiin sesuatu. Akan ditunggunya kejujuran cewek itu.
"Oke, tapi aku nggak bisa anter. Nggak pa-pa kan?"
"Nggak pa-pa, Been. Prioritaskan Nyak,"
Abeen mengangguk, melepas tautan tangannya. Berat rasanya karena Maria-nya nggak berani jujur. Abeen pikir mungkin Maria butuh waktu. Nggak apa, asal mereka baik-baik aja. Asal mereka nggak sampai putus.
Menatap luruh punggung kecil itu menjauh dari pandangannya. Maria udah berlalu dengan gojek online-nya.
"Ada apa sih Ya?" gumamnya.
Ponselnya bergetar.
"Ya Han?"
••
tbc