••
"Pak! Tolong!! Temen saya dikeroyok!!" teriak Maria dengan napas terengah-engah. Keringatnya sudah mulai membanjiri punggungnya.
Salah satu satpam mendekati Maria. Senternya mengarah pada gadis itu.
"Eh, non Maria? Ada apa, non?"
"Tolongin temen saya pak, dikeroyok tuh."
Kedua satpam itu berlari mendahului Maria. Benar saja Abeen tengah jadi bulan-bulanan anak motor itu. Ditendang, ditonjok berulang kali.
Peluit berbunyi. Dua satpam itu cuma menangkap dua dari lima orang yang ngeroyok Abeen.
"Been!" Maria menghampiri tergopoh.
Abeen dipapah Maria. Mukanya lebam, ada bercak darah di sudut bibirnya. Sepertinya hidungnya pun patah. Lalu dua orang itu disamperin Abeen begitu tiba di pos satpam. Maria menelpon Marvel.
"Siapa yang nyuruh kalian?" tanya Abeen.
Mereka diam. Membisu. Abeen terkekeh.
"Kalo sampe kalian dijeblosin penjara, kalian yakin orang yang nyuruh bakal bebasin kalian? Yang rugi banyak ya kalianlah. Dia banyak duit, mungkin bisa beli keadilan. Tapi kalian akan membusuk di penjara minimalnya dua tahun," ujar Abeen.
Keduanya saling pandang. Kelihatannya keduanya tengah berargumen, walau dengan pandangan mata. Yang satu pengen setia. Yang satunya lagi takut masuk penjara.
"Jadi?" sebelah alisnya naik diiringi senyum miringnya.
"Kita cuma disuruh, dibayar gitu." Aku yang satunya, berjaket jins dan berotot.
"Sama siapa?!"
"V-virgo. Ya Virgo namanya,"
Maria diam, tangannya mengepal.
"b******k tuh orang!" dengkusnya.
"Ya, mantanmu?" delik Abeen saat sadar aura amarah dari dua manik gadisnya itu.
Maria merogoh ponselnya. Tapi Abeen langsung narik tangan Maria. Dia menggeleng.
"Nelpon siapa? Udahlah, biarin aja. Ntar juga kena tulahnya sendiri," cegahnya.
"Ya nggak bisa gitu, Been. Virgo nggak akan kapok, dia bakal terus-terusan neror kita. Makanya kita harus bertindak," kilah Maria.
"Ya, percaya aku. Oke? Biar aku yang ngadepin Virgo. Dengan liat kenyataan kayak gini nyimpulin sesuatu, dia nggak cinta sama kamu. Beraninya keroyokan beraninya cuma nyuruh orang," sanggah Abeen.
Maria mengangguk, nggak bantah lagi. Abeen nyuruh satpam menahan orang suruhan Virgo sebelum polisi datang.
"Serius kamu manggil polisi? Antepin aja, padahal. Toh dia cuma suruhan." Maria duduk menghadap Abeen.
"Serius mau dilepas? Orang-orang kayak gitu cuma nyari untung sendiri. Mereka nggak peduli yang disakiti itu gimana-gimana, yang penting siapa yang berani bayar lebih tinggi, dia majikannya." Abeen menatap lekat kedua orang itu.
"Aku cuma khawatir, mereka balik nggak suka dan nyakitin kamu, Been." Maria nampak menatapnya, beneran kuatir.
"Dan aku lakuin ini biar mereka dan Virgo kapok juga tahu kalo kita bukan lawan yang cemen!" sahut Abeen coba sabar ngadepin kekhawatiran Maria. Hal yang wajar kalo Maria khawatir.
"Oke?" Abeen mengusap pipi Maria.
"Iya, gimana kamu aja."
"Pak, nanti Kak Marvel kesini kok." Maria mengalihkan pandangannya.
"Jadi kami pulang dulu ya,"
"Oiya, Non."
Lalu Maria mengajak Abeen ke rumahnya untuk mengobati luka-lukanya. Setibanya di sana, Bibi sudah tertidur. Untung Maria bawa kunci cadangan pintu garasi dan belakang.
"Duduk Been,"
Sementara Maria menyiapkan air hangat dalam baskom berikut washlap, salep dan beberapa plester.
"Sini, ngadep sini Been." Maria menarik wajah Abeen. Otomatis mereka hadap-hadapan.
Abeen bisa leluasa menatap wajah si gadis, yang nggak sadar tengah dijadiin santapan kedua maniknya. Dengan telaten Maria merawat luka-luka Abeen, di wajah, di hidung, dan juga tangannya.
"Idung kamu patah deh kayaknya," komen Maria.
"Hm, ntar juga baikan. Tinggal dikompres sih,"sahutnya.
"Mau makan? Bibi kayaknya tadi masak tuh."
Abeen menggeleng,"Nggak usah Ya. Kalo boleh, pengen teh manis aja deh. Kalo nggak ngerepotin."
"Nggak ngerepotin, Abeen sayaangggg..."
"Eh, apa? Apa? Sayang?" matanya mengerjap-ngerjap menggemaskan.
"Coba sekali lagi,"
Maria terkikik geli sambil menggeleng. Dia memilih ngeloyor ke dapur buat bikin dua gelas teh manis hangat.
"Udah pantes," ucapnya saat Maria mengulurkan segelas teh manis hangat padanya.
"Pantes apaan?"
"Pantes dijadiin bini," celotehnya.
"Udah kemanisan Been, cukup."
"Buktinya kamu udah bisa bikin teh manis, ngerawat aku, apa lagi coba?"
"Ihh! Aku nggak mau MADESU ya. Begitu lulus, kamu kerja, aku kerja, baru deh kita merit!" kilah Maria.
"Yah, kelamaan dong Ya. Kan aku udah kerja di cafe, penghasilanku kalo laik rekaman trus album Three King laku, udah bisa kebeli rumahlah walau cuma type 120. Belum kalo dapet royalti," celotehan Abeen halunya makin menjadi.
Maria tersenyum,"Aminnn... Semoga diijabah Alloh ya?"
"Amin. Btw, aku nggak mungkin bikin kamu MADESU Ya. Aku bakal berusaha," tatap Abeen serius kini.
Tatapan intensnya bikin Maria beku di tempat. Gitu-gitu juga Abeen punya aura yang bikin cewek auto mimisan saking terpesonanya. Sekarang Maria yang dag-dig-dug ditatap gitu sama Abeen. Perlahan tapi pasti, Abeen narik tengkuk dan pinggang Maria biar ngedeket.
Chup
Abeen ngecup sudut bibir Maria yang kicep, bengong, nggak berkutik. Abeen ngejauhin wajahnya sebentar, mandang raut di depannya. Ada rona di sana, Abeen suka.
Lalu tanpa aba-aba, Abeen langsung memagut lembut yang disambut Maria dengan suka cita. Maria bahkan suka banget bibir kuncup milik Abeen. Tubuh Maria kedorong sampai nyandar di bahu sofa. Kepalanya sesekali terhuyung ke belakang karena ulah Abeen.
Kedua tangan Abeen nangkup wajah Maria. Dilepasnya tautan itu perlahan. Dilihatnya Maria masih memejam. Abeen senyum.
"Kalo keterusan aku keenakan, Ya. Makasih udah ngasih manisnya kamu," ujar Abeen.
Maria ngebuka matanya, ngeliat Abeen senyum, dia senyum juga.
"Btw, teh manisnya tadi bukan manis, tapi asin Ya."
"Hah?"
•
Marvel melempar jaket kulitnya. Seudah semaleman bantuin Abeen dan adeknya karena diinterogasi polisi, pengennya tidur, istirahat.
Kaget aja dia ditelpon Maria yang suaranya udah sengau plus panik. Dia menggeleng, heran sama sikap temannya, Virgo, childish! Gimana kalo Maria ikutan terluka? Makanya mereka udah janjian bakal ketemuan hari ini di cafe. Marvel pengen ngelarin semua. Habis perkara!
Han dan Abeen masuk ke tempat dimana Marvel berada, biasa, tempat nge-mix.
Marvel lagi ngecek mixer dan prepare buat nanti main. Marvel emang jago ngeramu lagu, kalo Han selain suaranya yang oke, ternyata punya bakat terpendam lainnya, nyiptain lagu. Beda lagi Abeen, dia nge-rap oke, jadi arranger juga dijabanin. Dia lagi fokus coba bikin lagu, walau jatohnya malah kayak yang melo-melo gitu.
Tapi meski gitu, Abeen ciamik dan pinter banget kalo pas disodorkan satu ide, atau satu kata buat dijadiin lagu, pasti jadi. Ada aja yang bisa nyambungin lirik satu dengan lirik lainnya.
Dan mereka bertiga ini juga gapek main alat musik. Cuma mereka sepakat ambil genre hip-hop, remix gitu. Makanya Marvel nyatut D'day. Biar kalo pengen kolab nggak mati gaya banget. Trus biar ada warna baru di cafenya.
"Masalah Virgo biar gue urus. Lo berdua fokus aja sama persiapan minggu depan mulai recording kita," kata Marvel begitu tahu dua sahabatnya itu nongol.
"Tapi Virgo ada masalahnya sama gue Bang," sahut Abeen.
"Kalo urusan sama lo ntar dipanjangin. Gue tahu gimana tuh anak. Intinya di sini, gue nggak mau Maria kenapa-napa, see?"
"Oke," Abeen akhirnya ngangguk.
"Dan Been, inget. Gue ngerestui hubungan kalian bukan pengen bikin Maria sedih atau disakitin," imbuhnya.
"Paham Bang."
Marvel nepuk bahu Abeen,"Virgo udah hampir bikin Maria celaka, gue harus negor dia. Begitu juga lo, kalo Maria sampe ngeluarin airmata gegara lo, hadepin gue."
"Iya, Bang."
"Bang, ada yang nyari. Namanya Virgo," kata Dani, si barista cafe.
Marvel ngangguk. It's show time!
••
tbc