••
Di sinilah keduanya sekarang. Busking di sebuah taman. Bahkan Maria menemani menari-nari. Atau mereka bergantian, Maria yang menyanyi sambil memainkan tamborin. Abeen yang pegang dan memainkan ukulelenya.
Mereka seolah menikmati hari itu. Abeen makin takjub pada Maria. Pacarnya itu -aku Abeen-, nggak ada malunya saat harus bernyanyi bersamanya di bis kota atau ruko. Maria menemaninya dengan suka cita dan tanpa protes.
"Kamu laper, Ya?" tanya Abeen saat dengar keruyukan perutnya.
Maria nyengir, tangan Abeen terulur, menyibak anak-anak rambut Maria yang menutupi pandangannya.
"Makasih ya, Ya?"
"Buat apa?"
"Buat semuanya, buat kehadiran kamu di samping aku saat ini, buat memilih tetap jalani ini walau kita tahu nggak mudah," tatap Abeen.
Lagi enak-enaknya duduk di bawah pohon, tiba-tiba teriakan para pedagang menyadarkan mereka.
"Satpol PP, Ya! Ayok!" Abeen menarik lengan Maria cepat.
Mereka berlari menjauh, berbaur dengan para pedagang asongan dan kaki lima. Kalo sampe tertangkap... gawat! Nggak dikejar anak genk motor, sekarang malah dikejar satpol PP. Nggak ada mendingnya!
"Kyaaa! Mereka ngejar, Been! Cepetan! Naik angkot, naik angkot!" teriak Maria.
Untung ada angkot lewat hingga mereka terselamatkan. Entahlah berakhir ke jurusan mana, yang penting mereka aman dulu.
Dengan napas terengah-engah, Abeen mengajak Maria duduk di pojokan.
"Buka, gerah Been. Keringetan gitu, ih!" kata Maria, bermaksud melepas wig yang dipakai Abeen.
"Ini ada jepitannya, Neng. Ntar aja di rumah," sahutnya sambil membuka jendela kaca angkot.
Maria menyeka keringat di wajah Abeen dengan tisu. Mereka nggak sadar jadi tontonan para penumpang. Abeen yang sadar duluan, dia berdehem.
"Ya, kita jadi tontonan deh," bisiknya.
"Eoh?" Maria menoleh.
Matanya membulat, benar aja. Ibu-ibu dan beberapa anak sekolah menatap mereka berdua. Ada yang senyum-senyum, ada yang memandang heran, ada juga yang terlihat nggak suka.
Akhirnya Maria cuma mengangguk sambil tersenyum ke arah penumpang lainnya.
"Nemenin pacar ngamen ya, dek?" cetus salah satu penumpang.
"I-iya Bu," sahut Maria gugup plus malu.
"Saya belum ada kerjaan, Bu. Jadi yaa, ngamen dululah. Lamar sana-sini yang dibutuhkan banyaknya cewek, mending lamar pacar saya aja. Betul nggak Bu?" Abeen ikut menimpali dengan candaan.
Maria menyikut lengan Abeen. Yang disikut cuma nyengir.
"Iya betul itu," sahut ibu yang rambutnya dicepol sambil tertawa.
Penumpang lainnya ikut tersenyum. Maria mengerucutkan bibirnya bikin Abeen gemes. Kalau bukan di angkot, mungkin Abeen sudah mengecupnya.
Otak lo, Been!
Mereka harus turun sebelum sampai terminal, karena angkot itu bukan jurusan yang melewati rumahnya.
"Abis ini kita naik apaan, Been?"
"Adalah," Abeen bermaksud mengajak Maria ke rumah temannya yang lain, selain anggota Three King. Kebetulan rumahnya dekat daerah situ. Mereka melalui beberapa gang.
"Eh, ini ke rumah siapa?" tanya Maria.
"Ini kosan temen," sahutnya.
Abeen mengetuk pintu.
"Wang! Assalamu'alaikum, ini gue." katanya.
Pintu terbuka dan nampilin muka bantal seorang cowok.
"Tumbenan lo, masuk." Sambut si empunya rumah.
"Lo bawa cewek? Hai, gue Awang." Cowok tinggi dan putih itu mengulurkan tangannya.
"Maria,"
"Udah! Nggak pake lama," potong Abeen.
"Yaelah, timbang salaman doang. Bukan gue cipok juga," kilah Awang terlihat kesal.
"Baju gue yang waktu itu masih disini kan?" tanya Abeen.
"Iyalah. Noh di lemari. Cari aja sendiri. Gue keluar dulu cari makanan," ujar Awang sambil ngambil dompet.
"Beliin ketoprak, Wang! Gue laper!" seru Abeen dari balik lemari.
"Anjrit lo! Tamu nggak tahu diri emang," balas Awang.
•
Maria menilik ruangan itu. Cuma satu ruangan. Dan isinya tempat tidur tanpa ranjang. Ngegelar gitu aja. Satu lemari kecil. Satu meja yang di atasnya ada magic com, dispenser, dan beberapa gelas juga piring.
"Segede ini berapa sebulan, Been?" tanya Maria, yang akhirnya ikut duduk lesehan di karpet kecil ruangan itu.
"600 ribu sebulan udah komplit sama listrik. Kamar mandi di luar, bareng-bareng. Kadang aku kalo kemaleman ngamen suka kesini," tukasnya.
Maria ngangguk-ngangguk.
"Awang temen sekolah?" tanyanya lagi.
"Nggak, kita ketemu waktu aku ngamen. Dia hampir mati dikeroyok anak motor. Saat itu aku nolongin dia dan bawa dia ke rumah sakit. Dia kerja jadi bartender di sebuah hotel," cerita cowok itu.
"Oh,"
"Si Awang ganteng ya?" goda Abeen, bermaksud ngetes.
"Hm, ganteng." Maria mengangguk sekilas, setuju.
Abeen cemberut,"Gantengan mana aku sama Awang?"
"Awang," cetus Maria sembari nahan senyum.
"Tapi kan kamu yang pacar aku bukan Awang," lanjutnya, setelah jeda beberapa detik.
Abeen gemes, dicubitnya hidung Maria.
"Been, nggak bisa napas ih!"
Abeen mendekat, lalu dikecupnya pipi Maria. Wajah Maria memerah. Abeen makin gemas. Dagu Maria dijepit, wajahnya mendekat. Dikecupnya bibir Maria singkat. Lalu wajahnya menjauh.
"Takut kelepasan," gumamnya sambil gigit bibirnya sendiri.
Maria senyum. Emang, selama ini mereka nggak pernah melakukan skinship yang lebih dari sekedar pelukan, genggaman tangan dan cium pipi. Abeen seolah menghindari hal satu itu.
"Udah mau malem, Ya. Kita pulang," cetusnya.
"Loh, trus Awang? Maksudku, kunci kosnya?"
Awang seudah beliin ketoprak dan beli rokok di warung sore tadi, cowok itu pamit pergi kerja.
"Gampang, simpen aja di bawah pot."
"Serius kamu nggak bakal ganti baju? Pake aja lagi yang tadi buat antisipasi Been," saran Maria.
"Bau, Ya. Penuh keringet itu," sanggahnya.
Abeen lalu mengunci pintu kamar kos Awang dan menyimpan kuncinya di bawah pot dekat pintu.
"Itu beneran nggak apa-apa? Nggak bakal ilang? Nggak bakal ada maling gitu?" khawatir Maria.
Abeen menggeleng,"Nggak. Tenang aja, udah biasa ini."
Setelah itu mereka menyusuri gang demi gang untuk bisa sampai di jalan raya.
"Naik angkot nggak pa-pa?"
Maria menggeleng,"Nggak pa-pa."
"Soalnya kalo naik taksi dari sini lumayan tuh argonya," ujarnya.
Maria menggenggam tangan Abeen,"Naik angkot kek, delman, ojek bahkan jalan kaki sekalipun, asal itu bareng kamu, aku nggak pa-pa."
Abeen diam. Gila! Mi apa gue digombalin cewek?!
"Bukan harusnya aku ya yang gombalin kamu kayak gitu?" selorohnya, tersenyum.
"Kan emansipasi," sahut Maria.
"Bisa aja," Abeen meraih tangan Maria dan menggenggamnya.
Makin yakin kalo dia nggak mungkin bisa jalanin ini semua tanpa adanya Maria.
"Love you," bisik Abeen
"Too..." balas Maria, tersipu.
Abeen lalu mencegat sebuah angkot yang nanti melewati perumahan mereka. Untunglah angkotnya tak terlalu kosong, adalah beberapa penumpang. Serem malem-malem naik angkot tuh. Bisa ketemu copet, penjambret, p*******a. Makanya Abeen sengaja menyuruh Maria duduk di bangku belakang sopir dan dirinya di sebelahnya. Tangannya terus menggenggam Maria.
Hampir satu jam mereka di angkot. Tiba di perempatan, mereka turun. Sengaja. Biar agak lama jalan bareng Maria. Dasar modus!
"Mama Papamu--"
"Mereka lagi dinas luar Been," sela Maria.
Abeen mengangguk,"Beda ya kalo seorang diplomat. Sibuk."
Maria terkekeh,"Makanya aku milih nggak ikut lagi seudah aku SMP. Capek, pindah-pindah mulu."
Hampir sampai di depan gerbang perumahan Maria, tiba-tiba ada ada serombongan motor menghadang.
Maria membelalak takut. Abeen menghalangi Maria dengan tubuhnya.
Matanya awas memprediksi gestur orang-orang asing itu. Salahkan dirinya yang nggak mau denger saran Maria tadi untuk ganti baju dengan rok.
"Lo Zabidin kan?"
"Ada apa?"
"Jangan nge-sok lo! Bangke dasar! Udah, nggak usah banyak bacot, hajar aja!" titah cowok tinggi.
"Eh, ntar dulu bro! Apaan dulu masalahnya? Jangan maen hajar aja," kilah Abeen.
"Apa? Takut lo? Chiken,"
Abeen mendengkus, kesal dibilang chiken sama cacing kremi. Karena yang barusan ngomong itu tampakannya kecil, kurus pula, cuma tulang doang.
"Mentang-mentang depan cewek lo, nge-sok!"
"Oke, lo jual gue beli dah! Atu-atu kalo berani. Sini lo!"
Abeen memasang kuda-kuda. Dia cuma khawatir sama Maria. Kalo mereka di depan gang menuju rumah Abeen, dia bisa minta bantuan temen-temennya. Tapi ini? Ibarat kata, gerbang perumahan ini kepalanya, dan gang rumah Abeen itu buntutnya. Depan gerbang perumahan Maria biasanya sepi, apalagi jam-jam segini.
Satu lawan lima. Nggak imbang. Dasar licik, beraninya main keroyokan!
"Ya, kalo ada apa-apa, kamu lari sekencengnya ke gerbang. Di sana ada satpam kan? Kamu aman," bisik Abeen.
"Ta--"
"Jangan bantah," potongnya.
"Hiyaaa!!"
Belum apa-apa, Abeen belum siap, salah satu dari mereka udah nerjang duluan. Baku hantam terjadi. Maria takut Abeen terdesak. Dan ya, emang Abeen terdesak. Beberapa kali ia kena pukul dan tendang. Maria nggak tahan. Dia berlari sekencang mungkin menuju pos satpam sambil teriak.
"TOLONG!!"
•••
tbc