••
Padahal Abeen lebih milih mendingan mereka berantem saja sama anak-anak genk motor itu. Daripada dia harus berkonfrontasi sama Nyaknya gara-gara dia pakai rok. Nggak ada bagus-bagusnya sama sekali. Firasatnya udah kirim sinyal kurang baik. Tapi suaranya kalah sama suara terbanyak. Karena baru itu jalan keluar terbaik saat ini yang bisa mereka dapatkan.
Akhirnya keesokannya, Marvel, Han dan Maria datang ke rumah Abeen. Maria seneng aja bisa dateng lagi ke rumah itu. Seneng ketemu Nyak Romlah lagi. Entah besok lusa, apa masih ada senyum tersungging di bibir Nyak Romlah untuknya setelah ini.
"Jadi ada apa kalian mau ketemu sama Nyak?" tanya Nyak Romlah heran.
"Sebelumnya kita minta maaf dulu ya Nyak, emh ... ada masalah. Masalahnya nyangkut Abeen, Nyak." Marvel yang duluan buka mulut selaku leader.
Nyak Romlah mengernyit,"Terus?"
"A-anu Nyak--"
"Lama! Neng, bilang sama Nyak ada apaan?" Nyak Romlah menghadap ke arah Maria.
"Waktu itu Abeen nyelamatin aku Nyak, ada anak geng motor gangguin. Kita sempet dikejar makanya waktu itu Abeen nggak pulang, karena kita nginep di base camp-nya Abang." Maria berhenti sejenak, ingin tahu reaksi Nyak Romlah.
"Trus?"
"Mereka ternyata masih nyari-nyari Abeen. Kemarenan pada datengin cafe, untung nggak diobrak-abrik juga. Intinya mereka mau bikin perhitungan sama Abeen," lanjut Han.
"Iya Nyak, bener." Kepala Abeen ngangguk-ngangguk.
"Boleh nggak, untuk sementara waktu Abeen nyamar dulu jadi cewek? Biar nggak dikejar mereka, Nyak?" imbuh Maria.
Nyak Romlah diam. Lalu,
"Nyak kagak seneng Neng, si Abeen dikatain b*****g sama anak-anak tetangga. Nyak malu Neng. Kok sekarang dia harus gituan lagi sih? Apa kagak ada jalan lain?" Nyak Romlah menatap Maria.
Noh, nyembur kan? Gue kata juga apa!
"Ini buat sementara aja Nyak," sahut Maria masih bersikeras, tersenyum meringis.
"Ya udah nggak pa-pa guys. Biar gue hadepin aja tuh genk sendiri," cetus Abeen sambil berdiri.
"Been! Ya nggak bisa gitu, kita juga pengen lo selamet. Lagian ini karena adek gue, kalo dia nggak digangguin--"
"Tetep yang salah itu geng motorlah. Ngapain gangguin cewek di pom bensin?" sela Han ikutan sewot.
"Udah, udah! Nyak nyerah. Tapi ini yang terakhir. Kagak ada alasan, kalo ntar lo jadi b*****g lagi seudah masalah ini kelar, mending lo keluar dari rumah ini. Ngarti? Dosa dipiara, aneh!" Nyak Romlah berdiri menengahi.
"Neng Maria, janji bantuin Abeen?" Nyak berbalik.
Maria mengangguk,"I-iya Nyak."
"Nyak cuma takut si Jalu melenceng dari kodratnya sebagai lelaki, beneran jadi banci. Pan lagi heboh tuh gey-gey gitu. Laki sama laki demenan, pan itu dosa ya Neng? Nah Nyak kagak mau anak Nyak kayak gitu," racau Nyak Romlah.
"Nggak bakalan dong Nyak. Ini mah cuma bikin saru musuhnya Abeen aja. Percaya sama Maria ya?" bujuk Maria sambil menyentuh tangan Nyak Romlah yang udah keriput.
"Aku normal, Nyak. Pacarnya aja cantik bukan ganteng," timpal Abeen.
"Assalamu'alaikum," Fido datang.
"Wa'alaikumussalam, baru pulang lo?" balas Abeen.
"Iya," dia salim ke semua orang di sana.
Maria menunduk. Ada rasa sakit di dadanya. Kalau masih ada Dido, mungkin Fido nggak akan sendiri. Pergi dan pulang sekolah bareng. Main bareng.
Abeen paham saat liat ada riak di kedua netra bening itu. Dia menepuk-nepuk punggung tangan Maria, coba nenangin.
"Nggak pa-pa," gumamnya.
•
Sekarang yang jadi kendala adalah kalo Abeen harus kuliah. Nggak mungkin ia pake baju rok dari rumah sampai kampus, kan?
Makanya dari tadi keduanya diem. Mencari solusi kembali. Maria memainkan pulpen yang dipegangnya. Abeen dengan rokoknya yang belum juga disulutnya, cuma dimainin, di putar- putar gitu.
"Jadi gimana dong? Giliran udah dapet lampu ijo dari Nyak eh ... malah gini Been," cetus Maria.
"Hm ... Bikin ribet emang tuh genk. Nyari gara-gara mulu," sahut Abeen.
"Eh, Been, apa kita tukeran aja?"
Abeen natap Maria,"Maksudnya?"
"Aku tinggal di rumahmu, kamu di rumahku. Jadi nggak ribet. Nggak perlu juga kamu ganti kostum cewek."
"Ck, nggak segampang itu Ya."
"Apa kita tukeran bajunya doang? Begitu kita sampe kampus, kita tukeran lagi?" usul Maria.
"Kamu nggak illfeel apa pake baju bekas aku? Yaelah... Lagian ribet amat sih," dia mengusak rambut Maria.
Cewek itu terkikik,"Paling bau badan kamu yang nempel."
"Wangi tahu..." Abeen nggak terima dibilang bau.
"Iya, iya, wangi deh. Makanya aku suka."
"Apa? Aku nggak denger," goda Abeen.
"Apa sih... Wangi Been, wangi."
"Bukan yang itu," cowok sipit itu menelengkan wajahnya. Seneng aja godain gadisnya.
Maria mencicit, bibirnya manyun. Abeen tergelak. Suka liat Maria kayak gitu. Apalagi bibirnya di manyunin kayak gitu. Bawaannya gemes!
"Kita uji coba yuk," tiba-tiba Abeen mendekat.
"U-uji coba apa?" Maria terbata.
"Uji coba kalo aku pake rok, mereka ngenalin nggak. Pinjem bajumu," katanya.
"Eoh?" Maria mendongak, otaknya masih traveling jadinya lola, loadingnya lama.
"Pinjem bajumu," ulang Abeen.
"Yang ini? Yang bener aja, terus aku pake apa? Karung goni?"
"Pulang dulu ke rumahmu lah."
"Eoh?" Maria nggak paham.
Abeen nge-wink, Maria pura-pura menunjukkan ekspresi pengen muntah.
"Atau kamu pengen ke rumahku?" kali ini alisnya yang turun-naik.
"Maunya kamu..."
"Tahu aja ih. Ya?"
"Hm?"
"Kita balikan kan?"
"Iya kali."
"Loh, kok gitu? Masa kali?" cebik Abeen sok nelangsa.
"Iya, kita balikan."
"Suka deh," dikecupnya tangan Maria.
"Dih, sok bucin!" Namun nggak ayal Maria merasa senang diperlakukan kayak gitu. Abeen tuh romantis jadinya Maria makin suka.
Akhirnya mereka pulang ke rumah Maria. Di rumah ternyata cuma ada bibi. Papa Mama Maria belum pulang. Selama Abeen berkunjung ke rumah Maria, belum pernah ia ketemu keluarga Lubis itu lengkap.
"Bi, tolong bikin minum yang seger ya? Been, tunggu sini aku bawa dulu bajunya."
Abeen ngangguk, lalu ngerentangin kedua tangannya di sepanjang bentangan sofa. Mengedarkan pandangannya ke penjuru ruang tengah yang lega itu. Terasa hangat, apalagi ada karpet hijau tua bulu terhampar di atas lantai. Perabotan yang Abeen taksir harganya mahal, dan ada radio tua klasik terpajang di sana. Mungkin milik turun-temurun keluarga itu.
Sedang Maria memilih dan memilah baju yang sekiranya cocok Abeen pake. Lalu ia keluar begitu dapat.
"Nih Been,"
"W-whoaaa ... apa ini? Nggak kurang banyak nih, Ya?" mata Abeen membola takjub.
"Abis bingung. Kamu aja yang pilih deh," sahutnya.
"Jangan yang bagus banget, Ya. Yang biasa ajalah," tolak Abeen.
"Ini?" Maria nunjukin blus pink dan rok jins hitam.
"Tar aku coba dulu,"
Abeen menyambar baju itu lalu berlari ke toilet. Maria senyum-senyum, membayangkan akan secantik apa Abeen-nya.
•••
tbc