••
"Three King bubar?" Han berkacak pinggang.
Napas Marvel berhembus berat. Dia masih duduk di depan mixer.
"Gue perlu ngomong sama tuh anak!" Han menyambar jaketnya.
"Han! Mending kita fokus ini dulu deh. Soal Abeen, nanti kita pikirin lagi. Cafe nggak mungkin tutup," cegah Marvel.
"Bang, kita baru aja dapet kesempatan buat recording. Lo tahu kan setelah itu kesempatan dan tawaran pun akan datang?" mata Han membulat.
Sudah kebiasaannya kalo debat kusir rautnya akan seserius itu.
"Trus, Maria gimana?"
Marvel menggendikkan bahunya. Rautnya kembali sedih.
"Maria banyak diem. Gue malah bingung dengan keadaannya sekarang. Nyokap nanyain mulu, apa yang bikin dia berubah. Ya masak gue bilang dia udah inget insiden tabrakan itu? Atau gue bilang kalo Maria pacaran sama abangnya yang adeknya ketabrak Maria?" emosi Marvel tak tertahan.
Han menatap sahabatnya miris. Tangannya terulur, rengkuh tubuh yang lebih tinggi darinya itu.
"Semua akan kembali kayak semula," dia menepuk-nepuk punggung Marvel.
"Vel, gawat!" Jae berhambur masuk.
"Apaan sih? Gawat apa?"
"Ada yang nyariin si Abeen. Kayaknya mereka geng motor gitu,"
"Geng motor?"
Lalu Marvel dan Han bergegas keluar.
Benar aja. Beberapa orang berjaket serupa, duduk seenaknya dengan mengangkat kaki ke meja. Sungguh nggak ada etikanya di tempat umum.
"Gue cari bocah, mata sipit, pendek, yang nongkrong maen band di sini." salah seorang dari mereka buka mulut.
"Kita, cuma kita kok yang suka main band di sini. Gue owner-nya. Nama gue Marvel," sahut Marvel.
"Tuh bocah ada dimari. Gue liat pake mata kepala sendiri," kilah yang satunya, yang kayak Dajjal, karena matanya picek sebelah.
"Mata lo aja picek, gimana bisa liat jelas? Ngarang lo," sahut Han.
"Hei!" Cowok yang duduk itu tiba-tiba berdiri.
"Hei!" Han nunjuk si Dajjal.
Jae menghalangi Han biar nggak gegabah.
"Kalian jangan macem-macem. Cafe gue ada cctv, mau gue laporin ke polisi? Kurang dari 24 jam kalian pasti ketangkep," ancam Marvel.
"Lo pada lagi lucky aja, tahu nggak? Lengah? Abis lo!" Mereka lalu menaiki motornya sambil menggaungkan suara knalpotnya.
Setelah itu mereka pergi begitu saja.
"Beneran mereka nyari Abeen?" tanya SJ.
"Kayaknya," sahut Marvel.
"Gila, tuh anak mainannya sama geng motor." Jae ikut berkomentar.
"Gimana nih?" Han melirik Marvel.
"Cafe terpaksa tutup hari ini. Han hubungi Abeen, kita ketemuan di base camp. Sori ya kalian, nggak jadi manggung hari ini." Marvel menepuk bahu Jae.
"Nggak papa. Kalo ada yang perlu kita bantu, kita pasti bantu kok Bang," sahut Wondo.
"Nanti gue yang bilang ke Yongky," sela SJ.
"Sip. Thank you ya,"
•
"Gue ada di kampus, nemuin si Galih buat acara performa anak design mingdep. Kenapa?"
"Kita ketemuan di base camp," sahut Han dari seberang.
"Oke. Begitu beres gue cap cus."
"Lo bawa motor? Pokoknya lo harus hati-hati. Anak geng motor waktu itu datengin cafe, nyari lo."
"Mereka ngerusak cafe?"
"Nggak."
"Ya udah,"
Abeen termenung. Gila! Ngapain anak motor nyari gue?
Lalu ingatannya melayang ke beberapa waktu lalu. Maria. Ya, waktu itu! Dia mengernyit.
"s**t!"
Dia bergegas ke kelas Maria. Takutnya keburu pulang. Dia takut Maria-nya ketemu anak geng motor. Dia nggak peduli soal putus, yang ia pedulikan sekarang keselamatan Maria. Titik!Mereka, anak Genk motor itu suka sama yang bening-bening pula. Pasti ngincer Maria.
"Maria mana?" Abeen berseru begitu sampai kelas Maria.
"Tuh," seseorang menunjuk ke arah cewek yang tengah membereskan diktatnya.
"Ya,"
"Abeen?"
"Ikut gue," Abeen menarik lengannya.
"Gue ada matkul lima belas menit lagi," kata Maria.
"Tapi ini urgen, Ya."
"Apaan?"
"Ini soal anak-anak geng motor waktu itu. Mereka ke cafe. Mereka nyari gue. Dan gue nggak mau lo terlibat, mereka pasti hapal sama lo. Lo jangan ke cafe dulu, trus lo pake jaket, pake masker. Pokoknya lo samarin aja diri lo. Ini, pake. Lo nggak bawa jaket kan?" ujarnya sama sekali tak memberi kesempatan Maria bicara.
Maria mengangguk pasrah dan nerima jaket yang diulurkan Abeen.
"Trus lo mau kemana?"
"Abang lo sama Han, nunggu gue di base camp."
"Gue ikut," Maria sudah narik lengan Abeen.
"Nggak. Bahaya," Abeen menggeleng.
"Kan ada lo yang lindungin gue. Kalo gue pergi sendiri gue malah parno!" kilahnya.
"Ya, please. Gue nggak mau lo kenapa-napa, makanya gue kesini buat mastiin. Takut mereka ngincer lo juga. Kalo lo ikut gue ya sama aja bohong," bujuk Abeen coba sabar.
Maria keukeuh menggeleng.
"Ntar gue cipok lo di sini kalo ngeyel pengen ikut," bisik Abeen.
"Boleh."
Abeen melotot. Nggak waras nih cewek!
"Ya!"
"Boleh ikut kan?"
"Marvel ntar marahin gue,"
"Nggak bakal."
"Ya, gue nggak mau lo terluka. Please, stay here. Atau lo nginep di rumah temen lo itu, siapa namanya?"
"Here in I'm. Gue Nora. Dasar pikun lo, Been!" Nora sudah ada di antara mereka.
"Yaelah, sori. Ra, gue titip Maria ya? Pokoknya jalan kemanapun kalian berdua atau lebih juga nggak pa-pa, itu lebih baik. Jangan biarin Maria kelayapan sendiri," cerocos Abeen.
"Mentang-mentang rapper, ngomong nggak pake jeda!" sergah Nora.
"Ya Ra, ya?"
"Iye! Beres pokoknya," dua jempol teracung.
"Been! Ikut!"
"Nggak. Bahaya, oke?"
Mereka bertatapan. Ada kilat khawatir di sana.
"Keep save, tapi ya?"
Abeen mengangguk.
Chup
Maria mengecup pipi Abeen. Pipi tomat Abeen memerah. It's cute! Maria jadi pengen nyium pipinya lagi kan...
"Ini kita di zona apa sih?" tanyanya, menatap Maria.
"Zona nyaman. Fix, gencatan senjata ya? Gue nyaman bareng lo, maaf soal kemarenan gue yang mutusin sepihak. Gue nggak mau keduluan lo yang mutusin gue," Maria tertunduk.
Perlahan Nora melipir menjauh, memberi mereka waktu berdua.
"Jadi?" alis Abeen menukik.
"Nggak tahu."
Abeen menggenggam jemari Maria dan netranya masih menelisik wajah muram di depannya.
"Kalo lo tanya ke gue, sama, gue juga nggak tahu. Tapi yang pasti gue sayang sama lo. Masalahnya--"
"Iya gue tahu, Been. Nyak kan? Dan kesalahan gue fatal banget. Gue pantes dijeblosin ke penjara, gue nggak papa. Asal lo, Nyak, juga Fido maafin gue." airmata Maria merembes.
"Hei, nggak Ya. Jangan nangis, please. Gue bahkan belum bilang sama Nyak. Gue takut, kalo gue bilang Nyak akan--" Jempol Abeen menghapus air mata Maria yang meleleh.
"Gue akan terima, kalo itu emang yang diinginkan Nyak. Walau gue belum tentu bisa tahan tanpa lo," sela Maria.
Abeen melepaskan genggamannya. Kedua tangannya sekarang berada di kedua bahu Maria.
"Look at me, Maria." Dia mendongak.
"Gimana kalo kita rahasiain ini dari Nyak? Hm?"
Maria menggeleng,"Nggak Been. Nyak udah menderita karena gue, kehilangan Dido, dan nggak berhasil nyeret gue buat tanggung-jawab juga ngasih keadilan buat Dido. Dan sekarang, kita malah akan menipunya? Itu nggak pernah ada di benak gue."
"Lalu apa yang harus kita lakuin, Ya?" Abeen menyatukan kening mereka.
"Saling nguatin, saling percaya. Kita udah cinta kan?"
Abeen mengangguk, sekilas dia mengecup kening Maria.
"Oke, kalo gitu gue eh, aku pergi dulu. Jangan pergi jauh-jauh dan selalu bareng Nora."
Maria mengiakan, tersenyum, nggak mau membebani Abeen dengan kemuramannya.
"Good girl," dia mengusak kepala cewek itu.
"Trus kenapa tadi ujug-ujug jadi elo-gue?" cicit Maria.
Abeen nyengir,"Saking emosinya Ya..."
Bibir Maria mencebik tapi nggak urung akhirnya tersenyum juga.
"Kesayanganku jangan sedih ya? Begitu udah kelar, aku mampir ke rumah."
"Hati-hati..."
Abeen memberikan love sign.

•
"GILA! Itu bukan solusi, Bang!" seru Abeen, tubuhnya sampai mundur beberapa langkah ke belakang. Demi mendengar ide gila dari sang calon kakak ipar.
"Biar mereda, Been. Minimalnya tuh geng motor nggak macem-macem dan berimbas ke yang lain. Khususnya ke adek gue. Kan lo sendiri yang bilang, anak-anak itu gangguin adek gue. Keselamatan Maria, prioritas bro." timpal Marvel.
"Lo sayang nggak sih sama Maria?"
Di tanya begitu, Abeen mendelik. Bibirnya mengerucut.
"Pikir aja sendiri,"
"Oke kalo lo nggak setuju, trus lo punya opsi lain?" tatap Marvel.
Abeen menggeleng,"Belum kepikiran."
"Tuh kan?"
"Bang, baik gue atau Maria yang tinggal di mana, tetep aja bakal ada masalah baru. Maria ngendon di rumah gue, lo tahu sendiri Nyak fanatiknya kayak gimana? Kalo gue yang tinggal di rumah lo, yang ada gue bakal dikebiri sama bokap lo!" elak cowok pendek itu gusar.
"Dan intinya, berarti gue kalo keluar rumah tetep harus pake rok, kayak gue lagi ngamen? Iya kan?"
Marvel melengos. Dia juga nggak mau sampai Abeen kenapa-napa. Dengan Abeen balik nyamar jadi banci lagi kayaknya itu jalan keluarnya untuk sementara ini.
"Lo bisa bujuk Nyak,"
"Apa? Kemarenan aja, Nyak ngambek begitu tahu Maria nemenin gue nge-busking. Padahal itu cuma napak tilas doang, dibilang beginilah, begitulah. Gue nggak mau bawa-bawa Maria," kilahnya.
Han yang sejak tadi mendengar perdebatan duo racau itu, manggut-manggut.
"Ada ide nggak?" Marvel nengok ke arah Han.
"Kita bujuk Nyak lo,"
"Makdirabit! Lo cari penyakit, apa?" seru Abeen kaget.
"Kita bertiga, eh berempat sama Maria."
"Han, gue nggak mau libatin Maria." tolak Abeen.
"Tapi dia juga kesangkut sama masalah lo! Yang digangguin geng motor itu, Maria, cewek lo. Ngarti kagak? Jadi, mereka ngincer lo pada. Sekarang malah nambah, ngincer gue, Marvel, anak D'day juga!" debat Han.
Mereka diam dengan isi kepala masing-masing, mencoba mencari solusi yang terbaik.
"Ya udah, oke. Tapi kalo Nyak nolak--"
"Itu nanti kita pikirin lagi, Been. Yang penting lo mau dulu. Sepakat dulu sama kita," potong Marvel.
Abeen angkat tangan dan harus siap-siap dicoret dari Kartu Keluarga.
••