10. labirin

1219 Words
•• Cowok dengan outfit serba hitam itu terpekur menatap lukisan Tuhan yang indah di atas sana. Kepalanya tengadah, menyandar di kusen jendela. Sesekali disesapnya sebatang nikotin yang tengah dijepitnya. Menghalau asap yang dimuntahkan lewat bibir mungilnya. Abeen mendengus. Teringat kejadian barusan. Baru sepotong jalan cerita yang didengarnya tanpa sengaja sewaktu menyusul Marvel, khawatir ada apa-apa dengan gadisnya. "Kenapa aku harus marah dan ninggalin kamu, Ya?" Terdengar isakan Maria makin kencang. Abeen nggak paham apa yang didengarnya barusan. Apa itu, Abeen ingin tahu. Belum terluapkan pertanyaan di benaknya, tubuhnya sudah ditubruk Maria. "Maaf, maaf Been. A-aku nggak sengaja. Beneran. Sumpah. Aku nggak sengaja, Been. Ma-malam itu gelap, aku janjian sama temen mau main. A-aku curi kunci mobil Papa, aku pergi. Trus aku melintas di sana. Di jalan itu emang gelap, aku nggak liat, karena...karena aku was-was, aku takut Papa tahu aku pergi. Trus--" racau Maria. "Ssttt... Udah, udah Ya. You're not fine now. Besok lagi ceritanya ya?" Abeen mengelus kepala Maria, yang rambutnya lengket karena keringat. Matanya manyasar ke arah Marvel, menguar tanya, sedang cowok itu malah menunduk. Maria menggeleng lalu melepas pelukannya,"Nggak. Harus sekarang, biar aku lega. Aku ... aku yang nabrak Dido." "Ya?" Tatap mereka bertaut lekat. Maria mengangguk pasti. Bibir Abeen beku. Sesak. Lidahnya berasa pahit tiba-tiba. "Aku yang nabrak Dido. Aku salah. Jadi, hubungan kita pun nggak mungkin dilanjutin lagi. Aku adalah orang yang paling kamu benci kan? Nggak mungkin pacaran sama pembunuh adikmu kan?" sarkas Maria, tubuhnya mundur menjauh. Gadis itu menyuruh Marvel keluar dari kamarnya. "Maafin aku. Kita putus." BLAM! P.U.T.U.S? Sulit mendeskripsikan perasaannya saat ini. Kecewakah? Namun melihat keadaan Maria yang nggak baik-baik saja, bikin hatinya mencelos, tercubit perasaan bebal, yaitu cinta. Kalaulah Maria itu cowok, saat itu juga Abeen akan langsung menyeretnya. Dan ia pun sangat menghargai kejujuran Maria, yang memang tanpa sengaja insiden itu 'terlupakan' atau 'tersembunyikan'? Abeen yakin Maria pun merasa sangat menyesal dan bersalah sekarang. Hingga cewek itu memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Inilah yang membuat Abeen nggak habis pikir. Kenapa? Ia tahu situasi tengah panas, tapi setidaknya yang ia harapkan kejernihan Maria dalam berpikir. Walaupun hubungan mereka baru putik, Abeen akan sangat menghargainya kalau Maria mau mencoba mempertahankannya dulu. "Dasar cewek..." desisnya lelah. Lalu dia tercenung mengingat apa yang akan dia katakan pada Nyaknya nanti. Dia juga masih ragu, karena cerita yang nggak sinkron. Abeen mengacak rambutnya frustasi. Jadi yang bener, yang mana? Dido ketabrak Maria? Atau, karena demam tinggi?! Racauannya kian frustasi. "Kenapa Bang?" Fido menghampiri kakaknya yang terlihat berantakan. Abeen hanya menoleh, setelahnya kembali menatap langit. "Masuk Bang, ada wewe gombel ntaran." "Dipikir gue bocah, apa?" Fido terkikik,"Elah Bang, baperan banget. Ini udah lewat tengah malem, orang mah tahajjud atau ke alam mimpi kek. Ini malah ngadem di tempat jemuran, sambil natap langit. Nelangsa banget dah!" "Nggak gue kasih uang saku lo!" "Kata Nyak, orang yang ngelamun, jangan dibiarin sendirian." Fido ngeyel. Abeen mencibir. Tapi nggak lama dia tersenyum. "Abang lagi inget Dido," ucapnya sengau. "Ya Bang, tinggal didoain aja, 'napa? Kata Nyak, kalo kita tiba-tiba inget sama seseorang yang udah meninggal, artinya orang itu lagi butuh doa dari kita yang masih hidup," sahut Fido spontan dan lugu. Tangan Abeen terulur mengusak kepala adiknya. "Bisa aja lo," "Udah yuk, mending masuk." "Nah elo, ngapain jam segini masih melek?" "Habis dari WC, sakit perut. Eh Bang, tadi sore aku ketemu Mbak Sari. Tapi dia nggak ngasih makanan lagi kayak biasanya. Kenapa ya Bang?" "Ya udah sih, ngapain ngarep dikasih makan sama orang lain? Yang bener itu nyari sendiri. Apalagi orang itu ngasih ke kita dengan pamrih, ngeharepin balasan. Nggak banget," dengkus Abeen sambil beranjak dari duduk khusyuknya. "Oh, aku ngerti sekarang. Mbak Sari ngasih makanan, biar jadi pacar abang. Eh, si Abang malah udah demenan sama Kak Maria. Iya kan? Trus, kenapa Kak Maria jarang kesini lagi?" cerocosnya. "Lagi sibuk. Biarin aja," Abeen melengos. "Hm, tahulah. Lagi pada berantem kan? Nggak mau pacaran ah, ribet! Mau pacaran apa mau berantem?" "Sekolah dulu lo. Mikir pacaran," dumel Abeen sambil menimpuk jidat Fido pake korek api. "Gini-gini juga adek Abang banyak yang naksir di sekolah." "Bocah udah kerdus lo!" "Kan gimana abangnya," kikiknya seraya berlalu. "Ih, dasar bocah karbit!" Abeen lalu masuk ke kamarnya. Tapi setelah badannya merebah, pikirannya tetap nggak tenang. Tetap tertuju sama Maria. Bagaimana keadaan Maria tadi saat dia mencoba bicara jujur padanya. Melihatnya begitu hati Abeen ikut sakit. Tapi dia pun nggak bisa mengelak perasaan sangat kecewa pada Maria. Terdengar ponselnya berdering. Abeen mengernyit. Marvel? "Ya, Bang?" "Been, gue tunggu di ujung gang." "Ya," Tadi waktu di rumah Maria, Abeen belum sempet ngomong apa-apa sama Marvel. Maka Abeen bergegas menemui sahabat barunya itu. Marvel menyambutnya dengan senyum dan dengan isyarat menyuruhnya masuk ke dalam mobil. "Kemana?" "Muter-muter aja. Gue lagi pusing, bingung," jawab Marvel. "Maria gimana?" "Ya masih gitu. Besok juga baikan, nggak usah khawatir." Abeen menganguk. "Maria lagi bingung, jadi dia ngambil keputusan yang terburu-buru. Sori ya adek gue?" Abeen mengangguk lagi. "Di tikungan jalan itu emang selain sepi juga nggak cukup penerangan. Gue bukan ngebela Maria. Dia juga salah kok, apalagi karena sembunyi-sembunyi belajar nyetir mobil yang akhirnya nyelakain orang," ujar Marvel. "Been, kita bukan nggak mau tanggung-jawab, tapi keadaan Maria yang syok berat yang nggak memungkinkan dia nanggung beban segitu gedenya. Kayak di penjara gitu. Apalagi dia masih di bawah umur. Sejak itu Maria sering sakit. Dia trauma, nggak mau nyetir lagi. Lambat-laun setelah Maria pulih dari traumanya dia mulai nyetir lagi walau buat jarak deket," imbuhnya. "Jadi intinya?" Marvel mendelik, nggak suka nada tanya di sana. "Been--" "Nyuruh kita tetap tutup mulut? Hukuman tetap berlaku, Vel." selanya, yang kini tanpa embel-embel panggilan 'Bang'. "Lo... Lo pikir gue minta apa? Gue nggak sepicik itu, Been! Iya, bokap udah salah dulu, udah nyuruh Nyak lo nggak membawa masalah ini ke ranah hukum. Hukumannya malah lebih berat daripada Maria harus di penjara. Lo nggak tahu kan Maria sedepresi apa? Sampai harus ngidap anxiety segala? Yang menurut gue itu udah lebih dari cukup," sanggah Marvel. Abeen diam mematung. Apa ia sudah keterlaluan? Maria-nya nggak perlu kan di penjara? Nggak kan? "Jadi bener, kalo adek gue mati ketabrak Maria?" retorika sekali. Abeen menyulut rokoknya. Marvel menghentikan mobilnya dekat taman yang cukup penerangan. "Gue pikir lo udah tahu," cicit Marvel. "Nyak cuma bilang kalo Dido meninggal karena demam tinggi. Yang gue tahu, Dido sebelumnya sempet panas, dia lagi sakit. Gue lagi sekolah. Gue nggak tahu apa yang sebenernya terjadi," sahut Abeen. "Lo nggak tanya Nyak?" Dia menggeleng lemah,"Kalo gue tanya, apalagi sekarang, ada kemungkinan Nyak nggak bakalan ngerestui hubungan gue sama Maria. Dan Maria akan terluka. Gue nggak mau kayak gitu, Vel." Marvel tersenyum miring,"Aneh ya? Lo nggak mau Maria terluka. Tapi lo tahu nggak, saat ini Maria tengah terpuruk. Walau dimulut dia bilang pengen putus, tapi gue yakin dia pengen tetep bareng lo!" "Tahu. Gue tahu Vel, segede apa Maria sayang gue. Gue udah rasain itu. Tapi, wajar kan kalo gue ngerasa kecewa? Terlepas dari trauma yang dia rasain dan membuatnya sedikit lupa akan insiden itu. Atau mungkin dia sengaja buat lupa," Abeen menoleh natap mata Marvel. Marvel diam. Rahangnya mengatup rapat. Kata-kata itu seolah tudingan tanpa dasar. Sengaja lupa? "Yaa, ada bagusnya kalian putus biar bisa mikir ulang dan merevisi masa depan kalian," kata Marvel. Abeen mengangguk, sadar akan kesalahannya di akhir kalimat tadi. "Ya, mungkin itu jalan terbaik." gumamnya. ••• tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD